From: "Rudy Swardani" <[EMAIL PROTECTED]>
To:[EMAIL PROTECTED]
Fatwa Syaikh bin Baaz Tentang Larangan Saling Mencaci

Fatwa ini dikeluarkan akibat munculnya kelompok dakwah garis keras yang 
terkenal mudah mengeluarkan cacian dan makian terhadap para tokoh dakwah di 
dunia Islam. Tentunya fatwa ini berlaku umum kepada siapa saja yang memiliki 
karakter tercela seperti penjelasan Syaikh bin Baaz. Dalam fatwa yang 
dikeluarkan oleh Dewan Riset Ilmiah, Fatwa, Dahwa dan Bimbingan Islam Kerajaan 
Saudi Arabia, tanggal 17/6/1414 H, Syaikh Abdulazis bin Abdullah bin Baaz 
(meninggal pada bulan Mei 1999) mengatakan :

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpahkan 
kepada Nabi kita Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan mereka yang mengikutinya 
sampai akhir zaman.

Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan kita untuk berlaku adil dan berbuat baik, 
serta meninggalkan segala bentuk penganiayaan, kesewenangan dan permusuhan. 
Allah SWT telah mengutus Nabi Muhammad SAW dengan risalah yang juga telah 
diemban oleh para Rasul sebelumnya, berupa seruan untuk bertauhid dan 
memurnikan ibadah kepada Allah SWT semata. Allah juga memerintahkan Nabi 
Muhammad SAW untuk menegakkan keadilan dan melarangnya dari segala bentuk 
ketidakadilan; baik berupa penyembahan selain Allah, atau perpecahan, 
perselisihan dan penganiayaan atas hak-hak orang lain.

Akhir-akhir ini, telah menjadi wacana publik bahwa ada sekelompok orang yang 
dikenal sering bergelut dengan masalah-masalah keilmuan Islam dan dakwah, 
melecehkan kehormatan saudara-saudara mereka dari kalangan aktivis dakwah Islam 
terkemuka. Mereka juga melecehkan kehormatan para penuntut ilmu, para da’i dan 
para penceramah. Kadang mereka melakukannya secara tersembunyi di tempat-tempat 
pengajian mereka atau direkam di kaset-kaset dan disebarkan di tengah-tengah 
masyarakat. Dan kadang pula hal itu dilakukan secara terang-terangan dalam 
pengajian-pengajian umum di masjid-masjid. Perbuatan ini sangat bertentangan 
dengan apa yang diperintahkan Allah SWT kepada Rasul-Nya.

Lebih jelasnya pertentangan itu dapat dilihat dari berbagi sisi sebagai berikut 
:

1. Perbuatan ini adalah bentuk penganiayaan terhadap hak-hak umat Islam. Apa 
lagi bila mereka yang dilecehkan tersebut adalah para penuntut ilmu dan para 
da’i yang telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk membangun kesadaran 
beragama masyarakat, membimbing mereka, serta memperbaiki kekeliruan-kekeliruan 
pemahaman mereka tentang akidah dan system hidup. Dan mereka pulalah yang telah 
bekerja keras untuk mengorganisir pengajian-pengajian dan ceramah-ceramah 
agama, serta menulis buku-buku yang bermanfaat.

2. Perbuatan ini adalah upaya pemecahbelah persatuan umat Islam dan pengoyakan 
barisan mereka. Sementara mereka sangat membutuhkan adanya persatuan dan 
tiadanya perpecahan, perselisihan dan perdebatan yang sia-sia di antara mereka. 
Apatah lagi bila para da’i yang dilecehkan tersebut berasal dari kalangan ahlu 
sunnah wal jamaah yang terkenal dengan kerja nyata mereka dalam memerangi 
bid’ah dan khurafat, menentang para penyerunya, serta menyingkap makar dan tipu 
daya mereka. Kami memandang bahwa tidak ada sedikit pun maslahat dibalik 
perbuatan ini kecuali bagi musuh-musuh Islam dari kalangan orang-orang kafir 
dan munafiq, atau ahli bid’ah dan kesesatan yang sangat mengidam-idamkan 
kehancuran umat Islam.

3. Perbuatan ini mengandung dukungan dan dorongan kepada para sekularis, 
westernis dan musuh-musuh Islam lainnya yang terkenal sebagi kelompok-kelompok 
yang selalu melecehkan, menyebarkan isu-isu bohong dan menghasut masyarakat 
untuk memusuhi para aktivis dakwah Islam lewat buku-buku dan kaset mereka. 
Adalah bertentangan dengan konsekwensi ukhuwwah Islamiyah ketika orang-orang 
yang tergesa-gesa ini mendukung musuh-musuh mereka menghadapi saudara-saudara 
mereka sendiri dari kalangan para penuntut ilmu dan para aktivis dakwah Islam.

4. Perbuatan ini sangat berandil besar dalam merusak hati dan perasaan seluruh 
lapisan masyarakat, menyebar luaskan berbagai kebohongan dan isu-isu dusta, 
menjadi sebab maraknya gunjing menggunjing dan adu domba serta membuka pintu 
selebar-lebarnya bagi manusia-manusia berjiwa kerdil yang hobinya menyebarkan 
isu-isu negatif, menguakan simpul-simpul fitnah dan selalu ingin menyakit 
orang-orang beriman dengan dalil dan alasan yang dibuat-buat.

5. Banyak sekali pernyataan-pernyatan yang dimunculkan itu, tidak benar adanya 
sebaiknya, pernyatan-pernyataan tersebut hanyalah paraduga-praduga atau 
sangkaan sangkaan yang dihias hiasi oleh syetan kepada mereka yang termakan 
oleh tipu dayanya. Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang beriman jauhilah 
kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan 
janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian orang 
diantara kamu menggunjing sebagian yang lain” (Al Hujuraat : 12)

Seorang muslim sebaiknya berusaha memahami perkataan saudaranya sesama muslim 
dengan penafsiran yang paling baik. Sebagian ulama salaf pernah berkata: 
“janganlah berprasangka buruk tentang sebuah pernyataan yang diungkapkan oleh 
saudaramu sesama muslim, sementara engkau dapat memahaminya dengan penafsiran 
yang baik”.

6. Ijtihad yang dilakukan oleh seorang ulama atau penuntut ilmu yang laik 
ijtihad pada masalah-masalah ijtihadiyah tidak boleh diingkari dan ditentang. 
Bila ada yang berbeda pendapat dengannya pada masalah-masalah tersebut, maka 
yang lebih tepat dilakukan adalah mengajaknya berdiskusi (berdebat) dengan cara 
yang paling baik, demi mencapai kebenaran dengan mudah dan menutup jalan bagi 
bisikan-bisikan syetan berikut tipu dayanya untuk memecah-belah persatuan umat 
Islam. Tapi bila itu sulit dilakukan, sedang orang yang berbeda pendapat 
tersebut ingin menjelaskan kesalahan ijtihad ulama’ atau penuntut ilmu yang 
lain, maka hendaklah itu dilakukan dengan ungkapan yang baik, sindirian yang 
lembut dan tanpa pelecehan, pencelaan atau kata-kata kasar yang bias 
menyebabkan penolakan terhadap kebenaran, serta tanpa tudingan terhadap 
pribadi-pribadi, tuduhan terhadap niat-niat orang lain, atau pembicaraan 
berlebihan yang tidak dibutuhkan. Bukankah dalam hal-hal
 seperti ini Rasulullah SAW selalu berkata : “mengapa ada orang-orang yang 
mengatakan begini dan begitu?”

Maka yang ingin aku nasehatkan kepada ikhwah (saudara-saudaraku) yang 
melecehkan kehormatan para da’i dan menghina mereka, supaya bertobat kepada 
Allah SWT dari apa-apa yang pernah dituliskan oleh tangan-tangan mereka atau 
diucapkan oleh lidah-lidah mereka yang telah ikut andil dalam merusak hati dan 
perasaan sebagian pemuda Islam, memenuhinya dengan rasa iri dan dengki, 
menyibukkan mereka dengan gunjing-menggunjing, membahas tentang fulan dan 
fulan, memaksakan diri untuk mencari-cari kesalahan orang lain yang akhirnya 
memalingkan mereka dari menuntut ilmu yang bermanfaat dan berdakwah di jalan 
Allah SWT.

Aku juga menasehati mereka agar menebus (kaffarah) kesalahan yang mereka 
lakukan dengan cara menulis atau lainnya, untuk membebaskan diri mereka dari 
perbuatan seperti ini dan menghilangkan pemikiran-pemikiran salah yang telah 
tertanam dibenak sebagian orang yang sering mendengarkan pembicaraan mereka, 
berikut mengalihkan perhatian mereka kepada amal-amal produktif yang 
mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT dan bermanfaat bagi hamba-hambaNya. 
Aku juga menasehati mereka agar berhati-hati untuk tidak tergesa-gesa dalam 
menyebutkan hukum kafir, fasik atau bid’ah kepada orang lain tanpa bukti dan 
kejelasan, karena Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang berkata kepada 
saudaranya sesama muslim wahai kafir maka makna kata itu pasti berlaku bagi 
salah seorang di antara mereka berdua” (Mutafaqun ‘ala shihatihi).

Secara syar’i adalah tepat bagi para dai dan penuntut ilmu yang menemukan 
kesulitan dalam memahami perkataan sebagian ulama ataupun selain ulama, untuk 
merujuk dan bertanya kepada para ulama yang berkompeten agar mereka mendapatkan 
penjelasan yang gambling, memahami subtansi masalah dan menghilangkan segala 
keragu-raguan dan subhat yang ada pada diri mereka, seperti yang disabdakan 
oleh Rasulullah SAW: “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang 
keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka 
menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah 
orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinnya dari 
mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah 
kepada kamu, tentulah kamu mengikuti syetan, kecuali sebagian kecil saja (di 
antara kamu)” (Annisa’ : 83)

Semoga Allah SWT -yang hanya kepadaNya kita meminta- memperbaiki keadaan umat 
Islam seluruhnya, menyatukan hati-hati mereka dan memberikan taufiq-Nya kepada 
para ulam dan para dai untuk selalu melakukan hal-hal yang diridloinya, 
bermanfaat bagi hamba-hambaNya, menyatukan konsep mereka di atas petunjukNya, 
menghindarkan mereka dari pemicu-pemicu perpecahan dan pertentangan, serta 
menjadikan mereka sebagai pembela kebenaran dan pemberantas kebatilan. 
Sesungguhnya hanya Allah SWT yang sanggup dan mampu melakukannya.

Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baaz

Ketua Umum
Dewan Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah dan Bimbingan Islam Kerajaan Saudi Arabiyah

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi selengkapnya ada di:
http://www.media-islam.or.id

Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://syiarislam.wordpress.com


      

Kirim email ke