FYI, dari milis sebelah

 


  



Menyelamatkan Bakrie, SBY kelihatan Orde Baru sejati


Koran Sindo
20 October 2008


Seputar Indonesia - Presiden Kita

Artikel ini terbit di Koran Sindo 20 Oktober 2008 dengan judul
"Menyelamatkan Bakrie", disini dimuat dalam versi asli.


Menyelamatkan Bakrie, SBY kelihatan Orde Baru sejati

oleh: Wimar Witoelar
 
Pada saat tulisan ini dikirimkan, CNN baru mengeluarkan ringkasan hasil
polling mengenai debat presiden Amerika Serikat. Sudah selesai semua
debat calon presiden, tiga semuanya. Hasilnya dalam persentase. Untuk
debat pertama, Obama-McCain 51-31. Debat kedua, 54-30. Debat ketiga,
58-31. Menurut CNN perkiraan electoral vote adalah 277 untuk Obama dan
174 untuk McCain dengan state (negara bagian) yang tossup (bisa kesana
bisa kesini) sebanyak 87.

Amdaikata McCain menang semua tossup states, dia tetap kalah. Jadi dia
harus menang semua tossup states seperti Florida, Ohio dan North
Carolina. Tidak cukup itu, McCain harus merebut state yang diperkirakan
mendukung Obama seperti Pennsylvania dan Virginia.  Sebaliknya Obama
cukup mempertahankan posisi. Karena itu McCain agresif, Obama defensif.
Ibarat pertandingan sepakbola dimana Obama di depan 2-0 dengan sisa
waktu 10 menit. McCain harus tetap bersemangat kampanye dan
orang-orangnya harus tetap percaya diri, supaya pendukungnya tidak patah
semangat dan tetap mau mengikuti Pemilu. Obama harus tetap bersemangat
dan tidak menunjukkan rasa menang,supaya pendukungnya tetap semangat
sampai memberikan suara pada tanggal 4 November. Kalau mereka merasa
sudah menang, mungkin mereka malas memilih, karena merasa sudah pasti
menang

Di kita, posisinya agak terbalik. Yang diatas angin adalah pihak elite,
yang kalah adalah orang biasa. Kalau ikut rumus tadi, elite harusnya
tenang dan orang biasa bersikap galak. Tapi disini malah elite makin
berani menjalankan kolusi dan orang biasa makin menerima. Terbukti dalam
kolusi Bakrie dengan SBY untuk menyelamatkan perusahaannya yang ambruk.
Dalam kasus Lapindo, Bakrie tidak mau menunjukkan simpati kepada korban
luapan lumpur. Sekarang Bakrie kena musibah pasar, dia minta simpati
SBY. Minta dibantu dengan uang negara melalui BUMN. Orang biasa yang
merasa elite berkuasa, merasa tidak punya jalan keluar. Mereka merasa
terpaksa menerima  keserakahan penguasa.

Padahal kita tidak harus menerima ketidak adilan. Kita bisa mengajak
orang biasa  memberikan pendapat. Kalau tidak, orang baik makin sedikit,
dan orang jahat makin banyak. Apakah lupa munculnya Orde Baru? Tokoh
angkatan 66 ikut membenarkan Suharto. Sekarang tokoh reformasi 98 ikut
membenaran  SBY.  Dengan menyelamatkan Bakrie, SBY kelihatan Orde Baru
sejati. Tujuannya hanya mempertahankan kekuasaan, yang dipakai untuk
melindungi pengusaha yang mendukungnya. Segitiga SBY-Bakrie-Kalla
menggelinding menuju Pilpres 2009.

Krisis ekonomi dunia saat ini timbul karena terlalu banyak andalan pada
kelancaran kredit. Kredit murah membuat orang berhutang lebih besar dari
kemampuan membayar. Ketika timbul masalah dalam pembayaran kredit,
masalah itu diatasi dengan meminjam lebih banyak lagi, gali lubang tutup
lubang. Makin banyak kita punya kenalan di Bank, makin mudah meminjam
uang. Kalau kita kenal penguasa, lebih mudah lagi. Meminjam menjadi
sangat mudah kalau kita kenal Presiden yang tidak jujur. Kreditor mana
akan menolak kasih kredit kalau Presiden memberikan lampu hijau?
 
Setelah 11 September 2001, Bush menumbuhkan mesin ekonomi dengan
melancarkan kredit properti. Semua berjalan mulus sampai satu saat
kredit perumahan yang terlalu lancar di Amerika Serikat menghasilkan
kelebihan bangunan, Harga properti jatuh. Nasabah kredit tidak bisa
bayar kredit. Bank tertimpa kredit macet dan terpaksa minta pinjaman
dari lembaga keuangan lain. Sekuritas yang dibangun diatas jaminan
kredit anjlok nilainya. Perusahaan asuransi jatuh nilai assetnya.
Perusahaan asuransi AIG jatuh dan diberi bailout USD 770 Milyar. Dengan
cepat jepitan kredit merembes ke Eropah dan Asia. 

Akhirnya kemacetan kredit internasional menimpa perusahaan di Indonesia
yang punya hutang besar pada pihak asing. Tidak mampu bayar kredit,
takut disita jaminan berupa saham perusahaan, akhirnya Bakrie
bersembunyi dari kenyataan pasar dan meminta pemerintah mengatur BUMN
ikut bantu.
 
Menko Sri Mulyani tidak setuju, sebab ini intervensi pasar. Lebih baik
Bakrie jatuh daripada orang biasa ikut menderita. Pada krismon 97,
banyak perusahaan jatuh dan pimpinannya dituntut. Krismon 2008
menyangkut satu perusahaan, dan pimpinannya adalah pembantu terdekat
Presiden. Pinjaman macet Bakrie adalah untuk menjadi makin kaya lagi,
bukan untuk kesejahteraan rakyat.
 
SBY tetap merasa berhutang budi pada Bakrie dan menolak keberatan Sri
Mulyani. Beliau tidak tahu, kekuatannya dari suara rakyat, bukan dari
penguasa yang memanfaatkannya. Setelah Sri Mulyani gagal mempertahankan
sikapnya untuk melepas Bakrie ke pasar, Bakrie mulai menjual sahamnya
diam-diam. Kepada pihak asing dilakukan dengan cepat dengan kerugian
besar, karena takut kena sita jaminan. Penjualan saham kepada pihak
Indonesia yang dikoordinasi Mentri BUMN dan Sekneg akan terjadi dengan
lebih leluasa dan harga yang lebih manis untuk Bakrie.
 
Seorang pengamat cerdas mengeluhkan gagalnya reformasi 1998 dan
mengatakan: "Tahun-tahun terbuang..."  Bakrie bantu Kalla, Kalla bantu
SBY, SBY balas budi dengan mengangkat  Kalla sebagai Wakil Presiden dan
Bakrie sebagai Menko Ekuin. Ketika Bakrie gagal mengurus ekonomi, dia
tetap dipertahankan sebagai Menko Kesejahteraan Rakyat, walaupun tidak
memiliki jiwa sosial sama sekali.

Balas budi SBY kini menggunakan dalih "mendukung swasta nasional".
Ekonom dan politikus nasionalis mengatakan, Bakrie sebagai perusahaan
nasional harus dibantu melawan ancaman cengkeraman asing. Orang lupa
bahwa orang Indonesia yang menjahati rakyat perlu dikenakan sangsi
sebelum kita mempersoalkan orang asing.
Bakrie adalah pengusaha nasional tapi bukan nasionalis. Kebesaran
usahanya dan statusnya sebagai orang terkaya dicapai melalui kolusi
politik dengan SBY dan kolusi pasar dengan perusahaan luar negeri. 

Ketika krisis internasional menjatuhkan harga pasar Bakrie, dia lari
minta perlindungan kepada Presiden. Sangat menyedihkan, bahwa
orang-orang pandai di Indonesia membenarkan bantuan SBY kepada
perusahaan yang antisosial ini. Sangat menyedihkan bahwa suara jernih
Menko Sri Mulyani tidak didukung secara terbuka, hanya melalui
bisik-bisik.

Pengamat cerdas itu melanjutkan dalam email:  "Jelek-jelek,  pemilihan
Presiden di Amerika Serikat memberi kesempatan calon Presiden untuk
berpendapat dan untuk menunjukan kemampuan. Disini ? Apa yang jadi
penentu seseorang jadi Presiden: Intrik dan uang"

Betul sekali. Tapi kita tidak boleh berhenti dengan mengeluh dan putus
asa. Marilah kita sebagai orang biasa belajar mengerti persoalan. Kalau
sudah mengerti, marilah membentuk sikap. Kalau sudah punya sikap,
marilah menyatakan sikap dan bersuara. "A bell is no bell until you ring
it. A song is no song until you sing it."


 
Update 23 Oktober 2008: Staf Bakrie Menjawab!
<http://perspektif.net/indonesian/article.php?article_id=976> 

 

________________________________

"This e-mail (including any attachments) is intended solely for the
addressee and could contain information that is confidential; If you are
not the intended recipient, you are hereby notified that any use,
disclosure, copying or dissemination of this e-mail and any attachment
is strictly prohibited and you should immediately delete it. This
message does not necessarily reflect the views of Bank Indonesia.
Although this e-mail has been checked for computer viruses, Bank
Indonesia accepts no liability for any damage caused by any virus and
any malicious code transmitted by this e-mail. Therefore, the recipient
should check again for the risk of viruses, malicious codes, etc as a
result of e-mail transmission through Internet" 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke