Bapak, ibu, dan teman-teman yang terhormat,
Mohon beberapa cuplikan berita/artikel di bawah ini bisa dianalisis secara
dingin dan jernih. Mungkin juga perlu dilacak kalau ada oknum-oknum yang
namanya tertulis dalam berita/artikel cukup mencurigakan. Misalnya saja
akhir-akhir ini banyak karya seni yang 'memotret' tentang keluarga besar PKI di
masa lalu.
Ada beberapa oknum 'titisan masa lalu' yang bergerak dengan sistematis. Saya
jadi ingat gempuran lembaga kebudayaan rakyat (LEKRA) terhadap lembaga
kebudayaan nasional (LKN) dan lembaga seni budaya muslim indonesia (LESBUMI),
serta lainnya. Segala cara dilakukan untuk menghancurkan kekuatan-kekuatan yang
menurut LEKRA antirevolusioner. Hasilnya tentu saja kita bisa saksikan bersama
betapa LEKRA malang melintang tanpa kendali sampai akhirnya 'ditertibkan' oleh
rezim orde baru.
Ini bukan soal perang antara berbagai kekuatan politik yang boleh jadi
menjadi katalisator demokrasi. Ini lebih kepada ambisi pribadi-pribadi yang
menggunakan berbagai kendaraan untuk mencapai tujuan primordialnya. Oknum-oknum
seperti inilah yang berbahaya. Menunggangi berbagai kesempatan untuk mewujudkan
mimpi-mimpi kerdilnya, yang lebih mengutamakan kebutuhan perutnya sendiri.
Bukankah ini berbahaya?
Maka, coba perhatikan lingkungan anda jika:
1. Ada oknum-oknum yang mencoba bergerak dengan cermat, mencoba mengumpulkan
massa, mencoba tampil sok elegan, mencoba memprovokasi lingkungan dengan cara
halus maupun keras, mencoba merebut kursi-kursi jabatan di lingkungan kerjanya,
mencoba membuat opini-opini sok cool dengan peristiwa masa lalu, mencoba
membangun hubungan dengan banyak pihak dengan agenda tersembunyi.
2. Ada oknum-oknum yang mencoba membuat berbagai kegiatan berkaitan dengan
peristiwa masa lalu (gerakan PKI, dll). Misalnya saja membuat upacara
peringatan, membuat karya puisi pembelaan, membuat karya lukisan yang
'membenarkan' gerakan komunis, membuat karya film yang 'mendokumentasikan'
beberapa 'kekuatan masa lalu', dan membuat pertunjukan teater yang 'memuja masa
lalu'.
Seandainya beberapa hal di atas tampak melalui gerakan/aksi individu-individu
yang modelnya seperti pada berita/tulisan di bawah ini, mungkin inilah saat
kita mewaspadainya dengan serius. Jangan-jangan di lingkungan sekitar kita
tumbuh subur komunitas yang mempunyai 'dendam masa lalu'.
Perlu bapak, ibu, dan teman-teman ketahui, tahun ini adalah tepat 60 tahun
peristiwa madiun!! Mungkin akan ada 'perayaan' yang dilakukan oleh oknum-oknum
yang tidak bertanggung jawab. Maafkan kalau saya keliru..
Fajar Putra
-----------
http://www.suaramerdeka.com/harian/0409/30/opi04.htm
...
....
Bahwa Partai Komunis Indonesia telah berkali-kali melakukan pemberontakan
bersenjata,tercatat tiga kali pemberontakan. Diawali pada zaman penjajahan
tahun 1926 yang dikenal dengan pemberontakan tiga daerah.(Tegal, Brebes,
Pemalang) Pemberontakan tersebut oleh Pemerintah Kolonial dianggap sebagai
upaya mengacau keamanan, oleh karena itu ditumpas dan pemimpinnya yang bernama
Kutil dieksekusi mati di-alun-alun Kota Tegal. Pemberontakan kedua, yang
terkenal dengan pemberontakan Madiun, dimulai awal September dan berakhir tiga
puluh September 1948. Pemberontakan ini diawali mosi tidak percaya di Parlemen
oleh Fraksi PKI, yang tidak setuju dengan kebijaksanaan Kabinet Hatta. Bung
Hatta tokoh nasionalis religius yang antikomunis, mengambil kebijaksanaan
membersihkan militer dari orang-orang komunis.
....
....
http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.01.25.07301437
Jumat, 25 Januari 2008 | 07:30 WIB
JAKARATA, JUMAT--
Film dokumenter Tumbuh Dalam Badai karya sutradara IGP Wiranegara diluncurkan
di Jakarta, Kamis. Film ini menjadi istimewa dan menyentuh karena berisi
kesaksian dan perihnya perjalanan hidup anak-anak yang orang tuanya menjadi
korban Tragedi Kemanusiaan 1965/1966. Film ini merupakan produksi ketiga
Lembaga Kreativitas Kemanusiaan dan memerlukan waktu penggarapan yang cukup
panjang, yakni dua tahun.
....
....
http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=viewartic le&artid=14595
Dikatakannya, gerakan ini digandrungi angkatan muda lantaran watak militansi
serta revolusionernya. Menurutnya, gerakan ini bertentangan dengan faham
ketuhanan dan kontradiksi dengan nilai kemanusiaan, sehingga tidak cocok dengan
filsafat hidup dan budaya bangsa Indonesia.
Praktiknya idiologi ini menampilkan sosok personal maupun komunitas sebagai
kumpulan manusia yang anti moralitas, maka dari itu penyusupan gerakan ini
wajib ditolak dan diantisipasi. Kita akui bahwa pelajar dan mahasiswa mudah
dipengaruhi dan dihasut oleh gerakan ini, tegas Alfian saat menjadi pembicara
dalam Seminar Remaja Muslim dengan tema membedah pola gerakan komunis di
kalangan pelajar yang berlangsung di Aula Gedung DPRD Cilegon, Senin (30/7).
Dalam acara yang diselenggarakan Forum Ukhuwah Pelajar dan Mahasiswa Muslim
(FUPMM) dan Komando Aksi Banten Anti Komunis (Kabak) Cilegon ini, Alfian
menjelaskan contoh nyata mudahnya kaum pelajar dipengaruhi oleh gerakan. Salah
satunya mengajak para pelajar tawuran, pergi ke tempat perbelanjaan pada
jam-jam sekolah, dan beberapa hal yang bertentangan dengan tata tertib yang
ada.
Lebih lanjut, ia mengatakan proses metamorfosa pun terjadi pada gerakan
komunis ini yang harus disikapi secara tepat dan cermat, serta antisipatif.
Gerakan ini, katanya, dapat muncul dalam gerakan organisasi tanpa bentuk dengan
dua pola gerakan, yaitu melalui desentralisasi mutlak dan sentralisasi
situasional. Bahkan, ia memprediksi bukan tidak mungkin muncul partai politik
yang mengusung komunisme sebagai asas gerakannya.
Dalam aktivitas kaderisasi gerakan ini biasanya dilakukan bervariasi, misalnya
melalui forum diskusi, pendidikan kader dalam kelas belajar atau kaderisasi
melalui aksi massa serta kaderisasi yang bersifat fisik. Semua ini harus
diantisipasi, tegasnya lagi.
Lebih jauh dikatakannya, langkah antisipasi masuknya gerakan komunis dapat
dilakukan dengan memberikan pemahaman dasar tentang komunisme serta harus ada
pelarangan beredarnya buku-buku yang menjajakan paham komunisme. Junjung
tinggi nilai kemanusiaan, keadilan, patriotisme, dan jadikan perbedaan sebagai
potensi yang harus dikelola dengan azas kebersamaan, tandasnya.
Sementara itu, Ketua FUPMM Cilegon Suhendi Hidrajat berharap dari seminar
kaum pelajar dapat memiliki gambaran dan langkah antisipasi agar tidak
terpengaruh oleh paham komunis. Karena biasanya, target gerakan komunisme
adalah orang yang paling pintar, nakal, dan bodoh. Mari kita perangi gerakan
itu dengan membedakan dan membentengi diri terhadap segala tindakan yang
mengarah kepada gerakan komunis, imbuhnya. (fal)
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
[Non-text portions of this message have been removed]