Wa'alaykum salam wr.wb

sebenarnya usia segitu, anak sudah mulai banyak mencoba dan ingin
tahu, maka biasanya akan dilakukan:) teriak dan memukul juga salah
satu dorongan keingin tahuannya. sedangkan kita sebagai orang tua,
hanya mengarahkannya atau mengingatkannya. sperti yang ini boleh..yang
itu tidak boleh..:)

kebiasaan anak suka memukul dan teriak2 jangan dibiarkan, karena kalau
dibiarkan, sang anak merasa itu suatu kebolehan dan kebenaran untuk
dilakukan. dan hal spt itu akan terbawa hingga besar.

hmm..aku juga sering perhatikan, orang tua membiarkan anak2nya berlari
kesana kemari didalam masjid, teriak2 atau memukul temannya, dan
biasanya yg aku korek dari mulut ortunya, mereka selalu berdalih..
namanya juga anak2 dan masih kecil, jadi wajar spt itu.

sebenarnya kewajaran spt itu secara nda sadar yg menanamkan adalah
ortu, karena pada saat anak melakukan kesalahan, ortunya tidak menegur
dan membiarkannya, hingga anak merasa apa yg dilakukannya adalah satu
kebenaran dan kebolehan. Karena usia segitu, anak tidak pernah
mengerti mana yg salah dan mana yg benar, maka orangtua perlu
menjelaskannya.

hmm..atau ortu secara nda sadar sudah membiarkan anaknya mendzolimi
saudaranya yg lain. spt si bungsu yg selalu dimenangkan oleh ortunya
dari kakaknya, atau si kecil selalu benar dan si besar selalu salah.
nah ini tidak boleh, karena anak yg satu merasa selalu benar dengan
kesalahan2nya sedangkan yg besar selalu merasa semua perbuatannya
tidak pernah benar bila berurusan dengan adiknya, otomatis akan
menimbulkan kebencian dari pihak anak kepada ortu or saudaranya sendiri.

contoh : ortu selalu meminta si besar untuk memberikan barangnya yg
diminta oleh si kecil, dengan alasan yg besar harus mengalah dan harus
memberikan. seharusnya, anak diajarkan untuk tidak boleh merebut
barang orang lain secara paksa atau tanpa ijin dari yg punya. dan yg
besar harus selalu diminta ijinnya untuk memberikan barangnya terlebih
dahulu, dan tidak boleh memaksa si besar untuk memberikan barangnya
jika si besar tidak mau memberikan. 

Disinilah peran ortu untuk mengajarkan anak lebih dewasa dan bersikap
bijaksana untuk menerangkan andai diberikan dan tidak diberikan,
kepada kedua anaknya dan jangan memaksakan salah satunya dengan
mendzolimi yg lainnya.

hmm..aku selalu membiarkan si besar membalas pukulan yg tidak
disangka2 dari si kecil, kecuali si besar dengan sendirinya tidak mau
membalas dan memaafkan si kecil. Karena anak harus diajar untuk
bertanggung jawab atas perbuatannya. yaitu kalau nda mau dipukul,
jangan pernah memulai untuk memukul. atau kalau mau memukul, maka
resikonya harus mau dipukul, kecuali yg dipukul memaafkan.

ortunya jangan jadi membenarkan perbuatan salah anaknya yg kecil pada
saat memukul dan dibalas oleh yg besar hanya karena si kecil menangis.
tapi kita harus terangkan, bahwa jika tidak mau dipukul dan kerasa
sakit, maka jangan sakitin yg lain.

kenyataan saat ini, banyak ortu yg selalu membela anaknya yg kecil dan
selalu menyalahkan anak yg lebih besar, hanya karena kita tidak mau
mencari akar permasalahnnya tersebut dan langsung menyalahkan hanya
karena faktor usia yg lebih besar harus selalu mengalah dari yg
kecil:)padahal sesungguhnya hal spt ini akan terus tertanam pada diri
anak, hingga yg kecil akan jadi arogan dan yg besar akan selalu terima
dirinya di dzolimi orang:)

dulu anakku setiap pulang sekolah selalu aja menangis, entah
pingsilnya diambil temannya, sepatunya dilempar keluar, atau apapun
barangnya diambil dan dibiarkan hingga pulang selalu menangis. 

hmm..waktu itu aku tegas katakan (walau anakku nangis2 waktu itu:),
bahwa "kamu harus ambil kembali semua barang2 itu, karena itu semua yg
beli mama dan bukan kamu, jadi..mama nda mau tahu, besok barang2 itu
harus sudah kamu bawa balik dan perlihatkan ke mama"

ya Alhamdulillah..ternyata timbullah keberaniannya untuk mengambil
semua barang2nya, karena rasa takutnya lebih besar kepada mamanya
ketimbang temannya:)hehehe ya..sejak itu, anakku pulang sekolah nda
pernah nangis lagi, dan temannya tidak berani sembarangan lagi sama dia. 

Tapi..kita harus juga mengajarkan anak empati pada kesulitan orang
lain, contoh : waktu itu satu kelas anakku ada anak autis yg suka
menyerang andai dia melihat orang berkumpul dan seolah2 sedang
membicarakannya, lalu anak itu menyerang. aku datang ke sekolahnya dan
aku lihat kemudian aku terangkan kepada anakku, bahwa temanmu itu
sakit, dan kamu tolong kasih tahu ke teman2mu yg lain agar jangan
mengganggunya, karena setiap diganggu maka anak itu akan bersikap spt
itu terhadap kalian. Maka anakku selalu menasehati temannya yg lain
untuk tidak mengganggunya, dan menjelaskan kalau temannya itu sakit.
walau pernah sekali anakku pulang sekolah dengan payung yg patah, dan
saat aku tanya kenapa payung kamu patah? jawabnya dipatahin sama si
fulan (autis) karena dia nda suka sama gambar teletabis yg ada
digagang payungku.:) hehehehe

sekedar sharring pengalaman aja, yg benar dari Allah yg salah sudah
pasti dariku, mohon maaf bila ada yg tidak berkenan

salam
hana





--- In [email protected], "Yonda " <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Assalamu'alaikum Wr. Wb.
> 
> Yth. Bapak / Ibu, Ustadz / Ustadzah
> 
> Mohon bantuannya untuk menjawab pertanyaan  kami dibawah ini.
> 
>  
> 
> Kami mempunyai 2 orang anak (putra dan putri) yang alhamdullilah sehat
> wal.afiat semua nya, yang sa,at ini agak menggangu kami 
> 
> Adalah sikap dari anak pertama kami yang mulai menunjukkan ada nya sikap
> kekerasan salah satu nya adalah 
> 
> Senang berteriak dan yang paling kami khawatirkan adalah putra
pertama kami
> ini mulai memukul orang tua..(sa.at ini umur nya baru 1 ½ tahun)
> 
> Walaupun tidak sakit tetapi kami khawatir akan menjadi kebiasaan,padahal
> kami tidak pernah sama sekali memukul bahkan berbicara dengan anak
2x kami
> pun
> 
> Selalu dengan nada yang halus. 
> 
> Apakah hal ini wajar/hanya bersifat sementara…?
> 
> Apakah ini factor dari terlalu memanjakan anak..?
> 
> Atau ini hanya kekhawatiran kami yang terlalu berlebihan…?
> 
>  
> 
> Mohon  bantuan nya…
> 
>  
> 
>  
> 
> Wassalamu'alaikum wr wb
> 
>  
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke