Munarman, Saya Dan FPI
Kalau FITNA di Eropa tidak laku lantas apakah fitnah ini di Indonesia malah
jadi komoditi?
Oleh : Abu Taqi Mayestino
Majelis Islamic Discussion Via Internet
http://groups.yahoo.com/group/islamic_discussion_via_internet/
http://www.derap.net/
Pertama Kali Saya Mengenal Munarman
Munarman, SH., pengacara muda terkenal yang mantan petinggi YLBHI dan Kontras
itu adalah seseorang yang mengaku Muallaf saat pertama kali saya
berjumpa dengannya di satu rapat di hari-hari terakhir bulan Ramadhan 2007, di
Masjid Al Azhar. Ia menyebut dirinya Muallaf, karena sebelumnya, sebelum
menemukan Islam yang sesungguhnya, ia adalah seorang sekularis,
dulu saya
Muslim Sekuler. Dan sebagai orang yang bergelut dalam bidang hukum tentunya ia
hanya membela orang dalam masalah hukum berdasarkan hukum manusia. Ia dulu
belum banyak belajar Islam. Belakangan ia meralatnya menjadi, Saya Muhajir
atau orang yang berhijrah, dalam hal ini, dari keburukan ke kebaikan. Saya dan
agaknya kami semua yang hadir di rapat itu, sejumlah kecil wakil petinggi dan
tokoh umat, tersenyum-senyum dan sebagian bahkan tertawa kecil mendengarnya.
Kami, agaknya sepakat dan mengerti bahwa hukum manusia, tentu bukan hukum
Tuhan, Pembuat manusia.
Saya dan Munarman
Kali kedua saya berbicara dengannya, adalah saat saya merasa dunia ini hampir
runtuh di akhir tahun 2007. Namun hari kiamat bukan esok hari (meminjam kata
Abraracourcix, kepala suku gendut desa Galianya Asterix dan Obelix di komik
terkenal Asterix itu). Saat itu dalam situasi mendadak, saya harus mencari
Pembela/Kuasa Hukum dalam satu kasus Perdata, akibat ulah sekelompok orang yang
memanipulasi beberapa hal tanpa sepengetahuan saya, mungkin juga telah lama
mencurangi saya, dan juga menyangkut keutuhan keluarga saya. Sebenarnya ada
seorang pengacara juga didalam keluarga saya, walaupun terhitung keluarga
jauh, seorang muslim, dan beliau lumayan terkenal di jajaran pengacara
Indonesia, namanya sering muncul di beberapa media massa. Saya memberanikan
diri untuk menghubungi beliau, sedikit-banyak menceritakan permasalahan saya
dan meminta sarannya. Yang saya tangkap dari beliau, adalah bahwa beliau tentu
sebagai pejuang hukum, bersedia
menangangi kasus saya, namun beliau memang sedang sangat sibuk. Karena waktu
yang sungguh mendesak, saya coba hubungi Munarman, kawan baru saya.
Ponselnya ternyata mati selama beberapa hari, kemudian saya kirim SMS untuk
meminta waktu berbicara. Dan masih tidak ada laporan delivered. Berarti
ponselnya benar-benar mati. Beberapa hari itu sungguh moment yang sangat
mencekam dalam hidup saya, hampir-hampir membuat putus-asa. Permasalahan atau
ujian (saya lebih suka menyebutnya demikian) itu, alhamdulillah ditakdirkan
Allah SWT datang berbarengan dengan berbagai ujian berat yang lain. Mungkin
Abraracourcix akan mengira langit runtuh segera, jika berada dalam posisi
seperti saya.
Tiba-tiba, ada laporan delivered di ponsel merah jadul saya, dan sekitar
waktu shalat fardhu, ponsel tersebut berdering, rupanya telepon dari kawan baru
saya itu. Langsung saya utarakan berbagai masalahnya, dan saya utarakan pula
bahwa saya sedang tidak punya uang, dan jika ada biaya, saya bersedia mencicil.
Posisi saya saat itu sedang di Surabaya, dia di Jakarta, dan dia yang menelepon
saya. Dan dalam hubungan interlokal itu, dia bahkan menolak memutuskan hubungan
telepon, dan membiarkan saya mengutarakan hampir semua detail kasus saya dengan
biaya tanggungan sambungan teleponnya. Ia menyanggupi langsung menangani kasus
saya, tanpa ada biaya, hanya karena saya muslim yang sedang dalam kesulitan,
katanya.
Singkat cerita, saya pun bertemu dia sewaktu saya tiba kembali di Jakarta, di
kantornya yang sangat sederhana (bila dibandingkan kantor-kantor Pengacara top
lain) di bilangan Benhil-Pejompongan. Dia menunjuk seorang anak buahnya untuk
khusus mendampingi saya, selain beberapa rekanannya yang lain. Saat saya
utarakan kembali kesulitan keuangan saya, dan niatan saya untuk mencicil,
kembali ia menolak, saya hanya harus membayar apa yang menjadi kewajiban saya
terhadap negara, dalam proses hukum tersebut, hanya itu. Tak terkatakan betapa
rasa gembira dan kagum saya akan semangat ikramul muslimin-nya (memuliakan
sesama muslim) inilah yang pantas membuat dunia lebih baik.
Setelah berbulan-bulan proses pengadilan itu berlangsung, akhirnya saya sampai
pada suatu informasi bahwa lawan saya, kemungkinan besar menggunakan uang
sogokan untuk memenangkan perkaranya, mungkin menilik semakin banyak tuduhan
mereka yang tak terbukti dan argumen mereka yang lemah. Semakin banyak pula
bukti beberapa kejanggalan dan main kotor, manipulasi, fitnah, salah-paham
dalam kasus saya ini. Bahkan keterangan yang mendukung itu semua, saya
dapatkan justru dari orang-orang dekat bahkan keluarga kandung lawan saya
berperkara tersebut. Rupanya mereka bersimpati kepada saya. Dan dugaan
suapan ke Hakim ini pun dikuatkan oleh kawan lama saya, yang juga kawan
Munarman semasa kuliahnya, bahwa di Pengadilan macam itupun adalah lumrah di
Indonesia untuk orang main sogok, atau bahasa halusnya, Mendekati dan
berbaik-baik dengan (para) hakim, supaya menang berperkara. Kawan saya ini,
ternyata juga pernah melalui perkara serupa.
Saya sangat terpukul, jenuh, lelah dan hampir goyah iman saya. Harapan saya
sangat tipis pada sistem peradilan Indonesia. Lalu saya hubungi Munarman. Saya
utarakan via SMS, segala permasalahan ini, kegundahan, termasuk keinginan saya
untuk mengambil short cut. Dan dengan cepat dia jawab, lugas, bahwa jika saya
menyuap hakim, maka ia akan menarik semua Pengacara anak-buahnya, dan saya
dipersilahkan jalan sendiri.
Alhamdulillah, ini sangat menggembirakan saya, dan seakan menguatkan kembali
iman saya. Dan memang, bahwa jika pun ada peluang menyuap hakim, saya toh tak
akan mampu, karena saya sedang dalam kesulitan keuangan di waktu itu. Ini saya
anggap sebagai satu tanda pula dari Allah SWT, dan saya meneruskan perkara
saya, dengan prinsip beriman kepada Allah SWT. Pengadilan saya yang paling
adil, ada di akhirat. Tak akan rugi, orang yang mendekat kepada Allah SWT. Dan
paling bak memang dekat-deka dengan atasan yang benarlah, kira-kira
perumpamaannya demikian, bukan?
Setelah berbulan-bulan kemudian akhirnya saya ada kelebihan rizki. Kembali saya
kontak dia lewat ponselnya, saya utarakan niat saya sambil mengemudikan
kendaraan di Jakarta (bukan suatu kebiasaan berlalu-lintas yang baik memang,
namun ternyata di Indonesia, banyak sekali orang melakukan ini, dengan kualitas
kemampuan mengemudi yang berbeda-beda). Dia masih menolak, dan menjawab bahwa
jika ada kelebihan rizki seperti itu, lebih baik saya serahkan ke fakir miskin,
anak yatim, dsb. layaknya amalan muslim. Saya berteriak sendiri di mobil
kepadanya saat menjawab pernyataannya itu, saya tak seberapa ingat apa jawaban
saya, namun lebih-kurang adalah, Antum mulia! Ana senang pada antum! Allah
yubarik fik (semoga Tuhan menambah berkahNya pada anda yang saya hormati)! Ana
ridho pada antum, dan semoga Allah ridho pada antum dan apa yang antum cintai!
Dia tertawa-tawa saja mendengar suara saya.
Insiden Monas
Setelah peristiwa bentrok 1 Juni antara massa Islam yang (katanya) dari FPI
(padahal ada berbagai unsur di sana) dengan massa AKKBB (Aliansi Kebangsaan
untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan), dan bahwa menurut informasi dari
mulut ke mulut, FPI lah yang memulai serangan, kemudian menyusul berbagai
berita yang mendiskreditkan Munarman. Saya kirim SMS kepadanya untuk bertanya
apa kiranya yang dapat saya bantu. Dia membalas, hanya meminta tolong dicarikan
kunci mobil dan ponselnya yang hilang di kawasan Monas di hari itu, karena dia
tahu saya mengenal beberapa orang Gambir dan Monas. Tentu saja saya coba
sebisanya, namun sampai saat ini belum ada berita. Segala puji pada Allah yang
telah menunjukkan bahwa Beliau-lah Pemilik segala sesuatu. Sangat logis pula
bila kita gunakan logika dan supra logika, atau apapun juga istilah sekulernya
tentang kuasa Tuhan ini. Saya rasa, Munarman pun tetap dan cukup atau malah
semakin beriman, atas kehilangan,
pengambilan, atau pengalihan tempat dari milik Allah yang dipinjamkanNya ini,
karena tentunya tak ada yang benar-benar milik kita tak juga ruh kita, insya
Allah.
Malam itu, 4 juni 2008, saya mendapatkan berita dari berbagai sumber
terpercaya, dan dari pengetahuan saya sendiri, bahwa sejak semula rencana unjuk
rasa gabungan berbagai lembaga dan ormas Islam di Istana Presiden yang
dijadualkan pada Minggu 1 Juni 2008 pk.12.00 WIB disusun, tidak ada sama sekali
pembahasan tentang tindakan kekerasan, dalam bentuk apapun. Dan memang, demo
yang terjadi di depan Istana Presiden antara massa gabungan ormas Islam dan
massa buruh yang berpakaian merah-merah, walaupun bersandingan cukup dekat,
tapi berjalan dengan sangat mulus. Kekerasan bukanlah kebiasaan muslim
manapun, tidak diperbolehkan dalam agama Islam. Dan ini juga ternyata disadari
pihak aparat di lapangan, bagaimana responnya yang santai ketika massa muslim
masuk dan bagaimana ketika massa buruh masuk yang dengan segera aparat
membentangkan tali putih mengitari massa buruh. Namun, bila ada yang mulai
menghujat, menghina, melecehkan, apalagi menyangkut
akidah dan hak Allah SWT, memang diperbolehkan bagi muslim untuk bereaksi
secukupnya, walaupun memang jauh lebih baik untuk memaafkannya.
Unjuk rasa itu sendiri adalah rangkaian dari sekian banyak unjuk rasa dan
ketidakpuasan muslim Indonesia (dan muslim seluruh dunia, sebenarnya) yang
cukup menggunakan otak dan hatinya, tentang apa itu sesungguhnya Ahmadiyah, dan
apa atau siapa sesungguhnya di balik semua itu, dan juga apa sesungguhnya yang
akan diusahakan terjadi di Indonesia yang menggiurkan sumber daya alamnya
sebagai bagian dari dunia yang semakin tua dan berpenyakit ini. Ini juga untuk
meperkuat rekomendasi MUI (fatwa MUI no 11/MUNAS VII/MUI/15/2005) dan
Bakorpekem serta bahkan dunia Islam di dunia yang kita tinggali ini (deklarasi
Liga Muslim Dunia/Rabithah Alam Islami tahun 1974). Lebih kurang isinya adalah
bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat yang menyesatkan, dan sudah (sangat)
menciderai Hak Azasi Manusia (HAM) terdasar muslim untuk beragama yang bebas,
memurnikan ajarannya, dan (yang juga kata para pejuang HAM secara gigih
berulang-ulang), adalah untuk diijamin kebebasan
beragamanya, muslim beribadah secara aturan Islam.
Singkatnya, adalah menuntut hak muslim untuk tidak mengakui Mirza Ghulam Ahmad
dan segala ajarannya serta pernak-perniknya yang mencampurkan Islam dan
berbagai pemikiran atau teknologi budaya entah dari mana yang dibawa Mirza
Ghula Ahmad, sebagai nabi setelah Rasulullah Muhammad bin Abdullah bin Abdul
Muthalib SAW dan untuk tidak mengakuinya sebagai bagian dari Islam, karena toh
ciri-ciri utama Islam tak ada pada mereka. Seorang guru saya KH Suharyadi
Sumhudi, mengirim SMS ke saya,
Lima belas tahun lalu Ketua Ahmadiyah, Ahmad Hariadi saya tantang bersumpah
Muhabalah (populer di Indonesia sebagai Sumpah Pocong, sumpah untuk
sungguh-sungguh menghadapkan diri dan keluarga masing-masing dan berdoa kepada
Tuhan agar menjatuhkan laknat bagi pihak yang berbohong, dasarnya di QS Ali
Imraan ayat 61
dia takut/tak hadir
e dia sekarang tobat, 6 Juni mau ceramah
di Al Azhar
QS Ali Imraan ayat 61
61. Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang
meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil
anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu,
diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan
kita minta supaya la'nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.
Mubahalah ialah masing-masing pihak diantara orang-orang yang berbeda pendapat
mendoa kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, agar Allah menjatuhkan la'nat
kepada pihak yang berdusta. Nabi mengajak utusan Nasrani Najran bermubahalah
tetapi mereka tidak berani dan ini menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad s.a.w.
Kalau saja para Sekuleris (yang notabene pemkiran Sekulerisme ini datang dari
barat/Eropa dan mendunia), mau istiqamah konsekuen dengan prinsipnya bahwa
urusan agama biar dipinggirkan dari kehidupan sehari-hari sejak mereka frustasi
dengan campur tangan yang bahkan tak masuk akal dari para petinggi Kerajaan dan
agamanya selama Abad Pertengahan/Abad Kegelapan (Dark Ages); maka semestinya
bahkan kaum Atheis pun setuju untuk membiarkan umat beragama Islam mengurus
agamanya sendiri, termasuk dengan tidak mengakui Ahmadiyah sebagai bagian dari
Islam. Walaupun Ahmadiyah mengaku-aku demikian. Termasuk di Indonesia.
Jadi Departemen Agama Republik Indonesia yang kaya potensi namun miskin-miskin
saja ini dan para penyelenggara haji pun tak usah menjadi repot menjawab
pertanyaan Allah SWT dan setidaknya saja, Kerajaan Arab Saudi, jika ada Jamaah
Haji non-muslim (Ahmadiyah) sampai di Makkah al Mukaromah, atas rekomendasi
negara Republik Indonesia.
Tapi tentu saja di mana ada peluang menguntungkan, Kapitalisme dan
Kolonialisme, mencoba sekuat tenaga mendulang keuntungan, hampir at all cost
(dengan segala cara, semahal apapun), apalagi jika atas nama kepentingan
Manajemen Strategis dan segala macam teknologi lain. Mungkin berdasarkan asumsi
dan argumen ini, tak heran Ahmadiyah tak juga dibubarkan di Indonesia, padahal
di negara asalnya dan di banyak negara Islam atau negara Islam lain rekan
Indonesia di OKI (Organisasi Konferensi Islam) yang berdiri agak lama setelah
Kekhalifahan dijatuhkan Barat pada 1924, toh sudah tegas melarang Ahmadiyah
(deklarasi Liga Muslim Dunia/Rabithah Alam Islami tahun 1974), apalagi
membiarkan jamaahnya ke tanah suci Makkah al Mukaromah. Indonesia mau
menjadi spesial dengan tepo-slironya rupanya? Hingga diajak ke neraka pun ayo
saja, karena tepo-sliro?
Ahad pagi 1 Juni 2008 itu saya kebetulan lewat Gambir dan Monas dalam
perjalanan ke rumah. Saya saksikan banyak sekali orang berpakaian merah
saat itu, tua-muda. Ada banyak sekali Bus parkir di sekitar Monas bahkan sampai
Pasar Baru. Terus saja saya pulang dan sempat berpikir, banyak sekali yang
tidak ke Gereja, pagi ini, yah? Saya tidak terlalu ambil pusing, ini semua
perkara mudah diduga, permainan sekelompok kecil orang pengatur. Lagipula
kondisi saya sedang tidak sehat. Saya tertidur hingga sekitar sore hari.
Sesudah saya bangun, saya ke Gambir, silaturrahim dan mengurus jamaah di
sana. Dan saya dilapori, bahwa tadi ada bentrokan kecil di Monas. Saya
hanya tertawa-tawa saja, dan kami lanjutkan mengurus banyak hal lain.
Lantas rupanya kejadian itu menjadi berita nasional. Seakan ada yang
memeningkan untuk membesarkan permasalahan ini. Saya pun mau tak mau ikut
mencari tahu dan menangani. Dari informasi kawan terpercaya, massa gabungan
lembaga ormas Islam, sejatinya saat 1 Juni siang itu menuju Istana Presiden
dengan agenda mereka tentang BBM. Namun tak pelak sebagian mereka lewat pula di
depan Monas, yang disana telah ada ribuan peserta peringatan lahirnya
Pancasila. Demo AKKBB di Monas itu menurut sejumlah kalangan dilakukan
tanpa ijin (saya jadi ingat Belanda yang membonceng Sekutu saat perang
Kemerdekaan Republik Indonesia untuk menghalalkan langkahnya). Dan menurut
sumber yang saya percayai, provokasi oleh massa yang sudah dahulu berada di
Monas (AKKBB) memang dilakukan, dan fakta ini juga dikuatkan oleh beberapa
tokoh nasional yang disampaikan lewat media cetak, elektronik serta forum
pertemuan yang saya hadir disana. Terjadi pula letusan pistol, empat
kali bahkan kabarnya, bukan dari pihak muslim. Teriakan makian tak senonoh
terhadap ciri-ciri Islam dan massa yang lewat itupun berlontaran, misalnya
seperti Kafir dan Laskar Setan, dan sejumlah aksi memancing emosi lain
tentunya, di siang hari yang cukup panas di pusat kota Jakarta itu.
Agaknya prinsip Lu jual gue beli terjadi di sini. Namun toh tetap banyak yang
berkepala dingin, dan ada seorang kawan yang saya kenal dari FPI, hari itu ia
berbaju kotak-kotak justru terlihat melerai kedua massa yang hendak bentrok.
Dan ini terlihat jelas di tayangan beberapa stasiun TV yang diputar
berulang-ulang, seperti yang diceritakan kawan saya. Saya percaya kevalidan
informasi kawan ini dan saya kenal betul dia. Kebetulan orang yang dimaksud di
TV tersebut juga saya kenal. Seorang Preman yang sungguh telah bertobat,
insya Allah. Munarman sendiri, siang itu berlaku sebagai pemimpin, komandan
lapangan Laskar Islam, Laskar gabungan sejumlah lembaga bernama GARIS,
FPI, MMI dan sebagainya. Perlu ditegaskan kembali, bukan FPI saja.
Di kondisi panas, gerah, dibawah sinar matahari siang yang cukup terik itu,
Munarman telah berusaha menyadarkan anggotanya yang terpancing emosi akibat
provokasi dari pihak AKKBB. Teguran keras yang dilakukan Munarman ini pada
anggota laskar adalah pantas, karena ia adalah sebagai Amir, sebagai pemimpin.
Pemimpin pantas membina dan bertanggungjawab. Bukankah ini pengejawantahan
teknologi Manajemen sekuler juga?
Bila kita melihat foto terkenal Munarman saat ini yang beredar di internet dan
berbagai media saat ia terlihat sedang mencekik seseorang berbaju hitam,
dikelilingi massa berbaju putih, maka sebenarnya yang dipegangi lehernya itu
adalah orang muslim sendiri anggota rombongannya yang hampir emosi, lepas
kendali, dan justru sedang dicegah keras oleh Munarman agar tidak melangkah
lebih jauh yang mungkin belum perlu dan tidak sesuai dengan akidah Islam.
Dalam foto tersebut, tampak Munarman berpakaian hitam dan penutup kepala hitam
mencekik seorang pria yang juga berpakaian hitam. Foto milik AKKBB itu
diabadikan saat bentrok FPI dan massa AKKBB di kawasan Monas 1 Juni lalu.
Munarman menyangkal bahwa yang dia cekik adalah anggota AKKBB. Bahkan dalam
konferensi pers, Munarman memperkenalkan pria yang dia cekik sebagai anggota
Laskar Islam bernama Ucok Nasrullah. Klik saja antara lain ke:
http://suaramerdeka.com/beta1/news/print.php?id_news=7044 ,
http://swaramuslim.com/index.php ,
http://groups.google.co.zw/group/soc.culture.filipino/topics?lnk=gschg.
Dan kata orang, wajah Munarman nampak bengis saat itu? Tidak, menurut saya.
Lihatlah betul-betul. Lihatlah ekspresi orang-orang itu semua lebih cermat.
Orang Psikologi jujur setidaknya akan tahu tentang ini.
Dan saat terjadi bentrokan, itu adalah REAKSI massa muslim terhadap mereka yang
memprovokasi, yang menantang. Bukan merupakan AKSI, samasekali bukan
mendahului, walaupun toh memang terjadi perkelahian. Memang disayangkan massa
muslim sampai terpancing, dan yang salah tetap harus dihukum, ini pun
sunnatullah (hukum Allah) tak peduli apapun agamanya, karena justru Islam
adalah seharusnya rahmatan lil aalamiin (rahmat untuk alam semesta). Jika
pengusung Islam tak mampu mengusung tugas berat dan suci ini, pantaslah dihukum
dan dikalahkan Allah. Allah tidak butuh manusia dan dunia beserta isinya.
Manusialah dan dunia bserta isinyalah yang butuh Allah dan cara hidup,
petunjukNya.
Ingat Perang Uhub dan Badar? Sangat berbeda hasilnya. Di Perang Badar, muslim
yang menghadapi musuh kafir tiga kali lipat banyaknya, menang gemilang, karena
berperang dengan cara Islami. Di Perang sesudahnya, Perang Uhud, muslim
dibiarkan Tuhan kalah parah, karena tidak berperang dengan cara Islami. Dan
alhamdulillah tidak pernah dalam masa Rasulullah SAW dan para sahabat, perang
muslim mengalami kekalahan, karena mereka menjaga betul cara-cara islami,
termasuk mengasihi 'musuhnya'.
Dan toh mereka semua, di Monas siang 1 Juni 2008 itu, baik pengaksi juga
pereaksi, adalah manusia, dan di mana-mana termasuk saat itu tentu banyak setan
tak tampak maupun tampak (orang Atheis akan mengatakannya sebagai energi
negatif), maka terjadilah kejadian yang patut disesalkan lalu itu. Untuk
memahami ini pula, pakai Hukum Newton tentang aksi-reaksi sajalah, gunakan, tak
usah payah-payah, karena bukankan jaman modern yang dilandasi Filsafat Modern
ini sudah mempercayakan sepenuhnya segala pembangunan peradaban kepada hanya
Logika a la Descartes dan Nweton yang hanya memakai paradigma logik dan sains
dalam memahami, merekayasa segala hal, termasuk yang hal-hal non logis,
supralogis, metafisika, dan sebagainya? Yang inilah yang bahkan ditentang orang
sekuler macam Filsuf Nietszche dan Capra dengan Filsafat Dekonstruksi a la
Posmodernnya untuk mendekonstruksi emikiran sesat Filsafat dan jaman Modern?
Ini logis, jadinya. Anda termasuk orang modern kan ?
Cukup kan kalau pakai logika saja? Hahahahaaaa.
Tentang logika, masuk akalkah pula jika ada satu orang berbaju hitam yang orang
mudah asumsikan bukan muslim (walau ternyata muslim), berada dikelilingi muslim
berbaju putih penyusul yang jumlahnya sedikit, sementara di Monas massa
penghadir acara Pancasila itu justru-menurut klaim mereka sendiri- adalah
sekitar seratus ribu?
Dan si orang berbaju hitam itu, bukan orang rombongan Munarman sendiri?
Masuk akalkah itu?
Betapa mudahnya ya ratusan ribu orang yang sudah menunggu di Monas itu kalah
oleh rombongan Munarman yang datang belakangan dan tidak berbus-bus banyaknya,
kebanyakan hanya bersepeda motor, jika tenyata si baju hitam itu musuh Laskar
Islam?
Dan herannya mengapa media hanya mengekspos yang perlu mereka ekspos saja?
Mengapa cepat menyimpulkan?
Dengan sangat yakin?
Tidakkah pernah sampai kepada telinga, otak, dan hati orang-orang ini, azas
praduga tak bersalah, yang dalam Islam adalah LARANGAN untuk suudhon
(berpikir, menduga buruk)?
Dengan segala cara?
Siapa yang mengaturnya?
Dan yang paling mengherankan, mengapa hanya FPI yang dibidik padahal ada
beberapa lembaga ormas yang turun?
Mengapa isu tentang Ahmadiyah menjadi dibelokkan tentang pembubaran FPI dan
pembunuhan karakter Munarman?
Mereka ini yang kemudian menjadi sasaran tembak?
Ada apa ini?.
Padahal tidakkah FPI yang termasuk romobongan awal aktif di Aceh saat setelah
Tsunami lalu? Tidakkah FPI yang di Poso dan Ambon membela muslim yang dibantai?
Tidakkah FPI yang pergi dan mengusut di Jawa Timur saat para Kyai dan Uztadz
difitnah dan dibunuhi karena isu dukun santet? Tidakkah FPI yang memerangi
tempat-tempat maksiat? Tidakkah FPI yang tahu banyak mengenai data-data
intelijen pihak-pihak yang hendak mengacau negara dan muslim Indonesia DAN
SUDAH PULA BERBUAT BANYAK?
Jadi jelas tidak, mengapa hanya hanya FPI yang diminta diberangus oleh
orang-orang yang tidak senang Islam?
Termasuk dengan Perang Opini?
Saya kurang tahu, tapi menurut seorang sahabat (dia mengirimkan SMS) yang
beliau adalah mantan Pendeta Protestan dan bekas orang dalam sebuah
partai besar keagamaan Indonesia serta tahu betul teknologi langkah-langkah
sistematis pemurtadan umat Islam bertahun-tahun lamanya, bunyi SMSnya sebagai
berikut :
Ass-wr-wb. Bagi Gereja FPI dianggap salah satu komponen Islam yang sering
halangi pendirian gereja2. Ada indikasi skenario makro lewat infiltrasi
intelektual untuk bubarkan FPI, sehingga misi kristen tidak telalu terhadang
gerakannya. Saya yakin pemerintah sudah diintervensi CIA untuk berangus FPI.
Masyarakat oleh pers dibuat naik darah (blood boiling-up) terhadap FPI! Stigma
mulai dibangun mereka! Hukum jelas tidak akan melihat content masalah tapi
hanya efek dari suatu masalah dan itulah cara2 AS dan antek2nya lakukan
political engineering!
Jadi kawan-kawanku, hati-hati saja terhadap pancingan-pancingan!
Menilik ini semua, saya jadi ingat beberapa ayat ini:
QS.Ali Imraan ayat 104
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[1]; merekalah
orang-orang yang beruntung.
QS Ali imraan ayat 110
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada
yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya
ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada
yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
QS Luqmaan ayat 17
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan
cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan
(oleh Allah).
QS Thahaa ayat 132
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu
dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi
rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.
QS Al Fath ayat 28-29
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar
dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah
keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu
lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya,
tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[*]. Demikianlah
sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu
seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman
itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman
itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati
orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan
kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara
mereka ampunan dan pahala yang besar.
QS Al Ahzab ayat 70
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah
perkataan yang benar.
QS An Nur ayat 14.
Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan
di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu
tentang berita bohong itu.
QS Al Hujuraat ayat 6.
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal
atas perbuatanmu itu.
QS Al Ahzab ayat 60.
Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang- orang yang
berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di
Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi)
mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam
waktu yang sebentar
QS Al Baqarah ayat 217
... Dan berbuat fitnah[lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak
henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari
agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad
di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah
yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni
neraka, mereka kekal di dalamnya.
Hadits:
Diriwayatkan dari Anas R.A. bahwa Rasulullah SAW bersabda, Kalimat Laa ilaa ha
illallaah akan selalu memberi manfaat bagi siapa saja yang mengucapkannya dan
akan menghindarkan mereka dari adzab dan bencana selama mereka tidak
mengabaikan hak-haknya. Sahabat bertanya, Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud
dengan mengabaikan hak-haknya? Jawab beliau, Kemaksiatan kepada Allah
dilakukan secara terang-terangan, tetapi tidak dicegah dan diubah olehnya.
(Al-Ashbahani-At Targhib)
Dan patut pula dipahami, jika muslim tidak melakukan hal-hal yang
dipersyaratkan Islam agar mendapatkan kemenangan, Muslim akan dibiarkan
mengalami kekalahan. Simaklah beberapa paparan di bawah ini:
QS Al Israaâ ayat 7
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika
kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila
datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (kami datangkan orang-orang
lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid,
sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan
sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.
Dalam potongan ayat QS Al Israa 7 (17:07) ini, dan apabila datang saat
hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (kami datangkan orang-orang lain) untuk
menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana
musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan
sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai, maka bahkan Allah S.W.T. pun
akan membiarkan mereka (para musuh kebaikan) itu bebas masuk ke dalam masjid
(satu tempat yang melambangkan kehormatan dan kesucian muslim), dan
membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai ,
Hal ini mungkin saja, jika muslim yang diberi amanah memanfaatkan,
menjaga ciptaan Allah S.W.T. tidak (atau tidak lagi) melakukan hal-hal Islami
(tidak menjaga amahaNya, antara lain), tidak memenuhi syarat untuk dimenangkan
menjadi pemimpin di satu masa itu, di mana kejahatan muslim justru lebih
menonjol daripada kebaikannya. Bahkan dalam ayat ini disebutkan
sampai-sampai melakukan kejahatan yang kedua atau dalm hal ini juga
ditafsirkan, bahkan mengulanginya (dan apabila datang saat hukuman bagi
(kejahatan) yang kedua). Kemenangan, kehormatan, ketinggian derajat dan
macam-macam hal terkait bagi muslim diberikan, jika muslim melakukan yang
diperintahkan Allah S.W.T., jika seseorang itu adalah orang-orang yang beriman,
melakukan hal-hal islami.
Lihatlah juga kembali:
QS Ali Imraan 139 (3:139)
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal
kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang
beriman.
Hadits:
Dari Abu Said Al Khudri R.A., ia berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW
bersabda, Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan
tangannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lidahnya. Jika tidak mampu,
maka bencilah dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemah iman. (HR Muslim,
Ibnu Majah, Nasai-At Targhib)
Kekalahan juga mungkin terjadi bagi siapa saja termasuk Muslim bila
menyia-nyiakan nikmat, berbuat dhalim, dan sebagainya:
QS An Nahl ayat 112
Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya
aman lagi tenteram, yang rezekinya datang kepadanya melimpah-limpah dari
segenap penjuru. Lalu (penduduk)-nya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Oleh
karena itu, Allah mengenakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan,
disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.
QS Al Israa ayat 16
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada
orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi
mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku
terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu
sehancur-hancurnya.
QS Al Anfaal ayat 25
Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang
yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras
siksaan-Nya.
Hadits:
Jabir bin Abdillah R.A. berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,
Tidaklah seseorang berada di suatu kaum, ia berbuat maksiat di tengah mereka,
dan mereka mampu mencegahnya, namun mereka tidak mencegahnya, melainkan Allah
akan menimpakan kepada mereka siksa sebelum mereka mati. Yakni mereka akan
ditimpa musibah dunia. (Hadits riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban,
Al-Asbahani-Al Targhib)
QS Ar Rad ayat 11
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah
keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
QS Al Araf ayat 96
Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman serta bertakwa, pasti Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu sehingga Kami menyiksa mereka disebabkan
perbuatan mereka. -
QS Ibrahim ayat 7
Ingatlah juga, tatkala Tuhan kalian memaklumkan, Sesungguhnya jika kalian
bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian
mengingkari (nikmat)-Ku, maka sesungguhnya azabKu sangat pedih.
Dibalik setiap ujian dan kejadian, ada ibroh dari Allah SWT yang bisa kita
petik sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan ke depan. Insya Allah.
Wassalamualaikum wrwb.
Jakarta, Juni 2008
Abu Taqi Mayestino
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
===
Mari belajar Islam dan berdakwah melalui SMS
Cara berlangganan: REG SI kirim ke 3252 (Dari Telkomsel)
Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari
Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/