assalaamu alaikum,
berikut ada sedikit diskusi menarik dari milis tetangga. silakan simak apa
yang tengah terjadi di tengah kita.
salam,
satriyo
--
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest
>> al-Ra'd [13]: 28
--- In [EMAIL PROTECTED], "Gene Netto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamu'alaikum wr.wb.,
Memperkenalkan Radio for Education.
Guru sekolah telah diseleksi untuk ikuti workshop yang dibuat oleh
Yayasan Putera Sampoerna, di mana mereka akan dilatih untuk menggunakan
program baru di dalam kelas. Sebagai dijelaskan di dalam surat berikut:
Dear Principal,
I am writing to inform you that the English teachers at your school have
been selected by the Putera Sampoerna Foundation United schools program
to join Radio for Education workshop on Tuesday, May 27th. Radio Ed is a
partnership between the Putera Sampoerna Foundation and the radio
program Asia Calling from KBR 68H Green Radio.
Participating schools will receive free classroom materials to share
with their schools.
Introducing Radio for Education with Asia Calling
Where: Green Radio, Jl. Utan Kayu No. 68H, Jakarta Timur
Tapi ada organisasi lain yang juga punya pakai alamat yang sama:
Sekretariat Jaringan Islam Liberal (JIL): Jalan Utan Kayu No. 68-H,
Matraman, Jakarta Timur. Dan juga menggunakan Radio 68H untuk siaran.
Jadi, Uang dari Yayasan Putera Sampoerna (non-Muslim) = akses ke sekolah
= Green Radio 68H = Jaringan Islam Liberal (JIL).
Apakah ini masa depan pendidikan buat anak Muslim di Indonesia?
Murid di kelas, terpengaruh oleh yayasan swasta non-Muslim untuk
mendengarkan siaran radio yang satu ini, yaitu Radio 68H. Guru dikasih
latihan (gratis?) supaya bisa tahu bagaimana menggunakan Radio 68H di
kelas, dan juga mendapatkan materi gratis. Secara automatis,
mempromosikan Radio 68H.
Anak sekolah akan mendengarkannya di mana? Di dalam kelas saja? Di luar
kelas juga?
Tetapi radio ini bukan saja untuk belajar bahasa Inggris di sekolah.
Dari website JIL:
"
Talk-show di Kantor Berita Radio 68H. Talk-show ini akan
mengundang sejumlah tokoh yang selama ini dikenal sebagai "pendekar
pluralisme dan inklusivisme" untuk berbicara tentang berbagai isu
sosial-keagamaan di Tanah Air. Acara ini akan diselenggarakan setiap
minggu, dan disiarkan melaui jaringan Radio namlapanha di 40
Radio
"
Jadi, ada juga siaran ceramah agama pada hari minggu pagi yang bisa
disimak dengan baik. (Alhamdulillah). Nanti anak-anak sudah terbiasa
mendengarkan Green Radio di sekolah. (Alhamdulillah). Masa dilarang
orang tua mendengarkan ceramah agamanya pada akhir minggu?
(Astagfirullah al adzim, itu `kan ILMU Ibu!). Bisa mendengarkan
ceramah agama dari pemikir besar seperti
{isi nama sendiri}.
(Alhamdulillah). Dan setelah itu, mendapatkan wawasan yang sangat bagus
tentang agama. (Alhamdulillah). Sesuai dengan pemikiran JIL.
(Alhamdulillah).
Alhamdulillah, setelah menyimak ceramah agama pada hari minggu pagi,
pada hari Senin di sekolah, anak bisa berdebat dengan guru agama,
"Pak kemarin saya dengarin Radio 68H lagi karena sudah biasa di
sekolah, ternyata ada ceramah agama. Katanya semua agama sama dan semua
orang baik-baik akan masuk surga, walaupun kafir. Tidak apa-apa kalau
kita murtad, katanya. Tetap bisa masuk surga. Benar kan Pak? Kan, itu
radio yang kita cintai di sekolah. Kalau benar di sekolah, masa tidak
benar di luar sekolah? Pasti benar Pak. Saya mau jadi orang Kristen saja
Pak, atau orang ateis saja, katanya masih masuk surga Pak. Nggak usah
shalat lagi. Terima kasih Pak guru!"
Ya, terima kasih Pak Guru.
Terima kasih Pak Kepala Sekolah.
Terima kasih Yayasan Putera Sampoerna.
Terima kasih Green Radio.
Terima kasih JIL
Majulah pencucian otak, ehh maaf, pendidikan anak Indonesia! (Yang
penting gratis `kan? Karena ada yayasan yang siap bayarin
semua
)
Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Gene
--- End forwarded message ---
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of [EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, May 19, 2008 8:03 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [sd-islam] Hati-Hati Bila Green Radio Masuk Sekolah Anak
Anda
Berhati-hati tentu perlu.
Tapi apa salahnya mempelajari dulu isi pelatihan itu.
Kalau memang bermanfaat, apa salahnya dimanfaatkan?
janganlah selalu curiga pada pihak lain.
Kecurigaan yang berlebihan adalah pertanda ketidakpercayaan diri.
Mari bangun generasi muda muslim yang pintar, cerdas, percaya diri,
terbuka pada beragam pandangan dan pengetahuan, yang pandai berpikir
logis, yang dapat memanfaatkan otak dan hati yang dianugerahkan Allah .
.
.
ade armando
--- In [EMAIL PROTECTED], "Ediyus Hz" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ya, perlu dipelajari dulu oleh para pendidik isi tayangan Green Radio
itu secara keseluruhan, sebelum disuguhkan ke anak-didik.... Karena
filter yang dimiliki anak-didik belum sempurna..... Terutama masalah
pelencengan aqidah yang sekarang lagi gencar diusung oleh JIL!
Dan sangat bagus lagi jika ada radio yang bukan "gray color" yang
menjadi akses belajar bagi anak-anak.
Ediyus Hz
--- End forwarded message ---
--- In [EMAIL PROTECTED], "Satria Dharma" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
--- In [EMAIL PROTECTED], adenina@ wrote:
Berhati-hati tentu perlu.
Tapi apa salahnya mempelajari dulu isi pelatihan itu.
Kalau memang bermanfaat, apa salahnya dimanfaatkan?
janganlah selalu curiga pada pihak lain.
Kecurigaan yang berlebihan adalah pertanda ketidakpercayaan diri.
Mari bangun generasi muda muslim yang pintar, cerdas, percaya diri,
terbuka pada beragam pandangan dan pengetahuan, yang pandai berpikir
logis, yang dapat memanfaatkan otak dan hati yang dianugerahkan Allah . .
.
ade armando
+ Hehehe...! Jadi muslim kok justru jadi 'penakut'. Dikit-dikit
curiga....dikit-dikit... kuatir. :-) Kalau bertahan terus lha kapan
nyerangnya...?! :-) Kalau defensif terus kamu nggak bakalan kemana-mana.
Ayo... Gene! Masak sama radio RH 68 dan Yayasan Sampoerna aja udah
grogi. Saya sudah bekerja di SF bertahun-tahun dan baca tulisan
orang-orang liberal, ateis, komunis, sosialis berjilid-jilid nggak
apa-apa kok. Coba masuk dan buktikan bahwa kamu 'kebal'. :-)
Salam
Satria
--- End forwarded message ---
--- In [EMAIL PROTECTED], "Gene Netto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
+ Hehehe...! Jadi muslim kok justru jadi 'penakut'. Dikit-dikit
curiga....dikit-dikit... kuatir. :-) Kalau bertahan terus lha kapan
nyerangnya...?! :-) Kalau defensif terus kamu nggak bakalan kemana-mana.
Ayo... Gene! Masak sama radio RH 68 dan Yayasan Sampoerna aja udah
grogi. Saya sudah bekerja di SF bertahun-tahun dan baca tulisan
orang-orang liberal, ateis, komunis, sosialis berjilid-jilid nggak
apa-apa kok. Coba masuk dan buktikan bahwa kamu 'kebal'. :-)
Salam
Satria
Assalamu'alaikum wr.wb.,
Pak Satria,
Menghindari sesuatu yang bisa menimbulkan masalah yang besar bukan
sifat penakut tetapi sifat orang bijaksana.
Menghindari makanan yang bisa menimbulkan kanker tidak berarti takut
sama semua makanan, tetapi bijaksana.
Menghindari sopir pribadi untuk anak yang pernah ditangkap sebagai
penculik tidak berarti takut sama semua sopir, tetapi bijaksana.
Dan seterusnya.
Orang dewasa bukan anak kecil dan juga sebaliknya.
Kalau orang dewasa mendengar Musdah Mulia mengatakan di radio bawa
homoseks itu oke dan tidak dilarang dalam Islam, belum tentu dia
terpengaruh. Apakah anak remaja juga tidak terpengaruh?
Kalau orang dewasa mendengar Komaruddin Hidayat mengatakan di radio
bahwa semua agama sama karena semuanya menuju Tuhan yang sama, dan
semua orang yang baik akan masuk sorga walaupun dia kafir dan ingkar
terhadap Nabi Muhammad SAW, belum tentu orang dewasa itu terpengaruh.
Apakah anak remaja juga tidak terpengaruh?
Dan seterusnya.
Jadi, seperti saya katakan kemarin, yang perlu diwaspadai adalah
siaran radio 68H karena juga di bawah kendali orang JIL, yang diyakini
MUI dan semua ustadz yang saya kenal sebagai kelompok yang sesat dan
menyesatkan. Justru karena itu, tidak pantas bila radio merekalah yang
diberikan kebebasan masuk sekolah sedangkan puluhan stasiun yang lain
tidak diberi kesempatan.
Sikap berhati-hati terhadap mereka dan ajarannya bukan diawali dengan
perasaan takut, tetapi dengan sikap bijaksana: apa yang terbaik untuk
anak remaja?
Kalau Pak Satria mengatakan sudah terbiasa bergaul dengan orang JIL
dan orang ateis, tanpa pengaruh, saya mau ingatkan kembali pernyataan
Pak Satria dari beberapa bulan lalu: "Saya tidak peduli ulama ngomong
apa!"
Selama 13 tahun saya pelajari Islam dari nol, dari berbagai guru. Ada
yang lulus dari Al Azhar, dari Medina, dari Yordan, dari Australia,
dan lain-lain. Ada yang tidak kuliah, tetapi belajar langsung kepada
guru agama di sini. Dari semua pengalaman itu, bergaul dengan puluhan
ribu Muslim yang lain, baru sekali saya mendengar seorang Muslim
mengatakan dengan tegas "Saya tidak peduli ulama ngomong apa!" di
milis ini, dan pernyataan itu dibuat oleh Pak Satria sendiri.
Semua orang Muslim lain yang saya kenal mendatangi ulama dengan suatu
sikap hormat yang besar, dengan sikap ingin menggali ilmu, dan kalau
apa yang mereka yakini disalahkan oleh guru agamanya, justru mereka
menjadi kuatir karena takut salah pahami ajaran agama. Dan sesudahnya
mereka melakukan cek dan recek ke guru lain, atau buku, untuk mencari
ilmu yang lebih dalam.
Tetapi sikap Pak Satria (yang katanya tidak terpengaruh) justru
sebaliknya dari semua orang lain yang saya kenal yang rajin menuntut
ilmu agama juga.
Jadi, kalau Pak Satria yakin tidak terpengaruh, saya tidak bisa
berkomentar tentang benar-salahnya, dan saya hanya bisa jelaskan bahwa
selama saya pelajari agama Islam, saya baru ketemu Pak Satria dari
puluhan ribu orang yang berani menolak petunjuk dari ulama dan
bersikap sendiri (dan sesudah itu baru mencari ahli agama yang
membenarkan sikap itu, bila ada).
Sekali lagi, yang perlu dihindari adalah stasiun radio yang dibawah
kendali orang yang secara umum diyakini sesat oleh mayoritas ulama,
termasuk MUI.
Kalau isi dari program bahasa Inggris tersebut, saya tidak kritik
kemarin, dan juga tidak ingin kritik sekarang. Bukan isi program yang
menjadi perkara di sini.
Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Gene
--- End forwarded message ---
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
===
Mari belajar Islam dan berdakwah melalui SMS
Cara berlangganan: REG SI kirim ke 3252 (Dari Telkomsel)
Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari
Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252
http://www.media-islam.or.idYahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/