1. Katakanlah, “Dialah Allah Yang Maha Esa” - lafal Allah adalah Khabar
dari lafal Huwa, sedangkan lafal Ahadun adalah Badal dari lafal Allah, atau
Khabar kedua dari lafal Huwa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu - lafal
ayat ini terdiri dari Mubtada dan Khabar; artinya Dia adalah Tuhan yang
bergantung kepada-Nya segala sesuatu untuk selama-lamanya.
3. Dia tiada beranak - karena tiada yang menyamai-Nya - dan tiada pula
diperanakkan - karena mustahil hal ini terjadi bagi-Nya.
4. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia - atau yang
sebanding dengan-Nya, lafal Lahu berta’alluq kepada lafal Kufuwan. Lafal Lahu
ini didahulukan karena dialah yang menjadi subjek penafian; kemudian lafal
Ahadun diakhirkan letaknya padahal ia sebagai isim dari lafal Yakun, sedangkan
Khabar yang seharusnya berada di akhir mendahuluinya; demikian itu karena demi
menjaga Fashilah atau kesamaan bunyi pada akhir ayat.
Ref : http://alexkib.wordpress.com/2008/10/24/tafsir-jalalain-al-ikhlash/
Salam
___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
[Non-text portions of this message have been removed]