dari http://www.almanhaj.or.id/content/318/slash/0

BOROK-BOROK SUFI
 
  
 Oleh
 Salim Al-Hilali dan Ziyad Ad-Dabij
 Bagian Pertama dari Tiga Tulisan 1/3
 
 
 
 Tasawuf merupakan gerakan berpola pikir filsafat klasik yang mengekor kepada 
para filosof dan ahli syair Romawi, India dan Persia. Namun, dalam hal ini, 
kita akan membatasi kajian masalah sufi dengan berkedok Islam. Kedok Islam ini 
dikenakan sebagai upaya menutupi hakikatnya. Maka barangsiapa yang meneliti dan 
mengamati gerak-geriknya, niscaya akan berkesimpulan, bahwa sufi bukan Islam. 
Baik menyangkut aqidah, prilaku dan pendidikan.
  
 MENGENAL BEBERAPA KEYAKINAN SUFI
 Sesungguhnya para penguasa sufi telah berusaha memelihara keyakinan-keyakinan 
tasawuf, yakni, dengan merancukan dan menghapuskan ayat-ayat Al-Kitab Al-Karim. 
Membolak-balik, serta merubah pemahaman Sunnah An-Nabawiyah yang telah suci. 
Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menakdirkan untuk agama ini, 
orang-orang yang memperbaharui agama-Nya.
  
 Yakni, dengan membersihkan Islam dari bermacam aqidah dan filsafat yang 
mengalir dalam benak manusia akibat pengaruh pola pikir keberhalaan. Maka, 
diungkaplah borok-borok mereka, dipilah perkataan mereka serta diterangkan 
kebohongannya. Metoda merekapun dibuyarkan dengan menelaah kitab-kitab induk 
sufi. Berikut secara ringkas ditampilkan keyakinan-keyakinan mereka.
  
 ILMU LADUNI
 Istilah ini dikaitkan kepada firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala tentang nabi 
Khidir:
 
 "wa 'allamnaahu min Ladunnaa 'ilmaan"
 "Artinya :...Dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.". [Al-Kahfi : 65].
 
 Yang dimaksud dengan ayat diatas, menurut mereka, adalah disingkapnya alam 
ghaib bagi mereka. Caranya, dengan kasyaf (penyingkapan), tajliyat (penampakan) 
serta melakukan kontak langsung dengan Allah dan Rasulullah shallallahu 'alaihi 
wa sallam[1]. Mereka berdalil dengan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala.
 
 "Artinya : Dan bertaqwalah kepada Allah, maka Allah akan mengganjari kepada 
kalian semua". [Al-Baqarah : 282].
 
 Pemikiran ilmu laduni dipelopori oleh Hisyam Ibnu Al-Hakam (wafat 199H), 
seorang penganut Syi'ah yang mahir ilmu kalam. Ia berasal dari Kufah. [2]
  
 Orang-orang sufi, dalam rangka merealisir ajarannya, menempuh beberapa jalan. 
Jalan terpenting itu, diantaranya :
 
 [1] Menjauhkan diri dari menuntut ilmu syar'i. Dikatakan oleh Al-Junaid, 
seorang pentolan sufi, "Yang paling aku sukai pada seorang pemula, bila tak 
ingin berubah keadaannya, hendaknya jangan menyibukkan hatinya dengan tiga 
perkara berikut : mencari penghidupan, menimba ilmu (hadits) dan menikah. Dan 
yang lebih aku sukai lagi, pada penganut sufi, tidak membaca dan menulis. 
Karena hal itu hanya akan menyita perhatiannya".[3]
 
 Demikian pula yang dikatakan Abu Sulaiman Ad-Darani, "Jika seseorang menimba 
ilmu (hadits), bepergian untuk mencari penghidupan, atau menikah, sungguh ia 
telah condong kepada dunia"[.4]
 
 [2] Menghancurkan sanad-sanad hadits dan menshahihkan hadits-hadits dha'if 
(lemah), munkar dan maudhu' (palsu) dengan cara kasyaf. Sebagaimana dikatakan 
Abu Yazid Al-Busthami, "Kalian mengambil ilmu dari mayat ke mayat. Sedang kami 
mengambil ilmu dari yang Maha Hidup dan tidak pernah mati. Hal itu seperti yang 
telah disampaikan para pemimpin kami : "Telah mengabarkan pada aku hatiku dari 
Rabbku". Sedang kalian (maksudnya, kalangan Ahlu Al-hadits) mengatakan : "Telah 
mengabarkan kepada kami Fulan". Padahal, bila ditanya dimana dia (si Fulan 
tersebut) ?. Tentu akan dijawab : "Ia (Fulan, yakni yang meriwayatkan ilmu atau 
hadits tersebut) telah meninggal". "(Kemudian) dari Fulan (lagi)". Padahal, 
bila ditanyakan dimana dia (Fulan tadi)? Tentu akan dijawab : "Ia telah 
meninggal".[5] Dikatakan pula oleh Ibnu Arabi, "Ulama Tulisan mengambil 
peninggalan dari salaf (orang-orang terdahulu) hingga hari kiamat. Itulah yang 
menjauhkan atau menjadikan timbulnya jarak antara nasab
 mereka. Sedang para wali mengambil ilmu dari Allah (secara langsung -peny). 
Yakni, dengan cara Ia (Allah) mengilhamkan kedalam hati para wali"[6]. 
Dikatakan oleh Asy-Sya'rani, "Berkenan dengan hadits-hadits. Walaupun cacat 
menurut para ulama ilmu hadits, tapi tetap shahih menurut ulama ilmu 
kasyaf".[7].
 
 [3] Menganggap menimba ilmu (hadits) sebagai perbuatan aib dan merupakan jalan 
menuju kemaksiatan serta kesalahan. Ibnu Al-Jauzi menukil, bahwa ada seorang 
syaikh sufi melihat seorang murid membawa papan tulis (baca : buku), maka 
dikatakannya kepada murid tersebut :"Sembunyikan auratmu".[8] Bahkan, mereka 
saling mewariskan sebagian pameo-pameo yang bertendensi menjauhkan peninggalan 
salaf, umpanya : Barang siapa gurunya kitab, maka salahnya lebih banyak dari 
benarnya.
 
 Sanggahan terhadap pernyataan-pernyataan sebagaimana diungkap diatas :
  
 Pertama.
 Barangsiapa berkeyakinan, bahwa dengan kemampuannya dapat berjumpa dengan 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, seperti keadaan nabi Khidir dengan 
nabi Musa, maka ia telah kafir berdasarkan ijma' para ulama kaum muslimin. 
Karena, nabi Musa tidaklah diutus kepada nabi Khidir, dan tidak pula nabi 
Khidir diperintahkan untuk mengikuti nabi Musa.
  
 Padahal Allah telah menjadikan masing-masing nabi mempunyai jalan dan minhaj 
yang berbeda-beda. Dan peristiwa yang demikian itu, berulang kali terjadi 
sebelum beliau diutus sebagai nabi. Seperti, sezamannya nabi Luth denga nabi 
Ibrahim, nabi Yahya dengan nabi Isa.
  
 Sesungguhnya para nabi tersebut dibangkitkan untuk kaumnya saja, sedangkan 
Muhammad shalallallahu 'alaihi wa sallam dibangkitkan untuk seluruh manusia 
hingga hari kiamat. Telah bersabda Shallallahu 'alaihi wa sallam.
 
 "Artinya : Adalah para nabi diutus untuk kaumnya saja, sedangkan aku diutus 
untuk seluruh manusia". [Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim].
 
 "Artinya : Tidak seorang pun dari umat ini yang mendengar tentangku, baik 
Yahudi atau Nashrani, kemudian tidak beriman kepadaku, melainkan akan 
dimasukkan ke neraka" [Hadits Shahih Riwayat Muslim I/93]
 
 Aqidah semacam ini merupakan asasnya Islam, berdasarkan firman-Nya Subhanahu 
wa Ta'ala.
 
 "Artinya : Tidaklah engkau Kami utus kecuali untuk seluruh manusia, sebagai 
pemberi khabar gembira dan pemberi peringatan". [Saba' : 28]
 
 Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala.
 
 "Artinya : Katakanlah, wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah 
kepada kalian semua". [Al-A'raf : 157]
 
 Dan siapa saja yang 'alim, baik jin maupun manusia, diperintahkan untuk 
mengikuti rasul yang ummi ini. Maka barangsiapa yang mengaku bahwa dengan 
kemampuannya dapat keluar dari minhaj dan petunjuk nabi Muhammad shallallahu 
'alaihi wa sallam ke minhaj lainnya, walaupun minhaj Isa, Musa, Ibrahim, maka 
dia sesat dan menyesatkan. Telah bersabda Shalallahu 'alaihi wa sallam.
 
 "Artinya : Seandainya Musa turun, lalu kalian semua mengikutinya dan 
meninggalkan aku, maka sungguh sesatlah kalian. Aku adalah bagian kalian, dan 
kalian adalah bagian dari umat-umat yang ada". [Riwayat Baihaqi dalam Syu'abu 
al-Iman, dan lihat pula dalam Irwa'al-Ghalil karangan Al-Bani hal. 1588]
 
 Adapun keyakinan orang-orang sufi bahwa nabi Khidir masih tetap hidup, selalu 
berhubungan dengan mereka, mengajarkan kepada mereka ilmu yang diajarkan Allah 
kepadanya, seperti nama-nama Allah yang Agung, hal ini merupakan dusta dan 
mengada-ada. Karena menyelesihi Al-Qur'an secara nyata :
 
 "Artinya : Dan tidaklah kami jadikan seorang manusiapun sebelummu abadi". 
[Al-Anbiya' : 34]
 
 "Artinya : Tidak ada satu jiwapun yang bernafas pada hari ini yang datang dari 
zaman seratus tahun sebelumnya, sedangkan dia saat sekarang ini masih hidup". 
[Hadits Riwayat Ahmad dan Tirmidzi dari Jabir]
 
 Hadits-hadits yang menerangkan masih hidupnya nabi Khidir semuanya maudhu' 
(palsu) menurut kesepakatan seluruh ulama hadits.[9]
  
 Kedua.
 Adapun hujjah mereka dengan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala.
 "Artinya : Dan bertaqwalah kepada Allah dan Allah akan mengajarimu (ilmu)". 
[Al-Baqarah : 282]
 
 Hal itu bukanlah hujjah, karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah 
menerangkan pemahaman ayat ini dan telah menentukan cara mencari ilmu yang 
disyari'atkan dan diwajibkan atas setiap muslim. Seperti sabdanya Shallallahu 
'alaihi wa sallam.
 
 "Artinya : Sesungguhnya ilmu itu (diperoleh) dengan cara belajar". [Hadits 
Riwayat Daruquthni dalam Al-Ifrad wa al-Khatib dalam tarikhnya dari Abu 
Hurairah dan Abu Darda'. Lihat Silsilah Ash-Shahihah 342]
 
 Kata innama (sesungguhnya) disini adalah untuk membatasi.
  
 Ketiga.
 Perihal pendapat mereka yang menyatakan, bahwa mencari ilmu dengan cara 
belajar adalah jalan yang memayahkan, terlalu bertele-tele, dianggap condong 
kepada dunia serta menyita perhatian dan kesungguhan (walaupun telah tinggi 
dalam menuntut ilmu tadi), tetap dianggap tidak sempurna. Kecuali, bila 
ditempuh dengan cara kasyaf dan ilham.
  
 Berkenan dengan ilmu itu sendiri, termasuk tentunya dalam pengamalannya. 
Bahkan sebatas mencari ilmu semata. Berkata Ibnu Al-Jauzi, "Iblis menginginkan 
untuk menutup jalan tersebut dengan cara yang paling samar. Memang jelas bahwa 
yang dimaksud adalah mengamalkannya bukan sebatas mencari ilmu saja. Namun, 
dalam hal ini para penipu itu telah menyembunyikan masalah pengamalannya. [10] 
Dan tidaklah kasyaf yang mereka dakwakan itu, kecuali hanya khayalan setan 
belaka.
 
 "Artinya : Maukah Aku khabarkan kepada kalian tentang kepada siapa setan turun 
? (Setan) turun kepada setiap pendusta dan suka berbuat dosa. Mereka 
menghadapkan pendengarannya itu (kepada setan), dan kebanyakan mereka adalah 
orang-orang pendusta". [Asy-Syu'ara : 221-223]
 
 "Artinya : Tidaklah kamu melihat bahwasanya Kami telah mengirim setan-setan 
itu kepada orang-orang kafir untuk menghusung mereka agar berbuat maksiat 
dengan sungguh-sungguh ? Maka janganlah kamu tergesa-gesa memintakan siksaan 
bagi mereka, karena sesungguhnya Kami hanya menghitung (hari siksaan) itu untuk 
mereka dengan perhitungan yang teliti. Ingat ketika hari Kami mengumpulkan 
orang-orang yang bertaqwa kepada Rabb yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang 
terhormat. Dan kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam 
dalam keadaan dahaga". [Maryam : 83-86]
 
 Adapun pengakuan mereka, seperti pensyarah Al-Ushul katakan, bahwa kasyaf 
merupakan bagian dari iman yang benar. Dan maksud kasyaf adalah disingkapkannya 
sebagian yang tersembunyi, dan tidak tampak, mengetahui gerak-gerik jiwa dan 
niat serta kelemahan sebagian manusia. Kasyaf semacam inilah yang disebutkan 
dalam hadits syarif sebagai firasat seorang yang beriman. [11] Jadi bila ada 
perkataan mereka semacam ini : "Telah mengabarkan kepadaku hatiku dari Rabb-ku" 
tidak lain adalah perkataan khurafat.
  
 Keempat.
 Sebagian mereka mengakku dapat melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 
sallam dalam tidurnya, lalu mengajarkan kepadanya beberapa perkara dan 
memintanya untuk berbuat begini dan begitu. Seperti, kata Ibnu Arabi, 
"Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam 
mimpi. Aku melihatnya saat sepuluh akhir di bulan Muharram 627H, di Mahrusah, 
Damsyiq. Saat itu di tangan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam membawa kitab. 
Maka sabdanya kepadaku, 'Kitab ini adalah kitab Fushush Al-Hikam'. Ajarkan dan 
sebarkan kepada manusia agar bisa memetik manfa'at darinya. Kemudian aku 
katakan, Aku dengar dan taat kepada Allah, Rasul-Nya serta ulil amri diantara 
kita sebagaimana yang engkau perintahkan. Maka, aku pun berusaha merealisasikan 
cita-cita dan aku murnikan niatku serta kubulatkan tekad untuk mengajarkan 
kitab ini sebagaimana diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. tanpa 
mengurangi dan menambahinya".
  
 Bantahan Terhadap Pendapat Diatas Adalah Sebagai Berikut:
 
 [1] Para Rasul tidak memerintahkan kemaksiatan apalagi kekufuran, seperti yang 
memenuhi kitab Fushush Al-Hikam. Seperti, mengkafirkan nabi Allah, Nuh (hal. 
70-72), meyakini bahwa Fir'aun itu telah beriman (hal. 21), membenarkan 
pendirian Samiri dan perbuatannya dalam membuat patung (yang menimbulkan fitnah 
di kalangan bani Israil) hingga mengibadahinya (hal. 188).
 
 [2] Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menyuruh menyelisihi 
syari'at. Sesungguhnya, ada yang mengatakan bahwa setan menampakkan diri dalam 
bentuk nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di hadapan Ibnu Arabi. Padahal 
mustahil hal itu bisa terjadi. Dia (Ibnu Arabi) telah tertipu dan terperdaya. 
Walau ia mengatakan yang demikian itu dengan niat baik dan prasangka bersih. 
Tetapi yang demikian itu mustahil, karena setan tidak akan mampu menyerupai 
nabi. Maka, bagaimana hal itu bisa terjadi padahal Nabi yang ma'shum 
Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda :
 
 "Artinya : Barangsiapa yang melihatku (dalam mimpinya) maka sesungguhnya 
akulah dia. Karena sesungguhnya setan tidak bisa menyerupaiku". [Hadits Shahih 
Riwayat Tirmidzi dari Abu Hurairah, mempunyai penguat yang sangat banyak, 
sebagiannya Shahih diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Lihat Shahih Al-Jami' dan 
ziyadahnya V/293]
 
 Berdasarkan keterangan diatas, maka kita berkeyakinan bahwa Ibnu Arabi dan 
para pengikutnya adalah dajjal-dajjal Khurasan. Sedang perkataan-perkataan 
mereka dusta dan tidak mengandung kebenaran sama sekali.
  
 [Disadur dari kitab Al-Islam fi-Dha'u Al-Kitab wa As-Sunnah, cet.II, hal. 
81-97. Dan dimuat di majalah As-Sunnah edisi 17/II/1416H-1996M, dengan judul 
Borok-Borok Sufi]
 ________
 Foote Note.
 [1]. Ihya 'Ulummuddin, Al-Ghazali, I/19-20 dan III/26, cet. Istiqomah, Qahirah.
 [2]. Minhaj As-Sunnah, Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, hal. 226
 [3]. Quwat Al-Qulub, III/35
 [4]. Al-Futuhat Al-Makkiyah, Ibnu Arabi, I/37.
 [5]. Al-Kawakib Ad-Durriyah, hal. 226 dan Al-Futuhat Al-Makkiyah, I/365.
 [6]. Al-Kawakib Ad-Durriyah, hal. 246 dan Rasail, Ibnu Arabi, hal.4.
 [7]. Al-Mizan, I/28.
 [8]. Tablis Iblis, hal. 370.
 [9]. Al-Manar Al-Munif, Ibnu Qayim Al-Jauziyah.
 [10]. Shaid Al-Khaathir, Ibnu Jauzi, I/144-146.
 [11]. Syarah Al-Ushul Al-Isyrin, hal 27.
       
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke