Salam,

Saya yakin di luar sana tidak sedikit 'korban' aliran MGA ini di 
tanah air, yang kesaksian dan beragam bukti kesesatan aliran MGA ini 
dapat dengan sendirinya menunjukkan apa dan bagaimana sebenarnya 
tokoh-tokoh hidup dan kiprah mereka baik ke dalam maupun ke luar yang 
sejauh ini luput dari sapuan radar media massa, disengaja atau tidak.

Mohon maaf jika sdh ada yang memposting berita di bawah ini ...

Salam,

Satriyo

 

-- 
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest
>> al-Ra'd [13]: 28


11/05/2008 13:40 WIB 

Bekas Anggota: Khalifah Ahmadiyah Ingkar Janji
Irwan Nugroho - detikcom

 

Jakarta - Kalangan Ahmadiyah tidak luput dari pertentangan-
pertentangan di dalamnya sendiri. Sehingga beberapa di antara 
pengikutnya memutuskan keluar dan kembali ke ajaran Islam yang 
diyakini kaum muslim.

Salah satu pengikut Ahmadiyah yang meninggalkan aliran itu adalah 
Ahmad Haryadi. Selama 13 tahun lebih pria ini menjadi anggota Jemaat 
Ahmadiyah Indonesia (JAI).

Haryadi bergabung dengan Ahmadiyah tahun 1973. Setahun dibaiat, dia 
dipercaya sebagai mubalig dan mendapat tugas pertama kali 
mendakwahkan ajaran Ahmadiyah di Medan, Sumatera Utara.

2 Tahun di Medan, Haryadi dipindahkan ke Jakarta lalu ke Lombok, Nusa 
Tenggara Barat (NTB) pada 1980. Namun, justru di tempat itulah 
keyakinan Haryadi mengenai Ahmadiyah goyah.

Ceritanya, Haryadi bertemu dengan seorang ulama di Lombok yang 
dikenal dengan nama Haji Ervan. Mereka berdebat mengenai kenabian 
Mirza Ghulam Ahmad, figur yang dianggap pengikut Ahmadiyah sebagai 
nabi.

"Di sana ada peristiwa perang doa antara saya dengan Haji Ervan. Saya 
katakan, jika keyakinan saya mengenai Mirza benar, maka dalam 3 bulan 
saya akan diazab oleh Allah dan saya bersedia dipotong leher saya," 
ujarnya di acara Tablig Akbar di Masjid Al Barqah Assyafi'iyah, 
Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (11/5/2005).

3 Bulan berselang, Haryadi tidak terkena musibah apa pun. Haji Ervan 
menggeruduk tempat tinggal Haryadi untuk menagih kata-katanya. Sempat 
terjadi keributan dalam peristiwa itu, namun polisi dapat 
mengendalikan situasi.

Kebimbangan Haryadi makin kuat sejak adanya peristiwa itu. Hingga 
akhirnya saat berada di Malaysia pada April 1986, dia memutuskan 
keluar dari Ahmadiyah.

Ulah Haryadi membuat pemimpin JAI marah. Namun, hal itu malah 
ditanggapinya dengan tantangan. Haryadi kebali bertaruh mengenai 
kenabian Mirza dengan salah satu pimpinan JAI di Indonesia, Tahir 
Ahmad.

Haryadi bahkan harus berhadapan dengan Khalifah Ahmadiyah yang berada 
di London, Inggris. Dia membuat perjanjian dengan sang Khalifah, 
bahwa jika dalam satu tahun dia tidak mati, Khalifah itu bersama 
pengikut Ahmadiyah di dunia akan meninggalkan Ahmadiyah.

"Itu terjadi pada 16 Oktober 1988. Ini kesaksian saya. Dalam 
perjanjian jika saya tidak mati dalam waktu satu tahun khalifah 
Ahmadiyah akan keluar dari Ahmadiyah. Saya selamat hingga kini, namun 
khalifah itu ingkar janji dan berpura-pura mengutuk Ahmadiyah di 
Indonesia," imbuh Haryadi yang mengenakan baju koko warna cokelat.

Tablig akbar itu diikuti 500-an anggota Front Pembela Islam (FPI) dan 
jamaah di sekitar masjid. Tampak juga Ketua FPI Habib Rizieq, Sekjen 
Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al-Khathath, dan ketua Lembaga 
Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Amin Djamaludin. (irw/nrl) 

http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/05/tgl/
11/time/134045/idnews/937376/idkanal/10

--- End forwarded message ---


Kirim email ke