Sikap Tidak Peduli

Monday, 28 July 2008

Dalam bukunya yang terkenal, *Islam at the Crossroads, *Muhammad
Asad/Leopold Weiss mengingatkan umat Islam, bahwa:  *"The Imitation –
individually and socially – of the Western mode of life by Muslims is
undoubtedly the greatest danger for the existence – or rather , the revival
– of Islamic civilization."  *

Jadi, kata Asad, penjiplakan kaum Muslim – baik secara individual maupun
sosial – terhadap gaya hidup Barat tanpa diragukan lagi adalah bahaya
terbesar dari eksistensi dan kebangkitan kembali peradaban Islam. Buku Asad
ini terbit pertama tahun 1934 dan telah ditejemahkan ke dalam berbagai
bahasa. Buku kecil ini memberikan gambaran yang tajam tentang hakekat
peradaban Barat yang disebut oleh Asad, sebagai peradaban yang memuja materi
dan anti-agama (*irrelegious in its very essence*).

Lihatlah nilai-nilai peradaban Barat yang kini menyerbu rumah-rumah kita
melalui media hiburan. Film-film, lagu, sinetron yang dijejalkan kepada
generasi muda kita dipenuhi dengan urusan seputar syahwat jasadiah, baik
menyangkut makanan maupun urusan seksual. Peradaban ini sangat mengagungkan
unsur-unsur fisik. Jangan heran, jika dalam peradaban ini, wanita lebih
dihargai karena unsur-unsur fisiknya.  Kontes nyanyi dan loma kecantikan
menjadi upacara yang sangat diagungkan, disiarkan ke seluruh penjuru dunia,
tanpa peduli urusan moral.

Dalam kontes-kontes kecantikan seperti itu, setiap jengkal tubuh wanita
diukur, ditelaah, dan dinilai untuk selanjutnya dipaparkan kepada publik.
Bahwa si A memiliki tubuh terseksi di dunia. Media-media hiburan sibuk
membuat ranking tentang wanita yang memiliki tubuh terindah. Bahkan, konon
di suatu negara, ada  majalah yang khusus menyajikan berita seputar alat
kelamin wanita. Kata mereka, semua itu adalah ekspresi keindahan. Semua itu
tidak ada hubungannya dengan pornografi, tetapi ekspresi seni.

Salah satu buah dari reformasi di Indonesia adalah kebebasan dalam
kontes-kontes kecantikan. Sudah beberapa tahun, Putri Indonesia senantisa
tampil dalam acara pemilihan Miss Universe. Meskipun harus tampil secara
vulgar dalam pakaian  bikini, kontes seperti itu tetap dilakukan, dan
televisi di Indonesia pun berlomba menyiarkan acara tersebut. Tidak ada rasa
malu lagi untuk tampil dengan membuka aurat. Tujuan utamanya tentu saja
adalah untuk mendapatkan penghargaan sebagai "Ratu Kecantikan".

Dengan cara itu, mungkin mereka ingin membuktikan, bahwa ternyata wanita
Indonesia tidak kalah cantiknya dengan wanita negara lain? Lalu untuk apa?
Katanya, untuk pariwisata. Biar turis mau datang. Biar diakui, bahwa negara
Indonesia banyak wanita cantik. Setelah itu?

Aneh! Inikah negara yang mayoritas penduduknya Muslim? Inikah negara yang
menginginkan mendapat berkah dari Allah? Beginikah cara memajukan bangsa
yang sedang terpuruk? Naif! Naif sekali! Akal yang sederhana pun tahu, bahwa
bangsa ini akan bangkit jika rakyatnya mau belajar dan bekerja keras. Bangsa
ini memerlukan pemimpin yang berani berpikir besar dan berani melakukan
tindakan besar, bukan dengan mengirimkan wanita untuk mengumbar aurat di
kontes ratu kecantikan. Para ulama sudah berteriak-teriak minta agar acara
semacam itu dihentikan. Tetapi, pemerintah diam saja. DPR diam saja.
Barangkali takut dikecam media. Takut dibilang kolot. Takut dibilang
sok-moralis. Takut dibilang melanggar HAM. Memang, di alam reformasi dan
kebebasan seperti ini, protes tidak dilarang, tetapi tidak perlu
didengarkan.

Tokoh agama sudah teriak-teriak agar acara-acara yang menonjolkan
unsur-unsur homoseksual dan lesbian dihentikan. Tetaoi, protes itu pun
dianggap angin lalu. Televisi tetap saja menayangkan tontonan seperti itu.
Ulama sudah berteriak, hentikan tayangan judi via SMS. Tapi, TV pun tidak
peduli. Jalan terus! Yang penting dapat untung! Para ulama juga tidak
menyerah untuk mengimbau agar tayangan-tayangan klenik dihentikan. Tapi,
seruan itu juga diangap sebagai angin lalu. Yang penting untung, yang
penting dapat duit banyak. Yang penting, acaranya laku, iklan banyak. Tidak
peduli, apakah tayangan itu merusak moral atau tidak; tayangan itu
meruntuhkan sendi-sendi kekuatan bangsa atau tidak. Tidak peduli!

Sikap tidak peduli itu pula yang kini banyak menjangkiti banyak kalangan
akademisi yang sudah tergila-gila untuk mem-Barat-kan Islam. Mereka tidak
mau peduli dengan segala macam kritik. Banyak yang menganggap ini masalah
remeh. Tidak peduli! Buku-buku yang merusak pemikiran Islam terus
diterbitkan. Meskipun sudah diketahui sebagai buku yang salah. Tidak peduli!


Meskipun sudah berulangkali kita paparkan bahaya pemikiran liberal gaya Nasr
Hamid Abu Zaid, tetap saja mereka menganggap kritikan itu sebagai angin
lalu. Tidak peduli! Meskipun paham multikulturalisme sudah kita kritik,
tetap saja paham itu disebarkan ke tengah masyarakat. Tidak peduli! Meskipun
sudah kita tunjukkan kekeliruan dalam penafsiran Al-Quran atau pun kita
tunjukkan kekeliruan dalam mengungkap data-datanya, tetap saja tidak peduli.
Berulangkali kita tunjukkan bahwa ada guru besar yang kerjaannya sebagai
penghulu swasta dan mengawinkan pasangan beda agama, tetap saja para
petinggi kampusnya tidak peduli. Meskipun tahu ada dosen yang kerjaannya
mengkampanyekan kehalalan perkawinan sesama jenis, tetap saja hal itu
dianggap sebagai "wacana". Tidak peduli!

Jika sikap tidak peduli semacam itu sudah mejangkiti para elite negeri ini,
baik kalangan pemerintah maupun akademisi, apalagi yang bisa kita harapkan?
Jika suami tidak peduli lagi apa yang dilakukan istrinya, apakah pantas dia
disebut suami? Jika pemimpin negara tidak peduli dengan perilaku rakyatnya,
apakah pantas dia disebut pemimpin negara? Jika guru tidak peduli dengan
perilaku siswanya, apakah pantas dia disebut sebagai guru? Jika cendekiawan
dan ulama sudah tidak peduli dengan perilaku umatnya, apakah pantas dia
disebut cendekiawan atau ulama?

Dalam tradisi peradaban Barat, seseorang dibiasakan untuk tidak peduli
dengan kemunkaran dalam soal aqidah dan pemikiran. Mereka hanya peduli dalam
soal-soal yang fisik, karena Barat memang peradaban yang sangat memuja
materi. Mereka tidak peduli dengan urusan agama. Mereka sangat peduli dengan
urusan korupsi dan kerusakan lingkungan, tetapi tidak peduli apakah
seseorang beriman atau kufur, apakah seorang berdosa atau tidak. Mereka
tidak peduli dengan semua itu! Yang penting masyarakat menjalankan
ketertiban atau tidak. Itu yang mereka peduli.

Karakter masyarakat seperti itu tentu berbeda dengan masyarakat Islam.
Sebab, dalam pandangan Islam, urusan terpenting dalam kehidupan adalah
masalah keimanan. Maka, tugas pemimpin negara – disamping menyejahterakan
kehidupan rakyatnya – juga melindungi aqidah masyarakat. Karena itu, dalam
pandangan Islam, tugas utama seorang pemimpin Islam justru melindungi dan
menegakkan Tauhid. Sebab, inilah tugas utama para nabi. Kita sudah sering
membahas, bagaimana azab Allah akan turun ketika umat Islam melalaikan
kewajiban *amar ma'ruf nahi munkar*.

Dalam kaitan soal kepedulian inilah, maka Allah pun sudah mengingatkan agar
kita senantiasa menegakkan iman dan mengembangkan sikap kritis terhadap kaum
Muslim dan terutama kepada para pemimpinnya. Kita sangat prihatin dengan
masih adanya gejala kultus di antara sebagian kalangan Muslim terhadap tokoh
dan pemimpinnya. Mereka tidak peduli, apakah pemimpinnya itu keliru atau
tidak. Bahkan, mereka sudah meletakkan nasibnya di dunia dan akhirat kepada
sang pemimpin. Padahal, pemimpin itu bukan nabi, dan mungkin saja keliru
dalam pemikiran dan kebijakan yang diambilnya.

Karena sikap kultus itu sudah begitu membudaya, sampai-sampai ada yang
marah-marah jika pemimpinnya dikritik. Ada yang marah karena Amin Rais
dikritik; ada pula yang tidak terima ketika Nurcholish Madjid dikritisi
pemikirannya; dan ada yang tidak terima jika Abdurrahman Wahid dikritik.
Tidak sedikit yang menjadi fanatik kepada seorang tokoh atau kelompoknya
melebihi fanatiknya kepada Islam itu sendiri, sehingga dia sangat marah
ketika kelompok atau pemimpinnya dikritik. Meskipun sang pemimpin
jelas-jelas salah, dia tidak mau mengritiknya dan berusaha keras
menutupinya, supaya pemimpin dan kelompoknya tidak jatuh martabat.

Sikap kultus seperti ini tidak mendidik masyarakat. Rasulullah saw sama
sekali tidak mencontohkan sikap semacam itu. Berkembangnya tradisi ilmu
senantiasa diikuti dengan budaya kritis di tengah masyarakat, meskipun sikap
kritis itu tetap berpijak kepada adab. Budaya kultus dan taqlid yang membabi
buta justru bukan hanya merugikan masyarakat, tetapi juga akan merugikan
sang pemimpin sendiri.

Pada tahun 2008 ini,  misalnya, terbit sebuah buku berjudul *"99
Keistimewaan Gus Dur."*  Dalam kata pengantarnya untuk buku ini, Muhaimin
Iskandar menulis, bahwa "Sebagai pemimpin, Gus Dur mampu mengawal,
mendampingi dan mengayomi masyarakatnya menuju proses pembentukan
kemandirian dan kehidupan yang demokratis."  Masih menurut Muhaimin, "Gus
Dur merupakan bagian dari kekayaan yang dimiliki bangsa ini yang patut
diteladani oleh siapa pun yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap
persoalan-persoalan umat."

Tentu saja, kata pengantar Muhaimin itu dibuat sebelum dia dipecat oleh
Abdurrahman Wahid sebagai ketua umum PKB. Pujian setinggi langit juga
diberikan oleh Prof. Dr. KH Said Aqiel Siradj, M.A, dalam pengantarnya untuk
buku ini. Aqiel mengisahkan, bahwa Gus Dur mampu mengenali seorang
waliyullah. Suatu ketika, Gus Dur menemui seorang yang penampilannya sangat
sederhana layaknya seorang "gembel". Ternyata, menurut Aqiel Siraj, yang
ditemui Gus Dur itu adalah seorang wali yang sedang menyamar. Begitu ketemu,
Gus Dur minta didoakan oleh orang tersebut. Aqiel menulis: "Rupanya, Gus
Durlah yang berhasil menyingkap sosok waliyullah tersebut. Sementara
kewalian itu hanya diketahui oleh diri sendiri dan Allah."

Jadi, dengan cerita itu, apakah berarti Abdurrahman Wahid adalah
seorang *waliyullah?
Wallahu a'lam*. Hanya Allah yang tahu.

Salah satu dari 99 keistimewaan Abdurrahman Wahid yang disebutkan dalam buku
ini adalah kegigihannya dalam membela kaum tertindas. Contoh kaum tertindas
yang dibela Abdurrahman Wahid adalah Ahmad Dani, Inul Daratista, kelompok
Ahmadiyah, Tabloid Monitor, dan sejenisnya.

Kita bisa bersikap kritis terhadap posisi Abdurrahman Wahid dalam soal-soal
tersebut. Benarkah Inul merupakan seorang wanita yang tertindas? Benarkah
Ahmad Dhani termasuk kaum yang tertindas? Dan sebagainya. Jika Inul
dikatakan sebagai makhluk tertindas, bagaimana dengan ribuan ibu-ibu dan
anak-anak yang ditindas oleh berbagai tayangan TV yang merusak moral?
Mereka tertidas, dan mereka tidak berdaya. Inul justru bergelimang harta dan
dibela habis-habisan oleh kekuatan industri hiburan yang sangat fasis. Kita
pun bisa bertanya, dimana posisi Abdurrahman Wahid dalam kasus penindasan
rakyat Palestina, di posisi Israel atau rakyat Palestina? Mengapa dia lebih
memilih bersahabat dengan Shimon Peres?

Kita maklum, bahwa para pendukung seorang tokoh kadangkala membuat pemaparan
yang mengagungkan sang tokoh. Ketokohan Abdurrahman Wahid tidaklah
diragukan. Banyak keistimewaan dimilikinya. Karena itulah, ketika akan
mendeklarasikan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), para kyai senior
di NU pun seperti merasa perlu menerbitkan sebuah buku kecil berjudul "*9
Alasan Mengapa Kiai-kiai tidak (lagi) bersama Gus Dur." *

Kita tunggu saja akhir dari semua "permainan" semacam ini. Kita yakin, Allah
Maha Tahu apa yang sebenarnya terjadi. Allah tahu siapa yang benar dan siapa
yang dusta. Pasti akan ada balasan untuk masing-masing. Para tokoh itu akan
mempartanggungjawabkan perbuatannya sendiri kepada Allah SWT. Kita pun
demikian. Di akhirat nanti, mereka akan berlepas tangan, dan tidak mau
menanggung dosa-dosa kita.

Yang penting, kita tetap diwajibkan berdakwah dan melaksanakan *amar ma'ruf
nahi munkar*. Mudah-mudahan, kita tidak termasuk golongan orang-orang yang
tidak tahu dan tidak peduli dengan berbagai persoalan umat. Sebab, kata
Rasulullah saw, barangsiapa yang bangun pagi dan tidak peduli dengan urusan
umat, maka dia bukan bagian dari umat Islam. *Wallahu a'lam*. [Depok, 21
Rajab 1429 H/24 Juli 2008/www.hidayatullah.com <http://hidayatullah.co.id/>]

**
*- Adian Husaini -*


-- 
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest
>> al-Ra'd [13]: 28


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke