Eko Prasetyo : Sujud Syukur di Akhir Ramadhan
 
Katagori : Journey to Islam
Oleh : Redaksi 23 Jul 2008 - 2:50 am 


Malam tak pernah seindah itu. Suara-suara orang mengaji bergaung dan 
bergema di seluruh pelosok Kota Pahlawan. Langit dan bumi merendah bak 
menyambut malaikat yang bertasbih memuji Ar-Rahman. Sepuluh malam terakhir 
di bulan suci Ramadhan menjadi saksi kebahagiaan tak terperi dalam hidup 
saya, Eko Prasetyo. 

Saya lahir dan besar di keluarga penganut Katolik yang taat. Kami tinggal 
di Bekasi. Tiap Minggu, tak pernah alpa kami beribadat ke gereja. Masa 
kecil sampai remaja terasa begitu membekas dengan kebahagiaan keluarga 
kami. Nama baptis saya adalah Yohanes. Nama tersebut masih menempel di 
ijazah terakhir saya sebelum akhirnya hidayah itu menyapa pada 2005.

Pada Agustus 1999, saya hijrah ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikan di 
Universitas Negeri Surabaya (Unesa, dulu IKIP Negeri Surabaya). 

Singkatnya, saya kemudian tinggal bersama kakek dan nenek saya.

Hari-hari awal menjadi arek Suroboyo begitu saya nikmati. Jauh dari 
orangtua adalah awal saya belajar untuk mandiri. Meski selalu mendapat 
uang saku tiap bulan, saya mulai kasihan dengan ibu yang cuma berjualan 
kue dan menjadi penjaga kantin sebuah sekolah menengah pertama di Bekasi. 
Saya ingin bisa memiliki pendapatan sendiri.

Singkatnya, saya kemudian nyambi mengajar privat selepas kuliah. Lumayan, 
dari hasil memberi les privat tersebut, saya bisa menambah uang saku dan 
beli bensin. Sempat cuti kuliah pada semester lima karena telat membayar 
SPP, saya pernah bekerja sebagai cleaning service di sebuah toko buku. 
Sebagai mahasiswa, saya mulai menyadari bahwa betapa berbedanya dunia 
kerja dengan dunia mahasiswa yang penuh dengan idealismenya.

Sungguh, saya menyadari betapa susahnya hidup di kota besar seperti 
Surabaya. Apalagi, gaji sebagai cleaning service itu tak sampai Rp. 500 
ribu saat itu! Namun, semua itu memiliki hikmah bagi saya. Sukses itu 
tidak turun langsung dari langit, tapi harus ada usaha! Do'a, usaha, dan 
kerja keras. Itulah fondasi sukses. Karena itu, tekad saya bulat, saya 
harus bisa menjadi sarjana, meski sarjana pun terkadang sulit untuk 
mencari kerja.

April 2004, kebahagiaan menyelimuti saya dan keluarga. Ya, saya resmi 
mengakhiri pendidikan di Unesa bersama ribuan wisudawan lain di Islamic 
Center, Surabaya. Tak pernah terbayang di benak saya bahwa anak seorang 
ibu penjaga kantin dan bapak supir bisa jadi sarjana. Menjadi raja sehari 
sebelum esoknya bingung harus membuat lamaran kerja ke sana-sini. Meski 
demikian, rasa haru dan bangga menyelinap di hati saat saya kali pertama 
memakai toga. 

Setelah lulus, saya memutuskan untuk tetap tinggal di Jawa Timur. Saya 
bersyukur, setelah menganggur beberapa lama, akhirnya saya mendapat 
pekerjaan sebagai guru SMP di Kabupaten Malang. Meski penghasilan sebagai 
guru sangat kecil, saya begitu menikmati profesi tersebut. 

Awal 2005, nenek saya sakit dan diopname di RS RKZ Surabaya. Saat itu, 
karena tak ada di antara anak-anaknya yang bisa jaga malam, akhirnya saya 
memutuskan ke Surabaya dan menjaga beliau. Meski, konsekuensinya saya 
harus keluar dari pekerjaan saya. Dan di situlah awal saya mengalami hal 
yang kemudian mengubah hidup saya.

Tiap pukul empat sore, saat jam besuk, saya sudah ada di RKZ untuk menjaga 
nenek. Menyuapi saat beliau makan dan mengambilkan pispot saat beliau 
buang air kecil, menjadi pengalaman pertama saya merawat orang sakit.

Malam ketiga nenek sakit, saya tak kuat menahan kantuk tertidur dengan 
posisi duduk di samping paviliun beliau. Jam menunjukkan pukul setengah 
tiga pagi. Saat itulah, saya bermimpi yang menurut saya aneh. Dalam mimpi 
tersebut, saya melihat diri saya yang seolah-olah melakukan 
gerakan-gerakan yang kelak saya ketahui adalah shalat. Ketika terbangun, 
saya tak menghiraukannya. Saya berpikir, mungkin itu hanya bunga tidur 
saja karena terlalu capai.

Namun, saya tak menyangka, pada malam keempat mimpi itu datang lagi. Saya 
bermimpi melihat diri saya melakukan ruku yang kelak saya ketahui juga 
bagian dari shalat. Begitu cepat sehingga saya terbangun dan ketakutan. 
"Ada apa ini, Tuhan?" ucap saya dalam hati setengah ketakutan. 

Entahlah, saat itu mulai terlintas rasa penasaran saya terhadap Islam. 
Ketakutan saya masih berlanjut. Malam kelima, mimpi itu datang lagi dan 
kali ini saya melihat diri saya bersujud. Setelah tiga malam 
berturut-turut bermimpi aneh, saya sadar bermimpi melihat diri saya sedang 
shalat. Keinginan saya mengetahui Islam menjadi besar mulai saat itu. 

Setelah nenek sembuh, kejadian itu berlalu dan hanya saya simpan dalam 
hati. Diam-diam, saya mulai mempelajari Islam dari buku-buku yang saya 
beli. Puncaknya, keluarga kami merayakan Paskah dan saya sempat bermalam 
di Gereja Katedral Surabaya. Menjelang subuh, saya hendak keluar dan 
membeli makan. Ketika bersiap menggeber motor, saya mendengar sayup-sayup 
adzan Subuh. Entah mengapa, saya mendadak mematikan mesin motor dan 
mendengarkan kumandang adzan tersebut. Mulai Allaahu Akbar sampai Laa 
ilaaha illallaah, meski tak tahu artinya saat itu, hati saya bergetar 
hebat. Indah sekali lantunan suara adzan Subuh tersebut.

Kepada seorang kawan, saya mulai mengutarakan niat untuk masuk Islam. 
Meski, saya tahu bahwa keputusan itu akan sangat berisiko karena keluarga 
saya adalah pemeluk Katolik yang sangat taat. Tiga hari setelah peristiwa 
itu, saya mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Al-Akbar Surabaya. 
Hanya ada saya, dua sahabat saya, dan seorang ustadz pembimbing. Allahu 
Akbar! Saya menjadi muslim. Damai sekali. Dua sahabat saya memeluk saya 
dan menangis. Suasana begitu mengharukan kala itu. 

Saat saya berterus terang kepada orangtua bahwa saya telah menjadi mualaf, 
ayah saya sangat murka. Begitu marahnya hingga saya mendapat tamparan di 
wajah. Hari-hari awal menjadi muslim begitu berat saya rasakan. Namun, 
saya yakin bahwa Allah Mahatahu. Saya menghormati dan sangat menyayangi 
orangtua saya. Ketika itu, yang bisa saya lakukan hanya berdo'a bagi ibu 
dan bapak saya. Di Surabaya, suasana diskriminasi dari keluarga sempat 
saya rasakan. Hal yang wajar karena menjadi muslim saya dicap sebagai 
pengkhianat. Meski demikian, semua saya syukuri tanpa henti mendo'akan 
kedua orangtua tercinta.

Akhirnya, malam membahagiakan bagi kami itu datang di bulan suci Ramadhan 
pada 2006. Malam setelah mengikuti shalat tarawih menjelang Ramadhan 
berlalu, saya mendapat telepon dari ibu di Bekasi. Secara mengejutkan ibu 
mengatakan bahwa beliau dan bapak telah masuk Islam setelah bermimpi 
melihat saya shalat.

Allahu Akbar! Mahaindah Engkau, ya Allah. Tak sanggup berucap sepatah 
kata, malam itu juga saya sujud syukur dan tiada henti menangis. Menangis 
bahagia. Cinta itu datang berupa hidayah yang tak ternilai dengan apa pun 
di dunia ini. Teriring salam terindah untuk Rasulullah, kuucapkan syukur 
Alhamdulillah atas karunia ini. (kotasantri)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke