On 2/5/08, Ginanjar Panggih <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Akhi, Inilah bukti bahwa salah satu Ciri Ulama adalah selain ilmunya cukup
> juga dengan ilmunya tersebut, dia takut kepada Allah. Snouck Hurgronje
> mempelajari islam, sangat pintar baca dan memahami qur'an tapi berani kepada
> Allah. Para orientalis demikian juga, mereka memahami islam namun untuk
> mencari kelemahannya dsb.
>
> Snouck Hurgronje menikahi anak Khalipah Apo di Bandung, demikianlah mereka
> membuat makar. Jadi rupanya pertarungan antara Hak dan Bathil memang sudah
> menjadi Sunnatullah dan terjadi setiap waktu.
>
>
>  On 2/5/08, lasykar5 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >   assalaamu alaikum,
> > sekedar sharing dari milis tetangga, tulisan pak Rosihan Anwar.
> > semoga bermanfaat dan maaf jika tidak berkenan.
> > salam,
> > satriyo
> >
> > --
> > Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang
> >
> > ---------- Forwarded message ----------
> > From: <[EMAIL PROTECTED]>
> > Date: Feb 4, 2008 6:46 AM
> > Subject: [...] Snouck Hurgronje Alias Abdul Ghaffar?
> > To:
> >
> > Pelajaran sejarah, bagian dari pendidikan, yang mungkin perlu dipelajari
> > lagi.
> > EP
> >
> > Snouck Hurgronje Alias Abdul Ghaffar?
> > http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=10681
> >
> > Oleh H. ROSIHAN ANWAR
> >
> > PROF. Dr. Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936) penasihat pemerintah
> > Hindia Belanda awal abad ke-20, terkenal di Aceh dan Pasundan, juga
> > punya
> > nama Islam, Abdul Ghaffar. Betulkah dia seorang mualaf?
> >
> > Tanggal 21 Februari 1885, Snouck tamatan Universitas Leiden berusia 28
> > tahun mulai tinggal di Mekah selama enam bulan. Tujuannya, mempelajari
> > Islam dari para ulama Mekah dan mengumpulkan keterangan tentang jemaah
> > haji dari Hindia Belanda yang bermukim di sana.
> >
> > Bagaimanakah Snouck sebagai seorang Nasrani bisa memasuki "tanah haram"
> > dan bersembahyang di Masjid Al-Haram? Jawaban yang diberikan ialah
> > Snouck
> > telah memeluk agama Islam dan namanya menjadi Abdul Ghaffar. Namun, soal
> > ini menjadi bahan perdebatan di kalangan para sarjana Belanda.
> >
> > Saya balik-balik lagi sebuah buku yang telah lama terbit dan lusuh
> > penampilannya berjudul Snouck Hurgronye en de Islam, berisi delapan
> > tulisan mengenai kehidupan dan karya seorang orientalis dari zaman
> > kolonial, disusun oleh P. Sj. van Koningsveld. Di situ dikatakan bahwa
> > di
> > mata gubernur Turki (pada waktu itu, negeri Arab diperintah oleh sultan
> > Turki), begitu juga di mata Syarif Akbar Arab dan lingkungannya,
> > kemudian
> > bagi banyak ulama di Mekah, Snouck adalah "seorang Belanda Muslim.
> > Seorang
> > sarjana yang datang ke Mekah untuk belajar dan naik haji."
> >
> > Berdasarkan keterangan buku harian Snouck sewaktu di Jedah, Koningsveld
> > merekonstruksi bahwa upacara mengislamkan Snouck terjadi di hadapan Kadi
> > Jedah, dihadiri oleh dua orang saksi, tanggal 16 Januari 1885. Snouck
> > mengucapkan kalimat syahadat pada kesempatan itu.
> >
> > Kenyataan Snouck sudah menjadi mualaf tidak disangkal oleh Wakil Konsul
> > Belanda di Jedah P.N. van der Chijs yang menulis surat kepada Snouck
> > yang
> > masih berada di Mekah tanggal 3 Agustus 1885 dengan nama Abd Al-Ghaffar,
> > dengan catatan dari Chijs "Uw aangenomen nieuwe naam" (nama baru anda
> > yang
> > telah diterima).
> >
> > Bukti yang lain ialah sebuah foto dari arsip keluarga pengacara Jedah
> > Abd
> > Ar-Rahman Nasif yang memperlihatkan Snouck ketika mengunjungi pejabat
> > gubernur Turki. Snouck yang duduk di baris depan memakai tutup kepala
> > tarboesj atau fez (seperti kopiah atau peci di Indonesia) dan dengan
> > begitu Snouck ingin menegaskan bahwa dia termasuk kelompok orang yang
> > mengenakan tarboesj dan memang tergolong "salah satu dari mereka".
> >
> > Di negeri Arab, waktu itu Snouck mengadakan hubungan erat dengan dua
> > ulama
> > yang berasal dari Jawa Barat yaitu Raden Haji Aboebakar Djajadiningrat
> > (dari Pandeglang) dan Raden Haji Hasan Moestapha (dari Garut).
> > Sekembalinya dari Mekah dan setelah berada lagi di Leiden, Snouck
> > mengadakan hubungan surat-menyurat dengan ulama masyhur di Batavia yaitu
> > Sayyid Oethman.
> >
> > Telah disunat
> >
> > Snouck kemudian menjabat sebagai penasihat pemerintah (Hindia Belanda)
> > untuk urusan Islam dari 1889 hingga 1906. Karena dianggap mualaf dan
> > dengan reputasinya sebagai sarjana teologi, Snouck ditemani oleh sahabat
> > Sunda-nya dari Mekah, Haji Hasan Moestapha, dengan mudah bisa
> > berkeliling
> > dan meninjau pesantren-pesantren di Jawa. Di Aceh tahun 1891, Snouck
> > berhasil memperoleh kepercayaan dari ulama Tengkoe Noerdin.
> >
> > Di Jawa Barat, Snouck alias Abdul Ghaffar dengan perantaraan Haji Hasan
> > Moestapha menikah dengan dua putri ulama terkenal. Jika dia tidak diakui
> > sebagai seorang Muslim, mustahil diizinkan menikah dengan gadis Sunda.
> > Dia
> > memenuhi segala persyaratan dari Islam. "Dia telah disunat (besneden),
> > melakukan salat, berpuasa di bulan Ramadan, dan menjauhi makanan serta
> > minuman yang terlarang" (hal. 146).
> >
> > Kendati semua itu di pihak Belanda seperti kalangan para sarjana di
> > Leiden, kalangan pemerintah di Den Haag dan Batavia, kalangan pers
> > kolonial Belanda terdapat pendapat bahwa Snouck hanya "pura-pura jadi
> > Muslim". Snouck dikatakan telah melakukan izhaarul-Islam. Artinya secara
> > lahiriah bersikap pura-pura jadi Muslim, padahal sebenarnya dalam batin
> > sama sekali tidak. Izhaarul-Islam adalah "veinzen van de Islam" (hal.
> > 153).
> >
> > Terhadap pendapat di atas tadi, Snouck tidak menyangkalnya secara tegas
> > dan katagoris. Dia berdiam diri. Mungkin atas pertimbangan tidak mau
> > melibatkan dirinya dalam polemik yang tiada putus-putusnya dan hanya
> > menyulitkan dirinya melakukan pekerjaannya sebagai pejabat pemerintah
> > Hindia Belanda.
> >
> > Snouck mempunyai dua istri orang Sunda. Yang pertama, bernama Sangkana
> > dan
> > dari pernikahan ini lahir empat anak yaitu Ibrahim, Aminah, Salmah Emah,
> > dan Oemar. Yang kedua setelah Sangkana meninggal adalah Siti Sadijah
> > yang
> > melahirkan seorang anak bernama Joesoef.
> >
> > Dalam sebuah wawancara dengan Koningsveld, Raden Joesoef menceritakan
> > dia
> > lahir tahun 1905 dari pernikahan kedua ayahnya, Snouck Hurgronje dengan
> > Siti Sadijah, putri penghulu Bandung Haji Muhammad Soe'eb yang meninggal
> > tahun 1922. Snouck berusia 41 tahun dan Sadijah 13 tahun tatkala
> > pernikahan berlangsung tahun 1898.
> >
> > Pada waktu Snouck meninggal tahun 1936, dia mewariskan kepada setiap
> > anaknya uang yang sama banyaknya yaitu 5.000 gulden. Snouck memang benar
> > telah merahasiakan hubungan keluarganya di Indonesia. Ketika
> > meninggalkan
> > Indonesia tahun 1906, dia menegaskan betul kepada istrinya supaya
> > anaknya
> > jangan menggunakan nama Snouck Hurgronje. Maka tatkala Joesoef masuk
> > sekolah, dia menggunakan nama kakeknya Haji Muhammad Soe`eb sebagai nama
> > ayahnya walaupun teman-teman sekelasnya tahu dia sesungguhnya adalah
> > putra
> > Snouck Hurgronje.
> >
> > Raden Joesoef kemudian menjadi Komisaris Besar Polisi. Itulah sekelumit
> > sejarah yang saya sampaikan kepada generasi muda, barangkali minat
> > mereka
> > tumbuh untuk membaca dan mengenal sejarah kita.***
> >
> > Penulis, wartawan senior
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> > 
> >
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke