Wa'alaikum salam wr wb,
Di Indonesia dengan mayoritas madzhab Imam Syafi'ie,
Amin dibaca dengan keras setelah surat Al Fatihah yang
dibaca keras/jahr seperti pada raka'at 1 dan 2 shalat
Subuh, Maghrib, dan Isya.

Di bawah artikel tentang ucapan Amien dalam shalat:
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw.
bersabda: Bila Imam membaca: Amin, hendaklah kalian
membaca: “Aamiin”. Karena sesungguhnya barang
siapa yang bacaan aminnya bertepatan dengan bacaan
amin malaikat maka dosanya yang lalu akan diampuni.
(Shahih Muslim No.618)

http://www.eramuslim.com/ustadz/shl/8322215654-membaca-amin-setelah-imam-selesai-fatihah.htm
Ustadz Menjawab
bersama Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan
Membaca Amin Setelah Imam Selesai Fatihah

Minggu, 23 Mar 08 07:23 WIB

Kirim teman

Assalamu'alikum wr. wb.

Saya ingin tanya kenapa pertanyaan saya tentang hukukm
membaca amin setelah alfatihah dalam salat berjamaah
belum di jawab?????

Saya ingin tau secepatnya.

Mohon maaf kalau saya terlalu lancang. sebelumnya saya
ucapkan terima kasih. assalamu'alikum wr. wb.

Husein Abdullah
wendry
Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kami mohon maaf seandainya belum dapat secara langsung
menjawab setiap pertanyaan yang masuk. Sebabnya kali
ini bukan apa-apa, karena kami harus melakukan studi
literatur yang agak panjang ke sana kemari.

Dan akhirnya setelah kami rasa cukup untuk dijadikan
sebuah jawaban, meski tidak sempurna, barulah kami
memberanikan diri untuk menyampaikan jawabannya.
Sekali lagi mohon maaf atas keterlambatan jawaban.

Kesimpulan singkatnya dari hukum membaca lafadz
'Aamiin' setelah Al-Fatihah dalam shalat adalah sebuah
perkara khilafiyah. Para ulama ternyata memang berbeda
pendapat ketika bicara masalah yang satu ini.

Sebagian besar ulama (jumhur) mengatakan bahwa
mengucapkannya secara jahr (suara dikeraskan termasuk
sunnah, sedangkan sebagian lainnya mengatakan bahwa
lafadz itu dibaca sirr (lirih) saja dan itu lebih
utama.

1. Mazhab Abu Hanifah

Dalam hal ini mazhab Abu Hanifah termasuk yang berbeda
dengan pendapat mazhab jumhur lainnya. Dalam pandangan
mazhab ini, bacaan Amin lebih utama untuk dilirihkan,
tidak dibaca keras sebagaimana yang umumnya kita kenal
selama ini.

Hal ini cukup menarik, saat kamike Turki dan shalat
berjamaah Maghrib di masjid Abu Ayyub Al-Anshari dan
shalat Shubuh di masjid dekat hotel, kami sempat
sedikit terkecoh. Sebagai bangsa Indonesia yang
tinggal bersama dengan kalangan mazhab Syafi'i, begitu
mendengar imam selesai mengucapkan lafadz
waladhdhaaalliin, maka secara naluri kami pun langsung
siap-siap mengucapkan Amin dengan suara keras.

Tapi apa lacur, ternyata suasana tetap hening, sepi
dan tak seorang pun yang melafadzkannya. Sempat
celingukan juga sambil bingung sebentar, tapi setelah
itu langsung tersadar. Oh, iya. Ini kan Turki. Kok
bisa lupa, mereka ini kan bermazhab Hanafi. Dan dalam
pelajaran waktu kuliah dulu, kami jadi teringat bahwa
dalam mazhab Abu Hanifah memang tidak disunnahkan
mengeraskan bacaan Amin dalam shalat berjamaah.

Yah, sudah tidak apa-apa. Malu-malu sedikit kan tidak
apa-apa. Anggap saja kami ini turis nyasar. Namanya
juga turis, wajar dong kalau keseleo lidah.

Terus Anda lalu penasaran, kenapa kok mahzab Hanafi
ini tidak menyunnahkan untuk menjahar lafadz Amin? Apa
landasannya?

Begini, sebagaimana yang dituliskan oleh Al-Qurthubi
dalam kitab tafsir yang fenomenal, Al-Jami' li Ahkamil
Quran, kita menemukan sedikit penjelasan, tepatnya
kalau kita buka pada jilid 1 halaman 200. Di sana
dijelaskan bahwa ternyata mereka punya landasan dan
berhujjah dengan ayat Al-Quran berikut ini:

Berdo'alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan
suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang melampaui batas .(QS. Al--A'raf: 55)

Makanya para ulama mazhab ini tidak mengajarkan bacaan
doa yang dikeraskan. Sebab bagi mereka, kedudukan ayat
ini mengikat dan lebih kuat dari hadits nabawi.
Sehingga tidak dianjukan untuk berdoa dengan lafadz
yang dikeraskan.

Dan karena lafadz Amin itu bagian dari doa, maka yang
lebih utama tidak dibaca keras, cukup dibaca secara
lirih saja.

Mungkin anda akan protes, lho yang merupakan doa
itukan lafadz surat Al-Fatihah-nya, sedangkan lafadz
'Amin' itu kan bukan doa?

Maka kalangan mazhab Hanafi menjawab bahwa mengucapkan
lafadz 'Amin' itu juga bagian dari doa. Sebagaimana
firman Allah SWT:

AlIah berfirman, "Sesungguhnya telah diperkenankan
permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua
pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu
mengikuti jalan orang-orang yang tidak
mengetahui".(QS. Yunus: 89)

Ayat ini sedang mengisahkan Musa dan Harun
'alaihimassalam yang berdoa. Dan diriwayatkan meski
dengan sanad yang dhaif sekali, bahwa Musa yang
mengucapkan lafadz doa itu dan Harun yang mengaminkan.
Makanya, mengucapkan lafadz 'Amin' pun termasuk
berdoa.

2. Mazhab Jumhur Ulama

Adapun hujjah jumhur ulama tentang kesunnahan
mengeraskan bacaan 'Amin' ada banyak, di antaranya
hadits yang berstatus muttafaqun 'alaihi berikut ini:

إذا أمن الإمام فأمنوا فإنه من
وافق تأمينه تأمين الملائكة
غفر له ما تقدم من ذنبه

Apabila Imam mengucapkan Amin maka ucapkanlah Amin.
Siapa yang amin-nya sesuai dengan amin para malaikat,
diampuni dosanya yang sudah lewat. (HR Bukhari dan
Muslim)

Namun di kalangan jumhur ulama sendiri ternyata masih
juga ada perbedaan, yakni apakah imam ikut mengeraskan
juga bacaan Amin-nya ataukah membaca dengan sirr.

    * Menurut mazhab Asy-Syafi'i dan Maliki dalam
riwayat madaniyyin, Imam hendaknya ikut mengeraskan
juga bacaan 'Amin' itu, sehingga terdengar juga oleh
makmum.
    * Sedangkan dalam pandangan Ath-Thabari dan Ibnu
Hubaib, imam tidak perlu mengucapkannya secara keras,
demikian juga pandangan kalangan Kufiyyin dan
Madaniyyin.
    * Sedangkan dalam pandangan Ibnu Bukair, imam
boleh memilih antara mengeraskan bacaan amin atau
melirihkannya.

Namun yang lebih kuat dari perbedaan pandangan ini
menurut kami adalah pendapat pertama, karena ada
hadits yang kuat dan bisa menjadi dasarnya.

عن وائل بن حجر قال: كان رسول
الله إذا قرأ ولاالضآلين قال:
آمين يرفع بها صوته

Dari Wail bin Hujr berkata bahwa Rasulullah SAW kalau
membaca Waladhdhaallin, maka beliau mengucapkan Amin
dengan suara yang keras. (HR Ad-Daruquthny dengan
sanad yang shahih menurutnya)

Rasanya sampai di sini dulu penjelasan yang teramat
singkat tentang hukum mengucapkan lafadz 'amin' di
belakang imam shalat. Dan yang mana saja dari pendapat
di atas, tidak ada yang berbenturan secara prinsip
sehingga mengakibatkan dosa besar. Ini hanya sekedar
perbedaan yang tidak terlalu prinsip, yakni tentang
apakah bacaan amin itu sebaiknya dikeraskan atau
dilirihkan.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
--- sidiq rohmadi <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

> assalamualaikum wr.wb.salam kenal untuk semua.aq da
> pertanyaan yang penting untuk dijawab.apaka bacaan
> amiin selalu dibaca setelah alfatehah dalam sholat
> berjamaah baik rekaat 1,2,3,4.mohon
> jawabannya.terimakasih.wasalam
> 
> 
> 
>      
>
___________________________________________________________________________
> Nama baru untuk Anda! 
> Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain
> baru @ymail dan @rocketmail. 
> Cepat sebelum diambil orang lain!
> http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
> 
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
> 
> 


===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi selengkapnya ada di:
http://www.media-islam.or.id

Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://syiarislam.wordpress.com


      
___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke