Insiden pembagian zakat di Pasuruan Jawa Timur yang menelan korban 21 orang, telah membuat banyak orang tersentak dan menimbulkan kepilu di hati. Banyak pelajaran dan hikmah yang dapat kita jumpit dibalik tragedi ini. Masih teramat banyak saudara-saudara seagama sebangsa setanah air ini yang ternyata sangat begitu membutuhkan uluran bantuan, sehingga rela antre berdesak-desakan meski mereka menyadari hal itu dapat mengancam keselamatan dirinya. Demi beberapa lembaran puluhan ribu rupiah untuk mencukupi kebutuhan dasar hidup mereka maka mereka terpaksa harus rela menjalani itu semua. Bukan bermaksud menyepelekan dan mengecilkan jumlah uang beberapa lembar puluhan ribu rupiah yang akan diterima masing-masing orang, namun jumlah itu menjadi sangat ironis jika dibandingkan dengan jumlah nominal uang yang dikabarkan sering dibagi-bagikan sebagai ‘hadiah’ kepada para Politikus Parpol-Parpol yang duduk di kursi Parlemen. Selain itu, tragedi itu seharusnya juga mengetuk hati sanubari kita. Adakah kita sudah menunaikan kewajiban zakat kita ?. Banyak orang yang merasa bahwa mengeluarkan zakat adalah suatu kerelaan kita, suatu kebaikan hati kita, suatu kedermawanan kita. Padahal sesungguhnya agama Islam mengajarkan bahwa zakat yang kita keluarkan itu memang bukanlah hak kita, memang bukan milik kita. Islam mengajarkan bahwa sesungguhnya tak ada sebutan dermawan bagi yang orang mengeluarkan zakat. Allah SWT menitipkannya kepada kita untuk mereka yang berhak, oleh sebab itu zakat adalah kewajiban, dan tak ada ‘terimakasih’ untuk sebuah kewajiban. Seharusnya dengan optimal-nya peran amil zakat maka tak ada lagi orang per orang secara pribadi yang mau bersusah payah membagikannya sendiri secara massal seperti itu. Apalagi agama Islam mengajarkan untuk menghilangkan ‘riya’ dalam mengerjakan suatu amal, apalagi dikatakan bahwa tak akan masuk kedalam surga bagi mereka yang masih ada riya barang sezarah di dalam hatinya. Selainnya itu, juga menghentakkan kesadaran kita, bahwa saat ini sudah sangat mendesak perlunya gerakan optimalisasi peran Lembaga Amil Zakat dan Baitul Mal. Optimalisasi hanya dapat dicapai jika didukung oleh perangkat Undang-Undang Negara yang mengaturnya secara formal. Namun menjadi ironis, jika Undang-Undang yang akan mengaturnya justru mendapatkan banyak penolakan dan penentangan di Parlemen oleh Parpol-Parpol. Zakat adalah salah satu instrumen yang efektif yang teramat sangat banyak kemaslahatannya bagi kesejahteraan seluruh umat manusia, antara lain untuk memperdekat jurang yang memisahkan jarak antara si Kaya dan si Miskin, implementasi nyata dari bentuk solidaritas antara mereka yang ber-Punya dengan mereka yang Fakir, instrumen pemerataan kesejahteraan yang berkeadilan. Maka menjadi ironis, karena bagaimana kita dapat tega hati mengklaim siri kita sebagai pembela wong cilik jika justru diri kita terjangkiti phobia sehingga kita pun menjadi sangat antipati terhadap formalisasi zakat dalam kelembagaan bernegara ?. Sayangnya, tragedi ini terjadi di ‘tahun politik’ sehingga memancing juga banyak komentar dan silang sengketa dalam menanggapi peristiwa ini yang menjurus ke arah nuansa politisasi tragedi. Memang benar bahwa tak ada yang disebut sebagai sebuah kebetulan dari setiap peristiwa, karena tak ada selembar daun jatuh dari tangkainya yang tidak karena seizin Allah SWT. Semua atas kehendak-Nya, semua atas izin-Nya, walau tidak semua atas ridho-Nya. Namun menjadi lengkap ironisnya karena berkait dengan tahun politik itu, tragedi pembagian zakat ini terjadi disaat sebagian besar sumberdaya umat sedang dikerahkan untuk mendukung perjuangan politik dan kampanye. Lebih ironisnya lagi pada saat yang sama, para politikus justru sedang asyik menghambur-hamburkan dana yang begitu besar untuk meraih kursi kekuasaan tahta duniawi. Berkait dengan bersamaan era tahun politik itu, maka memang menjadi tak salah juga bila ada yang kemudian menyoroti peristiwa tragedi pembagian zakat di Pasuruan ini dari sisi permasalahan tingkat kemiskinan dan tingkat kesejahteraan rakyat. Diceritakan pada zaman kalifah Harun Al Rasyid, seorang tokoh di pucuk tampuk pimpinan negara yang alim juga soleh lagi arif bijaksana dan adil serta mensejahterakan seluruh rakyatnya. Sehingga pada masa pemerintahannya justru aparat amil zakat mengalami kesulitan mencari orang yang berhak atas zakat yang dikumpulkan. Berkait dengan itu maka memang benar bahwa tragedi Pasuruan ini mungkin tak akan terjadi jika keadaan bangsa negara kita seperti keadaan kesejahteraan di zaman pemerintahan kalifah Harun Al Rasyid tersebut. Namun apa mau dikata, seingin apapun sebesar apapun harapan seluruh rakyat, namun kenyataannya sampai hari ini bangsa negara ini belum berhasil menemukan piminan negara yang seperti kalifah Harun Al Rasyid. Semoga keinginan itu bukanlah utopia yang seperti menunggu datangnya godot. Kembali ke soal silang komentar yang kata orang bernuansa politis, jika urusannya hanya saling klaim mana yang lebih mensejahterakan antara era pemerintahan dirinya dengan era pemerintahan pendahulunya, maka sesungguhnya saling klaim itu tidaklah terlalu penting. Mengapa ?. Karena sesungguhnya seluruh rakyat Indonesia orang per orang tak perduli intelektual atau petani tak berpendidikan pun dapat dengan sangat mudah memberikan penilaiannya. Penilaian yang sangat subyektif orang per orang, pada pemerintahan era siapa yang lebih sejahtera mana kehidupan pribadinya ?. Cuma yang jadi pertanyaan, apakah penilaian itu juga akan dicerminkannya dalam pemberian suaranya di Pemilu & Pilpres mendatang ?. Itu soal lain, karena justru disitulah letak misterinya, justru disitulah keunikan dari perilaku konstituen di Indonesia. Wallahu’alambishshawab. *** Insiden pembagian zakat yang menewaskan 21 orang di Pasuruan menunjukkan keterpurukan ekonomi bangsa Indonesia. Warga rela antre bertaruh nyawa hanya untuk uang puluhan ribu rupiah. Hal itu diungkapkan Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) yang juga Peneliti Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS) Pascasarjana, Prof Dr Achmad Mursyidi di kantornya, Jl Teknika Utara, Yogyakarta, Selasa (16/9/2008).
"Sayangnya, dia tidak memperhatikan perkembangan masyarakat kita yang semakin terpuruk kondisi ekonominya sehingga yang datang cukup banyak," kata Mursyidi. Menurut Mursyidi, gaya pembagian zakat yang dilakukan H Syaichon (sebelumnya ditulis Syaikon), pengusaha asal Pasuruan itu tidak boleh terjadi lagi. Zakat sebaiknya disalurkan melalui lembaga resmi yang ada. "Cara seperti Haji Syaichon itu adalah cara lama yang ada di masyarakat. Lebih baik diserahkan pada lembaga amil zakat yang bisa mengelola", kata Mursyidi. Mursyidi mengakui untuk mengubah cara-cara itu memang tidak mudah. Namun demikian, tetap harus dilakukan agar kasus Pasuruan itu tidak terjadi lagi. Perlu ada sosialisasi yang cukup mendalam tentang peran lembaga amil zakat sebagai pengelola zakat. "Dipercayakan saja pada lembaga amil zakat, justru yang dianjurkan oleh agama itu memberi sesuatu tanpa diketahui orang lain", katanya. Insiden Pasuruan : Bentuk Keterpurukan Ekonomi Bangsa. 16/09/2008 . 18:58 WIB. http://www.detiknews.com/read/2008/09/16/185849/1007403/10/insiden-pasuruan-bentuk-keterpurukan-ekonomi-bangsa *** Insiden pembagian zakat di Pasuruan merebak menjadi komoditas politik, termasuk pro dan kontra soal angka kemiskinan di Indonesia. Dengan mengangkat isu keraguan terhadap angka kemiskinan versi pemerintah, para elite politik dinilai justru memanfaatkan musibah itu sebagai manuver politik. "Sangat disayangkan bila musibah yg menimpa saudara-saudara kita di antrian zakat di Pasuruan, oleh politisi partai tertentu lagi-lagi dipakai guna bermanuver politik, yakni dengan menyatakan keraguan pada angka kemiskinan versi BPS yg saat ini 34,9 juta", kata salah satu Ketua DPP Partai Demokrat Darwin Zahedy Saleh kepada wartawan di Jakarta, Selasa (16/9/2008). Darwin menilai, partai seperti PDIP dan kalangan sejenisnya ingin lebih percaya pada angka kemiskinan versi Bank Dunia, misalnya, yang menggunakan pengeluaran US$ 2/hari/kepala yang di tahun 2007 berjumlah 105,3 juta orang. Sikap demikian tidak konsisten dan tidak memberikan teladan pada rakyat. Darwin mengatakan, mungkin PDIP tidak sadar bahwa di tahun 2004 (masa akhir tahun Mega) angka kemiskinan versi BPS adalah 36,2 juta orang atau 16,7 persen dan versi Bank Dunia 109,1 juta orang. "Artinya selama dalam pemerintahan SBY, Alhamdulillah sudah menurunkan angka kemiskinan dari zaman Mega, baik itu versi BPS pada tahun 2007 menjadi 34,9 juta (15,4 persen) maupun Bank Dunia menjadi 105,3 juta," jelas Ketua Lembaga Kajian Strategis Indonesia Satu (LKSIS) ini. Lantas Darwin mengajak semua pihak untuk berjuang bersama-sama demi kepentingan rakyat. "Hentikan bermanuver politik dalam segala situasi, apalagi ketika musibah baru menimpa saudara kita. Mari tempatkan perdebatan statistik di ranah metodologis. Jangan dicampuradukkan dengan hal yang sesungguhnya tidak kontekstual," pintanya. Darwin menerangkan, kasus antrian zakat yang menewaskan puluhan orang ini mencerminkan tidak becusnya aparat setempat dalam melihat situasi. "Aparat seharusnya bersikap proaktif, sekalipun tidak dilapori", tandasnya. Insiden Zakat Pasuruan = PD : Musibah Jadi Manuver Politisi. 16/09/2008 . 22:37 WIB. http://www.detiknews.com/read/2008/09/16/223739/1007446/10/pd-musibah-jadi-manuver-politisi *** Tragedi pembagian zakat di Pasuruan, Jawa Timur membuat prihatin semua pihak termasuk PDIP. Pemerintah SBY dinilai gagal meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu perlu dilakukan audit ulang terhadap kemiskinan factual agar tidak dimanfaatkan untuk kampanye politik tertentu. “Kondisi ini menunjukkan realitas kemiskinan faktual yang semakin meningkat di tengah-tengah masyarakat kita. Maka kami mengusulkan dalam sidang paripurna, agar dilakukan audit kembali terhadap kemiskinan faktual di tengah rakyat kita,” kata anggota FPDIP Hasto Kristianto dalam sidang paripurna di gedung DPR Senayan Jakarta selasa (16/9/2008). Menurut Hasto, realitas tragedi Pasuruan sungguh berbeda dengan teori yang disampaikan oleh Presiden pada saat penyampaian nota keuangan tanggal 15 Agustus 2008 lalu. Klaim SBY yang menyatakan bahwa angka kemiskinan tahun 2008 ini adalah angka kemiskinan terendah, baik besaran maupun prosentasenya selama 10 tahun terakhir. “Melihat fakta-fakta kemiskinan faktual yang semakin kuat, inflasi makanan yang begitu besar, di mana inflasi mencapai lebih dari 11,3 % dari bahan makanan, dari pendidikan mencapai 8,8%, maka kami percaya bahwa klaim yang disampaikan oleh Presiden dalam pidato kenegaraan tanggal 15 Agustus yang lalu, dipatahkan dengan realitas antrean kemiskinan dan tragedi Pasuruan”, kata Hasto. Sebagai konsekuensinya, Presiden SBY diminta mencabut klaimnya dan memperbaiki data yang ada dengan cara memperbaharui sesuai fakta lapangan. "Ketika kemiskinan rakyat telah kita kristalisasi demi kepentingan politik tebar pesona, demi kepentingan klaim keberhasilan secara sepihak, Kami meminta kepada Presiden, agar melakukan suatu koreksi terhadap klaim keberhasilan kemiskinan yang dinyatakan rendah selama 10 tahun terakhir”, pungkas Hasto. Insiden Zakat Pasuruan = PDIP Minta SBY Audit Ulang Kemiskinan Faktual. 16/09/2008 . 18:03 WIB. http://www.detiknews.com/read/2008/09/16/180333/1007386/10/pdip-minta-sby-audit-ulang-kemiskinan-faktual *** Insiden pembagian zakat yang menewaskan puluhan orang disayangkan banyak pihak. Wakil Presiden Jusuf Kalla menyarankan agar pembagi zakat mengerti bagaimana mengorganisir massa dengan aman. JK juga mencontohkan pembagian bantuan langsung tunai (BLT) yang aman meski jumlah penerimanya 19 juta orang. Hal ini dikatakan Jusuf Kalla saat menggelar konferensi pers di Istana Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (16/09/2008). "Contohi juga BLT. 19 juta orang yang menerima tapi berlangsung aman-aman saja," tutur Kalla. Menurut Kalla, pembagian BLT tidak memakan korban jiwa karena pengorganisasiannya teratur. "Pakai kupon, dan pembagiannya memang tersebar, di kantor pos," kata Kalla. Meski demikian, Kalla mengakui jika pembagian BLT skalanya berbeda dengan pembagian zakat perorangan. "Berbeda, karena tersebar di seluruh provinsi," ucap Kalla. Menangggapi tentang banyaknya pihak yang menjadikan insiden zakat Pasuruan sebagai parameter bahwa kemiskinan di Indonesia meningkat, JK menyikapinya dengan serius. "Kita tidak menutup mata bahwa kemiskinan itu masih ada. Masih ada 15 persen atau sekitar 30 juta orang," beber Kalla. Namun Kalla menampik jika dikatakan bertambah. "Tapi tidak bertambah, begitu-begitu saja. Dari dulu bapak saya sudah bagi zakat, dan ribuan orang datang," cerita Kalla. Insiden Zakat Pasuruan = Kalla : Contohi BLT, Meski Penerimanya 19 Juta Tetap Aman. 16/09/2008 . 23:06 WIB. http://www.detiknews.com/read/2008/09/16/230648/1007448/10/kalla-contohi-blt-meski-penerimanya-19-juta-tetap-aman *** Musibah tewasnya 21 orang saat antri pembagian zakat di daerah Pasuruan Jawa Timur harus mengetuk pintu hati para petinggi di negeri ini. Para politisi pun diminta untuk lebih memperhatikan rakyat daripada menghambur-hamburkan uang untuk biaya kampanye. "Ini merupakan potret buram kemiskinan yang harus menggugah hati nurani setiap pemimpin dan orang-orang kaya di negeri ini," ujar Ketua FPKS DPR RI, Mahfud Sidik dalam pesan singkat yang dikirim kepada detikcom Senin (15/9/2008). Mahfud menambahkan bahwa apa yang terjadi di Pasuruan sungguh bertolak belakang dengan apa yang dilakukan para elit-elit politik di negeri ini. "Ironisnya pada saat yang sama, para politisi sedang menghambur-hamburkan dana yang begitu besar untuk meraih kursi kekuasaan," ujar politisi muda ini. Selain itu menurut mahfud peristiwa ini merupakan gambaran nyata tentang melemahnya spirit solidaritas sosial dan kepedulian sosial. Masyarakat miskin menjadi sangat bergantung pada pola bantuan yang didistribusikan secara massal pada waktu-waktu tertentu. Menurutnya, hal seperti ini tidak efektif mengentaskan kemiskinan. Resikonya justru lebih besar. "Resiko yang timbul dari kegiatan seperti ini tentu bukanlah hal yang bisa dianggap enteng," ungkapnya. Insiden Maut Zakat Pasuruan = FPKS : Politisi Jangan Cuma Hamburkan Uang Untuk Kampanye. 16/09/2008 . 01:02 WIB. http://www.detiknews.com/read/2008/09/16/010204/1006730/10/fpks-politisi-jangan-cuma-hamburkan-uang-untuk-kampanye --------------------------------- Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah klik http://www.SyaikhAchmadSyaechudin.org --------------------------------- --------------------------------- Nama baru untuk Anda! Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. Cepat sebelum diambil orang lain! [Non-text portions of this message have been removed]

