bukannya depag sendiri sudah terkontaminasi mereka??

2008/2/4 Ahmad Sugandi <[EMAIL PROTECTED]>:

>   Coba email ini diteruskan ke Menteri Agama, atau Direjen terkait, biar
> ngeh..bahwa bahaya sudah didepan mata
>
>
> -----Original Message-----
> From: [email protected] <syiar-islam%40yahoogroups.com> [mailto:
> [email protected] <syiar-islam%40yahoogroups.com>] On
> Behalf Of Saepul Bahri
> Sent: Monday, February 04, 2008 1:31 PM
> To: syiar-islam; [EMAIL PROTECTED] <himakka%40yahoogroups.com>
> Cc: Mahrus; Zubaidi; Adnan
> Subject: [syiar-islam] Awas, Virus Liberal Masuk Pesantren! [2]
>
> Selasa, 22 Januari 2008
>
> Tiap tahun, ratusan santri di pesantren "diboyong" ke luar negeri.
> Dengan dana besar dari Barat, penyebaran liberalisme ke pesantren terus
> gencar. [bagian kedua]
>
> Lanjutan artikel sebelumnya
>
> Hidayatullah.com--Proyek besar penyebaran liberal ke pesantren
> disinyalir didanai oleh LSM asing yang cabangnya berada di Indonesia,
> yaitu
> The Asia Foundation (TAF). Lembaga donor yang disponsori Barat ini telah
> beroperasi di Indonesia sejak tahun 1955. Beberapa ormas dan lembaga Islam
> menjadi mitra utama mereka.
>
> Dalam situs resminya www.asiafoundation.org lembaga yang menjadi
> perpanjangan tangan para saudagar Yahudi ini banyak membantu LSM Indonesia
> yang giat menyosialisasikan sekularisme, pluralisme dan liberalisme (baca;
> SePiLis). Sebut saja, misalnya, Jaringan Islam Liberal (JIL), P3M,
> International Center for Islam and Pluralism (ICIP), Wahid Insitute,
> Maarif
> Institue, MADIA, dan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP).
>
> Laporan tahunan TAF 2006 menyebutkan, sejak tahun 2000 mereka telah
> membuat kurikulum kewarganegaraan yang mendukung nilai-nilai demokrasi,
> mendorong siswa berpikir kritis terhadap isu-isu demokrasi, HAM, dan
> pluralisme agama. Untuk mewujudkan ini mereka menggandeng CCE Indonesia
> (pusat pendidikan kewarganegaraan).
>
> Kurikulum itu kini telah menjadi materi wajib di seluruh UIN dan IAIN
> di seantero Indonesia. Bahkan, mereka tengah berupaya mengembangkan
> kurikulum serupa untuk diterapkan di universitas Islam swasta.
>
> Para mitra TAF telah memberikan pelatihan kurikulum baru ini kepada 90
> dosen kewarganegaraan dari 66 universitas Islam swasta pada tahun 2006.
> Para
> dosen tadi sudah mulai mengajarkan kurikulum tersebut kepada sekitar
> 20.000
> mahasiswa mereka.
>
> Pasca 11/9
>
> Proyek liberalisasi pendidikan Islam semakin deras arusnya setelah
> peristiwa 11 September. Workshop-workshop bertema liberal banyak digelar
> atas dukungan TAF dan ICIP.
>
> Berapa dollar AS yang digelontorkan kedua organisasi ini untuk proyek
> liberalisasi Indonesia? Robin Bush, Deputy Country Representative TAF
> untuk
> Indonesia, saat ditanya Suara Hidayatullah tentang itu tidak bersedia
> menjawabnya. Begitu juga Elfiqa D Siregar, salah satu staf ICIP, saat
> ditemui di kantornya di kawasan elit Pondok Indah, Jakarta, juga tidak
> menyebutkan jumlah pasti. Ia cuma menyebut salah satu nama lembaga pemasok
> dana, Ford Foundation.
>
> Namun, Robin menolak anggapan bahwa lembaganya disebut membawa misi
> liberalisasi. "Kami di TAF sama sekali tidak punya program liberalisasi,"
> ujarnya saat ditemui di kantor TAF, jl Adityawarman no 40, Jakarta
> Selatan.
>
> "Kami bekerja sama dengan pesantren karena tahu lembaga pendidikan ini
> erat kaitannya dengan masyarakat kelas bawah. Ini sesuai dengan apa yang
> menjadi benang merah dari semua misi TAF, yaitu good governence, serta
> meningkatkan kesejahteraan bangsa Indonesia," terangnya lagi.
>
> Menurut Bush, TAF tidak pernah menawarkan sesuatu kepada pesantren
> atau lembaga-lembaga Islam. "Semua program yang dijalankan TAF adalah
> inisiatif mitra kami. Mereka datang ke kami dengan ide, bukan kami datang
> ke
> mereka dengan ide," kata bule yang sudah lancar berbahasa Indonesia ini.
>
> Hal senada juga disampaikan Elfiqa. "Saya pribadi melihat tuduhan itu
> nggak benar. Saya turun langsung ke lapangan, saya lihat tidak ada. Tidak
> ada doktrin-doktrin itu," jelasnya.
>
> Apa pun perkataan mereka, faktanya, TAF dan ICIP telah banyak
> menggelontorkan program liberalisasi. Bahkan, kalau melihat visi dan
> misinya, jelas tujuan ICIP adalah mempromosikan pluralisme. Apalagi jika
> melihat daftar orang-orang yang duduk di jajaran dewan direktur. Di sana
> ada
> Moeslim Abdurrahman, Musdah Mulia, dan Ulil Abshar Abdalla. Siapa mereka?
> Pembaca pasti sudah tahu. [diambil dari majalah Suara Hidayatullah, edisi
> Januari 2008/www.hidayatullah.com]
>
> ___________________________
>
> BOX:
>
> Diajak Dansa, Jilbab Dibuka
>
> Hidayatullah.com--Saat mengikuti program pertukaran pelajar di Amerika
> Serikat, David Adam Al Rasyid merasakan betapa bebas pergaulan di sana.
> Saking bebasnya, ada peserta dari negara lain yang tak tahan.
>
> "Peserta dari Saudi dan Jerman pulang sebelum program selesai," ujar
> santri Pondok Pesantren As-Salam, Surakarta, itu.
>
> Bagaimana dengan pelajar dari Indonesia? "Banyak juga teman-teman yang
> ikutan dugem," jawab David. Dugem adalah singkatan dari dunia gemerlap,
> yaitu kehidupan malam di diskotik dan cafe. David sendiri mengaku tak
> pernah
> ikut-ikutan.
>
> Ironisnya, ada salah satu peserta Muslimah yang rela melepas jilbab
> saat diajak berdansa. "Supaya tidak malu, ia lepas jilbabnya. Tapi, dia
> dari
> SMU luar (bukan pesantren)," kenangnya. Nau'zubillah minzalik! [diambil
> dari
> Majalah Suara Hidayatullah edisi Januari 2008/www.hidayatullah.com]
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> ===
> Mari belajar Islam dan berdakwah melalui SMS
>
> Cara berlangganan: REG SI kirim ke 3252 (Dari Telkomsel)
> Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari
>
> Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252
> http://www.media-islam.or.id
> Yahoo! Groups Links
>
>  
>



-- 
OK TAUFIK


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke