Dari Moderator:
Itulah akibat kurang iman.
Mereka takut terhadap penyakit AIDS yang paling cuma 20 tahun penderitaannya.

Untuk menghindarinya mereka pakai kondom dan mengira "AMAN"

Padahal dengan berzina mereka tidak aman dari siksa api neraka yang jauh lebih 
pedih dan lebih lama.

Untuk itulah gunanya kita belajar agama Islam agar tidak tertipu seperti mereka.

Wassalam

Antara Safe Sex & Moral Obligation
 
Sabtu pekan lalu, saat membaca Koran pagi di rumah, mata saya tertumbuk pada 
sebuah iklan di pojok halaman yang mencolok mata. Iklan tersebut berjudul 
University Challenge “safe sex, saves lives”. Selanjutnya iklan tersebut 
mengumunkan sebuah kompetisi yang ditujukan kepada seluruh Universitas di 
Indonesia untuk membuat proposal kampanye edukasi tentang kesehatan seksual di 
lingkungan universitas masing-masing dalam rangka hari AIDS Sedunia 2008 dan 
Pekan Kondom Nasional 2008.
 
Saya sangat jengah membaca iklan tersebut, apakah seks bebas sudah sedemikian 
menggejala di kampus-kampus di Indonesia, sehingga perlu diadakan kompetisi 
kampanye kesehatan seksual di lingkungan kampus.   
 
Memang, apabila kita amati beberapa penelitian, terlihat bahwa kehidupan bebas 
di kalangan remaja merupakan hal yang tidak tabu lagi. Berdasarkan penelitian 
yang dilakukan oleh LSM Plan bekerjasama dengan PKBI (Perkumpulan Keluarga 
Berencana Indonesia) tentang perilaku seks remaja Bogor tahun 2000, menunjukkan 
dari 400-an responden, 98,6% remaja usia 10-18 tahun sudah melakukan "pacaran"; 
50,7% pernah melakukan cumbuan ringan, 25% pernah melakukan cumbuan berat, dan 
6,5% pernah melakukan hubungan seks (78,6% diantaranya melakukan dengan pacar 
atau teman, dan sisanya dengan penjaja seks).
 
Demikian pula dari penelitian yang dilakukan Doktor Rita Damayanti dari 
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) pada tahun 2006. 
Beliau meneliti perilaku “pacaran” 8.941 pelajar dari 119 SMA/sederajat di 
Jakarta. Hasil yang ditemukannya, tidak jauh berbeda, yakni 6,5% pelajar SLTA 
telah melakukan hubungan seks dengan pacarnya (termasuk seks oral), dan sekitar 
25% melakukan cumbuan dengan meraba dan menggesekan alat kelamin (petting).
 
Menurut pengamatan seorang teman saya, persoalan seks bebas ini bagaikan 
fenomena gunung es. Hanya puncaknya saja yang kelihatan, atau dengan perkataan 
lain hanya sedikit data yang terungkap. Menurut beliau, di balik itu, bisa jadi 
pelaku lebih banyak lagi. Data yang lebih dahsyat lagi, dari penelitian seorang 
pemerhati masalah sosial yang tidak dipublikasikan, menunjukkan bahwa saat ini 
telah beredar lebih dari 500 video porno buatan anak muda Indonesia. Hampir 
semua berawal dari dokumentasi iseng pasangan remaja untuk kenang-kenangan(?). 
Pelaku bervariasi dalam hal umur. Dari usia SMP hingga mahasiswa.
 
Pada tahun 2001, masyarakat dikejutkan oleh beredarnya film “Bandung Lautan 
Asmara” dan beberapa film porno buatan lokal. Sebagian pengamat memprediksi, 
bahwa akan ada peningkatan 10 kali lipat dalam 10 tahun ke depan. Ternyata 
ramalan itu salah, karena hanya dalam kurun waktu 5 tahun, di tahun 2006, 
ditemukan bukti dan data film porno Indonesia yang dibuat secara amatir telah 
mencapai 500 buah! Lebih dari 50 kali lipat jumlah film porno pertama yang 
dibuat rentang 2001-2003. Sungguh sangat mengejutkan!


Jumlah tersebut di atas semakin bertambah karena ditemukannya bukti, bahwa 
setiap hari, minimal 2 film porno lokal baru di upload ke internet. Sebagian 
besar dibuat dengan menggunakan peralatan Handphone kamera dan berisi cuplikan 
hubungan seks dalam durasi yang singkat (kurang dari 10 menit). Cuplikan video 
porno tersebut, dikonversi menjadi file-file berukuran kecil, tersebar di 
peralatan handphone dan pemutar film mini (MP4 Player) yang kini harganya 
semakin murah. Yang lebih mengenaskan, 90% pelaku dan pembuat film terbesar 
video porno amatir itu adalah pelajar dan mahasiswa! Sebagian besar berisikan 
hubungan seksual sepasang kekasih yang dilakukan dengan ‘sukarela’ dan ‘riang  
gembira’. Hubungan seks telah dijadikan hal yang tidak serius, membuka rahasia 
ke ruang publik, atas nama cinta dan keisengan belaka. Korban terbesar adalah 
remaja putri, mereka banyak tidak sadar telah dijebak dan dieksploitasi. 
Direkam ketelanjangan tubuhnya atas
 nama cinta dan kasih sayang, ditipu habis-habisan dengan ancaman ‘putus’ oleh 
kekasih bengalnya. Namun sayangnya, kata cinta kerap dijadikan senjata untuk 
membutakan logika.
 
Pada pertengahan tahun 2007 yang lalu saya menulis di sebuah media, bahwa dalam 
iklan-iklan di televisi telah terjadi perubahan fungsi kondom, dari alat 
kontrasepsi untuk sebuah program Keluarga Berencana, menjadi  sebuah alat 
penjaga kesehatan. Iklan-iklan yang ditayangkan tersebut tidak mempersoalkan 
apakah hubungan seks yang akan dilakukan dengan pasangan resminya atau bukan. 
Iklan-iklan tersebut lebih mementingkan kesehatan pelaku dalam mencegah HIV dan 
penyakit seksual lainnya, dan mengesankan memberi contoh kehidupan seks bebas 
bagi kaum muda dan remaja.
 
Akibat tulisan saya tersebut, saya “kebanjiran” pesan ataupun surat di mail box 
saya. Sebagian besar menyayangkan tulisan saya tersebut. Seharusnya, menurut 
mereka, saya harus bersyukur, bahwasanya saat ini sudah ada orang yang tidak 
lagi merasa munafik untuk memberikan petunjuk bagaimana cara hidup sehat 
melalui iklan-iklan kondom di TV tersebut. Bagaimanapun, masih menurut mereka, 
iklan-iklan kondom yang ditayangkan tentu tidak asal buat tanpa pemikiran 
panjang para kreatornya. Iklan-iklan tersebut justru berasal dari bagaimana 
masyarakat kita menjalani kehidupannya saat ini. Dan yang mencengangkan saya, 
sebagian besar yang “menghujat” saya sebagai seorang yang tidak mengerti 
keadaan dan seorang yang munafik adalah ibu-ibu. Saya hanya dapat mengurut 
dada, apakah sudah sedemikian permisifnya ibu-ibu di zaman ekonomi 
materialistis sekarang.
 
Merasakan fenomena seks bebas yang terjadi saat ini, dimana iklan dan kampanye 
kondom sangat luar biasa hingga perlu dilakukan kompetisi antar kampus guna 
edukasi tentang kesehatan seksual di lingkungan universitas, membuat saya 
berpikir apakah memang pencegahan dari sisi moral keagamaan tidak lagi mempan. 
Agama yang saya maksud di sini bukan hanya “Islam”, karena sepengetahuan saya 
tidak ada satu agama resmi pun di Indonesia yang dalam kitab suci-nya 
membenarkan perzinahan. Atau mungkin definisi “zinah” saat ini sudah berubah, 
yakni hubungan seks yang dilakukan berdasarkan suka sama suka di antara 
pelakunya  bukan lagi merupakan “perzinahan”??? 
 
Wallahu alam bishowab…….
 
Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami)

 
========================================================
Mohon partisipasi Bapak/Ibu untuk mengisi Polling Pemanfaatan Bank Syariah 
Silahkan klik 
http://asia.groups.yahoo.com/group/ekonomi-islami/surveys?id=2366675 
Semoga partispasi Bapak/Ibu bermanfaat dalam kajian sosial ekonomi islami di 
Indonesia


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke