Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakaatuh.
 
Bismillahirrahmaani rrahim
 
Hari ini, aku pulang lebih cepat dari biasanya. Setelah tadarrusan dimesjid, 
dimulai pukul 10-1 siang, terkadang sampai jam 2 siang. Belanja dulu , sampai 
rumah pukul 3.30, aku baru mulai masak, menjelang buka maghrib pukul 6 sore.
 
Yah,..aku tidak banyak-banyak masak, minimal ada es buah, atau cenil, cendol, 
atau kolak, dan yang utamanya adalah kurma, ditambah makanan kering seumpama 
bakwan, martabak Mesir, atau kue basah lainnya cream caramel, spagetti, 
yah..macam-macamlah . Bulan puasa ini aku yang rajin masak makanan. Kalau hari 
biasa paling aku masak untuk teman nasi yakni sambel dan sayur. Anak-anakku 
kurang suka ngemil, itu sebabnya aku jarang masak makanan ringan, kecuali lagi 
mood, dan liburan saja.
 
Bulan puasa ini, jarang atau bahkan belum pernah rasanya aku sahur makan nasi, 
begitupun suami dan anak-anakku. Anakku ada sekali-sekali, itupun nasinya hanya 
sesendok dua sendok. Kami hanya sahur dengan tiga-empat butir kurma, ditambah 
yogurt dan susu, kalau ada sisa kolak/es buah, ditambah secangkir susu, atau 
teh.
 
Malamnya, kami lanjutkan lagi tadarrusan yang siang hari tadi, selesai shalat 
tarawih, sehingga aku sampai rumah sering pukul 11 atau 12 malam, bangun jam 3 
pagi, sahuran, itu sebabnya habis shubuh aku harus tidur lagi, ngak kuat mata 
itu menahan, puyeng kepala kalau kurang tidur itu. 
 
Alhamdulillah jumlah peserta tadarrusannya, makin hari makin banyak. Sehari 
minimal 2 juz kami tammatkan, kadang sampai 3-4 juz, tergantung siapa yang 
hadir. Kalau kebetulan yang hadir banyak yang bacaannya lancar2, bisa banyak. 
Namun, kalau yang kurang lancar, memakan waktu yang cukup lama hanya selembar 
saja, sehingga sehari hanya 2 juz maksimal.
 
Aku dah peringatkan dari awal rapat pengajian ibu2 Dokki, kalau niat kita 
tadarrusan itu untuk apa? Apakah sekedar tammat/khatam bacaan saja atau ibu2 
yang kurang lancar atau terbata-bata, ingin diperlancar bacaannya?. Ada 
macam-macam pendapat.Akhirnya saya usulkan sebaiknya kita lebih mengutamakan 
tadabbur AlQuran ketimbang banyak baca, tapi tadabburnya kurang, apalagi 
bacanya salah-salah, akibat mau cepat selesai.
 
Hari pertama tadarrusan, wah...saya melihat hampir rata-rata yang membaca ada 
salahnya. Tidak ada yang tidak salah, apalagi yang terbata-bata, setiap kata 
ada salahnya.
 
Aku berfikir, kalau aku mengajarkan mereka dengan keras, bisa-bisa lama 
kelamaan jamaahnya berkurang, seperti tahun-tahun yang lalu kudengar(saat itu 
aku di Indonesia).
 
Akhirnya, bagi yang terbata-bata, benar-benar memakan waktu yang lama awalnya 
mereka membaca AlQuran itu kalimat demi kalimat harus telaten dan sabar, serta 
tidak mengejek/menghinany a, apalagi didepan orang ramai, tentu mereka malu. 
Aku berusaha untuk tetap memujinya. :"Bacaan ibu sudah mulai bagus, apalagi 
kalau latihan terus, bahkan dari sisi suara saja, sebenarnya Ibu jauh lebih 
bagus ketimbang saya Suara saya Fals, ibu suaranya mirip penyanyi itu lho.(Ini 
sejujurnya, saya muji yang benar).
 
Si Ibu merasa tersipu malu mendapat pujian dariku itu. Lantas beliau bilang 
;"Alahh..Ibu rahima ini,..malu-maluin saya,..ibu Rahima justru yang enak kalau 
membacanya. Saya bilang,..jujur Bu,..saya tidak mau basa-basi. Suara saya, 
sebenarnya tidak bagus, cobalah disuruh saya nyanyi, suara saya sumbang. Hanya 
saja, karena saya membacanya dengan tartil, dengan tajwid, saya juga membaca 
itu sesuai dengan artinya. kalau pas cerita tentang dialoq antara Allah dan 
hambaNya, semacam kisah nabi Ibrahim, atau juga dialoq kisah Maryam dengan 
penduduk yang heran beliau hamil tanpa suami, saya membacanya seakan-akan 
sayalah yang sedang berdialoq itu. Kalau pas baca ayat azab, wajah saya sedih, 
pas baca ayat nikmat ayat wajah saya senang, ketika ada bacaan do'a disana, 
saya seakan-akan yang sedang berdo'a itu, begitulah seterusnya, itu sebab bisa 
enak didengar telinga. 
 
AlQuran kalau dibaca dengan penuh tadabbur, serta pas makhraj dan tajwidnya, 
pasti enak kedengaran meski asal suara kita sumbang sebenarnya, apalagi bagi 
mereka yang telah dikaruniai oleh Allah Ta'ala suara yang bagus, semacam 
penyanyi itu lho. Wah..alangkah indahnya kalau kelebihan nikmat atas suaranya 
itu dipergunakan untuk membaca sambil bertadabbur AlQuran.". Itu yang selalu 
saya sampaikan pada Ibu2 yang mereka memang bagus suaranya saya dengar, namun 
masih terbata-bata.
 
Akhirnya sang Ibu semangat, mereka rajin membaca, dan latihan terus. Mulanya 
malu-malu, pelan-pelan, sekarang alhamdulillah sudah berani, sebab PD(Percaya 
Dirinya) sudah ada. Timbulkan PD dulu, itu yang terpenting. MasyaAllah, rasanya 
tidak sampai dua minggu, sangat-sangat jauh perubahan bacaan mereka.
 
Itu semua karena apa? Karena mereka yang membaca terbata-bata, tidak dihinakan, 
tidak diejek, namun dihargai sisi kelebihan mereka, serta memang harus bisa 
sabar menghadapinya.
 
Sekali-kali, aku menjelaskan, kenapa dalam AlQuran ada tanda waqaf(berhenti) 
dengan kode "La"(dalam bahasa Arab), atau tanda "Shad-Lam Ya" dan seterusnya.
 
Terkadang aku juga memberikan penjelasan kenapa membacanya jangan sampai salah, 
panjang pendek baris akhirnya, dan seterusnya, karena akan bisa merubah 
artinya. Sambil saya memberikan contoh ketika mereka mengalami kesalahan 
membacanya.
 
Salah satu contoh, ada yang membaca ;"Qaala" dengan dipanjangkan huruf lamnya 
"Qaalaa". Artinya jadi lain saya bilang. Seharusnya Allah (sendiri) yang 
berfirman. kalau dibaca panjang maka bisa menjadi Allah(dua orang dalam berkata 
itu). naudzubillahimndzal ik. 
 
Begitupun dengan tanda baca berhenti semacam "Laa"(disana kita tidak boleh 
berhenti, tetapi harus di lanjutkan bacaannya, dan memulainya jangan dari 
kalimat setelah tanda berhenti itu, harus dari sebelumnya. Kenapa?
 
Salah satu contoh ketika ada yang membaca tanda waqaf diberhentikan itu.
 
Pada Q.S AlBaqarah 145. "Walainittaba' ta ahwaaahum, mimba'dhi maajaaaka minal 
ilmi(ada tanda Laa) disini, kemudian ayat selanjutnya innaka 
idzallaminaddzhaali min.
 
Kalau kita berhenti sebelum kalimat "Innaka idzallaminadzzalimi n" setelah 
kalimat Mimba'dhi maajaaaka minal ilmi (akan tidak enak kedengaran artinya.
 
Apalagi,..
 
Kalau saja kita memulai ayat setelah tanda waqaf tadi dari "Innaka 
idzallamindzaalimii n"
Wah,..saya jelaskan pada ibu2. Artinya :"Engkau wahai (Muhammad SAW) 
sesungguhnya dari orang-orang yang dzalim?!
 
Aneh dan luar biasa artinya bukan? Masak kita bilang nabi Muhammad kita 
termasuk dari orang-orang yang dzalim?
 
Nah, itu sebabnya kita harus membacanya dari sebelum kalimat tersebut. yang 
mana artinya adalah :"(wahai Muhammad), sesungguhnya engkau, apabila mengikuti 
hawa nafsu mereka, setelah datang kebenaran ilmu itu kepada kamu,maka (apabila 
kamu ikuti mereka), sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang dzalim.
 
Jadi, bacaan dalam ayat ini diberi tanda "Laa", karena memiliki hikmah 
tersendiri. Begitupun tanda-tanda bacaan yang lain. Semua saya jelaskan sambil 
membaca AlQuran tadarrusan tersebut. Inilah yang membuat lama bacaan tadarrusan 
kami.
 
Terkadang penafisrannya saya jelaskan, terkadang qawaidnya. Semacam didalam 
AlQuran tidak ada barisnya diawal kalimat(seperti fi'il amr(perintah) ). 
Didalam AlQuran sering tak ditulis baris awalnya tersebut. Sehingga ibu-ibu 
suka bingung bagaimana membacanya yang benar. Disanalah saya menjelaskan 
kuncinya. Yaitu dengan menjelaskan nahu/sharafnya.
 
Dan hal ini saya jelaskan sediki-sedikit dan sambil lalu saja, agar mereka 
benar-benar membaca dengan tadabbur serta tidak salah lagi. Alhamdulillah 
ternyata metode ini cukup jitu juga. Selain kita bisa mencapai target, yang 
kurang bacaannya dari awal tadi, sungguh luar biasa sudah bagus. Ternyata 
segala yang berat itu bisa jadi ringan, kalau dikerjakan dengan sungguh-sungguh 
dan tekad yang bulat, keinginan yang kuat.
 
Yang suka baca buru-buru/kencang- kencang, saya minta mereka agar lambat 
sedikit. yang terlalu berirama, sehingga bisa merusak panjang pendek, 
dengungnya dan lainnya, saya minta mereka pelan-pelan, baca dengan tartil. 
Karena yang disuruh dalam AlQuran adalah "WarattililQuraana tartiilaa"(bacalah 
AlQuran dengan tartil), bukan dengan Irama yang berlebihan. Irama bagus, 
sepanjang makhraj dan tajwidnya benar tidak apa-apa saya jelaskan itu. Yang 
agak susah adalah merubah lidah mereka karena terbawa bahasa daerah sejak 
kecilnya. begitupun masih juga bisa dirumah, asal tahu betul letak tempat 
keluar huruf serta latihan yang sungguh-sungguh.
 
Ini, adalah kali pertama saya membimbing ibu2 membaca AlQuran. Biasanya metode 
pengajaran ini, saya ajarkan pada anak-anak saya saja. Karena selama ini, saya 
tidak diminta oleh mereka, yah..saya segan menawarkan diri. Saya hanya pengikut 
saja selama ini, ada gurunya yang membimbing, tapi jarang guru yang memberikan 
metode semacam ini, paling-paling hanya dibenarkan barisnya saja. Namun, 
setelah mereka meminta saya, baru metode pengajaran ini yang saya berikan buat 
orang-orang yang lanjut usiapun ternyata bisa. Bukan hanya untuk setingkat 
anak-anak saja.
 
Mungkin, pengalaman saya ini bisa bermanfaat untuk yang lainnya dalam 
memberikan pengajaran AlQuran pada mereka yang masih terbata-bata. Agar bisa 
AlQuran kita ini berkembang meluas dan ajaran Islampun melebar keseluruh 
penjuru dengan kecintaan pada kalam illahi yang maha luar biasa ini.hal ini 
dalam memenuhi perintah Allah dan rasulNya. Amar ma'ruf serta sampaikan olehmu 
dariku walaupun satu ayat.
 
 Setelah beberapa orang ibu-ibu meminta saya melanjutkan setelah lebaran nantik 
tadarrusan AlQuran ini, tidak hanya dalam Ramadhan saja. Saya hanya 
menyampaikan :"Saya Suatu saat kelak, kalau saya ada waktu, kita mencoba 
bersama-sama menguak mukjizat AlQuran ini, dari kemuliaan dan kehebatan sisi 
ta'birnya, tarbiyah tamsiliyyahnya, tarbiyayyah hiwarnya(tanya jawab) dan 
lainnya. Karena setiap sudur mata memandang AlQuran penuh keistimewaan dan 
mu'jizat" .
 
Wassalamu'alaikum. Kairo, Rahima



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke