Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Nasib Sial
Mungkin kita sering sekali mendengar kata-kata itu
yah
Atau juga mungkin kita sering mengucapkannya tanpa
kita sadari
Saya ingin sedikit bercerita tentang awal tulisan ini
bermula, semoga ada manfaatnya buat kita semua.
Hari itu, Sabtu kemaren. Selesai Maghrib suamiku
pulang dari belanja bersama anak lelakiku yang tertua.
Saat itu aku habis menggosok baju. Kemudian suamiku
bilang :Ma
tolong masaklah soup daging,.uda tadi beli
daging. Ok, jawabku, tapi tolong uda yang potong2
dagingnya kecil-kecil yah, biar Ima yang potong2
sayurnya, dan menjerang air untuk soup itu dulu.
Iyah, suamiku bilang(sambil bergegas memotong daging
tersebut),Dan aku memotong sayurannya setelah air
kupanaskan dipanci kompor gas tersebut.
Dah selesai dipotong-potong, dan air agak sedikit
mendidih, belum sampai mendidih sekali sih, mungkin
baru berapa derajat celcius. Kumasukkan daging yang
telah dipotong-potong, dan kubuang dadihnya(ampasnya),
yang berupa darah-darah daging yang mengapung diatas
air yang telah mendidih tersebut.
Azanpun berkumandang dari depan rumah kami. Suamiku
turun shalat kemesjid bersama anakku itu. Sementara
aku melanjutkan potongan sayur itu.
Sepulang dari mesjid, suamikupun mendekati aku, sambil
baca-baca majalah, kami bercerita sedikit. Ceritanya
begini:
Enak juga pengajian sabtu pagi tadi dimesjid Kata
suamiku.
Oh yah, apa pembahasannya, banyak yang datang ngak?
tanyaku pula.
Lumayan, pembahasannya tentang surah Yasin. Jawab
suamiku.
Maaf yah Da, Ima ngak bisa hadir, karena pagi-pagi
harus urusin Muhammad, kalau ia bangun, pasti yang
dicarinya mamanya, lagian Ima dah bilang ke Ibu-ibu,
saat mereka tanya, kenapa Ima ngak hadir, Pak Rahim
bagus sekali ulasan tafsirnya, kalau Ibu rahima ikut
kan bisa lebih rame lagi?, Ima jawab sama Ibu-ibu itu.
Suami saya memang pintar dalam tafsir dan bahasa Arab,
karena bidangnya betul. Biarkanlah beliau saja yang
ikut.
Hmmm
Ima tau ngak, apa arti Tathayyarnaa. Tanya
suamiku lagi. Mau kujawab, takut salah. Karena aku
tahu arti kata belum tentu penafsirannya sama dengan
arti kata tersebut. Aku Tahu, kalau kata
tathayyarnaa itu berasal dari akar
kata:Thaaraa-Thaairun= burung. Kujawab sajalah :
Ima ngak tau uda, apa yah artinya?
Uda lihat di tafsir jaamiul Ahkaam oleh Qurthubi,
artinya adalah Attasaaum. Tanya suamiku lagi.
Kujawab sajaBosan. Bukan suamiku bilangTasaaum itu
artinya adalah lawan dari optimis, berarti pessimis.
Jadi yang dimaksudkan Tathayyarnaa, setelah kami
sama-sama diskusi tadi adalah Nasib Sial. Oh
yah,..gimana ceritanya da lanjutku lagi.
Suamikupun bercerita. Ima tau ngak, ayat ini turun
dalam cerita nabi Isa Alaihissalam, saat beliau
mengutus dua orang utusan kesuatu negeri bernama
Anthakiyah, di Turki sana. Uda dah lihat dari peta
Sejarah Islam, dimana letak negeri Antakiyah itu,
yah..di Turki dekat ke Syiria sana. Trus gimana
ceritanya sambungku lagi.
Jadi, setelah dua orang diutus nabi Isa Alaihissalam
ke kampung tersebut, orang-orang kampung itu tidak mau
juga bertauhid, masih juga tetap menyembah berhala,
entah karena terlalu keras, atau bagaimana, sampai
penduduk kampung ngak mau beriman, lantas nabi Isa
melalui perintah Allah mengutus lagi seorang utusan.
(Sambil suamikupun membacakan surah Yasin ayat 13-21).
Kali ini, utusan itu mulai sedikit lembut, didekatinya
masyarakat disekelilingnya, iyah, ada yang
mengikutinya, namun tetap juga masih sangat minim
sekali. Apa kata kaum tersebut pada utusan nabi Isa
Alaihissalam itu?
Kamu bertiga tidak lain, hanyalah manusia seperti
kami. Dan Allah Maha pemurah, tidak akan menurunkan
sesuatu apapun, kalian tidak lain, hanyalah pendusta
belaka.
Apa jawab para utusan itu? Mereka berkata: Kami tidak
lain hanyalah sebagai penyampai perintah Allah dengan
jelas.
Hingga pada suatu kali, datanglah musibah yang menimpa
kaum tersebut. Apa kata penduduk kampung itu pada
ketiga utusan tadi?
Sesungguhnya kami bernasib sial (tathayyarnaa)karena
kamu. Sesungguhnya jika kalian tidak berhenti (menyeru
kami), niscaya kami akan merajam kalian, dan kalian
pasti mendapat siksa yang amat pedih dari kami.
Utusan-utusan itu berkata : kemalangan(kesialan)
kalian itu adalah akibat kalian sendiri. Apakah jika
kalian diberi peringatan (kalian mengancam kami)?
Sebenarnya kalian adalah kaum yang melampaui
batas(berlebih-lebihan).
Kemudian lanjut cerita suamiku lagi dengan membacakan
firman-firman Allah Taala:
Kemudian Allah menyiksa mereka dengan sekali tiupan
saja. Tidak ada siksaan atas mereka kecuali sekali
tiupan saja, maka tiba-tiba mereka semuanya mati
Aduhai, betapa besarnya penyesalan terhadap
hamba-hamba itu, tiada datang seorang utusanpun kepada
mereka, selain mereka selalu memperolok-olokkannya.
(Q.S yasin 29-30).
Setelah selesai bercerita suamikupun pergi ke ruangan
computer. Setelah itu aku ke dapur, mengambilkan
makanan yang sudah masak, ikan dan soup daging. Kami
makan sepiring berdua, yang sudah menjadi kebiasaan
kami berdua semenjak mulai menikah, sulit pula untuk
dihilangkan.
Selesai makan, suamikupun mengambilkan air minum
untukku, dan aku minum, tetapi pikiranku masih pada
cerita tadi. Aku mulai melihat buku tafsir yang lain,
yaitu tafsir Ibnu Abi hatim, yang terkenal dengan
penafsiran ayat dengan hadits-hadits Rasulullah dan
para sahabat. Juga aku melihat tafsiran At Thabbarypun
begitu. Sementara aku juga melihat tafsirannya fathur
Ar razi, yang terkenal dengan penafsiran bi
rrakyunya(tafsir dengan pendapat lebih banyak) .
Saat kulihat, dalam tafsir Ibnu Abi hatim, kulihat
disana yang dimaksudkan pada negeri Antakiyah adalah
negeri di dekat Turki, berdekatan dengan negeri
Arruum.
Aku teringat dengan surah Arruum dalam AlQuran.
Kutanya suamiku : Uda, uda bilang tadi Antaqiyah
dekat Turki, sementara Ima baca Antaqiyah dekat dengan
negeri Arruum, sementara Ima baca Arruum dalam surah
Arruum adalah bangsa Rumawi.
Lanjutku lagi : Ima selama ini, membayangkan bangsa
Rumawi yang tercantum dalam surah Arruum tersebut
adalah negeri Rumawi yang ada di Eropah sana(Italy)?.
Telah dikalahkan bangsa Rumawi, dinegeri yang
terdekat. Mereka setelah dikalahkan itu akan menang,
dalam beberapa tahun lagi
..(Q.S Arruum 30:2-4).
Sumiku bilang lagi :Coba Ima ambil peta sejarah Islam
di lemari itu, lihat dimana letaknya negeri
Antaqiyah. Kuambil peta itu. Disana kami sama-sama
melihat peta, dan suamiku menjelaskan, bagaimana
bentuk bumi dalam pandangan orang dahulu, dan
bagaimana bentuk bumi dalam pandangan zaman sekarang
yang sudah pakai alat yang canggih. Memang
berbeda-beda. (kalau soal bentuk bumi ini, aku jadi
teringat dalam dua milist aku sempat berdebat juga,
bagaimana menjelaskan firman Allah tentang bentuk bumi
itu bulat seperti telur(dahiyat), sempat bersitegang
urat leher juga, sampai akhirnya ada seorang netter
yang menjelaskan secara ilmu bumi(geologi), sesuai apa
yang aku sampaikan, jadi pas lah antara ayat yang
kusampaikan dengan ilmu yang dicapai zaman sekarang,
selesai pulalah masalah itu. Duh..ku ingat, betapa
sulitnya menjelaskan firman-firman Allah ini.
Juga, didalam peta tersebut dijelaskan perluasan
wilayah kerajaan Islam, dari dulu, hingga kini. Syukur
aku punya suami yang pintar dalam ilmu umum ini, ada
apa-apa aku bisa bertanya kepadanya, beliau ini rajin
baca surat kabar, rajin mendengar berita negara-negara
manapun, tanpa pandang bulu, terutama letak-letak
negara, beliau cukup mengerti, tidak seperti aku,
sulit hafal, negara ini letaknya dimana, kalau beliau,
luar biasa. Alhamdulillah.
Setelah ketemu peta Antaqiyah, aku melihatnya berada
Turki. Dan disana tercantum memang bahrul
arruum(lautan Ruum).
Jadi, ada dua kata Arruum tersebut. Bagi orang
Indonesia, Rumawi itu yang mana dulu. Kalau dalam ayat
surat Arruum didalam ayat tersebut, tentu kita harus
melihat penafsirannya, sudah jelas yang dimaksudkan
adalah bangsa Ruum yang berdekatan dengan Turki, yang
mulanya dikalahkan,kemudian menang. Bukan Negeri
Rumawi yang ada di Eropah itu.
Hmmm
aku mengangguk-angguk saja. Sambil kuambil
tafsir, kuteruskan penafsiran tentang cerita didalam
surah Yasin tadi.
Setelah itu, datanglah dari ujung kota, seorang lelaki
dengan bergegas-gegas dia berkata pada kaum yang
enggan menerima seruan tiga utusan tadi. Ia berkata :
Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah
orang yang tiada meminta balasan dari kamu, dan mereka
adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Kubaca tafsirannya. Siapakah lelaki yang datang
jauh-jauh untuk menyuruh mengikuti ketiga utusan tadi?
Setelah kulihat, maka kudapatkan jawabannya beliau
adalah :
Habib bin zaid, bin Ashim, saudara Mazin bin Najjar,
yang mana Mazin bin Najjar inilah kelaknya nabi palsu
Musailamatul Al Kadzzaab membunuh badannya menjadi
bagian yang terpotong-potong pada pertempuran Al
Yamamah, dimana saat itu Musailamatul Al Kadzaab
bertanya kepadanya tentang nabi Muhammad. Apakah kamu
bersaksi bahwa Muhammad rasulullah? Beliau menjawab
: Iya, Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan
Allah. Kemudian ditanya Musailamatul al kaddzaab lagi
: Apakah kamu bersaksi bahwa aku ini Rasulullah?
Beliau menjawab : Aku tidak mendengar diualng
berkali-kali, tetap jawabnya begitu, sampai
dipotong-potonglah badannya menjadi beberapa
bagian.(Silahkan lihat pada Tafsir Ibnu Katsir, juga
tafsir Attabbari, juga tafsir Ibnu Abi Hatim).
Lantas siapakah habib bin zaid Annajjar ini? Dalam
sebuah riwayat dari Ibnu Abbas, dari kaab al Akhbar,
dari Wahab bin Munabbah Al Yamani, beliau adalah
seorang lelaki dari bangsa Antaqiyah, namanya habib,
seorang pencari makanan yang mana setengah makanan
yang ia cari dikasih untuk keluarganya, setengahnya
lagi untuk disedeqahkannya.
Ia seorang yang pincang, tinggal jauh dari kota,
tetapi dengan kelemahan dan kepincangannya itu, ia
tetap bersigegas dengan berpincang-pincang kekota,
untuk mengingatkan kaumnya agar mengikuti ajaran para
utusan tersebut, tetapi apa pula yang diterimanya,
setelah ia menjelaskan semuanya? Ia dibunuh oleh
kaumnya, dalam sebuah riwayat, ia dibunuh dengan
rejaman lemparan batu-batuan. Disaat dilempari pakai
kayu itupun, ia masih saja memanjatkan doaya Allah
berilah petunjuk pada kamu itu..Ya Allah berilah
hidayah pada mereka
, maka matilah ia terbunuh, tanpa
seorangpun dapat membelanya.
Kemudian pada ayat selanjutnya : Masuklah kamu
kedalam surga. Kemudian dalam surga tadi (Habib) pun
berkata: Aduhai betapa malangnya nasib kaumku,
bahwasanya dengan sebab ketabahanku atas perbuatan
mereka dan menyerukan kebenaran itu, Allah lantas
memasukkan aku kedalam surga, dan memuliakan
aku(Silahkan dibaca ayat dan penafsiran ini dalam
AlQuran dan ceritanya dalam buku-buku tafsir yang saya
sebutkan diatas).
Sambil bercerita juga beliau menyampaikan bagaimana
kata : Bernasib sial ini pada zaman dulunya. Zaman
Jahiliyyah, orang kalau mau menikah, datang dulu ke
seekor burung. Kalau burung tersebut mengangguk-angguk
dengan menampakkan wajahnya berarti pertanda, ini hari
baik untuk menikah, maka menikahlah kedua pemuda/i
tadi. Tetapi, kalau burung tadi menganggung-anggung
dengan memperlihatkan maaf(pantatnya), maka keduanya
ngak jadi menikah.
Nah, dalam hal ini, sepertinya, masih ada juga terjadi
dimasyarakat Indonesia, yang memandang hari sial ini.
Atau nasib sial ini.
Wassalamualaikum. Cairo, 25 Pebruari 2008. Rahima.
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
http://www.yahoo.com/r/hs