Syafiq Mughni: "Munir Mulkhan Menawari Saya ke Israel"
Kamis, 13 Desember 2007
Ketua PW Muhammadiyah Jatim, Syafiq Mughni, rombongan yang ikut bertemu Shimon
Peres mengaku tak pernah terpikir mendukung Israel. Baca wawancaranya
Hidayatullah.com--Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Syafiq
Mughni, salah satu rombongan yang ikut berkunjung ke Israel dan bertemu Shimon
Peres, meminta hak jawab kepada Hidayatullah.com, "Hanya diberitakan sebagian,
seandainya lengkap mungkin gambarannya berbeda." Demikian alasan Syafiq.
Berikut ini petikan wawancara Cholis Akbar dari Hidayatullah.com dengan Syafiq
Mughni beberapa hari usai keadatangannya dari Israel.
***
Anda mengatakan pemberitaan ada kekeliruan, di mana kelirunya?
Ketika bertemu dengan Shimon Peres, saya disebutkan mengusulkan dibukanya
hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel. Saya tidak mengusulkan itu
kepada Peres. Itu masalah politik kedua negara dan saya tidak berkompeten
membicarakan itu. Kecuali itu, disebut juga menari-nari dalam acara ritual
Hannukah. Sampai sekarang saya belum mengetahui acara ritualnya, karena hampir
di semua tempat dinyalakan lilin, di jalan-jalan, di hotel-hotel dan di
rumah-rumah.
Bagaimana ceritanya Anda bisa sampai ke sana? Dan atas undangan siapa?
Saya mendapatkan SMS dari Pak Munir Mulkhan (salah satu tokoh liberal di
Muhammadiyah yang juga pengurus LibForAll--red). Beliau menawari saya pergi ke
Palestina dan Israel. Saya tanyakan apa acaranya. Beliau menjawab jalan-jalan
dan ketemu orang-orang di sana. Pikiran saya langsung tertuju pada Masjidil
Aqsa, yang memiliki makna spiritual dan historis. Saya sudah shalat di Masjidil
Haram dan Masjid Nabawi, tapi rasanya kurang lengkap kalau belum bisa shalat di
Masjidil Aqsa. Karena Pak Munir anggota Komnas HAM, saya pada saat itu
berasumsi atas nama Komnas HAM. Tapi ternyata bukan.
Siapa-siapa saja undangan selain Anda dan Pak Abdul A'la (NU)?
Di samping saya, ada Pak Nuryadi dari Jakarta yang kebetulan aktivis
Muhammadiyah. Ada Pak Badrun Alaena dan Pak Abdul Kadir, kedua-duanya kebetulan
aktivis NU. Mereka merasa biasa-biasa saja, tidak ada SMS bertebaran. Mereka
lebih mujur, ha ha ha.
Apakah Anda tahu, apa itu Simon Wiesenthal Center dan LibForAll Foundation?
Sebelumnya, saya tidak mengenal dua lembaga itu. Saya mengenal sedikit tentang
LibForAll dari situs mereka menjelang berangkat. Di situ, ada nama teman-teman
saya, seperti Pak Munir, Pak Amin Abdullah dan Pak Azyumardi Azra. Misinya juga
bagus, yaitu perdamaian, anti kekerasan dan moderatisme. Waktu itu, timbul juga
pertanyaan saya mengapa fokusnya hanya di Islam, padahal fenomena itu ada di
hampir semua agama. Tentang Simon Wiesenthal Center saya tahu sedikit setelah
di sana. Tapi misi detailnya saya tidak tahu. Lembaga inilah yang mengatur
agenda kami.
Jadi apa pertimbangannya ketika itu mau menghadiri undangan tersebut?
Sebagai seorang Muslim saya merindukan Masjidil Aqsa. Sebagai dosen Peradaban
Islam, saya ingin melihat tempat-tempat bersejarah di sana. Saya juga ingin
mengetahui kondisi masyarakat di sana. Walaupun laksana setitik air di lautan
luas, saya ingin menyentuh nurani mereka agar tercipta perdamaian dan keadilan.
Sebab tidak mungkin ada perdamaian hakiki tanpa keadilan. Ini adalah pesan
universal kepada seluruh umat manusia di manapun berada, termasuk di Timur
Tengah.
Apakah sebelum berangkat sudah berkonsultasi dengan PP Muhammadiyah? Terutama
Ketua Umum Din Syamsuddin?
Saya tidak berkonsultasi dengan PP Muhammadiyah. Saya sering bepergian ke luar
negeri, dan tidak selalu berkonsultasi jika tidak atas nama Muhammadiyah. Pada
waktu itu saya berprasangka baik saja bahwa Pak Din tidak keberatan. Pak Din
telah mengenal saya sejak sama-sama sekolah di UCLA, dan mengetahui betul jalan
pikiran saya. Pernah juga kami ikut demo bersama masyarakat Muslim di Los
Angeles ketika terjadi tindak kekerasan terhadap rakyat Palestina.
Boleh tahu, semenjak sampai di sana, apa jadwal Anda dan teman-teman? Dan ke
mana saja?
Kami tahu jadwal acara setelah sampai di sana. Banyak acaranya. Ada kunjungan
ke Masjidil Aqsa, Betlehem tempat lahirnya Nabi Isa, Nazaret tempat Nabi Isa
berdakwah, Bishop Munib Yunan (Gereja Lutheran), Ramalah pusat Pemerintahan
Otoritas Palestina, Markas Uni Eropa yang bertugas meningkatkan capacity
building di perbatasan Palestina-Israel, Dataran Tinggi Golan (perbatasan
dengan Yordania, Syria dan Libanon), Yashiva (semacam pesantren), rumah sakit
di mana banyak orang Palestina dirawat, sekolahan dan lain-lain.
Dalam pertemuan di Ashqalon, saya sempat wawancara dengan seorang pejabat
militer Italia yang bertugas di perbatasan. Dia menyampaikan bahwa rakyat
Palestina di Gaza sangat menderita karena seolah-olah hidup di penjara raksasa,
fasilitas kesehatan sangat minim, hampir tidak ada ekspor, dan angka
pengangguran sangat tinggi akibat pagar pembatas Palestina-Israel. Mereka juga
menjadi korban konflik Fatah dan Hamas. Mereka hidup dari bantuan
internasional. Ini juga menjadi keprihatinan teman-teman. Selain itu, kami
mengunjungi Tepi Barat, wilayah Palestina, dan bertemu dengan beberapa tokoh
Palestina di Ramalah, dan mendengarkan berbagai macam problem yang dihadapi
rakyat Palestina. Oh ya, dalam jadwal, tadinya tidak ada pertemuan dengan
Shimon Peres. Saya baru tahu ada pertemuan itu baru malam nya.
Kabarnya Anda juga sempat masuk ke Masjidil Aqsa?
Alhamdulillah, bisa shalat Dhuhur dan Ashar di sana hari Senin. Juga shalat
Jumat. Menurut informasi yang saya terima kompleks masjid itu sekarang di bawah
otorita badan wakaf, yang di dalamnya termasuk Pemerintah Yordania. Kami juga
bisa masuk ke Qubbatus Shakhra' di mana terdapat batu yang diinjak Nabi
Muhammad untuk bermi'raj ke Shidratul Muntaha.
Siapa yang mengawal ke sana? Bukankah untuk masuk ke sana susah?
Yang mengawal ke sana adalah seorang Arab Palestina bernama Mundzir Adam. Dia
banyak dikenal oleh orang-orang Arab yang menjaga pintu kompleks Masjidil Aqsa.
Kelihatannya gampang. Saya hanya ditanya apakah Anda Muslim. Ketika saya jawab
dengan bahasa Arab bahwa saya Muslim Indonesia, mereka menyalami dengan hangat.
Di beberapa koran Yahudi Anda disebut menyematkan Kippa ke Shimon Peres,
bernarkah? Bisa dijelaskan?
Memang betul. Kippa adalah kopyah tradisional di sama. Di kopyah itu ada
tulisan Perdamaian dan Shalom yang mirip salam dalam bahasa Arab. Teman-teman
minta saya yang menyerahkan, bukan memakaikan. Dalam pertemuan itu saya sempat
menyampaikan pesan perdamaian, keadilan dan kemanjuan, serta keluhan rakyat
Palestina yang kami temui di rumah sakit.
Juga Anda menghadiri Hannukah, benar juga beritanya? Dan ada beberapa foto
tentang itu? Bisa dijelaskan?
Saya tidak faham mana yang Hannukah sebenarnya. Karena hampir di semua tempat
dinyalakan lilin dan itu berlaku selama delapan hari. Katanya ini memperingati
kemenangan orang Yahudi terhadap orang Yunani.. Saya tidak menyalakan lilin
sama sekali. Kami mengunjungi sebuah Yashiva semacam pesantren di sini. Mirip
sekali. Mereka ngaji apa yang mereka yakini sebagai Taurat dan Talmud. Setelah
sekitar dua jam baca kitab, mereka berdiri bergandengan tangan melakukan
gerakan-gerakan tarian sambil bergandengan tangan dan menyanyikan lagu. Setelah
sekitar tujuh menit mereka kembali belajar. Mungkin untuk menghilangkan
kepenatan. Saya asyik memoto karena lucu sekali. Mungkin inilah yang di media
disebut ikut acara ritual. Ketika saya lihat foto yang disebut ikut Hannukah
itu, sebenarnya bukan. Itu adalah pertemuan dengan Hakim Tinggi Agama Yahudi.
Jika tahu semua itu, artinya Anda tahu efek apa dan resiko apa yang bakal
terjadi di Indonesia?
Sebelum berangkat saya tidak membayangkan efek yang bakal terjadi. Mungkin
karena obsesi yang terlalu kuat untuk ke Masjidil Aqsa, dan terbiasa
husnu-zhan. Setelah di sana baru saya membayangkan jangan-jangan ini menjadi
masalah. Ternyata betul, ya sudah.
Kasus seperti itu kan sudah lama terjadi, semenjak tahun 1994. Dan selalu
memunculkan reaksi, apa pendapat Anda?
Saya bisa memahami reaksi itu. Mereka punya alasan sendiri-sendiri, sekalipun
tidak seluruhnya saya sepakat. Apalagi dengan menggunakan kalimat-kalimat yang
tidak berkualitas. Tapi itulah problem umat kita. Semangat tinggi tapi kurang
wawasan. Tapi kalau dengan cara begitu mereka yakin masuk surga, saya tetap
menghargainya. Mudah-mudahan betul.
Sampai hari ini status Zionis-Israel adalah "teroris" yang sudah 60 tahun
merampok, menjajah tanah Palestina dan menzhalimi rakyatnya baik Muslim maupun
Kristen. Bagaimana Anda tidak bisa melihat kunjungan ramah tamah Anda sebagai
langkah yang menyakitkan bagi bangsa Palestina yang sedang dijajah?
Niat sesungguhnya adalah perjalanan spiritual. Ingin tahu keadaan yang
sesungguhnya dengan mata kepala dan merenungkan apa yang bisa dilakukan untuk
perdamaian dan keadilan bagi semua. Jika kemudian ada yang bisa memanfaatkan
itu untuk kepentingan politik, saya tidak bisa mengontrol. Tidak ada niat
sedikitpun mendukung Israel. Buat apa? Jika ada penafsiran seperti itu, itu hak
mereka. Lagi pula, kami bukan tamu pemerintahan Israel. Orang-orang Palestina
sendiri bahkan menyambut kami dengan sangat hangat. * [www.hidayatullah.com]
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
http://www.yahoo.com/r/hs
[Non-text portions of this message have been removed]