Noda

Saat saya bepergian menuju sebuah desa di tempat kakek saya tinggal, saya tiba 
pada pagi hari. Di rumah, kakek menyambut saya dengan hangat. Karena saya tiba 
pagi hari, kakek pun bertanya, “Sholat subuh di mana tadi?”
“Nggak sholat kek. Gak sempat. Waktunya habis di dalam mobil.” Jawab saya agak 
malu.
“Lho, kan bisa sholat di mobil.”
“Mmm… malas kek. Ngantuk. Sekali-kali lah.” Saya berharap kakek bisa mengerti. 
Tapi tetap saja saya tangkap kesan heran di wajah kakek. Mungkin karena beliau 
tahu saya rajin beribadah, tapi untuk urusan perjalanan, saya dengan ringan 
meninggalkannya.
Setelah diam sesaat, kakek berkata. “Nanti sore kalau gak capek, kita bisa 
jalan-jalan ke kebun.”
“Asyiik!!!” Sambut saya sumringah.

Senja tiba. Saya sudah siap melihat-lihat kebun kakek yang tidak jauh dari 
rumahnya. Entah kenapa, kakek meminjamkan sebuah celana berwarna putih untuk 
saya. Maklum karena di kebun tentu saja kami akan berkotor-kotor, saya tidak 
ragu mengambilnya. Daripada celana yang saya bawa dari rumah yang saya pakai. 
Sayang, persediaan terbatas.  Tapi aneh, pada akhirnya kakek berkata, “Kalau 
celana itu sampai kotor, kamu cuci sendiri ya!!” Saya tidak mengerti maksud 
kakek, tapi saya ikuti saja. Dan saya lihat kakek sendiri menggunakan celana 
hitam.

Perjalanan di mulai. Setelah 15 menit kami sampai di kebun kakek. Di kebun itu 
kami berkeliling menyaksikan bermacam tanaman yang ditaman oleh kakek, mulai 
dari pisang, jagung, hingga cabai.

Setelah puas, kami istirahat sejenak. Tanpa sungkan, kakek duduk di tanah dan 
menyuruh saya duduk di sampingnya. “Duduk lah.”
“Gak ah, kek. Takut kotor.”
“Kenapa takut kotor? Kakek santai saja kok duduk di tanah.”
“Ya jelas. Kakek kan memakai celana hitam. Sedangkan celana saya putih.”
“Memang kenapa kalau celana putih?”
“Kalau celana putih, kan susah dicucinya kalau kena noda. Kalau tidak bersih, 
nodanya akan terlihat jelas. Sedangkan celana hitam, tidak terlalu kentara 
kalau kotor.”
Kakek terangguk-angguk. “Apa kamu bisa mengambil pelajaran dari hal tersebut?”
“Hah?? Pelajaran apa kek???” Aku agak bengong.

“Kamu mengerti, bahwa perumpamaan orang munafik atau fasik, adalah seperti 
kakek ini yang memakai celana hitam…”
”Lho, maksud kakek?” Aku memotong.
“Dengar dulu!! Orang yang memakai celana hitam, tidak akan merasa was-was kalau 
celananya kotor. Dia tidak akan malu berjalan di tengah orang banyak dengan 
celana yang terkena noda tanah di sana sini. Sedangkan orang yang beriman, 
seperti orang yang memakai celana putih, yang ia khawatir apabila celananya 
sedikit kotor, maka noda itu akan terlihat jelas.”
Aku mengangguk-angguk. “Ooh… iya kek. Gak nyangka kakek filosofis banget.” 
Ujarku sambil ‘nyengir’.
“Apa kamu tidak mengambil pelajaran terhadap diri kamu sendiri?”
“Maksudnya, kek?”
“Bukankah tadi pagi kamu menggampangkan tidak sholat subuh? Muhasabah lah!! Apa 
mungkin hati kamu sudah terlanjur kotor sehingga setiap kotoran baru yang 
menempel bukan menjadi sesuatu yang mencolok?”
“Astaghfirullah…” Aku terhenyak.
“Kalau hati kamu bersih, tentu saja kamu tidak ingin ada setitik noda pun 
hinggap di hati kamu.”
“Astaghfirullah. Iya kek. Saya sadar, saya salah. Kalau begitu, mulai sekarang 
saya akan berusaha membersihkan hati saya. Akan saya jaga agar hati saya 
senantiasa bersih, tidak boleh ada kotoran yang hinggap. Saya akan selalu 
bersihkan dengan istighfar.”
“Bagus!!” Kakek mengangguk-angguk….

Saat alam menunjukkan tanda bahwa saat maghrib hendak tiba, kami pulang ke 
rumah. Di jalan, saya termenung. Lalu berkata kepada kakek, “Kakek, saya jadi 
paham kenapa kalau ada orang baik yang ketahuan aibnya, selalu menjadi 
bulan-bulanan gosip dibanding orang jahat yang ketahuan aibnya.”
Kakek mengangguk-angguk.
“Ya ya ya…. Ya seperti tadi, karena orang yang baik yang ketahuan aibnya itu 
seperti sebuah pakaian putih yang terlihat terkena noda. Nodanya akan mencolok 
dilihat oleh orang banyak. Beda dengan orang jahat, orang sudah terbiasa dengan 
berita aibnya. Tak terlalu menjadi bulan-bulanan omongan orang. Bahkan Orang 
jahat seperti itu sudah kebal hatinya dan sudah menjadi kebiasaan meskipun 
seringkali melakukan sesuatu yg dia tahu sebenarnya itu adalah aib.

Tapi Alloh maha Melihat. Semua Kejahatan, kebohongan, fitnah, yang 
disembunyikan serapi apapun suatu hari akan diperlihatkan oleh Alloh kepada 
orang-orang yang yang telah kamu dzolimi dan kepada semua orang seperti noda 
sebuah pakaian yang bisa dilihat oleh semua orang. Orang baik yang telah 
melakukan kesalahan karena khilaf akan bertobat dan tidak akan mengulangi 
kekhilafannya dan merasa itu adalah noda yang harus dibersihkan, tapi orang 
jahat yang telah melakukan kejahatan, kebohongan, fitnah jika ketahuan bukan 
menyadari dan memperbaiki kesalahannya seperti membersihkan noda melainkan akan 
menutupinya dengan noda lain yakni dengan kejahatan, kebohongan dan fitnah yang 
lain. Na’udzubillahi mindzalik... Ini seperti noda yang sulit untuk 
dibersihkan. Tapi jika kecanggihan teknologi bisa membersihkan noda dipakaian 
sesulit apapun bisa hilang, begitu pula dengan manusia-manusia jahat seperti 
diatas juga pasti bisa menghilangkan noda dalam hati dan jiwanya dengan usaha 
keras dari dirinya sendiri.”

“Benar kek. Tapi, susah ya menjaga hati ini bersih. Menjaga perilaku ini tetap 
bersih. Karena kotoran ada di mana-mana. Kalau terkena noda, akan mencolok. Dan 
harus dibersihkan dengan tenaga yang ekstra. Belum lagi omongan orang-orang… 
Hhh…”
“Hahaha….” Kakek tertawa kecil.

—-

Ibnu Mas’ud r.a. berkata "Orang yang benar-benar beriman, ketika melihat 
dosa-dosanya, seperti ia sedang duduk dibawah gunung. Ia kuatir kalau-kalau 
puncak gunung itu jatuh menimpanya. Adapun orang munafik, ia memandang 
dosa-dosanya seperti menghalau lalat di ujung hidungnya."
Powered by Telkomsel BlackBerry®
------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke