ass.wr.wb.. setahu saya selama ini dalam kenyataannya yang menjadi warga kelas 2 adalah kami yang tidak merokok.. karena tidak bisa bebas dari hembusan racun nikotin dari para warga kelas 1, yang demi kesenangan dan kepuasannya sampai2 dibuatkan tempat2 khusus di mall2, restaurant2 sampai di restricted area macam di dalam kilang migas agar bisa terus menikmati asap2 berbau khas itu..!! mungkin memang sudah waktunya bertukar strata, sehingga para perokok dijadikan warga kelas 2.. he..he..
percayakah saudara2ku.. ada rekan saya yang rela membatalkan puasanya hanya karena tidak bisa merokok di siang hari..? nauzubillahi minjalik..!! dan yang Bapak SAEFUL maksudkan dengan "opini yg kurang menguntungkan" itu yang bagaimana, pak..? bukannya tidak merokok justeru jauh lebih menguntungkan..? dan bukannya para smokers harusnya beruntung dan berterima kasih telah diingatkan ttg kebiasaan yg sangat tidak baik ini..? merokok adalah pilihan hidup, tapi mohon asapnya dihirup sendiri tanpa menyebarkan nikotin ke paru2 kami dan anak2 kami juga.. karena berbeda dgn para perokok, pilihan hidup kami adalah bebas dari asap rokok, tidak perduli rokok itu haram, makruh, subhat atau halal sekalipun... (namanya juga pilihan, kan..?) salam sehat selalu.. wass.wr.wb.. adji (mantan perokok berat yg sudah tobat sejak awal 2001) --------------- Re: Ternyata Rokok Itu Haram Posted by: "Saeful B" [EMAIL PROTECTED] Thu Jan 31, 2008 7:19 pm (PST) Sumber yang saya dapet dari harian Kompas. Terbitannya sudah lama sekali. Sayangnya guntingan klipping itu sudah tidak ada lagi di saya. Soal tempat untuk merokok, saya tau betul. Harus hindari orang-orang non-perokok. Kami warga kelas 2, tentunya jika ingin merokok lihat-2 kondisi dan situasi. Permasalahannya adalah para anti-rokok selalu membuat opini yang kurang menguntungkan. Itu saja. Benang merah tidak akan pernah ketemu. Percayalah. Jika mendapatkan perokok asyik-2 mengganggu khalayak ramai, tegur aja. Tentunya banyak yang faham itu sangat mengganggu orang. Pasti rokokpun akan Dimatikan sepanjang cara dan teguran yang baik dan sopan. Salam, Saeful Bachri [Non-text portions of this message have been removed]

