Sumber ://www.taushiyah-online.com
Musibah merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup kita. Silih berganti
datang, bagaikan sapuan kuas warna-warni yang mengisi lukisan kehidupan.
Begitulah adanya musibah, dan begitulah sunnatullah yang berlaku, sebagaimana
yang dinyatakan dalam firman-Nya:
âSungguh, Kami pasti akan mengujimu dengan sebagian dari rasa takut,
lapar, serta kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan..â(Al-Baqarah:155).
Namun, bukanlah sikap yang bijak jika kita menyikapi setiap musibah yang
datang dengan cara-cara jahiliyah, menangis meraung-raung, memaki diri dan
orang lain, atau bahkan sumpah serapah yang tak sopan dan tak perlu. Sebab,
semua itu tidak akan mengurangi kadar musibah, dan justru menambah berat beban
perasaan kita sendiri. Apalagi jika disertai âtuduhanâ dan persangkaan
buruk terhadap kehendak Allah.
Musibah juga kerap kali membuat seseorang begitu frustrasi, seakan dunia sudah
berakhir, dan tak jarang berakhir dengan usaha bunuh diri, wal iyadzu billah.
Stres dan depresi yang melanda, jika tak diiringi benteng iman yang kokoh,
memang bisa melahirkan atraksi bunuh diri. Beberapa artis barat, yang notabene
berlimpah materi, berakhir mengenaskan seperti ini.
Sebagai seorang muslim, yang merupakan taman tarbiyah bagi generasi penerus,
sikap seperti itu tentunya perlu dibuang jauh-jauh dari kamus kehidupan. Maka,
sabar menjadi perisai yang ampuh ketika menghadapi musibah. Allah subhanahu wa
taâala berfirman:
ââ¦Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu)
orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, âInna lillahi
wa inna ilaihi rajiâunâ (Sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya
kepada-Nya kita kembali). Mereka itulah yang rnmendapat keberkahan yang
sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang
mendapat petunjukâ (Al-Baqarah: 155-157)
Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah, seorang ulama yang karya-karyanya banyak berbicara
masalah hati, membahas lebih jauh terapi penghilang duka lara dalam buku
beliau. Buku rnyang oleh penerbit dan penerjemahnya diberi judul âMeredam
Duka Saat Menghadapi Musibahâ ini banyak memberikan kiat dan terapi agar kita
terhibur dan tidak larut dalam kesedihan yang panjang.
Hal pertama yang patut kita sadari, sebagai terapi yang paling mujarab, adalah
bahwa kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah, sebagaimana yang
ditunjukkan dalam ayat di atas. Keyakinan tersebut mempunyai dua prinsip agung,
yang jika seorang hamba benar-benar memahami kedua prinsip tersebut, maka ia
akan terhibur dari musibah yang menimpanya. Ibnul Qoyyim menjabarkan dua
prinsip tersebut sebagai berikut,
Pertama, bahwa seorang hamba beserta keluarga dan hartanya benar-benar
merupakan milik Allah subhanahu wa taâala. Milik Allah itu telah diserahkan
kepada hamba sebagai pinjaman, maka jika Allah mengambil kembali pinjaman itu
darinya, kedudukannya seperti pemberi pinjaman yang mengambil barang yang
dipinjam. Keluarga dan hartanya itu selalu berada di antara dua ketiadaan,
yaitu ketiadaan sebelumnya dan ketiadaan sesudahnya. Kepemilikan hamba
terhadapnya hanyalah kesenangan yang dipinjamkan dalam jangka waktu sementara.
Hamba bukanlah yang mengadakannya dari ketiadaan, sehingga tidak bisa menjadi
pemiliknya secara hakiki. Hamba juga tidak bisa menjaganya dari berbagai
bencana setelah ia ada. Juga tidak bisa mengekalkan keberadaannya.
Jadi, seorang hamba sama sekali tidak memiliki pengaruh terhadapnya, tidak
memiliki secara hakiki. Bahkan, ia hanya dapat menggunakannya dalam batas
wewenang seperti seorang budak yang diperintah dan dilarang, bukan sesuka
hatinya seperti wewenang seorang pemilik. Karena itu, seorang hamba tidak boleh
melakukan tindakan terhadapnya kecuali sesuai dengan perintah Pemilik yang
hakiki.
Kedua, tempat kembali seorang hamba adalah Allah, tuannya yang sejati. Ia
pasti meninggalkan dunia di belakangnya dan menghadap kepada Rabbnya seorang
diri, sebagaimana ketika pertama kali ia diciptakan-Nya, tanpa ditemani oleh
keluarga, harta, atau kerabat, melainkan hanya ditemani oleh amal kebajikan dan
amal kejahatan. Bila demikian asal muasal seorang hamba, apa yang
ditinggalkannya dan akhir hidupnya, bagaimana ia bisa bergembira dengan sesuatu
yang ada atau berduka atas sesuatu yang tiada? Jadi, berpikir tentang asal
muasal dan akhir kehidupan, merupakan terapi paling mujarab terhadap penyakit
ini.
Pemahaman lain yang perlu kita yakini adalah bahwa apa pun yang ditakdirkan
menimpa kita, tidak mungkin untuk dihindari, sebaliknya apa pun yang tidak
ditakdirkan terluput dari kita, tidak mungkin menimpa kita. Allah subhanahu wa
taâala berfirman:
âTiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu
sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz) sebelum kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah mudah bagi Allah.
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa
yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang
diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi
membanggakan diri.â (Al-Hadid: 22-23).
Sumber ://www.taushiyah-online.com
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
[Non-text portions of this message have been removed]