Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakaatuh
Sudah beberapa bulan yang lalu, saya berlangganan tempe dan tahu seminggu dua
kali, pada seorang mahasiswa penjual tempe dan tahu pada kami kalangan ibu2 di
Dokki.
Harga sepotong tempe, sekitar 5000 rupiah= 3 pound mesir.Aku suka beli dua,
jadi ada empat tempe seminggu. Terkadang kubeli juga tahu. Aku suka kewalahan
untuk mengolah tempe ini jadi apa, karena selain digoreng, pakai tepung, di
gulai, di buat botok, atau untuk tumisan sayur. Sebenarnya kadang bosan juga
makan tempe setiap minggu itu. Namun, aku suka kasihanan sama mahasiswa, sudah
capek dan jauh2 buat tempe, kalau ia harus membawa tempenya pulang kembali
karena tidak habis kejual. kadang, aku berikan uang untuk anak2nya.
Suatu kali, aku kelebihan tempe, lantas, kuberikan tempe itu pada mahasiswa
yang tinggal di mesjid. Namun, apa yang terjadi..? Ternyeta seorang Ibu telah
mendahului saya memberikan tempe itu pada mereka, bahkan dijatahkan untuk
mereka setiap minggunya. Wah,..aku kalah saing nih dalam masalah ini pikirku.
Kutanya siapa ibu yang memberikan pada kalian? Dijawab mereka Ibu si Anu...Ohhh
kupikir. Wajar, memang ibu ini kaya, dan sangat Dermawan, jangankan sama
mahasiswa, sama kita ibu2pun baik luar biasa.Akhirnya, karena mereka ada tempe,
lantas mahasiswa itu bilang. Bu...tidak usah tempenya, kasihkan aja yang
mentah, buat beli minyaknya. Oh iyah,..boleh juga tuh..kupikir.Mereka kasihan
aku kecewa.
Pada bulan Ramadhan ini, suatu kali, aku pernah suruh anak-anakku untuk
antarkan makanan kemesjid, untuk makanan bukaan mereka. Apa yang terjadi lagi?
Lagi2 Ibu tersebut mendahului aku, bahkan lebih lagi. Kata mereka, mereka
sering diundang Ibu tersebut makan bukaan.
Namun, kata mereka, makanan ibu ini untuk sahur saja kami makan. Okay deh saya
bilang. Lagi-lagi aku kecewa dan selalu didahului oleh orang-orang yang jauh
lebih dermawan. Aku tak ada arti apa-apanya dibandingkan dirinya sama sekali.
Disamping ibu itu diplomat yang banyak uangnya, juga memang ia terbiasa
berderma dikampungnya. Sementara aku ini apalah suami hanya pegawai biasa saja.
Namunpun begitu, aku sellau ingat firman Allah Ta'ala, "dan mereka-mereka yang
mendermakan/menafkahkan/mensedeqahkan hartanya baik dalam keadaan lapang,
mapun dalam keadaan sempit(miskin). Ayat inilah yang selalu memicu diriku untuk
selalu berusaha menderma sedikit apapun sesusah apapun, semiskin appaun kondisi
ekonomi kami.
Yah...aku masih kalah dari ibu2 itu..mereka jauh lebih baik, jauh lebih
dermawan, tapi tak apalah, ketimbang tak ada sama sekali kupikir. Bukankah
Allah menyuruh manusia untuk selalu berlomba2 dalam hal kebaikan?
Semoga cerita ini dapat menjadi inspirasi kita semua, dan ada manfaatnya
dibulan ramadhan ini, saya tak bisa banyak menulis, karena masih sibuk juga.
Wassalamu'alaikum. Kairo, Rahima
[Non-text portions of this message have been removed]