BARRY tidak mengikuti agama ayahnya,
tapi ikut agama ibu-nya..
mari do'akan agar dia kembali kepada ISLAM..

ada yg punya referensi ttg dugaan bahwa Pangeran CHARLES sudah menjadi muslim 
di Turki sejak beberapa belas tahun yg lalu..?
karena setiapberkunjung ke negara2 yg berpenduduk mayorits ISLAM dia selalu 
melakukan kunjungan2 khusus,
seperti ke Jogja kemaren,
selain mengunjungi Raja dan Ratu Pornografie,
dia juga mengunjungi pesantren terbesar di sana..

wassalam..

----



Posted by: "OK Taufik" [EMAIL PROTECTED] 
Tue Nov 4, 2008 6:21 pm (PST) 
Senin, 03 Nov 2008 13:17 Cetak <javascript:print();> |
Kirim<http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/send/syaikh-al-awlaki-memilih-obama-atau-mccain-tidak-ada-manfaatnya-buat-umat-islam>
|
RSS <http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/rss> Menurut ulama Syaikh Anwar
Awlaki, Muslim AS seharusnya tidak melibatkan diri dalam pemilu presiden
karena fakta menunjukkan bahwa siapapun yang menjadi presiden AS sama sekali
tidak memberikan manfaat bagi umat Islam, baik di AS maupun di seluruh
dunia.

Sebagai bagian dari masyarakat AS, Muslim Amerika juga antusias untuk ikut
memberikan suaranya dalam pemilu presiden AS yang akan digelar 4 November
besok. Sejak masa kampanye, muslim Amerika tak jarang berdebat tentang siapa
kandidat presiden yang seharusnya mereka dukung, Barack Obama atau John
McCain.

Sebagian mereka berpendapat, meski kedua kandidat tidak menjanjikan apa-apa
bagi warga Muslim, mereka selayaknya berpatisipasi, paling tidak ada yang
lebih baik dari dua pilihan yang buruk.

Namun, menurut ulama Syaikh Anwar Awlaki, Muslim AS seharusnya tidak
melibatkan diri dalam pemilu presiden karena fakta menunjukkan bahwa
siapapun yang menjadi presiden AS sama sekali tidak memberikan manfaat bagi
umat Islam, baik di AS maupun di seluruh dunia.

Dalam tulisan berjudul *"Voting for American Presiden"* di situs pribadinya,
Syaikh Awlaki yang pernah menjadi imam di sebuah masjid di California, AS
ini juga mengatakan bahwa sistem demokrasi-yang digembor-gemborkan AS ke
seluruh dunia-adalah sistem yang tidak Islami dan umat Islam seharusnya
tidak menjadi bagian dari sistem demokrasi itu, apalagi mengadopsinya.

"Jika orang melihat akar dan sejarah demokrasi atau melihat realitas
demokrasi yang diterapkan saat ini, mereka akan menyadari bahwa demokrasi
adalah sistem yang bukan hanya sangat berbeda, tapi sangat bertentangan
dengan sistem Islam," tulis Syaikh Awlaki

Umat Islam, kata Syaikh Awlaki, seharusnya melihat bahwa Barat dalam
perangnya terhadap Islam, menawarkan sistem demokrasi sebagai alternatif
untuk menentang sistem Syariah. "Jika Barat, sebagai pendiri sistem
demokrasi melihat sistem itu berlawanan dengan Islam, mengapa sebagian umat
Islam masih ingin mempertahankan partisipasinya dalam sistem demokrasi dan
mengadopsinya sebagai landasan politik mereka?" tukas Syaikh Awlaki.

Demokrasi, kata Syaikh Awlaki, adalah sistem Barat yang diciptakan dan
dikembangkan di Barat. Dan sekarang, Barat-lah dan bukan Muslim, yang
memegang otoritas dan merasa berhak secara penuh untuk mengatakan pada dunia
apa itu demokrasi dan bagaimana demokrasi harus dipraktekkan dan
diimplementasikan.

Ia menegaskan, umat Islam punya sistem pemerintahan sendiri. Sebab itu, umat
Islam sendiri yang harus mendefinisikannya dan tidak membiarkan orang-orang
non-Muslim ikut campur dalam ajaran agama kaum Muslimin dan tidak mengajari
umat Islam apa yang benar dan apa yang salah.

"Mereka yang gencar mempromosikan agar umat Islam harus berpartisipasi dalam
pemilu presiden AS berargumen bahwa kita memilih yang agak baik dari dua
pilihan buruk. Prinsip itu tidak salah, tapi mereka lupa bahwa proses ketika
memilih diantara dua kandidat yang buruk itu, pada saat itulah mereka sedang
berkomitmen pada kejahatan yang lebih besar lagi," papar Syaikh Awlaki.

Pada kenyataannya, kata Syaikh Awlaki, persoalan ini bukan sekedar menjadi
orang Amerika dan menjadi bagian dari sistem demokrasi itu tapi lebih pada
apa manfaatnya bagi umat Islam jika Muslim AS memilih salah antara Obama dan
McCain atau siapa pun dia.

Menurut Syaikh, alasan untuk menghapuskan kendala psikologis antara Muslim
dan non-Muslim, ancaman erosi aqidah dan resiko seseorang kehilangan
agamanya, jauh lebih berat dibandingkan kemungkinan manfaat yang muncul dari
partisipasi umat Islam dalam sistem demokrasi seperti yang berlaku di AS.

"Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana bisa seorang Muslim yang memiliki
iman di dadanya menuju kotak suara dan memberikan suaranya pada makhluk
macam McCain atau Obama?! Bagaimana umat Islam bisa tidur nyenyak setelah
memilij orang-orang macam George W. Bush?."

"Tak peduli apakah pilihan Anda relevan atau tidak, di hari kiamat nanti
Anda akan dipanggil untuk menjawab pertanyaan atas pilihan Anda itu. Anda,
dibawah paksaan, ancaman atau tidak, secara sadar telah memilih pemimpin
bangsa yang mengobarkan perang terhadap Islam," papar Syaikh Awlaki.

Ia mengungkapkan, ada keyakinan yang aneh di sebagian kalangan Muslim AS
yang berpartispasi dalam pemilu presiden AS. "Mereka meyakini, jika mereka
ikut dalam pemilu orang-orang kafir, maka akan membawa kebaikan bagi diri
mereka, sementara jika mereka percaya pada Allah swt tapi mereka menghindari
orang-orang kafir-padahal itulah yang dingingkan Allah dari umat
Islam-mereka akan kehilangan kebaikan itu dan akan membahayakan diri mereka
sendiri," jelas Syaikh Awlaki.

Sikap seperti itu, tegas Awlaki, menunjukkan kelemahan orang Islam karena
meyakini bahwa mereka hanya bisa bertahan jika mereka mencari dukungan dari
musuh-musuh Allah swt. "Bagi mereka yang beriman, cukuplah Allah buat mereka
dan mereka tidak perlu mencari bantuan dari para pemimpin atau pemerintahan
orang-orang kafir."

"Ikut memilih Firaun Amerika yang baru, tidak ada manfaatnya bagi umat,"
tandas Syaikh Awlaki.

Nasehat Syaikh Awlaki bisa menjadi bahan renungan bagi umat Islam, bukan
hanya di AS tapi juga di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia yang
masih saja "berkiblat" pada sistem demokrasi ala Amerika. Kita lihat
bagaimana antusiasnya sejumlah stasiun televisi di negeri ini menyiarkan
gegap gempitanya pelaksanaan pemilu di AS, tanpa bersikap kritis terhadap
agenda-agenda dan perilaku para kandidatnya terhadap isu-isu dunia Islam dan
umat Islam. (ln)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke