http://www.dakwatuna.com

Baitul Muslim

Kepribadian Muslim 
Oleh: Tim dakwatuna.com 


Apa yang terbayang di benak kita ketika berbicara mengenai Kepribadian
Muslim? Mungkin ada yang menjawab; Kepribadian muslim itu tercermin pada
orang yang rajin menjalankan Islam dari aspek ritual seperti shalat. Ada
yang mengatakan kepribadian muslim itu terlihat dari sikap dermawan dan
suka menolong orang lain atau aspek sosial. Mungkin ada yang berpendapat
kepribadian muslim itu terlihat dari penampilan seseorang yang kalem dan
baik hati.

Jawaban di atas hanyalah satu aspek saja dan masih banyak aspek lain
yang harus melekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar
pribadi muslim yang berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah merupakan sesuatu
yang harus dirumuskan, sehingga dapat menjadi acuan bagi pembentukan
pribadi muslim.

Ada beberapa karakteristik yang harus dipenuhi seseorang sehingga ia
dapat disebut berkepribadian muslim, yaitu :

1. Salimul 'Aqidah / 'Aqidatus Salima (Aqidah yang lurus/selamat)
Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim.
Dengan aqidah yang lurus, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat
kepada ALLAH SWT, dan tidak akan menyimpang dari jalan serta
ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kelurusan dan kemantapan aqidah, seorang
muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada ALLAH sebagaimana
firman-Nya yang artinya : "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan
matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam". (QS. al-An'aam [6]:162).
Karena aqidah yang lurus/selamat merupakan dasar ajaran tauhid, maka
dalam awal da'wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah SAW
mengutamakan pembinaan aqidah, iman, dan tauhid. 

2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)
Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang
penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: "Shalatlah kamu
sebagaimana melihat aku shalat". Maka dapat disimpulkan bahwa dalam
melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk/mengikuti (ittiba')
kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ditambah-tambahi atau
dikurang-kurangi. 

3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh)
Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh
setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan
makhluk2-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam
hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena akhlak yang mulia
begitu penting bagi umat manusia, maka salah satu tugas diutusnya
Rasulullah SAW adalah untuk memperbaiki akhlak manusia, dimana beliau
sendiri langsung mencontohkan kepada kita bagaimana keagungan akhlaknya
sehingga diabadikan oleh ALLAH SWT di dalam Al Qur'an sesuai firman-Nya
yang artinya: "Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang
agung". (QS. al-Qalam [68]:4). 

4. Mutsaqqoful Fikri (wawasan yg luas)
Mutsaqqoful fikriwajib dipunyai oleh pribadi muslim. Karena itu salah
satu sifat Rasulullah SAW adalah fatonah (cerdas). Al Qur'an juga banyak
mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya
firman Allah yang artinya: "Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan
judi. Katakanlah: " pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa
manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya".
Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah:
"Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya
kepadamu supaya kamu berfikir".(QS al-Baqarah [2]:219)Di dalam Islam,
tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus
dimulai dengan aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus
memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Untuk mencapai
wawasan yg luas maka manusia dituntut utk mencari/menuntut ilmu, seperti
apa yg disabdakan beliau SAW : "Menuntut ilmu wajib hukumnya bagi setiap
muslim".(Muttafaqun 'alaihi).Dan menuntut ilmu yg paling baik adalah
melalui majelis2 ilmu spt yg digambarkan ALLAH SWT dlm firman-Nya:"Hai
orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah
dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah,
niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. al-Mujadilaah [58]: 11).Oleh
karena itu ALLAH SWT mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan
intelektualitas seseorang, sebagaimana firman-Nya yang artinya:
Katakanlah: "samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak
mengetahui?, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat
menerima pelajaran".(QS. az-Zumar [39]:9). 

5. Qowiyyul Jismi (jasmani yg kuat)
Seorang muslim haruslah memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat
melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat.
Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus
dilaksanakan dengan kondisi fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad
di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.Oleh karena itu,
kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan
dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian,
sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu
kadang-kadang terjadi. Namun jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan.
Bahkan Rasulullah SAW menekankan pentingnya kekuatan jasmani seorang
muslim spt sabda beliau yang artinya: "Mukmin yang kuat lebih aku cintai
daripada mukmin yang lemah". (HR. Muslim). 

6. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
Hal ini penting bagi seorang muslim karena setiap manusia memiliki
kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan
pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya
kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam
melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus
diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda yang
artinya: "Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa
nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)". (HR. Hakim). 

7. Harishun Ala Waqtihi (disiplin menggunakan waktu)
Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini
karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan
Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur'an dengan menyebut
nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan
seterusnya.Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan
pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk
disiplin mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan
penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang
disinggung oleh Nabi SAW adalah memanfaatkan momentum lima perkara
sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat
sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya
sebelum miskin. 

8. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)
Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang
ditekankan oleh Al Qur'an maupun sunnah. Dimana segala suatu urusan
mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan,
profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat ,
berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal
yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas. 

9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri)
Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang
muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan
kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala
seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit
seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak
memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena pribadi muslim tidaklah
mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya
agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah
dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari
nafkah amat banyak di dalam Al Qur'an maupun hadits dan hal itu memiliki
keutamaan yang sangat tinggi.Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah
seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik.
Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah SWT.
Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya
diperlukan skill atau ketrampilan. 

10. Nafi'un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)
Manfaat yang dimaksud disini adalah manfaat yang baik sehingga dimanapun
dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai
keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak
mengganjilkan.Ini berarti setiap muslim itu harus selalu mempersiapkan
dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil
peran yang baik dalam masyarakatnya. Rasulullah SAW bersabda yang
artinya: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang
lain". (HR. Qudhy dari Jabir). 

Untuk meraih kreteria Pribadi Muslim di atas membutuhkan mujahadah dan
mulazamah atau kesungguhan dan kesinambungan. Allah swt berjanji akan
memudahkan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh meraih keridloan-Nya. "Dan
orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar
akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. dan Sesungguhnya
Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." QS. Al Ankabut
: 69. Allahu A'lam
*************************************


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke