Essay – KENAIKAN HARGA BBM DAN SEMANGAT JIHAD
 
Oleh Satrio Arismunandar
 
Apa hubungan antara wacana kenaikan harga BBM dengan semangat jihad? Hubungan 
ini mungkin terkesan diada-adakan. Namun, saya akan mencoba mengaitkannya denga 
sebuah cerita, yang konon benar-benar pernah terjadi dalam sejarah kekhalifahan 
Islam.
 
Saya pernah membaca cerita itu di sebuah buku, tetapi mohon maaf, saya 
betul-betul lupa judul buku itu dan nama-nama tokoh dalam cerita itu. Namun, 
secara garis besar, saya ingat jalan ceritanya, dan cerita itu tampaknya 
relevan dalam mengkritisi cara pemerintah kita menangani krisis kenaikan harga 
BBM.
 
Alkisah, pada suatu masa, kekhalifahan sedang mengalami krisis yang amat berat. 
Perang dengan kerajaan-kerajaan tetangga membuat kondisi keuangan kekhalifahan 
morat-marit. Pasukan tidak punya persenjataan dan logistik yang memadai. 
Ekonomi negara juga menderita, dan rakyat menderita. Hal ini membuat sang 
khalifah, sebut saja namanya Nizar, prihatin. Ia pun mengumpulkan para menteri 
dan pembantunya, untuk membahas cara mengatasi situasi genting ini.
 
Dalam pertemuan itu, seorang menteri mengusulkan, agar rakyat dimintai 
sumbangan bagi pendanaan anggaran kekhalifahan, yang sangat kritis akibat 
perang berkepanjangan. Warga yang masih memiliki simpanan perak, emas, uang, 
atau kekayaan dalam bentruk lain, akan dimintai sumbangannya. Jika semua warga 
berpartisipasi, diyakini kondisi keuangan kekhalifahan akan pulih, bahkan bisa 
memenangkan perang melawan kerajaan-kerajaan tetangga.
 
Khalifah Nizar beranggapan, usulan itu sangat baik. Namun, untuk bisa 
terlaksana efektif, dia butuh dukungan ulama atau tokoh masyarakat, yang 
ucapannya akan dihormati dan dituruti rakyat. Nah, di kekhalifahan itu memang 
hidup seorang ulama besar, yang sebut saja namanya Abdullah. Meskipun hidup 
miskin dan sakit-sakitan, kredibilitas ulama besar ini sangat dihormati rakyat. 
Khalifah berharap, bisa meminta dukungan Abdullah, dalam bentuk fatwa atau 
seruan pada rakyat, untuk mendukung rencana pemerintah.
 
Maka dikirimlah utusan kepada Abdullah, dengan pesan khusus dari khalifah. 
Namun, setelah bertemu ulama tersebut, sang utusan balik ke khalifah dan 
mengatakan, ulama Abdullah tidak mau mendukung rencana pemerintah itu.
 
Khalifah Nizar kesal dan merasa penasaran. “Mengapa dia tak mau mendukung? 
Bukankah rencana ini sangat baik, demi menyelamatkan negara yang sedang dalam 
kondisi kritis, dan demi kejayaan agama kita?” Khalifah sekali lagi mengirim 
utusan, tapi si utusan itu pun kembali dengan jawaban yang sama. Beberapa kali 
hal itu terjadi, sehingga khalifah pun marah. Kali ini, ia memerintahkan 
prajuritnya untuk mendatangkan sang ulama secara paksa.
 
Abdullah pun akhirnya dihadirkan ke istana. Ternyata ulama yang sudah cukup 
berumur itu begitu tampak rapuh. Badannya kurus dan lemah. Tetapi, dalam sorot 
matanya tersimpan kekuatan batin yang luar biasa, melampaui ketahanan fisiknya. 
 
Khalifah pun bertanya, “Hei, Abdullah! Mengapa kamu tidak mendukung rencana 
pemerintah? Padahal rencana ini sangat baik, demi untuk menyelamatkan 
kekhalifahan dan agama?”   
 
Dengan bercucuran air mata, Abdullah menjawab: “Paduka yang mulia, saya 
menyadari sepenuhnya bahwa rencana itu memang benar untuk kepentingan negara 
dan agama. Setiap warga negara sudah sepatutnya mendukung rencana tersebut. 
Namun, penderitaan rakyat kita sudah sangat berat. Jika kita membebani rakyat 
lagi, dengan meminta mereka menyumbangkan sisa harta bendanya, maka itu 
seharusnya menjadi pilihan yang terakhir.”
 
“Saya percaya, rakyat pasti ikhlas dan bersedia menyumbangkan harta benda dan 
milik mereka yang berharga, untuk keselamatan negara dan agama. Tetapi, sebelum 
kita neminta rakyat berkorban, adalah lebih baik jika paduka, para menteri, 
para pejabat, dan semua yang lebih mampu dan berkecukupan ini memberi contoh, 
dengan pengorbanan lebih dulu. Jika Anda semua sudah berkorban dengan 
sebenar-benarnya, dengan memberikan seluruh harta benda Anda, barulah Anda 
boleh meminta rakyat untuk berkorban. Para pemimpin harus memberi contoh dan 
teladan pada rakyatnya. Jika paduka melakukan hal ini, saya akan mendukung 
sepenuhnya titah paduka,” tutur Abdullah.
 
Khalifah Nizar merasa terguncang hatinya, dan menyadari bahwa kata-kata sang 
ulama itu memang benar adanya. Saking terharunya ia sampai menangis. Ia pun 
lalu memerintahkan para menteri dan pejabat negara, untuk menyumbangkan seluruh 
harta mereka untuk perjuangan. Khalifah juga rela menyerahkan harta miliknya 
yang berharga untuk kepentingan perjuangan. 
 
Nah, kembali ke konteks Indonesia dan wacana kenaikan harga BBM. Saya bertanya: 
Sumbangan dan pengorbanan apakah yang sudah diberikan presiden, para menteri, 
para pejabat tinggi, anggota DPR, konglomerat dan pengusaha yang dekat dengan 
istana, para pengemplang dana BLBI, pejabat Pertamina dan BUMN lain yang 
bertaburan fasilitas,  sebelum dengan mudahnya pemerintah meminta rakyat 
berkorban? 
 
Jakarta , 13 Mei 2008
 
Satrio Arismunandar 
Executive Producer
News Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4023,  Fax: 79184558, 79184627
 
http://satrioarismu nandar6.blogspot .com
http://satrioarismu nandar.multiply. com  
 
"Perjuangan seorang mukmin sejati tidak akan berhenti, kecuali kedua telapak 
kakinya telah menginjak pintu surga." (Imam Ahmad bin Hanbal)

 
 


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===
Mari belajar Islam dan berdakwah melalui SMS

Cara berlangganan: REG SI kirim ke 3252 (Dari Telkomsel)
Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari 

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252 
http://www.media-islam.or.idYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke