di forward dari milist sebelah.!!!!1


Wassalam,

Iip Syaiful Rahman

----- Original Message ----- 
From: M Jundan 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, November 18, 2008 7:52 PM
Subject: [!! SPAM] [majelisrasulullah] Lembaran Hitam di Balik Penampilan Keren 
Kaum Wahabi



Lembaran Hitam di Balik Penampilan Keren Kaum Wahabi

Sumber: Sidogiri.com




Oleh: Idrus Ramli*




Ke mana-mana selalu menyebarkan salam. Selalu memakai baju bercorak gamis dan 
celana putih panjang ke bawah lutut, ciri-khas orang Arab. Jenggotnya 
dibiarkannya lebat dan terkesan menyeramkan. Slogannya pemberlakuan syariat 
Islam. Perjuangannya memberantas syirik, bid'ah, dan khurafat. Referensinya, 
al-Kitab dan Sunah yang sahih. Semuanya serba keren, valid, islami. Begitulah 
kira-kira penampilan kaum Wahabi. Sepintas dan secara lahiriah meyakinkan, 
mengagumkan.




Tapi jangan tertipu dulu dengan setiap penampilan keren. Kata pepatah jalanan, 
tidak sedikit di antara mereka yang memakai baju TNI, ternyata penipu, bukan 
tentara. Pada masa Rasulullah r, di antara tipologi kaum Khawarij yang 
benih-benihnya mulai muncul pada masa beliau, adalah ketekunan mereka dalam 
melakukan ibadah melebihi ibadah kebanyakan orang, sehingga beliau perlu 
memperingatkan para Sahabat t dengan bersabda, "Kalian akan merasa kecil, 
apabila membandingkan ibadah kalian dengan ibadah mereka."






Demikian pula halnya dengan kaum Wahabi, yang terkadang memakai nama keren 
"kaum Salafi". Apabila diamati, sekte yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul 
Wahhab an-Najdi (1115-1206 H/1703-1791 M), sebagai kepanjangan dari pemikiran 
dan ideologi Ibnu Taimiyah al-Harrani (661-728 H/1263-1328 M), akan didapati 
sekian banyak kerapuhan dalam sekian banyak aspek keagamaan.





A. Sejarah Hitam

Sekte Wahabi, seperti biasanya sekte-sekte yang menyimpang dari manhaj Islam 
Ahlusunah wal Jamaah memiliki lembaran-lembaran hitam dalam sejarah. Kerapuhan 
sejarah ini setidaknya dapat dilihat dengan memperhatikan sepak terjang Wahabi 
pada awal kemunculannya. Di mana agresi dan aneksasi (pencaplokan) terhadap 
kota-kota Islam seperti Mekah, Madinah, Thaif, Riyadh, Jeddah, dan lain-lain, 
yang dilakukan Wahabi bersama bala tentara Amir Muhammad bin Saud, mereka 
anggap sebagai jihad fi sabilillah seperti halnya para Sahabat t menaklukkan 
Persia dan Romawi atau Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel. 





Selain menghalalkan darah kaum Muslimin yang tinggal di kota-kota Hijaz dan 
sekitarnya, kaum Wahabi juga menjarah harta benda mereka dan menganggapnya 
sebagai ghanîmah (hasil jarahan perang) yang posisinya sama dengan jarahan 
perang dari kaum kafir. Hal ini berangkat dari paradigma Wahabi yang 
mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin 
Ahlusunah wal Jamaah pengikut mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali yang 
tinggal di kota-kota itu. Lembaran hitam sejarah ini telah diabadikan dalam 
kitab asy-Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhâb; 'Aqîdatuhus-Salafiyyah wa 
Da'watuhul-Ishlâhiyyah karya Ahmad bin Hajar Al-Buthami (bukan Al-Haitami dan 
Al-'Asqalani)–ulama Wahabi kontemporer dari Qatar–, dan dipengantari oleh Abdul 
Aziz bin Baz.





B. Kerapuhan Ideologi

Dalam akidah Ahlusunah wal Jamaah, berdasarkan firman Allah, "Tidak ada sesuatu 
pun yang serupa dengan Dia (Allah)" (QS asy-Syura [42]: 11), dan dalil 'aqli 
yang definitif, di antara sifat wajib bagi Allah adalah mukhâlafah 
lil-hawâdits, yaitu Allah berbeda dengan segala sesuatu yang baru (alam). 
Karenanya, Allah itu ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dan Allah itu tidak 
duduk, tidak bersemayam di 'Arasy, tidak memiliki organ tubuh dan sifat seperti 
manusia. Dan menurut ijmak ulama salaf Ahlusunah wal Jamaah, sebagaimana 
dikemukakan oleh al-Imam Abu Ja'far ath-Thahawi (227-321 H/767-933 M), dalam 
al-'Aqîdah ath-Thahâwiyyah, orang yang menyifati Allah dengan sifat dan ciri 
khas manusia (seperti sifat duduk, bersemayam, bertempat, berarah, dan memiliki 
organ tubuh), adalah kafir. Hal ini berangkat dari sifat wajib Allah, 
mukhâlafah lil-hawâdits.




Sementara Wahabi mengalami kerapuhan fatal dalam hal ideologi. Mereka 
terjerumus dalam faham tajsîm (menganggap Allah memiliki anggota tubuh dan 
sifat seperti manusia) dan tasybîh (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). 
Padahal menurut al-Imam asy-Syafi'i (150-204 H/767-819 M) seperti diriwayatkan 
olah as-Suyuthi (849-910 H/1445-1505 M) dalam al-Asybâh wan-Nazhâ'ir, orang 
yang berfaham tajsîm, adalah kafir. Karena berarti penolakan dan pengingkaran 
terhadap firman Allah, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah)." 
(QS asy-Syura [42]: 11)





C. Kerapuhan Tradisi

Di antara ciri khas Ahlusunah wal Jamaah adalah mencintai, menghormati, dan 
mengagungkan Rasulullah r, para Sahabat t, ulama salaf yang saleh, dan generasi 
penerus mereka yang saleh seperti para habaib dan kiai yang diekspresikan dalam 
bentuk tradisi semisal tawasul, tabarruk, perayaan maulid, haul, dan lain-lain. 





Sementara kaum Wahabi mengalami kerapuhan tradisi dalam beragama, dengan tidak 
mengagungkan Nabi r, yang diekspresikan dalam pengafiran tawasul dengan para 
nabi dan para wali. Padahal tawasul ini, sebagaimana terdapat dalam Hadis-Hadis 
sahih dan data-data kesejarahan yang mutawâtir, telah dilakukan oleh Nabi Adam 
u, para Sahabat t, dan ulama salaf yang saleh. Sehingga dengan pandangannya 
ini, Wahabi berarti telah mengafirkan Nabi Adam u, para Sahabat t, ahli Hadis, 
dan ulama salaf yang saleh yang menganjurkan tawasul.




Bahkan lebih jauh lagi, Nashiruddin al-Albani–ulama Wahabi kontemporer–sejak 
lama telah menyerukan pembongkaran al-qubbah al-khadhrâ' (kubah hijau yang 
menaungi makam Rasulullah r) dan menyerukan pengeluaran jasad Nabi r dari dalam 
Masjid Nabawi, karena dianggapnya sebagai sumber kesyirikan. Al-Albani juga 
telah mengeluarkan fatwa yang mengafirkan al-Imam al-Bukhari, karena telah 
melakukan takwil dalam ash-Shahih-nya.




Demikian sekelumit dari ratusan kerapuhan ideologis Wahabi. Dari sini, kita 
perlu berhati-hati dengan karya-karya kaum Wahabi, sekte radikal yang lahir di 
Najd. Dalam Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, Nabi r bersabda, 
"Di Najd, akan muncul generasi pengikut Setan". Menurut para ulama, maksud 
generasi pengikut Setan dalam Hadis ini adalah kaum Wahabi. Wallâhul-hâdî. [BS]





*) penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Sidogiri, tinggal di Jember 

Tulisan ini dimuat di Buletin Sidogiri edisi 26








Ulasan seorang santri atas perebutan tanah haram oleh Wahabi

Menurut sejarah mengapa situs-situs sejarah peninggalan Rasulullah itu 
dihancurkan Wahabi, bukan karena takut akan dikeramatkan oleh sebagian orang 
tetapi ini ada unsur politik bahkan hingga saat ini...semua itu bermula dengan 
pemberontakan oleh Abdul Aziz ibn Al Saud melakukan pemberontakan tahun 1925 
terhadap Syarif Makkah ketika itu: Syarif Hussain. Keturunan Rasulullah lah 
yang turun temurun memelihara dua tanah haram sebelum wahabi datang dan 
membunuhi ulama2 ahlussunah di Mekkah, menghancurkan makam para Sahabat dan 
tempat2 bersejarah Rasulullah saw. Perebutan kekuasaan dilakukan dengan jalan 
perang, di mana pihak wahabi/Ibnu Saud dibantu langsung oleh orang kafir 
(Inggris) di antaranya seorang intelijennya yang terkenal bernama Lawrence 
([Yahudi?] ada filmnya: Lawrence of Arabia). 

Jadi sejak awal, pendirian Kerajaan Saudi dibantu oleh orang kafir yang sangat 
dicurigai bahwa Yahudilah di belakang semua ini karena ketika itu kabinet 
Inggris sangat dipengaruhi Yahudi. Dalam perang ini banyak terbunuh ulama-ulama 
ahlussunah terutama keturunan Rasulullah SAW. Memang faham wahabi sangat 
membenci keturunan Rasulullah SAW karena mereka tahu, salah satu pilar kekuatan 
umat Islam sebenarnya ada pada keberkatan keturunan Rasulullah SAW. Setelah 
merebut kekuasaan dan mendirikan kerajaan Saudi, Ibnu Saud dan ulama-ulama 
wahabi berencana menghancurkan makam Baginda Rasulullah SAW. 

Usaha ini dihentikan setelah mendapat protes dari seluruh dunia. Dari Indonesia 
ada dikirim delegasi khusus dari NU yang diketuai KH. Wahab Hasbullah pada 
tahun 1927. . Delegasi ini mengancam pemerintah Saudi agar menghentikan 
usahanya tersebut, kalau tidak NU akan memobilisasi umat untuk membebaskan 
Mekkah dan Madinah. Bahkan skrg Wahabi sedang gencar2nya menyebarkan tuduhan 
Bid'ah terhadap sesama muslim yang sering membaca Shalawat atau mengadakan 
Maulid Nabi... 

Setelah perebutan itu Syarif Hussain terpaksa lari ke Jordan dan diangkat jadi 
raja di sana. kemudian kerajaan Saudi yg sekarang, adalah suatu kerajaan yang 
berdiri dengan jalan perebutan kekuasaan dari Syarif Makkah (Syarif Hussain) 
oleh Ibnu Saud. Penjagaan Haramain sudah beratus tahun dipercayakan pada 
keturunan Rasulullah SAW. Padahal, faham wahabi sangat mengharamkan perebutan 
kekuasaan dari pemerintah yang sah. Mereka menerapkan hukuman mati untuk 
kudeta, tapi kerajaan mereka didirikan dengan cara ini. 

Sebelum itu awal abad 19 wahabi dari Nejed, Ibnu Saud sudah berhasil merebut 
Mekkah, tapi berhasil diusir kembali oleh Jenderal Muhammad Ali dari Mesir. 

Beberapa keterangan panjang tentang ini saya dapat bukan dengan baca buku, tapi 
mendengar langsung dari ulama-ulama sufi Madinah keturunan Rasulullah saw dan 
diantaranya dari Guru saya di Majelis yg memang mempunyai hubungan dengan 
ulama2 di Mekkah. 

Kerajaan Saudi dan ulama-ulama wahabi di sana hingga saat ini tidak pernah 
diketahui jelas memusuhi Israel dan Amerika. Malahan, raja-rajanya berteman 
akrab dengan pemimpin-pemimpin Amerika. Perusahaan-perusahaan minyak di Saudi 
sebagian besar adalah perusahaan Amerika yang nota bene milik orang Yahudi. 
Aramco dan lain-lain itu milik Yahudi semuanya. Tokoh-tokoh kerajaan Saudi 
menyimpan uang rejeki minyaknya ke bank-bank Yahudi di Amerika, Swiss, dll. 
Tentu saja keuntungan dari perputaran uang ini tidak akan dipakai Yahudi untuk 
memajukan Islam bukan? Tentu tidak! Malah keuntungannya dipakai untuk 
menghancurkan Islam. Saudi mengizinkan tanah haram dipakai sebagai pengkalan 
perang tentara kafir (Sekutu) untuk menghancurkan Iraq yang beragama Islam. 
Dari sedikit fakta ini mestinya kita curiga. Adakah gerakan wahabi ini murni 
dari Islam? Ataukah memang ia dibentuk/disuburkan oleh Yahudi untuk 
menggerogoti Islam dari dalam? 

Menurut Kesimpulan-ku : 

" Tujuan dihancurkan sejarah peninggalan rasul agar kita tidak pernah mengingat 
akan sejarah tentang Rasulullah dan keturunannya yg dapat menumbuhkan semangat 
JIHAD kita dalam membela agama ISLAM, serta hilangnya rasa Cinta kita terhadap 
Rasulullah, Sebab Apa? karena jika umat ISLAM mengetahui sejarah ini, maka akan 
menjadi malapetaka untuk Kerajaan ARAB SAUDI sekarang yg mempunyai catatan 
hitam tentang kerajaannya " 

Nb : Bahkan ulama2 Ahlussunah disana sering di-Intai oleh Mutowwe2 yg diutus 
oleh Raja Arab, dan tidak segan2 ditangkap dan di-bui. 






 

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke