Film "Sang Murabbi" Akan Segera Tayang      
      Jumat, 16 Mei 2008  
      Sebuah film perjuangan seorang ustad yang rendah hati dan bersahaja. 
Kesederhanaan adalah hal yang kini mulai banyak hilang di tengah umat

      Hidayatullah.com-Sebuah film yang bercerita tentang seorang guru 
bersahaja akan menjadi koleksi tontonan menarik umat Islam Indonesia. Film 
bertajuk "Sang Murabbi" ini menceritakan kisah seorang "pejuang dakwah" yang 
dulunya miskin kemudian berubah setelah mendapatkan kelapangan rezeki. Ia lupa 
tujuan awal "berdakwah" bukan untuk mencari kehidupan dunia.  

      Film yang disutradari oleh Zul Ardhia ini menampilkan bintang Irwan 
Rinaldi sebagai Ustadz Rahmat,  Ummi Fida (diperankan oleh Astri Ivo) dan 
didukung beberapa bintang lain; Neno Warisman dan Afwan Izzis.

      Syuting film ini dilakukan di beberapa kawasan. Diantaranya di Setu, 
Jakarta Timur. Menurut situs blog sangmurabbi,  lokasi ini dipilih karena 
memiliki kemiripan dengan situasi Kuningan, Jakarta Selatan, di era 70-an akhir 
dan 80-an. 

      Pengambilan gambar juga dilakukan di lokasi di wilayah lain seperti 
Kampung Raden, Pondok Gede, dan Pondok Rangon. 

      Sebagaimana diketahui, film ini dicuplik dari perjalanan hidup almarhum 
Ustad Rahmat Abdullah. Almarhum dikenal sebagai seorang ustadz,  "pejuang 
dakwah" dan guru aktivis PKS. 

      Ustadz Rahmat Abdullah,  adalah putra Betawi yang lahir di Jakarta pada 3 
Juli 1953. Almarhmum meninggal dunia tahun 2005 setelah terkena stroke ketika 
wudhu untuk mengerjakan sholat Magrib.  

      Selain dikenal sebagai mentor kader PKS, semasa hidup, almarhum pernah 
menjabat sebagai Ketua Majelis Syuro DPP PKS. Almarhum juga  sempat menjadi 
anggota Komisi III DPR RI yang membidangi masalah hukum, HAM dan 
perundang-undangan.

      Sebelum menjadi anggota DPR, almarhum aktif sebagai guru di beberapa 
sekolah, di antaranya Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Huda (1970), SD Islam 
Tarbitul Aulad (1971-1973), Madrasah Tsanawiyah (Mts) Rumah Pendidikan Islam 
(1981), Aliyah Pendidikan (1982-1984), pengajar Ma'had Dirasah Islamiyah Iqro 
(1993-1997) dan pengajar pendidikan Duru TK Islam Terpadu Iqro (1999).

      Almarhum juga mendirikan Yayasan Islamic Center Iqro pada 1992. Di tahun 
2000, dalam sebuah acara Seminar Nasional bertajuk  "Tarbiyah di Era Baru" di 
Masjid UI, Kampus UI Depok, ustadz keturunan Betawi itu pernah disebut  sebagai 
Syaikhut Tarbiyah. 

      Almarhum dikenal sebagai sosok pejuang da'wah yang sangat aktif 
memperkaya wawasan keilmuannya. Pendidikan formalnya hanya sampai madrasah 
aliyah plus setahun kuliah di LIPIA Jakarta. Tapi karena kegigihannya mencari 
ilmu dari beberapa halaqah, kiai dan kelahapannya membaca kitab, banyak orang 
mengakui kapasitas keilmuannya tak kalah dari rekan-rekannya yang bergelar 
doktor. Sejak tahun 1985 ia sudah sering berkunjung ke luar negeri dan keliling 
Indonesia, memenuhi undangan seminar, mudzakarah du'at, pelatihan kader, 
tabligh, dan sebagainya. 

      Selain itu ada satu hal yang tak dimiliki umumnya para dai, bahwa ia 
adalah rajin menulis.


      Dalam sebuah wawancara eklusif dengan Majalah Suara Hidayatullah tahun 
2001, almarhum menjawab secara jujur kritikan masyarakat tentang adanya 
sinyalemen kader-kader Tarbiyah yang cenderung mulai eksklusif.  

      "Betul, ada kalanya kopral dengan kopral berkelahi, tetapi mayor dan 
kolonel yang jadi atasannya biasa-biasa saja. Para jenderalnya pun saling 
ngobrol saja.

      Kalau ada yang demikian yang saya lihat, saya mengingatkan kader-kader 
kita agar tidak boleh begitu. Karena sesungguhnya mereka bisa menjadi orang 
yang sangat dihargai masyarakat jika menggunakan cara-cara yang lebih santun," 
begitu kutipnya.

      "Makanya mereka disuruh mengaji ke mana-mana untuk menambah wawasan. 
Sehingga kalau ada kajian umum mereka datang ramai-ramai untuk memperkaya dari 
apa yang telah mereka dapatkan dalam kelompok-kelompok kecil itu," tambahnya. 

      Itulah rekaman kisah seorang ustad rendah hati nan sederhana meski 
dipundaknya pernah banyak jabatan dan amanah.  

      Ada baiknya, masyarakat terutama para santrinya melihat ulang 
kesederhanaan dan kesahajaan sang guru (murabbi) itu. Menurut situs blog 
sangmurabbi, Film ini diperkirakan akan dilaunching bulan Juni 2008.
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke