Masalah utamanya adalah para Politikus Muslim / Elit pimpinan Parpol berasaz Islam / Elite pimpinan Parpol berkonstituen Muslim / Anggota DPR Muslim tidak menjadikan `kegundahan & keresahan' perihal soal yg pak Nizami sampaikan itu sebagai hal yang penting/urgent/prinsip di pertimbangan mereka dalam menentukan sikap politiknya. Jelas terlihat bagaimana Parpol berasaz Islam / Parpol berkonstituen Muslim pun tetap mendukung / mengelus-elus / mengkandidatkan figur para Caleg / Kandidat Capres / Kandidat Cawapres yang jelas-jelas bersikap menentang RUU Pornografi. Bahkan konon rumor gosipnya, ada kandidat Capres / Kandidat Cawapres yang modal dasarnya (untuk mendapatkan dukungan politis) adalah berkoar-koar soal penetangan dirinya terhadap RUU Pornografi agar dirinya dianggap sebagai kandidat Capres / Kandidat Cawapres paling berkomitmen terhadap Pluralisme. Kemudian apa yang dilakukan oleh Parpol berasaz Islam / Parpol berkonstituen Muslim terhadap kandidat Capres / Kandidat Cawapres itu ?. Tetap saja dielus-elus sebagai kandidat Capres / Kandidat Cawapres yang potensial. Apakah ini gejala dari ketidak nyambungan aspirasi antara konstituennya dengan Parpol pilihannya ?. Bisajadi ya memang begitu, ketidak nyambungan aspirasi. Tapi toh kita sebagai para konstituen pemilihnya juga punya andil cukup besar dalam menyumbang keadaan ketidak nyambungan aspirasi ini. Lho, kok bisa begitu ?. Ya, bisa aja, toh kita tetap saja akan memilih/mendukung/memcoblos Parpol berasaz Islam / Parpol berkonstituen Muslim yang menjagokan Caleg/Kandidat Capres / Kandidat Cawapres yang sudah terlihat jelas- jelas bersikap menentang RUU Pornografi. So, inilah Indonesia . === [EMAIL PROTECTED] Menulis : Assalamu'alaikum wr wb, Dalam demokrasi yang dipropagandakan orang2 kafir Barat, suara terbanyaklah yang menentukan. Meski kadang jika suara terbanyak itu pro Syari'ah/Islam, maka Barat beserta kaki tangannya akan berusaha menghentikannya seperti mereka menghentikan partai Islam FIS di Aljazair dan menghancurkan pemerintahan Taliban di Afghanistan. Begitu pula dengan RUU Pornografi yang telah disetujui 80% anggota DPR.
Dengan mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya, maka para penjahat/mafia pun selama bisa mengumpulkan sekitar 200 ribu suara, mereka bisa jadi anggota DPR. Jadi wakil rakyat atau pun pemimpin. Dalam Islam, seorang yang banyak pengikutnya seperti Musailamah al Kazzab atau Abdullah bin Ubay tidak bisa jadi pemimpin jika mereka tidak beriman. Dalam Islam hanya orang yang paling alim dan saleh yang boleh dijadikan Imam atau pemimpin. Bukan penjahat/mafia. Orang alim dan saleh akan berusaha mensejahterakan rakyatnya. Namun orang yang jahat akan melakukan berbagai kejahatan termasuk korupsi untuk memperkaya pribadinya. "Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin ?" [Al Maa'idah:50] Wassalam === ________________________________________ Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah klik http://www.SyaikhAchmadSyaechudin.org ________________________________________

