----- Original Message ----- 
From: "ah fachrurrozi saied" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, June 18, 2008 8:42 PM
Subject: < MJNY > Fiqh dan Poblematikanya

As-salamu 'alaikum, wr. wb.

Fiqh dan Poblematikanya

Bila kita buka semua kitab-kitab klasik, semua memberikan arti secara bahasa 
atau etimologis, bahwa al-fiqhu huwa al-fahmu, fiqh adalah faham atau 
kefahaman. Sedang fiqh secara istilah atau devinitif terlalu banyak devinisi 
yang diberikan ulama', tapi sebagai intisari dari devenisi yang diberikan para 
ulama' , fiqh adalah ilmu yang membahas  ilmu2 syari'at atau hukum Islam yang 
diberikan (taklif) oleh ALLAH SWT kepada para hamba-Nya (mukallaf), hukum 
syari'at tersebut diperoleh dengan berbagai jalan istinbathul hukmi-nya (bisa 
jadi langsung dari al-Qur'an dan hadits, atau harus melalui methode, baik 
qiyas, ijma atau lainnya).

Berangkat dari penuturan di atas, maka sangat dimungkinkan terjadi perbedaan 
sebuah kesimpulan hukum, karena Imam mujtahid yang satu dan yang lain memahami 
teks al-Qur'an dan hadits secara berbeda atau  methode pengambilan hukum yang 
berbeda, sehingga menghasilkan pendapat hukum yang berbeda pula.

Berbeda dengan para Imam mujtahid, bagaimana dengan saya (termasuk anda) yang 
awwam?

Sebuah pertanyaan yang wajar, karena seorang Imam dapat berijtihad, 
ber-istinbathul hukmi dan mengeluarkan pendapat hukum harus memiliki begitu 
banyak kriteria, baik secara ilmiah ( +/- harus mengusai 15 cabang disiplin 
ilmu agama), ataupun secara moral etik (bukan orang fasiq dll.). Setelah 
melewati syarat2 tersebut barulah seseorang dianggap Imam mujtahid.

Loh kok ya, kita yang awwam, yang baca surat al-fatihah saja masi 
pletat-pletot, "za" dengan "ja" saja masi ketukar-tukar (al-Zalzalah menjadi 
al-Jaljalah, hahaha), sudah sok jadi mujtahid? Merasa paling benar dan yang 
lain salah, darah si anu halal, si anu ahli bid'ah, si anu syia'ah, weleh, 
weleh, weleh.

Bukankah sering didengar, bahkan hafal di luar kepala ungkapan, " man 'arafa 
nafsahu, 'arafa Rabbahu " , " siapa yang arif (mengerti secara bijaksana) 
tentang dirinya, maka ia arif pula tentang Tuhannya " ? Ungkapan ini selain 
mengajarkan kita untuk ber-tashawwuf, tapi juga mengajarkan kita tahu diri, 
memahami kapasitas, kapabilitas dan kompetensi diri sendiri.

Mari ber-muhasabah dan tinggalkan justifikasi terhadap orang lain.

Wallahu a'lam.

Was-salamu 'alaikum, wr. wb.

================Rasulullah SAW bersabda:
"Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku bermaksud hendak 
menyuruh orang-orang mengumpulkan kayu bakar, kemudian menyuruh seseorang 
menyerukan adzan, lalu menyuruh seseorang pula untuk menjadi imam bagi orang 
banyak. Maka saya akan mendatangi orang-orang yang tidak ikut berjama'ah, 
lantas aku bakar rumah-rumah mereka." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah 
RA).

================Salurkan Zakat, Infaq dan Sodaqoh (ZIS) anda
ke Bank Syariah Mandiri, Capem Cikarang Acc/No : 005-017-6791 Acc/Name : DKM 
Masjid NURUL YAQIN Hotline Bendahara MJNY : 0816-1894727
Hotline Koord. Komitmen Bulanan : 021-70911172 Website : www.nurulyaqin.org 
Email : [EMAIL PROTECTED]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke