hex3 Mbak Ica, saya kebetulan bukan peneliti tapi PR di IPB, jadi tugas saya 
penyambung lidah juga. Menurut saya ide atau buah pikir itu mahal harganya.  
Hari ini telah dilangsungkan conference tentang kacang Komak subtitusi kedelai, 
kemarin diskusi tentang makro ekonomi pertanian, sebelumnya lagi tentang 
produksi kedelai. Kacang ini memiliki keunggulan yang subhanallah (insya Allah 
akan saya buatkan rilisnya dulu ya) ^_^ nanti bisa dilihat di www.ipb.ac.id
   
  Mbak Ica dkk, sebenarnya sejauh mata memandang hasil penelitian itu telah 
banyak dilakukan di kami atau lembaga penelitian atau PT lain, hanya saja cukup 
menjadi publikasi terbatas (jurnal) ilmiah. Kerjasama penelitian kadang didanai 
oleh perusahaan besar semisal Monsanto, Choeran Pokhpan, Lemelson, dll, (baca 
pemilik modal/kapitalis) terkadang hasilnya diklaim milik mereka dan 
dipatenkan. Kalau dipatenkan akan sulit masyarakat luas menikmatinya kecuali ko 
sudah jadi produk komersil.  Secara pribadi saya memahami betapa hidup disistem 
kapitalis ini sangatlah dilematis. Pemerintah memiliki dana penelitian terbatas 
dan political will yang kurang memihak rakyat, ditambah lagi kita hidup didunia 
internasional. Kebijakan atau konvensi internasional akan berpengaruh terhadap 
kebijakan negeri kita termasuk soal pangan ini.
   
  Jika kita mau mengurai maka masalah kemandirian pangan akan banyak berkaitan 
dengan berbagai macam kebijakan yakni ekonomi makro (perdagangan 
internasional/ekpor-impor, kebijakan hubungan luar negeri dll), kebijakan 
lahan, distribusi pangan (dalam Islam ada zakat mal/pertanian/ternak dll, zakat 
fitrah dll), standar kesejahteraan (diekonomi kapitalis sekarang diukur 
pertumbuhan ekonomi sedangkan Islam mengukur melalui kebutuhan hidup pokok 
yakni terpenuhinya pangan, sandang, papan dan kesehatan, jadi lebih pada sektor 
riil bukan potofolio/non riil) dan kebijakan lain. Mohon maaf karena 
keterbatasan waktu saya tak bisa menguraikannya dalam versi Islam.
   
   Ini ada tulisan lama yang pernah saya buat terkait pengelolaan lahan versi 
Islam untuk pertanian: semoga bermanfaat, hal ini menurut pemahaman syariat 
Islam yang saya pahami.
   
  Menghidupkan Tanah
   
  
  Mendiang  Rasulullah masih hidup, beliau memberikan seluruh lahan  di suatu 
lembah pada Bilal bin al Muzni. Kemudian di masa kekhilafahan, Umar menanyakan 
kemampuan Bilal dalam mengelola lahan tersebut. “Bahwa  Rasulullah SAW tidak 
memberikan (lembah) itu kepadamu untuk kamu pagari agar orang-orang tidak dapat 
mengambilnya, akan tetapi beliau memberikan kepadamu agar kamu menggarapnya. 
Maka ambillah dari tanah tersebut yang kamu kelola, dan yang lain (yang tidak 
bisa kamu kelola), kamu harus mengembalikannya.” Akhirnya, sisa tanah yang tak 
mampu digarap Bilal diambil kembali oleh Umar dan kemudian dibagi-bagikan pada 
kaum muslimin yang membutuhkan. 
   
  Lahan atau tanah merupakan asas dari pertanian. Dari  tanah muncullah 
beranekaragam tanaman indah yang bermanfaat bagi kelangsungan berbagai makhuk 
hidup. "Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami tumbuhkan padanya segala macam 
tanaman yang indah dipandang mata." (QS. Al Qaaf: 7). 
   
  Islam mendorong umatnya untuk produktif mengelola lahan pertanian dengan 
menghidupkan lahan mati atau kosong. Menghidupkan tanah yang mati  agar 
ditanami juga merupakan salah satu metode ajaran Islam mengentaskan 
pengangguran dan kemiskinan. Negara tak segan pula memberikan tanah mati 
(iqtha’)  dan modal usaha cuma-cuma pada fakir-miskin dan para pengganguran. 
Abu Yusuf, Mawardi dan Abu Ya'la menegaskan agar tidak membiarkan kekayaan alam 
tidak termanfaatkan . Abu Yusuf mengatakan, pemerintah tidak boleh membiarkan 
tanah yang tidak bertuan tanpa pengelolaan dan kepala negara dapat menyerahkan 
hak pengelolaan tanah tersebut kepada rakyat (masyarakat).
   
  Pengaturan kepemilikan tanah dalam Islam sangatlah sederhana. Tak menjlimet 
seperti sekarang. Tanpa melalui mekanisme pembuatan sertifikat tanah yang rawan 
risywah (suap). Pengaturan ini didasarkan pada hadis Rasulullah yang berbunyi: 
“Siapa saja menghidupkan tanah mati, maka tanah itu menjadi miliknya. Siapa 
saja membatasi sesuatu (dengan dinding), maka ia berhak atasnya. Siapa saja  
memakmurkan tanah yang tidak dimiliki siapa pun, maka ia berhak atas tanah itu. 
Kaum mana pun yang menghidupkan sesuatu dari bumi atau mereka memakmurkannya, 
maka mereka berhak atasnya.” (Hr.Bukhari dan  Abu Dawud).
   
  Bila pemilik tanah pertanian selama tiga tahun membiarkan tanahnya tak 
dikelola, maka kepemilikan tanah akan beralih secara otomatis pada orang lain 
yang mampu mengelolanya. Sesuai hadis Rasulullah ”  Orang yang memagari tanah 
tidak berhak (atas tanah yang dipagarinya itu) setelah (menelantarkannya) 
selama tiga tahun.”
   
  Dibolehkan pemilik tanah menggaji orang untuk mengelola lahan miliknya. 
Namun, Allah melarang menyewakan lahan pertanian tersebut untuk dikelola orang 
lain, lalu hasilnya dibagi sesuai kesepakatan.   Ada Sahabat yang bertanya 
kepada Rasulullah berkaitan sewa tanah. “Kami akan menyewakannya dengan bibit.” 
Beliau menjawab: “Jangan.” Mereka bertanya: “Kami akan menyewakannya dengan 
jerami.” Beliau tetap menjawab: “Jangan.” Mereka bertanya lagi: “kami akan 
menyewakannya dengan rabi’ (danau)”, Beliau tetap menjawab: “Jangan.” Kemudian 
beliau pertegas dengan sabdanya: “Tanamilah, atau berikanlah kepada saudaramu.” 
   
  Pemanfaatan lahan untuk keperluan selain pertanian -seperti latihan militer, 
pembangunan rumah, gedung dan sarana industri- pemerintah bisa mengambil lahan 
yang tidak produktif dan tidak subur. Kebijakan ini dimaksudkan supaya sumber 
daya alam dimanfaatkan seoptimal mungkin sesuai fungsinya. Disamping kebutuhan 
pangan masyarakat tetap terpenuhi baik secara mandiri. Apalagi dengan 
memanfaatkan ribuan  pulau-pulau tak berpenghuni Indonesia, sudah tentu  ini 
kian mengokohkan keamanan dalam negeri. (wallahu’alam bishawab) 
     
   



"Manusia  yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, 
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan 
silaturahmi." (Muhammad SAW).
  pustaka tani
  kampusku
  nuraulia

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke