Quote: "Jika ketahuan tertinggal sholat berjama'ah dan melalaikan sholat malam akan mendapat kemarahan rasulullaah saw, pasti hidup bersama beliau akan berat"
saya ingin menambahkan kata kata mas wirawan di atas, mungkin itu berlaku hanya bagi orang yang malas saja. kalau orang yang benar benar ikhlas, tentunya tidak akan merasa berat. demikian saya sampaikan, agar setiap orang merasa bahwa menjalankan sunnah rasulullah itu bukan merupakan beban yang memberatkan, namun kebutuhan yang menyenangkan. ________________________________ Dari: wirawan <[email protected]> Kepada: Syiar-Islam <[email protected]> Terkirim: Kamis, 18 Desember, 2008 12:13:00 Topik: [syiar-islam] Teguran Untuk Amalan Sunah Teguran Untuk Amalan Sunah Yang Diabaikan Assalaamu'alaikum Wajar jika ada seseorang yang menegur saudaranya karena saudaranya itu melalaikan sebuah kewajiban. Tapi, bagaimana dengan orang yang menegur saudaranya karena saudaranya itu melalaikan sesuatu yang hukumnya sunah? Saya pernah mendengar orang yang lumayan berilmu mengatakan bahwa tidak sepantasnya kita meributkan saudara kita yang malas mengerjakan amalan nawaafil. Itu keterlaluan, sebab sunah itu jika tidak dikerjakan tidak apa-apa! Terus terang, saya tidak sepakat dengan pendapat tadi. Tidak selamanya sesuatu yang sunah itu tidak apa-apa jika tidak dikerjakan. Ada sunah yang dibenci oleh rasulullaah saw jika ditinggalkan oleh para shohabat. Rasulullaah saw juga pernah marah karena ada orang yang menyepelekan sebuah amalan sunah tertentu. Beliau juga sering menegur para shohabat jika ada yang melalaikan ibadah sunah tertentu. Apakah orang tadi mengira bahwa rasulullaah saw telah keterlaluan? Wah.. wah! Jika rasulullaah saw dianggap keterlaluan, lantas siapa yang dia teladani? Bukankah rasulullaah saw pernah marah kepada Ali (ra) karena malas menunaikan sholat malam? Bukankah beliau saat khutbah jumat pernah menegur seorang shohabat yang tidak sholat tahiyatul masjid? Bukankah beliau pernah marah besar kepada orang-orang yang tidak mau memenuhi panggilan adzan seraya mengancam mereka dengan pembakaran? Bukankah beliau pernah memanggil dan menegur dua orang yang tidak ikut sholat shubuh secara berjama'ah? dan masih banyak lagi! Nah, inilah rasulullaah saw. Apakah kita menganggap kemarahan dan teguran beliau tersebut sebagai tindakan yang keterlaluan? Saya mencoba berpendapat, dalam hal sunah muakad, maka sebaiknya kaum muslimin saling memotivasi dan mengingatkan. Dan dalam hal ini, tidak masalah untuk saling menegur. Sebab, sunah muakad adalah sunah yang sebaiknya dikerjakan, dan tidak pantas jika ditinggalkan. Jujur, saya membayangkan jika bisa hidup bersama rasulullaah saw. Dalam hati saya bertanya "hidup bersama rasulullaah saw itu menyenangkan atau tidak ya?". Jika ketahuan tertinggal sholat berjama'ah dan melalaikan sholat malam akan mendapat kemarahan rasulullaah saw, pasti hidup bersama beliau akan berat. Makanya, mengaku cinta kepada beliau itu harus membayangkan bagaimana jika bertemu dengan beliau. Kalau kita termasuk orang yang malas, pasti hidup bersama rasulullaah saw justru "tersiksa", karena setiap ketemu dengan beliau justru akan kena teguran. Eits..! tapi jangan sekali-kali mengatakan: "untung saja kita tidak hidup bersama rasulullaah saw". Mukmin macam mana yang mau berkata seperti itu? So, Kita harus selalu introspeksi, agar kita bisa bertemu dengan rasulullaah saw. wassalaamu 'alaikum Sumber : Darul Muhaajiriin. http://titok. wordpress. com/2007/ 05/ [Non-text portions of this message have been removed] Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!! Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/ [Non-text portions of this message have been removed]

