Amerika Mulai Ditinggal Para Sekutunya di Afghan         
<http://hidayatullah.com/index2.php?option=com_content&task=view&id=6290&pop=1&page=0&Itemid=1>
          
<http://hidayatullah.com/index2.php?option=com_content&task=emailform&id=6290&itemid=1>
       
Senin, 04 Pebruari 2008         


Beberapa Negara seperti Inggris, Kanada sudah tak mampu mengendalikan 
Afghanistan dan pejuang Taliban. Amerika Serikat makin sendirian ditinggalkan 
sekutunya 

ImageHidayatullah.com-Baru-baru ini, Robert Gates, Menteri Pertahanan Amerika 
menulis surat kepada rekan sejawatnya asal Jerman agar mengirimkan pasukan 
lebih banyak ke Afghanistan dan perluasan tugas mereka di sana. 

Surat itu dikirimkan sebelum diadakan sidang tidak resmi setingkat menteri luar 
negeri Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Vilnius, Lituania. Ulrich 
Wilhem, Juru Bicara Pemerintah Jerman secara tegas menolak permintaan itu. Saat 
mereaksi permintaan AS Ulrich menyatakan, Jerman sama sekali tidak punya 
rencana mengubah penugasan pasukannya yang ditempatkan di Utara Afghanistan. 

Pasukan militer Jerman yang ditempatkan di Utara Afghanistan berjumlah 3.200 
tentara yang tergabung dengan pasukan keamanan internasional pimpinan NATO, 
ISAF.

Mengamati permintaan Amerika agar negara-negara sekutunya mengirimkan lebih 
banyak lagi pasukannya membongkar seberapa besar mental AS. Sederhana, karena 
Amerika Inggris dan Kanada tidak lagi mampu mengatasi kondisi di Selatan 
Afghanistan. 

Semakin luasnya kondisi tidak aman di Selatan Afghanistan membuat AS meminta 
peran serta pasukan ISAF yang lain guna memerangi kelompok Taliban di sana. 
Melihat jumlah korban yang tewas di sana membuat tidak satu pun dari 
negara-negara Barat yang siap untuk menerima permintaan itu. 

Pertimbangannya, mereka tidak siap menghadapi resiko berat. Negara-negara 
sekutu Amerika tahu betul bahaya yang mengancam anggota pasukannya bila dikirim 
ke sana. Di sisi lain, setiap pemerintah negara-negara Barat yang mengirimkan 
pasukannya ke Afghanistan mulai mendapat kritikan pedas kalangan oposisi dan 
rakyatnya.

Kembali pada enam tahun lalu ketika Amerika menyerang dan menduduki 
Afghanistan. Sampai saat ini, AS bukan saja tidak mampu menangkap Osama bin 
Laden yang menjadi dalih agresi mereka, malah kini kelompok Taliban berhasil 
mengorganisir kembali kekuatannya. 

Saat ini, pejuang Taliban mengontrol daerah yang cukup luas di Afghanistan. Ada 
tiga Laporan terbaru yahg dirilis menyebutkan kondisi Afghanistan. Ketiga 
laporan itu memperingatkan kondisi yang sangat memprihatinkan dari sisi 
keamanan dan ekonomi.

Selama ini, kehebatan militer Amerika begitu menguasai negara-negara dunia. 
Namun, bila dicermati lebih dalam, negara Paman Sam ini hanya berani main 
keroyok. Apa yang terjadi di Afghanistan masih menunjukkan cara dan sikap 
pengecut AS. Kini, saat AS kesulitan menghadapi Taliban, ia tidak punya cara 
lain kecuali mengajak sekutunya di NATO menghadapi Taliban bersama-sama. 

Namun, kini AS harus bersiap-siap kecewa karena permohonannya hanya bertepuk 
sebelah tangan. Tidak ada satu pun dari sekutunya yang mengiyakan penugasan 
tentaranya ke daerah-daerah yang rawan konflik. Bahkan Kanada yang sampai saat 
ini masih bekerja sama dengan AS mulai berpikir dua kali melanjutkan kerja 
samanya. Perdana Menteri Kanada, Steven Harper mengancam bila tidak ada 
pengiriman pasukan yang lebih besar ke daerah-daerah rawan konflik, niscaya 
Kanada akan menarik keluar pasukannya dari Afghanistan. [radio irib/ 
www.hidayatullah.com <http://www.hidayatullah.com/> ]



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke