Assalamu'alaikum wr wb,

Berikut adalah undangan menulis untuk majalah Dakwah (dulu Media Dakwah).

Tulisan harus asli karangan sendiri dan sebaiknya dalam format word (.doc)


Wassalam





Dzikri wrote:

Assalaamu'alaikum JMP netters yang baik,



Alhamdulillaaah. .. woro-woro





Sudah terbit majalah DAKWAH edisi ketiga (Desember 2007).





E-mail ini mengundang semua orang,

untuk ngeroyok majalah DAKWAH (metamorfosis Media Dakwah)

yang sudah 3 edisi ini bangkit dengan semangat baru.



Dulunya "Serial Media Dakwah" lalu jadi "Media Dakwah"

sekarang jadi "Dakwah" saja.

(jangan sampe dipotong lagi jadi majalah "Wah"..:-)







Tetap "Majalah Resmi Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia"

tapi sekarang jadi satu-satunya "majalah dakwah bil senyum"

di Indonesia. Nggak percaya? telfon aja 021-3902933,

silakan borong 3 edisi sekaligus!







UNDANGAN:

Untuk Anda semua, apa pun profesi Anda, diundang untuk berbagi

cerita dakwah Anda di semua bidang kehidupan. Dakwah bukan cuma

ceramah, dakwah mengajak orang berbuat baik dan mencegah

orang berbuat munkar, berdasarkan syariat Islam.



Di semua bidang..

Apa saja yang berhubungan dengan dakwah, baik urusan besar

maupun urusan kecil, baik yang mendorong dakwah,

maupun yang mengancam dakwah, kirim aja....



Sebagai perangsang, mudah-mudahan tulisan di bawah ini bisa

menggelitik yang lain untuk mengirim tulisan. Dakwah di bidang jurnalistik,

tulisan teman saya, Santi Soekanto.



Majalah DAKWAH lebih "mild and funny" tapi tetap bisa "galak" jika

diperlukan hehehe.



Ditunggu tulisannya di [EMAIL PROTECTED] com



Wassalaamu'alaikum,



dzik







============ ========= =====







---Majalah Dakwah Edisi 3 Tahun I (Desember 2007)







//Suatu Hari Natal Orde Baru//







oleh Santi Soekanto







Suatu pagi di bulan Desember, sekian tahun silam. Orde Baru dan



Presiden Soeharto masih sangat berjaya. Pemerintahan tunggal Golkar-



ABRI bukan saja berhasil membuat kaum Muslimin takut ber-Islam tetapi



bahkan malu mengaku Muslim.



Saya bergegas masuk ke kantor tempat saya baru saja mulai bekerja



sebagai wartawan sebuah koran di Jakarta, menaiki tangga sempit



menuju lantai 2 bangunan sederhana di sebelah gedung megah perusahaan



penerbitan terbesar di Indonesia. Saya membuka pintu newsroom dan



berhadapan langsung dengan sebuah pohon Natal raksasa di tengah



ruangan. Begitu besar dan tingginya pohon tersebut sehingga pucuknya



bukan sekedar menyentuh langit-langit namun bahkan melengkung dan



tertekuk. "Ooops…" ujar saya, lalu berpaling kepada sekretaris



pemimpin redaksi, seorang Muslimah keturunan Arab yang tidak



berhijab. ''Natalnya masih lama Mbak…tapi sudah dipasang ya."



"Ya memang begitu,'' ujarnya dengan suara biasa saja.



Maka sejak hari itu sampai sekian waktu sesudahnya, saya bekerja di



bawah naungan (dan keluar masuk newsroom melingkari) pohon Natal



besar itu. Dari waktu ke waktu saya lihat hiasannya bertambah, dan



Mbak SekRed ikut membantu menambahkan. Dari waktu ke waktu saya lihat



kesibukannya menerima dan mendistribusikan kiriman kartu dan hadiah



Natal, baik yang ditujukan kepada Pak PemRed maupun staf lainnya.



Sampai tiba pengumuman akan dilangsungkannya perayaan Natal di kantor



pada suatu sore; seluruh karyawan diharapkan hadir untuk bersalam-



salaman dengan mereka yang merayakan Natal. Ada makanan dan minuman



disediakan – belakangan saya menandai bahwa dalam berbagai perayaan



di kantor itu selalu disediakan minuman keras yang dikonsumsi oleh



banyak sekali orang, mulai dari direktur (yang sebenarnya Muslim



keturunan Arab namun kuat minum khamr sampai wajahnya merah dan



bicaranya mulai ngelantur) sampai anggota Satpam. Kalau sudah begitu,



saya tinggal menunggu pemandangan tak enak orang-orang yang antre di



depan kamar mandi sementara yang di dalamnya muntah dengan suara



keras, ''hoek, hoek.''



Di sore perayaan Natal itu, saya kembali dari liputan di DPR sekitar



waktu Ashar. Begitu masuk kantor, suasana meriah sudah terlihat.



Orang lalu lalang dan turun naik membawa makanan dan minuman di



tangan dari dan ke lantai 2 tempat berlangsungnya acara. ''Apaan



tuh?'' tanya saya berlagak bego.



"Makan-makan Mbak," jawab seorang petugas kebersihan berseragam



hijau. ''Banyak banget makanannya."



"Emang ada apa?"



"Kan Natalan."



"Ooh…" sahut saya lalu bergegas menuju mushala, sebuah ruangan



sementara dengan dinding tripleks bercat putih di lantai dasar. Saya



shalat lamaaaaaaaa…. sekali. Bukan karena saya orang shalih, tapi



karena saya bingung. Maklum, ilmu agama cuma sedikit, tapi otak saya



sudah mengingatkan kembali bahwa haram hukumnya bagi seorang Muslim



mengucapkan selamat hari Natal atau ikut dalam perayaan-perayaanny a,



sementara hati saya pun sudah menjerit, "Jangan naik ke atas, jangan



bergabung dengan mereka."



Tapi, bagaimana caranya menunjukkan sikap ini tanpa menimbulkan



masalah tambahan bagi saya? Saya ini pegawai baru yang masih



berstatus karyawan percobaan, satu-satunya wartawan berjilbab di



sebuah koran yang didominasi kaum Nashara. Saya harus menghadapi



tantangan dobel: membuktikan bahwa saya Muslimah pintar dan



berprestasi di kantor, sekaligus sabar menghadapi diskriminasi



terhadap Muslimah berjilbab saat itu. Masa' saya masih harus



menambahkan cap ekstrimis dan radikal serta anti-toleransi beragama



karena tidak mau ikut Natalan, ke dalam gerobak masalah saya?



Saya memperlama shalat saya karena saya berdoa dulu, minta petunjuk



Allah tentang bagaimana sebaiknya bersikap. ''Ya Allah, apa sebaiknya



saya keluar kantor saja lagi ya? Bilang saja, mau wawancara



narasumber kek. Ah, tapi tadi sudah ada sejumlah teman non-Muslim



yang melihat saya datang. Gimana dong ya Allah?''



Selama-lamanya shalat dan berdoa, kan tidak mungkin terus menerus.



Akhirnya selesai juga shalat dan munajat saya, sementara saya masih



dalam keadaan bingung. Saya duduk bersandar lamaaa…sekali di dalam



mushala. Silih berganti para lelaki Muslim (yaitu pegawai cleaning



service berseragam hijau) masuk untuk shalat Ashar (sementara para



karyawan lain yang mengaku Muslim sudah ramai tertawa-tawa makan



minum di atas). Ada seseorang yang bertanya, ''Mbak nggak ke atas?''



''Nggak ah,'' jawab saya. Lalu, nggak tahu dari mana asalnya, tapi



kayaknya dari Allah, terlontar dari mulut saya. ''Kan Muslim nggak



boleh menghadiri perayaan Natal. Haram kan?''



Si petugas kebersihan itu terdiam sejenak. Tangannya mengusap-usap



wajahnya yang masih basah oleh wudhu. "Jadi kita nggak usah ke atas?''



Saya tahu biasanya petugas cleaning service tidak diajak pesta atau



perayaan, dan baru berani mengambil makanan sesudah kaum elit



(misalnya, PemRed, Direktur-direktur, Editor, Reporter) menghabiskan



sebagian besar hidangan. Tapi saya jawab juga, ''Kalau saya sih nggak



ah. Di sini aja ah. Sampai pesta selesai.''



''Gitu ya Mbak?''



''Ya lah.''



Tak lama kemudian, masuk seorang karyawan yang lebih senior daripada



saya, seorang lelaki Muslim. Siap-siap shalat.



''Nggak ke atas Mas? Selama ini, bagaimana Anda bersikap pada



kesempatan seperti ini?''



Dia memahami maksud pertanyaan saya. Lalu dia menjelaskan panjang



lebar pergulatan batinnya pada saat-saat seperti itu; di satu pihak,



ada unspoken rule bahwa semua karyawan, tidak perduli agamanya, harus



mengikuti perayaan Natal karena bukankah karyawan Nashara juga ikut



dalam perayaan Idul Fitri? Di lain pihak, dia pun tahu bahwa haram



hukumnya bagi seorang Muslim ikut perayaan Natal.



Karena si Senior tampak bimbang, saya malahan menjadi lebih berani.



''Ya sudah Mas. Di sini saja. Sampai selesai.''



Itulah yang saya lakukan, ngumpet di mushala sampai perayaan Natal



selesai. Begitu saya bersiap-siap mulai membuat berita, ada seseorang



menyodorkan sepiring kecil berisi kue coklat yang tampaknya lezat



sekali. ''Ini, aku sisihkan untuk teman yang tadi nggak hadir,''



katanya. Saya berterimakasih namun menolak. ''Maaf, saya ndak boleh



makan ini.''



''Kenapa sih? Diet ya?" tanya si teman, matanya menyelusuri gamis



longgar saya.



''Nggak. Itu kue Natal. Saya Muslim, nggak boleh ikutan Natal dan



berarti juga nggak bisa ikutan makan kue-kuenya,' ' saya menjawab



dengan nada ''dibiasa-biasain' ' saja. Padahal jantung berdentam-



dentam cemas karena yang menawari kue sangat dekat dengan PemRed yang



Kristen itu.



Masih dengan gaya sok biasa, saya menyelesaikan pekerjaan secepat



mungkin lalu pulang. Dalam waktu singkat, seperti saya duga, sejumlah



teman segera tahu bahwa saya ''mengharamkan' ' ikut perayaan Natal.



Meski bukan saya yang ''mengharamkan' ' lho, tapi fatwa MUI dibawah



pimpinan Almarhum Buya HAMKA.



Seorang teman, perempuan non-Muslim, menandai sikap saya ini. Suatu



kali dalam kesempatan meliput bersama (maksudnya, saya ingin nebeng



mobilnya), dia menanyakan hal itu dan saya jawab apa adanya. "Bagi



Muslim haram hukumnya menghadiri perayaan Natal.''



Tiba-tiba saja dia menjawab, "Tahu nggak sih kamu, menurut agamaku,



aku tuh nggak boleh bergaul sama kamu. Sebagai 'anak-anak terang',



kami sebenarnya nggak boleh bergaul dengan kalian…''



Saya tidak tahu, apakah dia ingin mengatakan "tapi aku tetap bergaul



denganmu karena aku bertoleransi' ' ataukah dia ingin mengatakan "aku



berani melanggar larangan agamaku karena pekerjaanku mengharuskan aku



bergaul dengan yang bukan anak-anak 'terang'?'' Yang terlintas di



pikiran saya malahan ini: "Apa ya, lawan katanya 'anak terang'?



Apakah 'anak gelap'?''



Tapi yang muncul dari mulut saya (yang mudah-mudahan karena dituntun



oleh Allah Ta'ala) adalah ini, ''Lho, saya nggak apa-apa kok, kalau



kamu nggak mau bergaul denganku. I'm only practicing my faith, Islam,



so if you wish to observe your religious teaching, by all means,



please do so. Saya melaksanakan iman Islam saya, jadi kalau kamu juga



mau menjalankan agamamu, lha monggo.''



Teman saya ini hanya tersenyum kecil dengan gayanya yang cool. Lalu



mengambil kunci mobil dan membukakan pintu bagi saya. ''Ayo naik,''



katanya, dan kami pun berangkat meliput.



Tak terasa setahun terbang begitu cepat, datang lah Desember



berikutnya. Saya sempat memikirkan kembali bagaimana cara melarikan



diri dari kantor pada waktu itu. Tetapi suasana kantor malahan adem



ayem. Tak ada orang menggotong-gotong pohon Natal raksasa yang sampai



mentiung karena tingginya. Hanya ada satu pohon Natal ukuran sedang



di ruangan PemRed.



Dengan suara "dibiasa-biasain' ' saya hampiri Mbak SekRed. ''Nggak ada



perayaan tahun ini Mbak?''



''Nggak. Nggak ada perayaan Natal. Nggak ada perayaan Idul Fitri,''



katanya.



''Ooh…''



Saya tidak tahu bagaimana akhirnya pihak manajemen, yang dikuasai



orang-orang Kristen taat, sampai pada keputusan itu dan mengapa.



Emangnya gue pikirin? Yang penting, saya tidak usah bimbang lagi.



Dalam hati saya berseru, ''Allahu Akbar! Nggak apa-apa nggak ada



perayaan Idul Fitri di kantor! Enakan makan ketupat dan sayur pepaya



masakan emakku di rumah!''



* penulis seorang wartawan dan ibu rumah tangga, tinggal di Depok























 
===
Dapatkan tulisan-tulisan tentang Islam di:
http://www.media-islam.or.id 
Bagi yang ingin menegakkan ajaran Islam (hukum Qishash) luangkan 1 menit waktu 
anda untuk mengklik:
http://www.petitiononline.com/promati





      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

Kirim email ke