Sebaran Kredit Perbankan & Pembiayaan Syariah 2007
Oleh : Merza Gamal

      KabarIndonesia - Ekonomomi global, selama tahun 2007, berada dalam 
gejolak yang dipicu oleh berlebihnya likuidiats dunia yang mendorong 
peningkatan arus modal jangka pendek, kemungkinan contagion effect dari krisis 
subprime mortgage, serta domino effect dan kecenderungan kenaikan harga minyak. 

Akibat kondisi tersebut, sebagian pihak khawatir, bahwa target pertumbuhan 
ekonomi Indonesia akan sulit dicapai. Akan tetapi, ternyata kekhawatiran 
tersebut tidak terjadi, karena target pertumbuhan sebesar 6,3% (y.o.y) pada 
tahun 2007, dapat dicapai, meski pas-pasan. 

Sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2007 disumbang oleh sektor 
industri pengolahan (1,5%), serta perdagangan, hotel dan restoran (1,4%). 
Sektor industri pengolahan, masih merupakan penyumbang terbesar PDB tahun 2007, 
yakni 27,7% dari total PDB. Penyumbang PDB yang cukup besar lainnya adalah 
sektor perdagangan, hotel dan restoran (14,9%) serta sektor pertanian (13,7%). 

Dampak ekonomi global tahun 2007, tampaknya masih akan sangat besar berpengaruh 
kepada pertumbuhan ekonomi ke depan. Pertumbuhan ekonomi akan optimal apabila 
stabilitas sistem keuangan dapat terpelihara dengan prospek yang baik. Di 
Indonesia, perbankan masih mendominasi sektor keuangan. 

Hal ini menimbulkan tingginya ketergantungan kepada perbankan sebagai sumber 
pembiayaan pembangunan dan perekonomian. Dengan demikian, apabila perbankan 
tidak dapat menyalurkan pendanaan kepada sektor riil, maka pengaruh kelambatan 
pertumbuhan ekonomi menjadi terasa. 

Kondisi ekonomi global yang tidak menguntungkan tersebut, sebagaimana 
pertumbuhan PDB Indonesia, tidak pula menghambat penyaluran kredit perbankan 
Indonesia. Bahkan, pertumbuhan kredit yang pada tahun 2007 mencapai 26,52%, 
jauh di atas pertumbuhan tahun 2006 yang hanya 13,85%. 

Sektor ekonomi yang mengalami pertumbuhan kredit paling besar adalah sektor 
pertambangan yang mencapai 86,09%. Sektor-sektor ekonomi lain yang mengalami 
pertumbuhan kredit yang tinggi adalah sektor keuangan dan jasa usaha (39,89%), 
sektor pengangkutan dan komunikasi (35,98%), sektor konstruksi (33,24%), sektor 
perdagangan, hotel & restaurant (32,69%). 

Sektor ekonomi lain yang mengalami pertumbuhan kredit cukup tinggi adalah 
sektor pertanian (25,94%) dan sektor konsumsi (24,89%). 

Pertumbuhan sektor pertambangan pada kredit yang diberikan pada tahun 2007 
tidak stabil pada tiap triwulan. Hal ini terjadi, karena sebagian besar kredit 
yang diberikan untuk sektor ini merupakan kredit modal kerja berjangka sangat 
pendek. Dilihat dari sisi pangsa, kredit yang diberikan kepada sektor 
pertambangan masih kecil, yakni hanya 2,62%. 

Sektor ekonomi lain-lain (yang merupakan pembiayaan konsumsi) mempunyai pangsa 
paling besar dalam kredit yang diberikan oleh perbankan nasional (28,36%). 
Pertumbuhan kredit yang diberikan kepada sektor ini kembali tinggi pada tahun 
2007 (24,89%), Pada tahun 2006, pertumbuhan kredit konsumsi sempat turun dari 
tahun sebelumnya, yakni hanya 9,12%, dimana pada tahun 2005 dan sebelumnya 
mencapai di atas 30% per tahun. 

Pada sektor produktif terjadi pergeseran pada sektor ekonomi yang memiliki 
pangsa paling besar dalam kredit yang diberikan. Jika sebelum tahun 2007 yang 
paling banyak mendapatkan kredit adalah sektor industri pengolahan, maka pada 
2007 sektor perdagangan, hotel dan restoran menjadi sektor produktif yang 
paling banyak mendapatkan kredit perbankan.

Sektor keuangan dan jasa dunia usaha mengalami peningkatan outstanding kredit 
yang cukup tinggi pada 2007 (Rp 109.748 milyar) dibanding tahun 2006 yang masih 
sebesar Rp 78.455 milyar. Kredit sektor ini, merupakan kredit yang ditujukan 
kepada lembaga-lembaga pembiayaan yang sebagian besar diteruskan menjadi 
pembiayaan konsumer di berbagai sub sektor. Sektor pertanian, meskipun masih 
mempunyai pangsa yang kecil terhadap total kredit yang diberikan oleh 
perbankan, secara perlahan meningkat pangsanya dari tahun ke tahun. 

Berdasarkan jenis penggunaan, outstanding kredit yang diberikan perbankan 
nasional, terbesar merupakan kredit modal kerja. Akan tetapi pertumbuhan paling 
tinggi terjadi pada kredit yang digunakan untuk konsumsi yang mencapai 28,57% 
sepanjang tahun 2007. Kredit yang diberikan kepada investasi hanya sebesar Rp 
186,218 milyar (18,58%) dari Rp 1,002 trilyun total outstanding kredit 
perbankan nasional. 

Perbankan syariah sebagai bagian perbankan nasional turut berkontribusi dalam 
sektor keuangan untuk membiayai sektor-sektor ekonomi dalam PDB Indonesia. 
Pangsa pembiayaan syariah tahun 2007 masih 2,79% dari total kredit yang 
diberikan oleh perbankan nasional. Pertumbuhan pembiayaan syariah selama 2007 
masih jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan kredit yang diberikan perbankan 
nasional, yakni 36,69% dibandingkan akhir tahun 2006. 

Pangsa pembiayaan syariah terbesar diberikan pada sektor jasa dunia usaha 
(30,15%), diikuti oleh sektor lain-lain/konsumsi (23,76%) dan sektor 
perdagangan (14,86%). Dari komposisi tersebut, dapat dilihat bahwa lebih dari 
separuh pembiayaan syariah terdistribusi untuk penggunaan konsumsi. Hal ini 
menunjukkan komposisi pembiayaan yang berkaitan dengan konsumsi pada perbankan 
syariah jauh lebih besar dari komposisi yang ada pada perbankan umum nasional. 

Sektor-sektor ekonomi produktif, seperti sektor pertanian, sektor pertambangan, 
serta sektor pengangkutan dan komunikasi mengalami penurunan pangsa dari tahun 
ke tahun pada komposisi pembiayaan yang diberikan oleh perbankan Syariah.
Dari pembahasan di atas, dapat dilihat bahwa pembiayaan syariah di Indonesia 
saat ini belum terpola. Jika pada tahun 2004 dan sebelumnya, komposisi 
pembiayaan yang berkaitan dengan konsumsi dan sektor produktif masih berimbang, 
maka saat ini justru komposisi pembiayaan yang berkaitan dengan konsumsi 
semakin jauh meninggalkan sektor produktif. 

Dengan demikian, jika merujuk kepada tujuan semula didirikannya perbankan 
syariah, seharusnya perbankan syariah tidak mengucurkan pembiayaan dengan porsi 
besar kepada pembiayaan konsumsi. Perbankan syariah perlu mengingat kembali, 
bahwa tujuan semula didirikannya perbankan syariah adalah untuk mendorong 
pertumbuhan sektor produktif di segmen mikro, kecil, dan menengah. Namun 
apadaya, masih banyak hal yang belum bisa dilakukan oleh pelaku bank syariah 
untuk mencapai sebuah idealisme akibat berbagai faktor dan kepentingan yang 
melatarbelakanginya.

Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami)

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/



Berminat kontribusi dalam kajian sosial ekonomi islami?????
Silahkan klik http://asia.groups.yahoo.com/group/ekonomi-islami/
       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke