Bismillaahirrahmaanirrahiim
 
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
 
Liburan dan Lebaran keluargaku di Mesir
 
Kedutaan sudah mulai liburan semenjak tanggal 26 September sampai tanggal 6 
Oktober. (tanggal 26-27 Sept, memang hari libur di Kedutaan, sementara tanggal 
6 Oktober adalah hari libur orang Mesir, jadi kita libur juga). 
 
Meskipun libur, sudah menjadi kebiasaan kerja suamiku, ia tetap diminta datang 
kekantor, karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
 
 Setelah saya tanya, kenapa setiap kali beliau libur, ia sering datang juga 
kekantor dan ada kerjaan terus, sementara kalau pegawai di Indonesia, liburan 
itu yah liburan, ngak ada kerjaannya?"
 
Beliau menjawab :"Memang begitu suasana kerja di LN(kedutaan), tidak sama 
dengan di Indonesia. Di Kedutaan ini, banyak sekali pekerjaan, sehingga waktu 
istirahatpun sangat sulit, dan ini tentu tidak semua bidang, kebetulan aja 
dibidang ini seperti ini." (Saya bisa mengerti dan faham, dan harus 
difaham-fahamkan hati itu, dan harus bisa menerima kondisi kerja suami memang 
begitu).
 
Hari pertama lebaran saja, seharusnya saya dan keluarga bisa kumpul dan santai, 
namun, suami saya tetap tugas, karena Dubes(Duta Besar), buka rumah untuk 
seluruh masyarakat Indonesia Cairo(Open House). Beliau dari pagi, selesai 
shalat 'Ied(Rabu, 1 Syawal 1429H), langsung ke Kedutaan, sementara saya bersama 
anak-anak pulang kerumah.
 
Sore, pukul 4, saya bersama anak-anak silaturrahmi ke kedutaan, disana banyak 
mengumpul masyarakat Indonesia, mahasiswa/I, juga para istri berkebangsaan 
Indonesia yang suaminya orang asing(non Indonesia).
 
Selama 7 hari, boleh dikatakan, asap dapur saya tidak mengepul, dengan arti 
kata, saya tidak makan siang dan malam dirumah, tetapi diluar rumah. Tiga hari 
silaturrahmi di rumah-rumah home dan local staff, dari pagi-malam(di kairo, 
memang kebiasaan seperti itu, banyak yang open house, dan silaturrahmi lebaran 
gentian dari pagi-malam, dan sudah kebiasaan selalu makan bermacam-macam 
menunya).
 
Hari Sabtu-Minggu, kami keluar kota, karena suamiku ditugaskan ke Tanta. Nginap 
di hotel yang dekat dengan mesjid serta maqam Syeikh Al Badawi, ulama asal Fas, 
marokko, dari keturunan Fathimiyyah, masih ada hubungan tali kekerabatan dengan 
Imam Ali radhiallahu'anhu.
 
Syeikh Babawi ini, terkenal dengan "Selalu menutup wajahnya", dan memiliki 
karamah cukup tinggi.
 
Dalam sebuah cerita, pernah suatu kali temannya bermimpi ketemu Syeikh Badawi 
ini, kemudian dalam mimpi itu Syeikh Badawi berpesan, bahka ia harus menghemat 
bahan makanan pokoknya, namun harus tetap berinfaq ke faqir miskin, karena 
tahun depan akan ada masa paceklik. Dan setelah setahun kejadian dalam mimpi 
itu menjadi kenyataan.
 
Dikatakan lagi, kenapa beliau selalu menutup wajahnya. Dikarenakan pandangan 
matanya sangat tajam, dia mampu memandang sinar matahari langsung, juga apabila 
seseorang memandang beliau sinar matanya tajam. Beliau menurut buku sejarah 
yang saya baca, sampai usia sekitar 80 thn (wafatnya), belum pernah menikah 
sama sekali.
 
Dulu di mesjid Al Badawi itu, sering diadakan acara maulid atasnya setiap 
tahun, namun untuk menjaga kemurnian aqidah hal itu tidak diadakan lagi. Mesjid 
ini cukup indah dan luas. Saat kita masuk kedalamnya ada perasaan kita sedang 
memasuki masjidil Haram di Mekkah, karena kondisi ramai pengunjung, dan 
hamam(kamar mandi) untuk berwudhuk pr/lk campur(untuk wudhuk, bukan toilet). 
Kami shalat Subuh, Dhuhur dan maghrib disana selama dua hari itu. Shalat Ashar 
cari mesjid yang lain, di mesir memang banyak mesjidnya dan berdekatan lagi, 
besar-besar dan megah bangunannya.
 
Saya memang malas berwudhuk di Mesjid yang ada di sebahagian mesjid yang ada 
Mesir ini, karena Toiletnya sering kotor, saya ngak kuat baunya, bendingan 
tidak buang air, bendingan nahan, ketimbang harus buang air ditempat yang kotor 
saya pikir.
Dan kekurangan dari mesjid megah ini adalah kebersihannya sangat kurang saya 
lihat, penjagaan sangat minim, padahal itu mesjid sangat Megah dan sangat indah.
 
Minggu siang kita pulang setelah berziarah lagi sebentar ke maqam dan mesjid Al 
Badawi itu. Langsung menuju kota Cairo, dan makan siang di Mac Donald.Malamnya 
baru saya mulai masak, setelah seminggu ngak ada masak-masak. Eh,.pas selesai 
masak ada mahasiswa yang telpon bilang mo datang kerumah, kebetulanlah saya 
pikir, coba kalau belum masak, kan ngak enak orang datang kerumah ngak 
disajikan apa-apa, cuman kue doang. Entah kenapa juga, saya ingin masak malam 
itu, pingin  sambel goreng cabe hijau, saya bilang sama suami. Saya goreng 
Udang dan makan dengan sambel goreng cabai hijau, benar-benar nikmat sekali. 
 
Mahasiswa2 itu datang, pas kami baru selesai makan malam. Jadi, saat beliau 
habis nelpon dan jalan kerumah, saya cepat2 masak nasi lagi dan tambahkan aja 
lagi lauk gulai tekwan dan mie indomie, masak goreng pisang. Yah..benar2 jamuan 
yang sangat sederhana dan apa adanya saya pikir. Habis gimana lagi, kita baru 
dari luar kota dan mereka juga nelponnya hanya baru beberapa menit saja dah 
sampai rumah. Ngak sempat masak dengan menu yang macam2lah. 
 
Dan mahasiswa itu sepertinya sengaja bersilaturrahmi saat mereka tahu kita baru 
pulang betul, agar tak merepotkan tuan rumah. Namun, hati saya aja yang tak 
enak, kalau mereka tak makan dirumah, sebab mereka sangatlah baiknya selama 
ini, sudah dianggap saudara sendiri.Kekeluargaan di Rantau orang, di Luar 
Negeri itu, jauh lebih tinggi ketimbang saat kita berada di Indonesia. Ngak 
mengenal ras/suku dari mana saja, berbeda suku, namun tetap rasa persaudaraan 
itu boleh dikatakan sangat tinggi. Saya justru lebih dekat dengan orang yang 
berbeda dengan suku saya sendiri.Itu yang bikin betah saya hidup di Mesir ini. 
Suasana keIslaman, mesjid dimana-mana ada, aman, mana persaudaraan sesama 
bangsa Indonesia luar biasa nikmatnya. Bukan tidak ada perselisihan, tetap ada, 
namun tak ada rasa dendam dihati, tak ada iri dan caci maki, saling menolong, 
bercanda, benar2 bersaudara.
 
Hari Senin ini, kami juga diundang makan empek-empek/tekwan dirumah salah 
seorang rumah teman saya yang beliau ini juga bersama kami ke Tanta. Saya 
Tanya, kapan kakak bisa siapin makanannya? Beliau jawab :"Gampang Ima, tinggal 
pesan sama mahasiswa saja". Yah,..hampir rata-rata ibu2 disini, kalau ngundang 
mahasiswa/teman-temannya, pesan makanan saja. Ada juga tuh, Ibu2 yang rajin 
masak tiap hari, dan biasanya adalah Ibu2 Home staff yang punya pembantu, jadi 
merekakan ada yang membantuin.Saya yang masih belum bisa pesan makanan kalau 
mengundang orang ke rumah. 
 
Kalau mengundang orang dan makannya di mesjid baru bisa pesan, tapi kalau 
dirumah, saya lebih suka masak sendiri aja. Cuman, kalau dah umur tua begini, 
tenaga berkurang, tidak seperti ketika masih muda dulu, tenaga masih kuat, bisa 
ngundang banyak orang, sampai puluh dan ratusan, kalau sekarang maksimal saya 
hanya bisa sekali ngundang orang 30 orang itu dah maksimal, selebih itu saya 
benar2 ngak kuat, tenaga terasa sekali lemahnya.
 
Hari Selasa besok, baru kedutaan mulai masuk seperti sedia kala. Dan Ibu2 
pengajianpun mulai lagi dengan kegiatan rutin pengajiannya. Dan saya sendiri 
sepertinya, insyaAllah kalau tak ada halangan  akan siap-siap pulang ke 
Indonesia, saya ingin mengajak anak saya yang di pesantren di Indonesia, agar 
mau sekolah di Kairo lagi.
 
Wassalamu'alaikum sekedar bacaan ringan saja.
 
Mohon Maaf lahir dan Bathin
 
Rahima, Cairo 6 Oktober/6 Syawal (2008M/1429H)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke