21 April 2008
Jihad Ibu
Siti Yuliati
Rasulullah SAW bersabda, ''Setiap jerih payah istri di rumah sama
nilainya dengan jerih payah suami di medan jihad.'' (HR Bukhari dan
Muslim). Pada dasarnya, Islam telah memberikan keistimewaan kepada para
istri untuk tetap berada di rumahnya. Untuk mendapatkan surga-Nya kelak,
para istri cukup berjuang di rumah tangganya dengan ikhlas. Tetesan
keringat mereka di dapur dinilai sama dengan darah mujahid di medan
perang.
Menjadi ibu rumah tangga kedengarannya memang sepele dan remeh, hanya
berkecimpung dengan urusan rumah dari A-Z, namun siapa sangka banyak
sekali kebaikan dan hikmah yang dapat diperoleh. Ibulah yang mengambil
porsi terbesar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi.
Pertumbuhan suatu generasi bangsa pertama kali berada di buaian para
ibu. Di tangan ibu pula pendidikan anak ditanamkan dari usia dini, dan
berkat keuletan dan ketulusan ibu jualah bermunculan generasi-generasi
berkualitas dan bermanfaat bagi bangsa dan agama.
Dalam Islam, ini adalah tugas besar, namun sangat mulia dan akan
dipertanggungjawabkan di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
''Seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab
atas kepemimpinannya.'' (HR Bukhari dan Muslim).
Sayangnya, kebanyakan wanita modern saat ini tidak menyukai aktivitas
rumah tangga. Mereka lebih bangga bekerja di luar rumah karena
beranggapan tinggal di rumah identik dengan ketidakmandirian dan
ketidakberdayaan ekonomi. Maka, jadilah peran ibu di rumah dianggap
rendah, dan tidak sedikit ibu rumah tangga yang malu-malu ketika ditanya
apa pekerjaannya.
Meskipun seorang wanita tidak bekerja setelah lulus sarjana, ilmunya
tidak akan sia-sia, sebab ia akan menjadi ibu sekaligus pendidik bagi
anak-anaknya. Kebiasaan berpikir ilmiah yang ia dapatkan dari proses
belajar di bangku kuliah itulah yang akan membedakannya dalam mendidik
anak. Seorang ibu memang harus cerdas dan berkualitas, sebab kewajiban
mengurus anak tidak sebatas memberi makan.
Ia harus mampu merawat dan mendidik anak-anaknya dengan benar, penuh
kasih sayang, kesabaran, menempanya dengan nilai dan norma agama agar
sang anak mampu menghindar dari pengaruh lingkungan dan kemajuan
teknologi yang merusak akal dan akhlaknya. Hal itu hanya dapat dilakukan
oleh seorang ibu yang cerdas.
_____
Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id
Berita bisa dilihat di :
http://www.republika.co.id/Kolom_detail.asp?id=331098&kat_id=14
<http://www.republika.co.id/Kolom_detail.asp?id=331098&kat_id=14>
[Non-text portions of this message have been removed]