Membaca pemaknaan yang keliru tentang kalimat "Laa Ilaaha Illalloh" ini,
saya yang awam ini semakin bingung. Saya mohon penjelasan yang singkat
dan padat, bagaimana cara memahami kalimat tsbt dengan baik.  Terima
kasih atas pencerahannya.
 
Wassalam,
HB.


>>> "Aris" <[EMAIL PROTECTED]> 7/26/2008 2:57 PM >>>

Beberapa pemaknaan keliru dari kalimat *Laa Ilaaha Illallah*
Untuk lebih memantapkan pemahaman kita terhadap makna kalimat tauhid
yang
mulia *laa Ilaha Illallah*, maka di sini kami akan menjelaskan
beberapa
pemaknaan yang keliru dari kalimat tauhid ini. Karena sesuatu tidak
akan
bisa dikenali secara sempurna kecuali dengan mengenali kebalikannya,
maka
demikian pula kalimat tauhid yang mulia ini tidak akan bisa dipahami
maknanya secara sempurna kecuali setelah mengenal dan memahami
pemaknaan-pemaknaan keliru yang dibuat oleh orang-orang yang
berpenyakit
hatinya atau yang jahil terhadap kalimat tauhid ini. Seorang penya`ir
pernah
berkata:
?????????? ???????? ???????? ????????            ????????????
???????????
????????????
*Suatu kebalikan akan dinampakkan kebaikkannya oleh kebalikannya dan
dengan
kebalikannyalah semua perkara bisa menjadi jelas*.
Dan sebagiannya lagi berkata:
*Saya mengertahui kejelekan bukan untuk kejelekan akan tetapi untuk
menghindar darinya, karena barangsiapa yang tidak mengetahui kebaikan
dari
kejelekan maka dia akan terjatuh ke dalamnya (kejelekan tersebut)*.
Bahkan sebelum itu Allah Subhanahu wa Ta*ala telah menetapkan dalam
firmannya, *Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat (Al Qur*an) dan
supaya
jelas jalannya orang-orang yang berdosa*. (QS. Al-An*am : 55)
As-Sa*di -rahimahullah- berkata dalam Tafsirnya, *Dan demikianlah Kami
terangkan ayat-ayat (Al Qur*an),* yakni: Kami menjelaskan, menerangkan
dan
membedakan antara jalan hidayah dengan kesesatan dan (antara jalan)
penyelewengan dengan petunjuk. Agar orang-orang yang diberi hidayah
bisa
mendapatkan hidayah dengannya dan agar semakin nampak kebenaran yang
harus
untuk diikuti. *Dan supaya jelas jalannya orang-orang yang berdosa,*
yang
mengantarkan kepada kemurkaan Allah dan siksaan-Nya. Karena jalannya
orang-orang yang mujrim, jika telah nampak dan jelas maka mudah untuk
menghindari dan menjauh darinya. Berbeda halnya kalau jalan mereka
masih
kabur dan kurang jelas, karena itu menyebabkan maksud yang mulia ini
(menjauh darinya dan agar jelas jalannya orang-orang yang saleh) tidak
bisa
terwujud*.
Berikut beberapa pemaknaan yang keliru dari kalimat tauhid ini yang
banyak
tersebar di tengah-tengah kaum muslimin saat ini:
1. Tidak ada yang ada kecuali Allah. (Laa Mawjuda Illallah)
Makna ini adalah makna yang paling batil dari semua makna-makna batil
yang
ada, penafsiran ini disebarkan oleh orang-orang tashawwuf yang
berpemahaman
wihdatul wujud (Allah menyatu dengan makhlukNya) wal*iyadzu billah.
Sisi
kebatilannya ditinjau dari beberapa sisi:
Mengartikan ilah sebagai mawjud (yang ada) sedangkan makna yang benar
adalah
bermakna ma*bud (yang disembah). 
Meniadakan khabar dari laa dan ini adalah kesalahan dari sisi bahasa
sekaligus dalil akan rusaknya penafsiran ini dari sisi syari*at. Lihat
makna
laa Ilaha illallah sebelumnya. 
Mengharuskan semua yang ada berupa manusia *dengan berbagai macam
jenisnya-,
binatang dan tumbuh-tumbuhan bahkan benda-benda mati semuanya adalah
Allah,
karena semuanya ada dan disaksikan, Maha Tinggi Allah dari apa yang
mereka
sifatkan. Keyakinan ini kalau diyakini membuat pelakunya keluar dari
Islam
dan jauh lebih kafir daripada Nashrani. Karena Nashrani hanya meyakini
adanya tiga Tuhan, sedangkan orang yang berkeyakinan seperti ini
memiliki
Tuhan yang tidak terbatas, maka apakah ada lagi kesesatan yang lebih
mengerikan setelahnya?!. 
Atau mengharuskan hanya Allah yang ada sedangkan kita semua sebagai
manusia
dan seluruh makhluk-Nya mereka dianggap tidak ada. Ini adalah jelas
kebatilannya dari sisi akal, hiss (panca indera) terlebih lagi dari
sisi
syari*at. 
2. Tidak ada sembahan yang ada kecuali Allah. (Laa ma*buda mawjudun
illallah)
Makna dan tafsiran ini umumnya dikemukakan oleh sebagian ahli bahasa
(dalam
kitab-kitab bahasa) yang tidak memahami secara benar makna Laa Ilaaha
Illallah. Mereka mendahulukan sisi bahasa semata-mata tanpa
memperdulikan
sisi syariatnya. Makna ini muncul karena mereka menyatakan bahwa khabar
yang
terbuang adalah kata mawjudun atau kainun yang berarti *ada*,
sebagaimana
yang biasa mereka sebutkan ketika menyebutkan taqdir (makna
penyempurna)
dari suatu kalimat. Padahal taqdir yang benar adalah haqqun atau
bihaqqin
sebagaimana telah dijelaskan. Dari sisi kedua, tafsiran ini
menyelisihi
kenyataan yang ada, karena manusia di dunia ini *baik kaum musyrikin
di
zaman Nabi maupun kaum musyrikin zaman sekarang- mereka menyembah
sembahan
lain selain Allah, seperti: Dukun, keris, jimat, kuburan, sapi, jin,
patung-patung dan lain-lainnya tidak terhitung. Maka tidaklah benar
kalau
dikatakan yang disembah manusia hanyalah Allah saja. Kemudian dari sisi
yang
ketiga mengharuskan bahwa semua sembahan yang ada di dunia ini *baik
yang
berhak disembah maupun yang batil- semuanya adalah Allah dan cukuplah
ini
sebagai suatu kesesatan yang nyata.
3. Mengeluarkan keyakinan yang rusak atas segala sesuatu dan
memasukkan
keyakinan yang benar atas Allah. (Ikhrojul yaqin al-fasid *alal asyya`
wa
idkholil yaqin ash-shodiq alalllah)
Ini adalah penafasiran orang-orang sufi modern yang lebih akrab dengan
nama
jama*ah tablig. Penafsiran ini juga batil baik dari sisi bahasa
*sebagaimana
yang telah berlalu- terlebih lagi dari sisi syari*at. Lagi pula amalan
seperti ini yaitu hanya meyakini Allah Azza Wa Jalla dan mengeluarkan
keyakinan mengenai selain-Nya adalah perkara yang tidak mungkin
terjadi.
Karena keyakinan semacam ini tsabit (tetap) pada selain Allah Subhanahu
wa
Ta*ala, sebagaimana firmanNya dalam surah At-Takatsur ayat 6-7,
*Niscaya
kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim dan sesungguhnya kamu
benar-benar
akan melihatnya dengan *ainul yaqin (melihat dengan mata kepala
sendiri
sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat)*.
Maka meyakini sesuatu yang terjadi dan merupakan kenyataan yang
diketahui
tidaklah menafikan tauhid.
4.    Tidak ada hakim (pemberi hukum) kecuali Allah (Laa Hakima
illallah)
Ini adalah penafsiran semua sekte dan kelompok yang berpemahaman
khawarij
(takfiri). Yang dengannya mereka mengkafirkan siapa saja yang tidak
berhukum
dengan hukum Allah -menurut sangkaan mereka- secara mutlak tanpa ada
perincian.
Adapun sisi kebatilannya, maka bisa ditinjau dari beberapa sisi, di
antaranya:
1.    Sisi bahasa, yang mana mereka memaknakan ilah sebagai hakim,
padahal
makna ilah adalah ma*bud (sembahan) sebagaimana yang telah berlalu
penjelasannya.
2.    Keharusan dari makna ini adalah bahwa barangsiapa yang tidak
berhukum
dengan hukum Allah maka dia tidak mengakui Allah sebagai Hakim atau
dengan
kata lain dia belum ber-laa Ilaha illallah yang dengannya dia belum
dihukumi
sebagai seorang muslim. Oleh karena itulah orang yang membenarkan
hakimiyah
ini, mereka mengkafirkan kaum muslimin yang tidak berhukum dengan
hukum
Allah, tanpa membedakan niat dan tujuan mereka karena semuanya
*menurut
sangkaan mereka- belum ber-laa Ilaha illallah atau belum masuk ke
dalam
Islam, wal *iyadzu billah.
Pembahasan mengenai al-hakimiah ini butuh tempat dan pemaparan
tersendiri,
insya Allah akan kami paparkan pada kesempatan-kesempatan yang akan
datang.
5.    Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah (Laa Rabba
bihaqqin
illallah).
Pemaknaan seperti ini sempat kami temui pada beberapa tulisan dan buku
terjemahan, baik yang tercetak maupun yang berupa artikel di internet.
Dan
yang lebih menyedihkan, ternyata penulis atau penerjemahnya menisbatkan
diri
kepada ahlussunnah atau salaf. Kami tidak mengetahui kenapa hal itu
bisa
terjadi, apakah karena dia menganggap itu hanya terjemahan ataukah
memang
dia belum memahami betul makna dari kalimat yang mulia ini.
Sisi kesalahannya adalah memaknakan *Ilah* sebagai *Rabb*, padahal
telah
berlalu penjelasannya bahwa makna *Ilah* yang benar adalah *ma`luh*
atau
*ma*bud*. Bukankah dia telah menghafal firman Allah Ta*ala,
*Katakanlah:
*Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia.
Raja
manusia. Ilah (Sembahan) manusia. dari kejahatan (bisikan) setan yang
biasa
bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. dari
(golongan) jin dan manusia.* (QS. An-Nas: 1-6)
Maka dalam ayat ini jelas sekali Allah membedakan antara makna Rabb
(Tuhan)
dengan Ilah (Sembahan).
6.    Tidak ada Tuhan selain Allah (Laa Robba illallah)
Ini juga adalah penafsiran yang batil dan di bawahnya ada beberapa
penafsiran yang batil yang semuanya kembali kepada makna ini, yaitu :
a.    Tidak ada pencipta selain Allah (Laa Kholiqa illallah)
b.    Tidak ada yang menguasai atau memberi rezki kecuali Allah (Laa
malika
aw roziqa illallah)
c.    Tidak ada yang sanggup mengadakan yang baru kecuali Allah (Laa
qodira
*alal ikhtiro* illallah) dan ini adalah penafsiran para ahli kalam dan
filsafat.
Ketiga makna ini dan makna-makna yang semisalnya kita katakan bisa
kembali
kepada penafsiran tidak ada Tuhan selain Allah (Laa Robba illallah),
karena
kata robbun (Tuhan) secara bahasa Arab mencakup tiga makna, yaitu:
Al-Kholiq
(pencipta), Al-Malik (penguasa) dan Al-Mudabbir (pengatur). Maka siapa
saja
yang meyakini bahwa Allah adalah Tuhannya berarti dia meyakini bahwa
hanya
Allah yang menciptakan dia, hanya Allah yang menguasai dia dan hanya
Allah
yang mengatur dirinya beserta seluruh makhluk.
Setelah ini dipahami, maka ketahuilah bahwa makna kalimat ini *Tidak
ada
Tuhan selain Allah* adalah benar, hanya saja yang bermasalah dan yang
merupakan kekeliruan kalau kalimat ini dijadikan sebagai makna dari
kalimat
tauhid laa ilaha illallah. Karena kalau kalimat tauhid ditafsirkan
dengan
penafsiran seperti ini maka berarti siapa saja yang telah mengakui
hanya
Allah sebagai Rabb (Tuhan) *yakni sebagai pencipta, penguasa dan
pengatur-
maka berarti dia telah berlaa ilaha illallah atau telah masuk Islam.
Padahal
kenyataannya orang-orang musyrikin dan ahlul kitab (Yahudi dan
Nashrani)
bahkan seluruh makhluk -kecuali beberapa kelompok kecil dari manusia-
dari
dahulu sampai sekarang semuanya mengakui bahwa *Tidak ada Tuhan selain
Allah*. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang pernah mengatakan
apalagi meyakini bahwa ada pencipta selain Allah atau ada yang
menguasai dan
mengatur alam semesta selain Allah, tidak sama sekali. Akan tetapi
bersamaan
dengan semua keyakinan di atas, mereka tetap dikatakan musyrik dan
kafir,
tetap diperangi oleh Rasulullah Shollallahu *alaihi wa *ala alihi
wasallam
dan tetap diperintahkan untuk mengucapkan Laa ilaha illalah,
menunjukkan
bukan makna ini yang diinginkan dari kalimat tauhid yang mulia ini.
Al-Imam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata dalam
Al-Qowa*idul
Arba*, *Kaidah yang pertama: Engkau harus mengetahui bahwa
sesungguhnya
orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah Shollallahu *alaihi wa
*ala
alihi wasallam mereka mengakui bahwa sesungguhnya Allah hanya Dialah
Pencipta, Pemberi rezki, Yang Menghidupkan dan Mematikan serta Yang
Memberikan manfaat dan Yang Memberikan bahaya dan Yang Mengatur semua
perkara. Akan tetapi semua pengakus tersebut tidaklah memasukkan mereka
ke
dalam Islam*.
Dan beliau juga berkata di awal kitab Kasyfusy Syubhat, ** maka mereka
orang-orang musyrikin itu bersaksi bahwa sesungguhnya Allah hanya
Dialah
Yang Mencipta satu-satunya tidak ada tandingan bagiNya, dan bahwa tidak
ada
yang memberi rezki kecuali Dia, tidak ada yang menghidupkan dan
mematikan
kecuali Dia, tidak ada yang mengatur semua perkara kecuali Dia dan
bahwa
semua langit-langit beserta siapa yang berada di dalamnya dan juga
bumi-bumi
yang tujuh beserta siapa yang berada di dalamnya, semuanya adalah
hamba
Allah serta di bawah pengaturan dan kekuasaanNya*.
Berikut beberapa dalil-dalil dari Al-Qur`an yang menunjukkan dengan
sangat
jelas bahwa orang-orang yang telah dihukumi oleh Allah dan Rasul-Nya
sebagai
orang kafir ternyata mereka meyakini bahwa *Tidak ada Tuhan selain
Allah*:
1. Surah Luqman ayat 25:
*Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : *Siapakah yang
menciptakan langit dan bumi?* Tentu mereka akan menjawab : *Allah*.
2. Surah Yunus ayat 31:
*Katakanlah: *Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan
bumi,
atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan,
dan
siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan
yang
mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?* Maka
mereka
akan menjawab: *Allah*. Maka katakanlah: *Mengapa kamu tidak bertakwa
(kepada-Nya)?*.
3. Surah Al-Mu`minun ayat 84-89:
*Katakanlah: *Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya,
jika
kamu mengetahui?* Mereka akan menjawab: *Kepunyaan Allah.* Katakanlah:
*Maka
apakah kamu tidak ingat?* Katakanlah: *Siapakah Yang Tuhannya langit
yang
tujuh dan Tuhannya `Arsy yang besar?* Mereka akan menjawab: *Allah.*
Katakanlah: *Maka apakah kamu tidak bertakwa?* Katakanlah: *Siapakah
yang di
tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi,
tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu
mengetahui?* Mereka akan menjawab: *Allah.* Katakanlah: *(Kalau
demikian),
maka dari jalan manakah kamu ditipu?*.
Maka lihatlah *semoga Allah merahmatimu- bagaimana mereka kaum
musyrikin
meyakini hanya Allah yang mencipta, menguasai, mengatur alam semesta
dan
mengakui semua sifat-sifat ketuhanan Allah, akan tetapi bersamaan
dengan itu
Allah Subhanahu wa Ta*ala tetap menafikan dari mereka ketakwaan dan
keislaman selama mereka tidak menyerahkan seluruh ibadah mereka hanya
kepada-Nya. Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta*ala berfirman,
*Dan
tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada (ketuhanan) Allah, melainkan
dalam
keadaan mempersekutukan Allah (dalam peribadatan)*. (QS. Yusuf : 106)
4. Surah Al-Isra` ayat 102:
*Musa menjawab: *Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang
menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhannya langit-langit dan
bumi
sebagai bukti-bukti yang nyata**.
Maka di sini Nabi Musa alaihissalam memastikan kalau Firaun meyakini
bahwa
Allah adalah Tuhannya langit-langit dan bumi, dan sudah diketahui
bersama
bahwa seorang Nabi tidak mungkin berdusta. Karenanya, adapun perkataan
Firaun, *Akulah Tuhanmu yang paling tinggi*. (QS. An-Nazi*at : 24)
Dan juga perkataannya,* Siapa Tuhan semesta alam itu?*. (QS.
Asy-Syu*ara` :
23)
Kedua perkataan ini hanyalah perkataan pura-pura tidak tahu
tentangnya,
karena Allah Subhanahu wa Ta*ala -yang telah menciptakan dirinya dan
paling
mengetahui tentang dirinya daripada dirinya sendiri- telah
mengungkapkan isi
hati Firaun dalam firman-Nya, *Dan mereka mengingkarinya karena
kezaliman
dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya*.
(QS.
An-Naml : 14)
Maka Fir*aun *bersamaan dengan kekafirannya yang sudah mencapai
puncaknya-
tidak bisa mengingkari apa yang ada di dalam hatinya berupa keyakinan
akan
ketuhanan Allah Subhanahu wa Ta*ala.
5. Surah Hijr ayat 36:
*Berkata iblis: *Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah
kepadaku
sampai hari (manusia) dibangkitkan*.
Dan Iblis juga berkata, *Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu
karena
sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam*. (QS. Al-Hasyr
: 16)
Dari dua ayat ini dan ayat-ayat yang semisalnya dalam Al-Qur`an, kita
bisa
melihat bagaimana Iblis yang merupakan sumber semua kesesatan dan
kerusakan
baik di langit maupun di bumi, juga masih mengimani ketuhanan Allah
Subhanahu wa Ta*ala dan takut kepadaNya. Bahkan dia sanggup untuk
bersumpah
hanya dengan menggunakan nama Allah, sebagaimana dalam firman-Nya,
*Iblis
menjawab: *Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya*.
(QS.
Shod : 82)
Akan tetapi bersamaan dengan itu Allah Subhanahu wa Ta*ala tidak
menganggapnya sama sekali karena dia meninggalkan penyembahan hanya
kepadaNya.
Semua ayat di atas menunjukkan bahwa keyakinan akan ketuhanan Allah
tidak
diingkari oleh kaum musyrikin demikian pula pimpinan mereka Iblis. Hal
ini
tidak lain karena Allah Subhanahu wa Ta*ala telah menjadikan keyakinan
ini
sebagai fitrah seluruh makhluk yang tidak akan pernah berubah. Allah
Subhanahu wa Ta*ala berfirman:
*(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut
fitrah
itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah*. (QS. Ar-Rum : 30)
* Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam
dari
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
(seraya
berfirman): *Bukankah Aku ini Tuhanmu?* Mereka menjawab: *Betul
(Engkau
Tuhan kami), kami menjadi saksi*. (Kami lakukan yang demikian itu) agar
di
hari kiamat kamu tidak mengatakan: *Sesungguhnya kami (bani Adam)
adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)*. (QS. Al-A*raf :
172)
Oleh karena itulah para Rasul tidak diutus untuk menyuruh mereka
mengakui
Allah sebagai Tuhan akan tetapi untuk menyerukan kepada mereka agar
mereka
hanya menyembah kepada Allah dan meninggalkan semua sembahan
selainNya.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata dalam Majmu* Fatawa
beliau
(2/5): *Sesungguhnya saya telah melihat tulisan yang ditulis oleh
saudara
kita di jalan Allah Al-*Allamah Asy-Syaikh *Umar bin Ahmad Al-Malibary
tentang makna laa ilaha illallah, dan saya memperhatikan apa yang
beliau
jelaskan tentang pendapat 3 kelompok dalam maknanya. Dan penjelasannya
:
Pertama : Laa Ma*buda bihaqqin illallah (Tidak ada sembahan yang
berhak
disembah kecuali Allah).
Kedua : Laa Mutho*a bihaqqin illallah (Tidak ada yang berhak ditaati
kecuali
Allah).
Ketiga : Laa Roba illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah).
Dan yang benar adalah (makna) yang pertama sebagaimana yang beliau
jelaskan.
Dan (makna) inilah yang ditunjukkan oleh Kitab Allah Subhanahu dalam
beberapa tempat dalam Al-Qur`anul Karim, seperti dalam firman-Nya
Subhanahu,
*Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami
mohon
pertolongan*. (QS. Al-Fatihah : 5)
Dan firman-Nya Azza wa Jalla, *Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya
kamu
jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu
bapakmu
dengan sebaik-baiknya*. (QS. Al-Isra` : 23)
*Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku*. (QS. Adz-Dzariyat : 56)
*(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah,
Dialah
(Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain
Allah,
itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi
Maha
Besar*. (QS. Al-Hajj : 62) Selesai ucapan beliau
Wallahu waliyyut taufiq.

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links






[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke