Assalamu'alaikum Wr. Wb.

 

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat beserta salam semoga
selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Hampir dalam setiap pengajian yang saya ikuti dari kecil hingga saat ini,
banyak sekali para ustad yang menganjurkan bahwa berbuka puasa disunnahkan
untuk "Berbuka Puasa dengan yang Manis".

 

Saya mendapat email yang bertentangan dengan hal diatas, secara ilmiah masuk
akal tetapi saya butuh pendapat dari rekan2 muslimin & muslimat mengenai hal
ini.

 

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas tanggapannya.

 

Wassalam,

 diko

*  [EMAIL PROTECTED]

W  http://diko6178.wordpress.com 

  _____  

 

  _____  

 

 

From: Moh. Fithri Hasan Subject: Jangan Berbuka shaum Dengan Yang 'Manis'

 

 


Jangan Berbuka shaum Dengan Yang 'Manis'

Hari ini Ramadhan. Di bulan shaum ini, sering kita dengar kalimat 'Berbuka
shaumlah dengan makanan atau minuman yang manis,' katanya. Konon, itu
dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?

Dari Anas bin Malik ia berkata : "Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab
(kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau
berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau
meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Nabi Muhammad Saw berkata : "Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah
berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah
dengan air, maka
sesungguhnya air itu suci."

Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma, beliau
berbuka shaumdengan air.

"Samakah kurma dengan 'yang manis-manis' ? Tidak. Kurma, adalah karbohidrat
kompleks (complex carbohydrate) ."

Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis
yang biasa kita konsumsi sebagai makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat
sederhana (simple carbohydrate) .

Darimana asalnya sebuah kebiasaan berbuka dengan yang manis? Tidak jelas.
Malah berkembang jadi waham umum di masyarakat, seakan-akan berbuka
shaumdengan makanan atau minuman yang manis adalah 'sunnah Nabi'.

Sebenarnya tidak demikian. Bahkan sebenarnya berbuka shaum dengan makanan
manis-manis yang penuh dengan gula (karbohidrat sederhana) justru merusak
kesehatan.

Dari dulu saya tergelitik tentang hal ini, bahwa berbuka shaum'disunnahkan'
minum atau makan yang manis-manis. Sependek ingatan saya, Rasulullah
mencontohkan buka shaum dengan kurma atau air putih, bukan yang manis-manis.

"Kurma, dalam kondisi asli, justru tidak terlalu manis."

Kurma segar merupakan buah yang bernutrisi sangat tinggi tapi berkalori
rendah, sehingga tidak menggemukkan (data di sini dan di sini). Tapi kurma
yang didatangkan ke Indonesia dalam kemasan-kemasan di bulan Ramadhan sudah
berupa 'manisan kurma', bukan lagi kurma segar. Manisan kurma ini justru
ditambah kandungan gula yang berlipat-lipat kadarnya agar awet dalam
perjalanan ekspornya. Sangat jarang kita menemukan kurma impor yang masih
asli dan belum berupa manisan. Kalaupun ada, sangat mungkin harganya menjadi
sangat mahal.

"Kenapa berbuka shaum dengan yang manis justru merusak kesehatan?"

Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana yang
dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, bukan gula (karbohidrat
sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi glikogen, perlu diproses
sehingga makan waktu.

Sebaliknya, kalau makan yang manis-manis, kadar gula darah akan melonjak
naik, langsung. Bum. Sangat tidak sehat. Kalau karbohidrat kompleks seperti
kurma asli, naiknya pelan-pelan.

Mari kita bicara 'indeks glikemik' (glycemic index/GI) saja. Glycemic Index
(GI) adalah laju perubahan makanan diubah menjadi gula dalam tubuh. Makin
tinggi glikemik indeks dalam makanan, makin cepat makanan itu dirubah
menjadi gula, dengan demikian tubuh makin cepat pula menghasilkan respons
insulin.

Para praktisi fitness atau pengambil gaya hidup sehat, akan sangat
menghindari makanan yang memiliki indeks glikemik yang tinggi. Sebisa
mungkin mereka akan makan makanan yang indeks glikemiknya rendah. Kenapa?
Karena makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin menimbun lemak.
Penimbunan lemak tubuh adalah yang paling dihindari mereka.

Nah, kalau habis perut kosong seharian, lalu langsung dibanjiri dengan gula
(makanan yang sangat-sangat tinggi indeks glikemiknya) , sehingga respon
insulin dalam tubuh langsung melonjak. Dengan demikian, tubuh akan sangat
cepat merespon untuk menimbun lemak.

Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada seorang sufi yang diberi Allah
'ilm tentang urusan kesehatan jasad manusia.. Kata Beliau, "bila berbuka
puasa, jangan makan apa-apa dulu. Minum air putih segelas, lalu sholat
maghrib. Setelah shalat, makan nasi seperti biasa".. Jangan pernah makan
yang manis-manis, karena merusak badan dan bikin penyakit. Itu jawaban
beliau.

Kenapa bukan kurma? Sebab kemungkinan besar, kurma yang ada di Indonesia
adalah 'manisan kurma', bukan kurma asli. Manisan kurma kandungan gulanya
sudah jauh berlipat-lipat banyaknya.

"Kenapa nasi? Lha, nasi adalah karbohidrat kompleks."

Perlu waktu untuk diproses dalam tubuh, sehingga respon insulin dalam tubuh
juga tidak melonjak. Karena respon insulin tidak tinggi, maka kecenderungan
tubuh untuk menabung lemak juga rendah.

Inilah sebabnya, banyak sekali orang di bulan shaum yang justru lemaknya
bertambah di daerah-daerah penimbunan lemak: perut, pinggang, bokong, paha,
belakang lengan, pipi, dan sebagainya. Itu karena langsung membanjiri tubuh
dengan insulin, melalui makan yang manis-manis, sehingga tubuh menimbun
lemak, padahal otot sedang mengecil karena puasa.

Pantas saja kalau badan kita di bulan Ramadhan malah makin terlihat seperti
'buah pir', penuh lemak di daerah pinggang. Karena waham umum masyarakat
yang mengira bahwa berbuka dengan yang manis-manis adalah 'sunnah', maka
shaumbukannya malah menyehatkan kita.

Banyak orang di bulan shaumj ustru menjadi lemas, mengantuk, atau justru
tambah gemuk karena kebanyakan gula. Karena salah memahami hadits di atas,
maka efeknya 'rajin shaum= rajin berbuka dengan gula..'

Belajar sabar.

Waham Umum

Oke, kembali ke topik. Nah, saya kira, "berbukalah dengan yang manis-manis"
itu adalah kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa atas hadits tentang berbuka
diatas. Karena kurma rasanya manis, maka muncul anggapan bahwa (disunahkan)
berbuka harus dengan yang manis-manis. Pada akhirnya kesimpulan ini menjadi
waham dan memunculkan budaya berbuka shaumyang keliru di tengah masyarakat.
Yang jelas, 'berbukalah dengan yang manis' itu disosialisasikan oleh slogan
advertising banyak sekali perusahaan makanan di bulan suci Ramadhan.

Namun demikian, sekiranya ada di antara para sahabat yang menemukan hadits
yang jelas bahwa Rasulullah memang memerintahkan berbuka dengan yang
manis-manis, mohon ditulis di komentar di bawah, ya. Saya, mungkin juga para
sahabat yang lain, ingin sekali tahu.

Semoga tidak termakan waham umum 'berbukalah dengan yang manis'. Atau lebih
baik lagi, jangan mudah termakan waham umum tentang agama. Periksa dulu
kebenarannya.

Kalau ingin sehat, ikuti saja kata Rasulullah:
"Makanlah hanya ketika lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang." Juga,
isi sepertiga perut dengan makanan, sepertiga lagi air, dan sepertiga
sisanya biarkan kosong.

"Kita (Kaum Muslimin) adalah suatu kaum yang bila telah merasa lapar barulah
makan, dan apabila makan tidak hingga kenyang," kata Rasulullah.

"Tidak ada satu wadah pun yang diisi oleh Bani Adam, lebih buruk daripada
perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap untuk memperkokoh tulang
belakangnya agar dapat tegak. Apabila tidak dapat dihindari, cukuplah
sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan sepertiga
lagi untuk nafasnya."

(HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya yang bersumber dari
Miqdam bin Ma'di Kasib)

Semoga bermanfaat..

Wassalaamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

 

 

Best Regards

 

Moh.  Fithri  Hasan

PT. DAESUNG ELTEC INDONESIA

Telp.  021 - 8972585   Fax.  021 - 89906983

HP.  081586166781  /  Esia  93093551

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke