-----Forwarded
Message-----

From:  "AsEp" <asep_sumantry@ >This sender is DomainKeys verified 

View contact details


To: 
@yahoogroups.com, 
@yahoogroups.com

 

 [Sharing] Dari: 

 

Melajang di Usia 30-an, Betulkah Sebuah Pilihan?

 

Rekans ,... pasti sudah
paham, tahun ini saya bertambah usia. Yang kata orang termasuk usia ‘paranoid’
untuk wanita. Kenapa? Karena di usia ini saya masih melajang, Alhamdulillah....
loh kok? Yah... inilah jalan hidup Alloh bagi saya. Kalau tahun-tahun lalu saya
memaksakan diri menikah, nggak yakin deh cita-cita saya sebagai redaktur,
reporter, penulis, editor, dan sebagainya akan kesampaian seperti sekarang.
But... who knows?

Tapi... nggak bisa dipungkiri
saya sempat mengalami masa-masa melow menjelang dan setelah angka parno itu
menghinggapi saya. Bahkan saya nggak mau mengingat hari ultah saya kemarin.
Saya udah mewanti-wanti orang rumah, yang mau beli kue tar, jangan pajang lilin
angka. Untungnya karena kesalahpahaman, kue tar itu nggak kebeli. Kami hanya
syukuran dengan nasi kuning dan pernak-perniknya di rumah.

 

Kemarin itu.. secara nggak
sengaja saya nonton acara ‘Cinta’ di O’Channel dengan tema yang ‘gue banget’,
yakni “Melajang di usia 30”.
Hmmm... meski enggan nonton, tapi saya yang saat itu kebetulan lagi melow lagi,
memaksakan diri untuk melihat. 

Nara sumbernya adalah Ratih
Ibrahim (saya kurang paham, mungkin dia seorang psikolog, karena nontonnya
telat). Dalam acara itu dibahas polemik mengapa sekarang banyak orang (baik
pria maupun wanita) masih melajang di usia 30-an? Tapi karena kebanyakan wanita
yang paling ‘sensi’ soal beginian, maka pembahasan lebih banyak ke urusan
perempuannya.

Mbak Ratih bilang, dulu ada
eranya di mana perempuan yang sudah menikah saat usia 20 an, maka akan dibilang
laku, hebat, menikah merupakan prestasi. Jadi jika saat itu ada wanita hampir
usia 30 belum menikah, ia akan merasa rendah diri. Tapi sekarang, eranya sudah
bergeser. Wanita lebih memilih menyelesaikan pendidikan tingginya, lalu
bekerja, kemudian menikah. So, deadline menikah mereka menjadi mundur, ntar aja
usia 27 or 28 baru mikir nikah.

But, ketika usia sudah
mencapai angka deadline, jodoh belum teraih, maka mulailah ia panik. Mengapa?
Karena menikah masih dianggap sebuah achievement, sebuah prestasi, dan mungkin
sebuah ujung dari kehidupan, terutama bagi wanita. Kemudian, mereka akan
berpikir dari segi reproduksi, waduh.. gue udah 30 an nih, masih mungkin nggak
ya hamil dan melahirkan? Bukankah resikonya lebih besar. Atau ‘ancaman’ bahwa
perempuan yang belum hamil, melahirkan, dan menyusui di usia resiko itu akan
mudah terkena penyakit kanker payudara dan kanker rahim.

Terus terang saya pun
termasuk yang kepikiran soal reproduksi dan kesehatan ini. Kalo pria di umur 35
belum nikahpun dia masih tenang-tenang aja, ya karena masa reproduksi dia masih
panjang. Sampai umur 60 juga masih bisa kali hamilin perempuan, tul kan?

Kemudian ada beberapa hal
lain yang membuat wanita menjadi panik dan parno jika ia belum menikah di usia
30-an, selain faktor reproduksi dan kesehatan, yakni: Standar yang sudah
ditentukan diri sendiri, bahwa ia harus menikah di usia 20 an, kemudian
tuntutan keluarga (terutama ortu) dan tuntutan lingkungan, dan masalah
achivement tadi.

Sehingga jika jodoh belum
sampai padanya, maka si wanita lantas menjadi panik, dan seolah ‘kejar
setoran’. Yang dikhawatirkan, ia akan bertindak gegabah, hanya mementingkan
emosinya, siapa saja oke deh, yang penting gue nikah!

Padahal menikah mengandung
konsekwensi, kewajiban, dan tanggung jawab yang nggak mudah dan ringan. Menikah
jangan dipikir enaknya aja. Apa-apa yang bisa dikerjakan saat lajang, belum
tentu diperoleh saat perempuan itu telah menikah. Jika ia menikah karena alasan
emosi (daripada dibilang nggak laku? Daripada gue nunggu lagi padahal umur udah
segini, dan alasan-alasan lain yang nggak rasional) ditakutkan pernikahan itu 
nggak
membawa kebahagiaan baginya.

 

Pertamyaannya, mengapa banyak
wanita masih melajang di usia 30-an? Karena posisi wanita dan pria sudah
semakin equal, semakin seimbang, membuat perempuan mencari partner hidup yang
bisa mengimbanginya. Pendidikan perempuan semakin tinggi, karirnya semakin
berkembang, tapi ia masih menuntut mendapatkan jodoh yang lebih tinggi dan
lebih baik darinya. Sehingga kesempatannya lebih kecil dan ada anggapan apa...
jangan-jangan kualitas pria sekarang yang malah menurun?

Kalau mencari yang setara dan
cocok, mungkin kesempatan itu lebih lebar. Nggak bisa dipungkiri juga, sebagai
lajanger di usia 30, kadang malah kita yang disalahin. Inipun saya mengalami.
Kalo ketemu temen lama yang sudah momong anak dan tau saya belum menikah, 
komentarnya
biasanya:

“Lo milih-milih kali...”

“Mentingin karir aja sih,
elo, kapan nikahnya?”

“Nggak nyari sih....”

Menyakitkan memang. Emangnya
saya harus laporan setiap lagi proses sama seorang pria? Plis deh.... kalopun
proses itu mengalami kegagalan, atau ketidakcocokan, sederhananya... emang
belum jodoh? Gimanapun Alloh lah penentu ujung ikhtiar kita.  Yah, tapi
komentar-komentar itu lebih mendingan, daripada disangka... nggak laku? 

Lagian karir saya biasa aja,
saya bukan orang yang terobsesi sama karir. Kalopun sekarang saya ‘terpaksa’
konsen ke karir dan karya... yah mumpung jomblo gitu, lohhh.... Masa diam di
tempat aje???? Saya kan kudu mencari cara untuk membuat kejombloan saya berguna
dan bermanfaat, tho?

Dibilang pemilih.... setiap
orang pasti punya pilihan dan kriteria, sepanjang masih wajar. Apakah lantas
karena usia sudah menginjak angka parno, kita main sabet yang ada di depan
mata? Hanya demi menikah di usia yang kita inginkan? Bagaimana kalo jadinya
pernikahan itu nggak membawa manfaat, hanya membawa mudharat? Nggak ok juga
kan?

Misalnya ada seorang pria
begajulan, kelakuannya nggak bener, namun ia cinta mati sama kita dan ngajak
nikah, karena usia sudah parno, lantas kita terima dia? Begitukah pernikahan?

Kalau menikah hanya sebagai
“status”... saya mungkin  sudah menikah dari kapan tau. Tapi apakah itu
tujuan sebenarnya dari sebuah pernikahan bagi wanita? Hanya untuk status?

 

Saya bersyukurnya, ortu
memahami kondisi saya. Mereka bukan tipe penuntut, yang dikit-dikit usil,”Kapan
dong Dek, umur tuh ingat, “ atau...”Kamu nggak ada apa temen laki yang bisa
diajak nikah?” atau..”Kok kamu nggak punya-punya pacar sih?” dan sebagainya.

Mereka membantu dengan doa
dan sesekali nyariin juga. Ini juga menjadi problem mengapa wanita sekarang
masih melajang di usia 30-an. Kadang kita suka gengsi kalo dicarikan atau
dijodohkan orang. Seolah nggak laku, atau nggak punya pilihan sendiri. Padahal
cara Islam pun seperti ini. Saya nggak anti dikenalkan seseorang lewat
perantara, termasuk dari ortu. Yah, kenalan dulu apa salahnya? Ortu juga nggak
maksa jadi kok? Kalo nggak cocok ngapain dipaksa? Betul bukan? Karena pintu
jodoh kan dari mana aja, bisa temen sendiri, bisa dari guru ngaji, bisa dari
ortu, bisa tetangga sendiri, atau bisa mantan pacar? Who knows?

Mbak Ratih juga bilang,
open  your self. Bergaul dengan banyak orang, banyakin temen. Kalo temen
laki yang baik ama saya, sih saya akui banyak. Yang care, peduli, sedia
membantu, Alhamdulillah....

Tapi emang saya rada ‘anti’
membawa temen lelaki ke rumah, karena saya menjaga perasaan Mama yang
sebenarnya rada sensi soal ginian. Saya ngeri beliau berharap banyak dengan
tamu lelaki saya itu. Setiap saya proses dengan pria, jika mengalami kegagalan,
sakit hati saya lebih ke kasihan sama ortu. Saya sendiri lebih bisa mengatasi
rasa kecewa, tapi saya nggak sanggup melihat kekecewaan di mata orang tua,
terutama Mama.

Melihat ortu semakin tua,
saya semakin takut kehilangan mereka. Kemarin waktu Mama ngomong (meski nadanya
enjoy-enjoy aja) kalau mau minta dibiayain sama kakak saya yang di Batam (yang
kebetulan ekonominya berlebih) untuk pasang gigi palsu karena giginya udah
banyak yang tanggal, saya sempat menangis sendirian, Ya Alloh.... sudah semakin
berkurangkah usia mereka? 

Saya sedih belum bisa
membahagiakan mereka. Bapak sudah berumur 70 tahun, Alhamdulillah masih sehat.
Saya sedih belum bisa ‘kaya raya’. Rasanya saya ingin meminta beliau berhenti
kerja, nikmatin aja hari tuanya di rumah, wirausaha kek, nggak usah kerja tiap
hari. Mama umurnya menjelang 60 tahun. Alhamdulillah meski punya penyakit
tetap, tapi masih sehat juga, masih bisa wira-wiri arisan, ngaji, organisasi.

Semalam sih Bapak cerita
dapat tawaran lain dari temannya, karena Bapak relasinya luas, di bidang
penerbangan (dulu doi pilot, loh). Temennya minta doi gabung karena mau kirim
mesin-mesin pesawat ke New Zealand. Doi punya relasi di NZ. Doakan ya supaya
goal, supaya bapak saya kerjanya lebih enjoy, flexibel, dan berkah di tempat
barunya ini.

 

Kok jadi ke mana-mana yak?
Kemudian Mbak Ratih bilang lagi, banyak juga yang memilih melajang. Memang
mereka nggak mau menikah. Kalau bagi lelaki bisa jadi melajang di usia 30 an
adalah pilihan (karena merasa belum mapan, belum ada yang cocok, atau mungkin
terlalu pemilih... terutama soal fisik), tapi pada wanita? Mungkin sebagian
besar karena kondisi, ya... jodohnya belum nyantol, mau diapain. 

Meski ada juga yang
menyalahkan kenapa wanita nggak mau agresif, wanita bisa milih juga kok, dulu
jaman Rasulullah Saw kan wanita suka menawarkan diri untuk dinikahkan pada
lelaki sholeh.

Kalau saya sendiri sih...
takut salah pilih... apa iya dia orang yang bener dan sholeh, kalau salah
gimana? Belum lagi kalo ditolak, mungkin perempuan lebih sensi soal penolakan
ini ya, trus... budaya kita emang cenderung meminta perempuan menanti dipinang
kan? Usahanya ya berdoa, bergaul, dan minta dicarikan oleh orang lain. Atau...
lelakinya nggak biasa ‘ditembak’ duluan. Maka jangan hanya perempuan aja yang
disalahkan dong, lelakinya juga kudu menyesuaikan diri dengan cara yang 
sebenarnya
sudah ada dari jaman Rasul itu.

 

Gimanapun saya bersyukur
Alloh masih memberikan kesempatan yang luas bagi saya untuk melebarkan sayap.
Pada waktunya jodoh akan datang kok. Kalo saya ngaji dan melihat temen ngaji
sibuk sama bayinya, di rumah katanya nggak bisa ngapa-ngapain karena anaknya
nuntut perhatian melulu, saya jadi bersyukur... iya ya.. saya masih bisa ngetik
tanpa ada yang protes, masih bisa menikmati waktu untuk diri sendiri, dan
kesempatan-kesempatan lainnya. 

Parahnya...bisikan
syetan suka mampir, yang membuat saya kadang kepikiran: hmm.. gue nikahnya ntar
aja kali ya... kok ngeliat mereka-mereka yang udah nikah malah repot banget
sih? Terpasung. Enakan lajang.... Astaghfirullah... mungkin ini godaan bagi
yang kelamaan jomblo. Duh, jangan sampe saya kepikiran untuk nggak nikah,
deh.... gaswat, ntar nggak masuk golongan umat Rasulullah Saw.

 

Usaha sih jalan terus.
Makanya saya ngebet banget nih umroh, mau ‘charge’ iman, doakan ya dana saya
segera cukup rekans... thanks atas waktu sharingnya.

Jadi.. benarkah melajang di
usia 30-an itu pilihan? Gimana pendapat rekans???

 

[Sharing] Dari: [Sharing] Dari: Laura Khalida



 

==================================================

 



Dari Al-Kisah Kisah
Seorang Pendoa Ketika kumohon kepada Alloh SWT kekuatan, Alloh memberiku
kesulitan agar aku menjadi kuat. Ketika kumohon kepada Alloh kebijaksanaan,
Alloh memberiku masalah untuk kupecahkan. Ketika kumohon kepada Alloh
kesejahteraan, Alloh memberiku akal untuk berpikir. Ketika kumohon kepada Alloh
keberanian, Alloh memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi. Ketika kumohon kepada
Alloh sebuah cinta, Alloh memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong.
Ketika kumohon kepada Alloh bantuan, Alloh memberiku kesempatan. Aku tak pernah
menerima apa yang kuminta, tetapi aku menerima segala yang kubutuhkan. Doaku
terjawab sudah….

 

Alloh mengabulkan doa kita dengan 3

cara :

1. Apabila Alloh mengatakan YA

Maka kita akan mendapatkan apa yang

kita minta

2. Apabila Alloh mengatakan TIDAK Maka

kita akan mendapatkan yang lebih baik

3. Apabila Alloh mengatakan TUNGGU Maka

kita akan mendapatkan yang TERBAIK

sesuai dengan kehendak NYA

Amiin Allohumma Amiin

 



Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke