Kisah Yusuf Estes dibawah ini ada sedikit cacatnya, yaitu sampai dengan umur 50 
tahun
masih belum menemukan Tuhan, kemudian pada saat berumur 47 tahun masuk Islam.
Mohon diperiksa kembali..... 

  ----- Original Message ----- 
  From: adji ekawarman 
  To:  
  Sent: Tuesday, March 25, 2008 10:11 PM
  Subject: [syiar-islam] Re: Kisah Islamnya Syeikh Yusuf Estes


  sebuah kisah yang betul2 menyentuh..!
  Insya ALLAH menambah keimanan kita..

  amin..

  wassalam..

  adji

  ------

  Kisah Islamnya Syeikh Yusuf Estes 
  Posted by: "Temie Iswanto" [EMAIL PROTECTED] abisubhan 
  Sun Mar 23, 2008 9:50 pm (PDT) 
  Kisah Islamnya Syeikh Yusuf Estes 
  Sabtu, 22 Maret 2008

  Awalnya ia bekerja sebagai musisi di gereja sekaligus penginjil. Namun
  kini, ia berkeliling dunia dan telah banyak mengislamkan orang. 

  Hidayatullah.com--Dr. Yusuf Estes lahir tahun 1944 di Ohio, AS. Tahun
  1962 hingga 1990 ia bekerja sebagai musisi di gereja, penginjil
  sekaligus mengelola bisnis alat musik piano dan organ. Awal 1991 ia
  terlibat bisnis dengan seorang pengusaha Muslim asal Mesir bernama
  Muhammad Abd Rahim. Awalnya ia bermaksud meng-Kristenkan pria Mesir itu.
  Namun akhirnya ia justru memeluk Islam diikuti oleh istri, anak-anak,
  ayah serta mertuanya. Ia menguasai bahasa Arab secara aktif, demikian
  juga ilmu Al-Quran selepas belajar di Mesir, Maroko dan Turki. Sejak
  2006, Yusuf Estes secara regular tampil di PeaceTV, Huda TV, demikian
  pula IslamChannel yang bermarkas di Inggris. Ia juga muncul dalam serial
  televisi Islam untuk anak-anak bertajuk "Qasas Ul Anbiya" yang bercerita
  tentang kisah-kisah para Nabi. 

  Yusuf terlibat aktif di berbagai aktifitas dakwah. Misalnya, ia menjadi
  imam tetap di markas militer AS di Texas, dai di penjara sejak
  tahun1994, dan pernah menjadi delegasi PBB untuk perdamaian dunia. Syekh
  Yusuf telah meng-Islam-kan banyak kalangan, dari birokrat, guru, hingga
  pelajar. Berikut kisah Syekh Yusuf sebagaimana dituturkannya di situs
  www.islamtomorrow.com. Di bawah ini adalah penuturannya.

  ***

  Nama saya Yusuf Estes. Saat ini dipercaya memimpin sebuah organisasi
  bagi Muslim asli Amerika. Kini sepanjang hidup saya berikan untuk Islam.
  Saya berkeliling dunia untuk memberikan ceramah dan berbagi pengalaman
  bagaimana Islam hadir dalam diri saya. Organisasi kami terbuka untuk
  berdialog dengan berbagai kalangan. Misalnya para pemuka agama seperti
  pendeta, rabi (ulama kaum Yahudi-red) dan lainnya dimanapun mereka
  berada.

  Kebanyakan medan kerja kami adalah kawasan institusional seperti pusat
  militer, universitas, hingga penjara. Tujuan utama adalah untuk
  menunjukkan Islam yang sebenarnya dan memperkenalkan bagaimana hidup
  sebagai seorang Muslim. Meskipun Islam saat ini berkembang sebagai salah
  satu agama terbesar kedua setelah Kristen, namun masih banyak saja
  terjadi misinformasi tentang Islam. Misalnya Islam selalu diidentikkan
  dengan hal berbau Arab.

  Banyak orang bertanya pada saya bagaimana mungkin seorang pendeta atau
  pastur Kristen bisa masuk Islam. Padahal tiap hari kami menyampaikan
  kebenaran Kristen. Belum lagi dengan berita-berita negatif tentang
  perilaku buruk Islam di media. Pasti tidak ada orang yang tertarik
  dengan Islam. Pernah seorang pria Kristen bertanya pada saya melalui
  e-mail kenapa dan bagaimana saya meninggalkan Kristen dan masuk Islam.
  Saya berterima kasih pada semua yang bersedia mendengar kisah saya
  berikut ini. Semoga Allah ridha.

  Keluarga Kristen taat

  Saya lahir di Ohio, besar dan bersekolah di Texas. Dalam tubuh saya
  mengalir darah Amerika, Irlandia dan Jerman hingga sering disebut WASP
  (white anglo saxon protestant). Keluarga kami adalah penganut Kristen
  yang sangat taat. Tahun 1949, ketika masih di bangku SD kami pindah ke
  Houston, Texas. Saya dan keluarga sering hadir secara rutin ke gereja.
  Malah saya dibaptis pada usia 12 tahun di Pasadena, masih Texas.

  Sebagai seorang remaja, saya punya keinginan untuk bisa berkunjung ke
  banyak gereja di berbagai tempat guna menambah pengalaman dan
  pengetahuan Kristen. Kala itu saya benar-benar haus untuk mempelajari
  ajaran Kristen. Tidak hanya ajaran Kristen, bahkan ajaran Hindu, Budha,
  Yahudi,hingga Metafisika juga saya pelajari. Hanya satu ajaran yang saya
  tidak begitu serius dan bahkan tidak menaruh perhatian sama sekali,
  yakni Islam.

  Saya suka musik terutama klasik. Hingga saya sering dapat undangan
  menyanyi di berbagai gereja. Di kisaran tahun 1960-an saya mengajar
  musik dan tahun 1963 punya studio sendiri di Laurel, Maryland yang saya
  beri nama "Estes Music Studios." Hingga tahun 1990 atau hampir 30 tahun
  lamanya saya bersama dengan ayah mengelola bisnis entertainment. Kami
  juga punya toko alat musik piano dan organ di Texas, Oklahoma hingga
  Florida.

  Ayah dulu pernah aktif dalam aneka kegiatan gereja. Dari sekolah minggu
  hingga aktifitas penggalangan dana bagi pengembangan sekolah Kristen.
  Dia sangat menguasai Bibel dan juga terjemahannya. Melalui ayah pula
  saya belajar Bibel dalam berbagai versi dan terjemahan.

  Ayah saya, seperti kebanyakan pendeta lainnya, selalu mendapat
  pertanyaan:"Apakah Tuhan yang menulis Bibel?" Biasanya jawabannya
  adalah: "Bibel adalah rangkaian kata inspirasi seorang lelaki yang
  berasal dari Tuhan." Itu bermakna, menurut saya, manusialah yang menulis
  Bibel. Tentu saja, selama bertahun-tahun, jawaban itu menimbulkan banyak
  tanggapan bahkan penolakan. Namun ayah selalu menambahkan,"Akan tetapi
  (Bibel) itu tetap kata dari Tuhan yang diilhamkan kepada manusia."
  Begitulah.

  Mencari Tuhan

  Beranjak dewasa dan memiliki usaha sendiri, akhirnya saya "menyerah".
  Saya tidak mungkin jadi seorang pendeta. Saya takut bermental hipokrit.
  Saya belum bisa menerima tentang konsep Tuhan itu satu namun pada saat
  yang sama Dia menjadi "Tiga" atau Trinitas. Saya selalu bertanya-tanya,
  jika Dia "Tuhan Bapa" bagaimana mungkin pada saat yang sama juga menjadi
  "Anak Tuhan?"

  Selama bertahun-tahun saya mencoba mencari Tuhan dengan berbagai cara.
  Saya pelajari dan cek dalam agama Budha, Hindu Metafisika, Taoisme,
  Yahudi dan banyak lagi. Bertahun-tahun saya pelajari hingga mendekati
  usia ke-50 saya belum menemukan siapa Tuhan yang sebenarnya. Lalu saya
  mencoba bergaul dengan banyak kalangan, termasuk dengan para evangelis
  dan penginjil yang punya pengalaman di berbagai tempat dan negara. Kami
  sering melakukan perjalanan jauh. Namun tidak ada jawaban yang
  memuaskan. Tidak ada yang mau menjawab siapa yang menulis Bibel
  sebenarnya, kenapa Bibel banyak versi padahal bukunya sama, kenapa
  banyak sekali terdapat kesalahan versi terkini dengan versi terdahulu.
  Dan, bahkan, dalam berbagai versi Bibel, saya tidak menemukan satupun
  kata "Trinitas."

  Kolega saya akhirnya tidak mampu meyakinkan saya. Mereka lelah mencari
  jawaban yang tepat atas pertanyaan-pertanyaan "nyeleneh" tersebut.
  Sampai akhirnya datanglah satu kejadian yang merupakan awal perjumpaan
  saya dengan Islam. Kejadian yang akhirnya meruntuhkan semua
  konsep-konsep dan keyakinan-keyakinan yang telah membebani saya selama
  bertahun-tahun. Solusi dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya
  datang justru dengan cara, yang menurut saya, aneh dan ganjil.

  Jumpa pria Mesir

  Ceritanya, awal 1991 ayah mencoba menjalin bisnis dengan seorang
  pengusaha dari Mesir. Ia meminta saya untuk bertemu dengan pria Mesir
  itu. Bagi saya inilah kali pertama mengadakan kontak bisnis
  internasional. Yang saya tahu tentang Mesir adalah piramid, patung
  Sphinx, dan sungai Nil. Hanya itu. Lalu ayah menyebut bahwa pria itu
  seorang Muslim.

  Apa? Islam? Saya tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Menjalin
  hubungan dengan orang Islam? Spontan batin saya menolak. Tidak, no way!
  Saya mengingatkan ayah agar membatalkan kontak dengan pria itu dengan
  menyebut hal-hal negatif tentang orang Islam. Orang Islam teroris,
  pembajak, penculik, pengebom, dan entah apa lagi. Saya sebut juga mereka
  (orang Islam) tidak percaya dengan Tuhan, tiap hari kerjanya mencium
  tanah lima kali sehari, dan menyembah kotak hitam di tengah padang pasir
  (maksudnya Ka'bah-red.). Tidak! Saya tidak mau jumpa orang itu.

  Ayah tetap mendesak. Ia menyebut orang itu sangat ramah dan baik hati.
  Akhirnya saya menyerah dan bersedia bertemu dengan pengusaha Islam
  tersebut. Tapi untuk pertemuan tersebut saya buat semacam "aturan"
  khusus. Antara lain; saya mau bertemu dengannya pada hari Minggu setelah
  kegiatan di gereja, sehingga punya "kekuatan" kala bertemu nanti. Saya
  musti bawa Bibel, pakai baju jubah dan peci ala gereja bertuliskan
  "Yesus Tuhan Kami." Istri dan kedua anak perempuan saya juga harus
  datang di saat pertemuan pertamakali dengan orang Islam itu.

  Tibalah hari H. Ketika saya masuk toko, langsung saya tanya pada ayah
  mana orang Islam itu. Ayah menunjuk seorang laki-laki di dekatnya.
  Mendadak saya dilanda kebingungan. Ah sepertinya pria itu bukan si Islam
  yang dimaksud. Hati saya membatin. Penampilannya tidak seperti yang saya
  bayangkan sebelumnya. Laki-laki asal Mesir itu tidak berjanggut, bahkan
  tidak punya rambut sama sekali alias botak. Ia tidak bersorban dan tidak
  pula berjubah. Malah pakai jas.

  Spontan saya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Mengamati
  orang-orang yang hadir. Saya mencari-cari orang yang pakai jubah dengan
  surban melilit di kepalanya, berjenggot lebat serta alis mata tebal.
  Khas orang Arab. Namun tidak ada seorangpun yang memenuhi kriteria saya.
  Yang lebih mengejutkan, pria itu malah menegur saya dengan sangat ramah.
  Ia menyambut dan menjabat tangan saya dengan hangat. Namun saya tidak
  terkesan dengan tingkahnya itu. Hanya ada satu pikiran, yakni bagaimana
  meng-Kristenkan pria Mesir itu.

  Interogasi 

  Selepas perkenalan singkat, saya pun mulai "menginterogasi" pria Mesir
  tersebut. Anda percaya dengan Tuhan? tanya saya mengawali. Pria itu
  menjawab ya. Saya mencocornya lagi dengan rentetan pertanyaan lain
  seperti keyakinan Islam kepada Nabi Adam, Ibrahim. Musa, Daud, Sulaiman
  hingga Isa Al-Masih. Saya dibuat terpana kala mendengar jawabannya. Ia
  menjelaskan Islam percaya dengan Nabi-Nabi yang saya sebut tadi. Bahkan
  makin ternganga kala diberitahu Islam juga beriman dengan salah satu
  Kitab Allah yakni Injil dan Nabi Isa adalah salah satu utusan-Nya.
  Fantastik!

  Yang bikin saya syok adalah tatkala mengetahui ternyata Islam juga
  percaya dengan Almasih (baca: Nabi Isa). Dalam Islam ternyata Isa
  diimani; sebagai utusan Tuhan dan bukan Tuhan, lahir tanpa seorang ayah,
  ibunya adalah Maryam. Ini sudah lebih dari cukup bagi saya untuk
  mempelajari Islam lebih lanjut. Ah padahal sebelumnya saya sangat benci
  dengan Islam. Kini saya harus mempelajarinya? Bagaimana mungkin? 

  Akhirnya kami jadi sering bertemu dan berdiskusi terutama tentang
  keimanan. Pria ini sangat lain. Ramah, kalem, dan terkesan pemalu. Ia
  mendengar dengan serius setiap kata-kata saya dan tidak menyela
  sedikitpun. Lama kelamaan saya jadi menyukai pria itu. Namun waktu itu
  yang masih terpikir oleh saya adalah mencari cara untuk mengajaknya
  masuk Kristen. Orang ini sangat potensial menurut saya.

  Menjadi mitra bisnis

  Saya akhirnya setuju untuk menjalin bisnis dengan pengusaha Mesir itu.
  Kami sering mengadakan perjalanan bisnis di sepanjang kawasan Utara
  Texas. Sepanjang hari kami justru banyak berdiskusi hal keyakinan Islam
  dan Kristen ketimbang masalah bisnis. Kami bicara tentang konsep Tuhan,
  arti hidup, maksud penciptaan manusia dan alam serta isinya, tentang
  Nabi, dan banyak lainnya lagi.

  Satu ketika saya dapat kabar Muhammad bermaksud pindah rumah. Selama ini
  ia tinggal bersama dengan seorang temannya. Ia berencana untuk tinggal
  di mesjid selama beberapa waktu. Saya dan ayah mengajaknya tinggal di
  rumah kami saja. Ia pun setuju.

  Satu ketika salah seorang teman saya -seorang pendeta- mengalami
  serangan jantung. Kami membawanya ke rumah sakit terdekat dan tinggal
  beberapa saat disana. Saya pun musti menjenguknya beberapa kali dalam
  seminggu. Muhammad sering saya ajak serta. Rupanya teman saya itu tidak
  begitu suka. Bahkan ia dengan nyata menolak berdiskusi apapun tentang
  Islam. Hingga satu hari datang pasien baru. Seorang pria yang kemudian
  tinggal satu kamar di rumah sakit dengan teman saya. Ia menggunakan
  kursi roda. Saya berkenalan dengan pria itu. Sekilas tampaknya pria itu
  seperti sedang depresi berat.

  Pria di kursi roda mencari Tuhan

  Akhirnya saya tahu pria itu kesepian dan depresi berat serta butuh teman
  dalam hidupnya. Jadilah saya mencoba mengingatkan dia tentang Tuhan.
  Saya kisahkan tentang Nabi Yunus yang hidup dalam perut ikan. Sendirian
  dalam gelap namun masih ada Tuhan bersamanya.

  Selepas mendengar kisah itu, pria berkursi roda itu mendongakkan
  kepalanya seraya meminta maaf. Ia menceritakan bahwa ada sedikit masalah
  yang melandanya. Selanjutnya ia ingin mengakuinya kesalahannya itu di
  hadapan saya. Saya berujar bahwa saya bukan seorang pendeta. Pria itu
  justru menjawab, "Sebenarnya saya dulu seorang pendeta."

  "Apa? Saya barusan menceramahi seorang pendeta? Saya benar-benar syok
  kala itu. Kenapa jadi begini? Apa yang terjadi dengan dunia ini
  sebenarnya?

  Rupanya pendeta itu -namanya Peter Jacobs- adalah mantan misionaris yang
  telah berkeliling Amerika Latin dan Meksiko selama 12 tahun. Kini ia
  malah depresi dan butuh istirahat. Saya menawarkannya untuk tinggal di
  rumah kami. Dalam perjalanan ke rumah, saya berdiskusi dengan Peter
  tentang Islam. Saya sungguh terkejut kala diberitahu para pendeta
  Kristen juga belajar tentang Islam dan bahkan sebagiannya ada yang
  doktor di bidang itu. Ini hal baru bagi saya tentunya.

  Sejak itu, Muhammad, Peter dan saya sering terlibat diskusi hingga larut
  malam. Satu ketika masuk ke masalah kitab-kitab suci. Saya takjub kala
  Muhammad menceritakan bahwa dari pertama diturunkan hingga saat ini atau
  selama 1400 tahun Al-Quran hanya ada satu versi. Al-Quran dihafal oleh
  jutaan Muslim di seluruh dunia dengan satu bahasa yaitu Arab. Sungguh
  mustahil. Bagaimana mungkin kitab suci kami bisa berubah-ubah dengan
  berbagai versi sementara Al-Quran tetap terpelihara?

  Sang pendeta masuk Islam!

  Satu hari pendeta Peter Jacobs ingin melihat apa yang dilakukan orang
  Islam di Mesjid. Ia pun ikut Muhammad. Sepulang dari sana saya bertanya
  pada Peter ada kegiatan apa di sana. Peter menyebut tidak ada acara
  apa-apa di mesjid. Mereka (orang Islam) cuma datang dan shalat saja.
  Tidak ada acara seremoni apapun. Apa? tidak ada ceramah atau nyanyian
  apapun?

  Beberapa hari kemudian Peter minta ikut lagi ke mesjid. Namun kali ini
  lain. Mereka tidak pulang-pulang hingga larut malam. Saya khawatir
  sesuatu terjadi terhadap mereka. Akhirnya Muhammad kembali dengan
  seorang pria berjubah. Saya sungguh terkejut dengan laki-laki yang
  datang bersama Muhammad itu. Ia mengenakan jubah dan topi putih. Ah
  rupanya si Peter. Ada apa dengan kamu tanya saya. Jawaban Peter bak
  petir di siang bolong. Ia menyebut sudah bersyahadah. Oh Tuhan! Apa yang
  terjadi? Pendeta masuk Islam?

  Saya benar-benar syok dan semalaman tidak bisa tidur memikirkan hal itu.
  Saya ceritakan kejadian tersebut kepada istri. Istri saya justru
  menyatakan ia juga ingin masuk Islam, karena itulah yang benar. Oh
  Tuhan! Saya benar-benar tidak percaya.

  Saya turun ke bawah dan membangunkan Muhammad seraya minta waktu diskusi
  dengannya. Sepanjang malam hingga subuh kami bertukar pendapat. Muhammad
  minta izin shalat Subuh. Ketika itu saya mendapat firasat, kebenaran
  telah datang. Saya harus membuat pilihan. Lalu saya keluar rumah. Persis
  di belakang rumah, saya memungut sepotong papan. Lalu saya letakkan
  papan itu menghadap ke arah orang Islam shalat. Saya pun bersujud
  menghadap kiblat dan meminta petunjuk-Nya.

  Sekeluarga masuk Islam

  Pagi itu, pukul 11, saya bersyahadah di hadapan dua orang saksi, mantan
  pendeta Peter Jacobs dan Muhammad Abd. Rahman. Alhamdulillah, di usia
  ke-47 saya jadi seorang Muslim. Beberapa menit kemudian istri saya juga
  ikut bersyahadah. Ayah baru memeluk Islam beberapa bulan kemudian. Sejak
  itu saya dan ayah sering ke mesjid terdekat di kota kami. Ayah mertua
  saya akhirnya juga mengikuti kami. Di usianya yang ke-86 ia memeluk
  Islam. Mertua saya meninggal persis beberapa bulan selepas bersyahadah.
  Semoga Allah ampuni dia. Amiin.

  Adapun anak-anak saya pindahkan dari sekolah Kristen ke sekolah Islam.
  Setelah sepuluh tahun bersyahadah, mereka telah mampu menghafal beberapa
  juz Al-Quran.

  Sejak itu saya habiskan waktu hanya untuk Islam. Saya berdakwah ke
  mana-mana, hingga ke luar Amerika. Banyak sudah yang memeluk Islam. Baik
  dari kalangan birokrat, guru, dan pelajar dari berbagai agama. Dari
  Hindu, Katolik, Protestan, Yahudi, Rusia Orthodok, hingga Atheis. Saat
  ini saya juga mengelola sebuah website yakni Islamalways.com yang punya
  motto terkenal, "where we're always open 24 hours a day and always
  plenty of free parking." (kami buka 24 jam sehari dan banyak tempat
  parkir gratis).

  Islam telah mengubah cara saya melihat kehidupan ini dengan lebih
  bermakna. Semoga Allah pelihara hidayah yang sudah ada pada kita dan
  sebarkan hidayah itu ke seluruh alam. Amin. [Zulkarnain Jalil,
  kontributor www.hidayatullah.com di Aceh] 

  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke