Keotentikan 
Al-Quran<http://www.adanipermana.co.cc/Articles/artikel/ilmu_alquran/keotentikan_alquran.html>

Al-Quran Al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat.
Salah satu di antaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya
dijamin oleh Allah, dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara. Inna nahnu
nazzalna al-dzikra wa inna lahu lahafizhun (Sesungguhnya Kami yang
menurunkan Al-Quran dan Kamilah Pemelihara-pemelihara-Nya) (QS 15:9).

Demikianlah Allah menjamin keotentikan Al-Quran, jaminan yang diberikan atas
dasar Kemahakuasaan dan Kemahatahuan-Nya, serta berkat upaya-upaya yang
dilakukan oleh makhluk-makhluk-Nya, terutama oleh manusia. Dengan jaminan
ayat di atas, setiap Muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya
sebagai Al-Quran tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang pernah dibaca
oleh Rasulullah saw., dan yang didengar serta dibaca oleh para sahabat Nabi
saw.

Tetapi, dapatkah kepercayaan itu didukung oleh bukti-bukti lain? Dan,
dapatkah bukti-bukti itu meyakinkan manusia, termasuk mereka yang tidak
percaya akan jaminan Allah di atas? Tanpa ragu kita mengiyakan pertanyaan di
atas, karena seperti yang ditulis oleh almarhum 'Abdul-Halim Mahmud, mantan
Syaikh Al-Azhar: "Para orientalis yang dari saat ke saat berusaha
menunjukkan kelemahan Al-Quran, tidak mendapatkan celah untuk meragukan
keotentikannya."1<http://www.adanipermana.co.cc/Articles/artikel/ilmu_alquran/keotentikan_alquran.html#1>Hal
ini disebabkan oleh bukti-bukti kesejarahan yang mengantarkan mereka
kepada kesimpulan tersebut.
Bukti-bukti dari Al-Quran Sendiri

Sebelum menguraikan bukti-bukti kesejarahan, ada baiknya saya kutipkan
pendapat seorang ulama besar Syi'ah kontemporer, Muhammad Husain
Al-Thabathaba'iy, yang menyatakan bahwa sejarah Al-Quran demikian jelas dan
terbuka, sejak turunnya sampai masa kini. Ia dibaca oleh kaum Muslim sejak
dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan
sejarah untuk membuktikan keotentikannya. Kitab Suci tersebut lanjut
Thabathaba'iy memperkenalkan dirinya sebagai Firman-firman Allah dan
membuktikan hal tersebut dengan menantang siapa pun untuk menyusun seperti
keadaannya. Ini sudah cukup menjadi bukti, walaupun tanpa bukti-bukti
kesejarahan. Salah satu bukti bahwa Al-Quran yang berada di tangan kita
sekarang adalah Al-Quran yang turun kepada Nabi saw. tanpa pergantian atau
perubahan --tulis Thabathaba'iy lebih jauh-- adalah berkaitan dengan sifat
dan ciri-ciri yang diperkenalkannya menyangkut dirinya, yang tetap dapat
ditemui sebagaimana keadaannya
dahulu.2<http://www.adanipermana.co.cc/Articles/artikel/ilmu_alquran/keotentikan_alquran.html#2>

Dr. Mustafa Mahmud, mengutip pendapat Rasyad Khalifah, juga mengemukakan
bahwa dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti-bukti sekaligus jaminan akan
keotentikannya.3<http://www.adanipermana.co.cc/Articles/artikel/ilmu_alquran/keotentikan_alquran.html#3>

Huruf-huruf hija'iyah yang terdapat pada awal beberapa surah dalam Al-Quran
adalah jaminan keutuhan Al-Quran sebagaimana diterima oleh Rasulullah saw.
Tidak berlebih dan atau berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang
digunakan oleh Al-Quran. Kesemuanya habis terbagi 19, sesuai dengan jumlah
huruf-huruf B(i)sm Ali(a)h Al-R(a)hm(a)n Al-R(a)him. (Huruf a dan i dalam
kurung tidak tertulis dalam aksara bahasa Arab).

Huruf (qaf) yang merupakan awal dari surah ke-50, ditemukan terulang
sebanyak 57 kali atau 3 X 19.

Huruf-huruf kaf, ha', ya', 'ayn, shad, dalam surah Maryam, ditemukan
sebanyak 798 kali atau 42 X 19.

Huruf (nun) yang memulai surah Al-Qalam, ditemukan sebanyak 133 atau 7 X 19.
Kedua, huruf (ya') dan (sin) pada surah Yasin masing-masing ditemukan
sebanyak 285 atau 15 X 19. Kedua huruf (tha') dan (ha') pada surah Thaha
masing-masing berulang sebanyak 342 kali, sama dengan 19 X 18.

Huruf-huruf (ha') dan (mim) yang terdapat pada keseluruhan surah yang
dimulai dengan kedua huruf ini, ha' mim, kesemuanya merupakan perkalian dari
114 X 19, yakni masing-masing berjumlah 2.166.

Bilangan-bilangan ini, yang dapat ditemukan langsung dari celah ayat
Al-Quran, oleh Rasyad Khalifah, dijadikan sebagai bukti keotentikan
Al-Quran. Karena, seandainya ada ayat yang berkurang atau berlebih atau
ditukar kata dan kalimatnya dengan kata atau kalimat yang lain, maka tentu
perkalian-perkalian tersebut akan menjadi kacau.

Angka 19 di atas, yang merupakan perkalian dari jumlah-jumlah yang disebut
itu, diambil dari pernyataan Al-Quran sendiri, yakni yang termuat dalam
surah Al-Muddatstsir ayat 30 yang turun dalam konteks ancaman terhadap
seorang yang meragukan kebenaran Al-Quran.

Demikianlah sebagian bukti keotentikan yang terdapat di celah-celah Kitab
Suci tersebut.
Bukti-bukti Kesejarahan

Al-Quran Al-Karim turun dalam masa sekitar 22 tahun atau tepatnya, menurut
sementara ulama, dua puluh dua tahun, dua bulan dan dua puluh dua hari.

Ada beberapa faktor yang terlebih dahulu harus dikemukakan dalam rangka
pembicaraan kita ini, yang merupakan faktor-faktor pendukung bagi pembuktian
otentisitas Al-Quran.

(1) Masyarakat Arab, yang hidup pada masa turunnya Al-Quran, adalah
masyarakat yang tidak mengenal baca tulis. Karena itu, satu-satunya andalan
mereka adalah hafalan. Dalam hal hafalan, orang Arab --bahkan sampai kini--
dikenal sangat kuat.

(2) Masyarakat Arab --khususnya pada masa turunnya Al-Quran-- dikenal
sebagai masyarakat sederhana dan bersahaja: Kesederhanaan ini, menjadikan
mereka memiliki waktu luang yang cukup, disamping menambah ketajaman pikiran
dan hafalan.

(3) Masyarakat Arab sangat gandrung lagi membanggakan kesusastraan; mereka
bahkan melakukan perlombaan-perlombaan dalam bidang ini pada waktu-waktu
tertentu.

(4) Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan bahasanya dan
sangat mengagumkan bukan saja bagi orang-orang mukmin, tetapi juga orang
kafir. Berbagai riwayat menyatakan bahwa tokoh-tokoh kaum musyrik seringkali
secara sembunyi-sembunyi berupaya mendengarkan ayat-ayat Al-Quran yang
dibaca oleh kaum Muslim. Kaum Muslim, disamping mengagumi keindahan bahasa
Al-Quran, juga mengagumi kandungannya, serta meyakini bahwa ayat-ayat
Al-Quran adalah petunjuk kebahagiaan dunia dan akhirat.

(5) Al-Quran, demikian pula Rasul saw., menganjurkan kepada kaum Muslim
untuk memperbanyak membaca dan mempelajari Al-Quran dan anjuran tersebut
mendapat sambutan yang hangat.

(6) Ayat-ayat Al-Quran turun berdialog dengan mereka, mengomentari keadaan
dan peristiwa-peristiwa yang mereka alami, bahkan menjawab
pertanyaan-pertanyaan mereka. Disamping itu, ayat-ayat Al-Quran turun
sedikit demi sedikit. Hal itu lebih mempermudah pencernaan maknanya dan
proses penghafalannya.

(7) Dalam Al-Quran, demikian pula hadis-hadis Nabi, ditemukan
petunjuk-petunjuk yang mendorong para sahabatnya untuk selalu bersikap
teliti dan hati-hati dalam menyampaikan berita --lebih-lebih kalau berita
tersebut merupakan Firman-firman Allah atau sabda Rasul-Nya.

Faktor-faktor di atas menjadi penunjang terpelihara dan dihafalkannya
ayat-ayat Al-Quran. Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang
menginformasikan bahwa terdapat ratusan sahabat Nabi saw. yang menghafalkan
Al-Quran. Bahkan dalam peperangan Yamamah, yang terjadi beberapa saat
setelah wafatnya Rasul saw., telah gugur tidak kurang dari tujuh puluh orang
penghafal 
Al-Quran.4<http://www.adanipermana.co.cc/Articles/artikel/ilmu_alquran/keotentikan_alquran.html#4>

Walaupun Nabi saw. dan para sahabat menghafal ayat-ayat Al-Quran, namun guna
menjamin terpeliharanya wahyu-wahyu Ilahi itu, beliau tidak hanya
mengandalkan hafalan, tetapi juga tulisan. Sejarah menginformasikan bahwa
setiap ada ayat yang turun, Nabi saw. lalu memanggil sahabat-sahabat yang
dikenal pandai menulis, untuk menuliskan ayat-ayat yang baru saja
diterimanya, sambil menyampaikan tempat dan urutan setiap ayat dalam
surahnya. Ayat-ayat tersebut mereka tulis dalam pelepah kurma, batu,
kulit-kulit atau tulang-tulang binatang. Sebagian sahabat ada juga yang
menuliskan ayat-ayat tersebut secara pribadi, namun karena keterbatasan alat
tulis dan kemampuan maka tidak banyak yang melakukannya disamping
kemungkinan besar tidak mencakup seluruh ayat Al-Quran. Kepingan naskah
tulisan yang diperintahkan oleh Rasul itu, baru dihimpun dalam bentuk
"kitab" pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar
r.a.5<http://www.adanipermana.co.cc/Articles/artikel/ilmu_alquran/keotentikan_alquran.html#5>
Penulisan Mushhaf

Dalam uraian sebelumnya dikemukakan bahwa ketika terjadi peperangan Yamamah,
terdapat puluhan penghafal Al-Quran yang gugur. Hal ini menjadikan 'Umar ibn
Al-Khaththab menjadi risau tentang "masa depan Al-Quran". Karena itu, beliau
mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar agar mengumpulkan tulisan-tulisan yang
pernah ditulis pada masa Rasul. Walaupun pada mulanya Abu Bakar ragu
menerima usul tersebut --dengan alasan bahwa pengumpulan semacam itu tidak
dilakukan oleh Rasul saw.-- namun pada akhirnya 'Umar r.a. dapat
meyakinkannya. Dan keduanya sepakat membentuk suatu tim yang diketuai oleh
Zaid ibn Tsabit dalam rangka melaksanakan tugas suci dan besar itu.

Zaid pun pada mulanya merasa sangat berat untuk menerima tugas tersebut,
tetapi akhirnya ia dapat diyakinkan --apalagi beliau termasuk salah seorang
yang ditugaskan oleh Rasul pada masa hidup beliau untuk menuliskan wahyu
Al-Quran. Dengan dibantu oleh beberapa orang sahabat Nabi, Zaid pun memulai
tugasnya. Abu Bakar r.a. memerintahkan kepada seluruh kaum Muslim untuk
membawa naskah tulisan ayat Al-Quran yang mereka miliki ke Masjid Nabawi
untuk kemudian diteliti oleh Zaid dan timnya. Dalam hal ini, Abu Bakar r.a.
memberi petunjuk agar tim tersebut tidak menerima satu naskah kecuali yang
memenuhi dua syarat:

Pertama, harus sesuai dengan hafalan para sahabat lain.

Kedua, tulisan tersebut benar-benar adalah yang ditulis atas perintah dan di
hadapan Nabi saw. Karena, seperti yang dikemukakan di atas, sebagian sahabat
ada yang menulis atas inisiatif sendiri.

Untuk membuktikan syarat kedua tersebut, diharuskan adanya dua orang saksi
mata.

Sejarah mencatat bahwa Zaid ketika itu menemukan kesulitan karena beliau dan
sekian banyak sahabat menghafal ayat Laqad ja'akum Rasul min anfusikum 'aziz
'alayh ma 'anittun harish 'alaykum bi almu'minina Ra'uf al-rahim (QS 9:128).
Tetapi, naskah yang ditulis di hadapan Nabi saw. tidak ditemukan. Syukurlah
pada akhirnya naskah tersebut ditemukan juga di tangan seorang sahabat yang
bernama Abi Khuzaimah Al-Anshari. Demikianlah, terlihat betapa Zaid
menggabungkan antara hafalan sekian banyak sahabat dan naskah yang ditulis
di hadapan Nabi saw., dalam rangka memelihara keotentikan Al-Quran. Dengan
demikian, dapat dibuktikan dari tata kerja dan data-data sejarah bahwa
Al-Quran yang kita baca sekarang ini adalah otentik dan tidak berbeda
sedikit pun dengan apa yang diterima dan dibaca oleh Rasulullah saw., lima
belas abad yang lalu.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, perlu dikemukakan bahwa Rasyad Khalifah,
yang menemukan rahasia angka 19 yang dikemukakan di atas, mendapat kesulitan
ketika menemukan bahwa masing-masing kata yang menghimpun
Bismillahirrahmanirrahim, kesemuanya habis terbagi 19, kecuali Al-Rahim.
Kata Ism terulang sebanyak 19 kali, Allah sebanyak 2.698 kali, sama dengan
142 X 19, sedangkan kata Al-Rahman sebanyak 57 kali atau sama dengan 3 X 19,
dan Al-Rahim sebanyak 115 kali. Di sini, ia menemukan kejanggalan, yang
konon mengantarnya mencurigai adanya satu ayat yang menggunakan kata rahim,
yang pada hakikatnya bukan ayat Al-Quran. Ketika itu, pandangannya tertuju
kepada surah Al-Tawbah ayat 128, yang pada mulanya tidak ditemukan oleh
Zaid. Karena, sebagaimana terbaca di atas, ayat tersebut diakhiri dengan
kata rahim.

Sebenarnya, kejanggalan yang ditemukannya akan sirna, seandainya ia
menyadari bahwa kata rahim pada ayat Al-Tawbah di atas, bukannya menunjuk
kepada sifat Tuhan, tetapi sifat Nabi Muhammad saw. Sehingga ide yang
ditemukannya dapat saja benar tanpa meragukan satu ayat dalam Al-Quran, bila
dinyatakan bahwa kata rahim dalam Al-Quran yang menunjuk sifat Allah
jumlahnya 114 dan merupakan perkalian dari 6 X 19.
Penutup

Demikianlah sekelumit pembicaraan dan bukti-bukti yang dikemukakan para
ulama dan pakar, menyangkut keotentikan ayat-ayat Al-Quran. Terlihat
bagaimana Allah menjamin terpeliharanya Kitab Suci ini, antara lain berkat
upaya kaum beriman.
Catatan kaki

1<http://www.adanipermana.co.cc/Articles/artikel/ilmu_alquran/keotentikan_alquran.html#r1>'Abdul
Halim Mahmud, Al-Tafkir Al-Falsafiy fi Al-Islam, Dar Al-Kitab
Al-Lubnaniy, Beirut, t.t., h. 50.

2<http://www.adanipermana.co.cc/Articles/artikel/ilmu_alquran/keotentikan_alquran.html#r2>Muhammad
Husain Al-Thabathabaly, Al-Qur'an fi Al-Islam, Markaz I'lam
Al-Dzikra Al-Khamisah li Intizhar Al-Tsawrah Al-Islamiyah, Teheran, h. 175.

3<http://www.adanipermana.co.cc/Articles/artikel/ilmu_alquran/keotentikan_alquran.html#r3>Mustafa
Mahmud, Min Asrar Al-Qur'an, Dar Al-Ma'arif, Mesir, 1981, h. 64-65.

4<http://www.adanipermana.co.cc/Articles/artikel/ilmu_alquran/keotentikan_alquran.html#r4>'Abdul
Azhim Al-Zarqaniy, Manahil Al-'Irfan i 'Ulum Al-Qur'an, Al-Halabiy,
Kairo, 1980, jilid 1, h. 250.

5<http://www.adanipermana.co.cc/Articles/artikel/ilmu_alquran/keotentikan_alquran.html#r5>Ibid.,
h. 252.

Sumber : Media Isnet<http://media.isnet.org/islam/Quraish/Membumi/Otentik.html>

-- 
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

A Dani Permana
www.adanipermana.co.cc
http://it-focus.co.cc


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke