Bismillahirrohmaanirrohiim, assalaamu'alaikum wrwb.
Kalau diijinkan, perkenankanlah saya berbagi pengalaman. Semoga ada manfaatnya
dan dapat diambil hikmahnya, amiin.
Setelah satu minggu refreshing menikmati libur kantor akhir tahun, saya
bersama keluarga pulang kampung dan menyempatkan diri mengunjungi (baca:
ziarah) ke para pendiri budaya Islam di masa-masa awal perjuangan dakwah
seperti Kerajaan Islam Mataram (Yogyakarta), Kerajaan Islam Demak (Jawa
Tengah), dan makam Sunan Kalijaga, Kadilangu, Demak (Jawa Tengah). Yaah,
berangan-angan sekaligus sangat kagum bagaimana beliau-beliau dahulu
mendakwahkan Islam dengan sangat gemilang tanpa ada pertumpahan darah yang
berarti. 25 tahun yang lalu, kunjungan saya ke tempat atau situs sejarah
tersebut hanya sekedar memenuhi jadwal kegiatan sekolah. Namun, minggu lalu, di
akhir tahun 1429 H/2008 M dan awal tahun baru 1430 H/2009 M saya benar-benar
ingin mengunjungi situs para pejuang dakwah semisal Sunan Kalijaga.
Namun, apa yang terjadi. Di makam Panembahan Senopati, saya sangat sedih karena
para pengunjung/peziarah disyaratkan harus memakai pakaian tradisional yang
bisa disewa. Untuk pakaian laki-laki tidak ada masalah, karena pakaian
tradisional tersebut telah mencukupi menutup aurat. Akan tetapi, bagi
pengunjung/peziarah wanita syarat penggunaan pakaian tradisionalnya belum
mencukupi menutup aurat-karena bagian atas dada terbuka/dodotan- sebagaimana
dituntunkan Alloh (QS: Al Ahzab/33: 59) dan tuntunan rasululloh saw.
Di makam Raden Fattah dan makam Sunan Kalijaga saya sangat sedih sekaligus
ada rasa gembira bisa bertemu dengan penjaga makam dan wakil Bupati Demak yang
waktu itu bertindak sebagai khotib khutbah Jum’at 26 Desember 2008.
Kesedihan saya adalah mengapa beberapa tempat situs kerajaan Islam itu tidak
dijaga “Syariat Islamnya”?
Di makam yang berada di sekitar masjid demak banyak sekali yang dibangun
nisan-nisan dan bangunan lainnya. Bukankah Rasululloh melarang umatnya
membangun bangunan di atas kubur? Rasulullah Saw melarang mengapur kuburan,
duduk-duduk di atas kuburan dan membina kuburan (dibangun dengan bata atau
dengan ubin, dll) tapi berupa unggukan tanah saja setinggi satu jengkal. (HR.
Muslim). Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad
Faiz Almath - Gema Insani Press. Dalam Hadits Web.
Bahkan, lebih sedih lagi, karena masih ada beberapa (kalau tidak boleh
dikatakan banyak) sesaji-sesaji model bantenan yang dibiarkan diadakan di
sekitar makam pahlawan pejuang dakwah Islam di Indonesia tersebut? Banyak
pengunjung saya lihat menggosok-gosokkan kainnya ke nisan atau memberi minyak
wangi di nisan terlebih dahulu lalu digosok-gosokkan ke bajunya? Apa maksudnya?
Wallohu a’lam. Tapi….kalau di makam rasululloh saw, Madinah…pasti perbuatan
demikian langsung dilarang..harom…harom..harom... Kita diingatkan oleh para
askar penjaga makam rasululloh saw untuk selalu berdoa kepada Alloh menghadap
kiblat, bahkan dengan posisi membelakangi makam rasululloh saw. Inilah yang
seharusnya dilakukan para penerus perjuangan rasululloh saw dalam menyebarkan
tata cara kehidupan yang sesuai ajaran Islam.
Malah ada lagi pancuran air yang dianggap memiliki tuah tertentu (ini pun juga
diberi sesaji…), Na’udzubillaahi min dzaalik. Kalau saya baca buku sejarah
perjuangan wali songo dalam mendakwahkan Islam (bacanya dikiiit), maka keadaan
itu semestinya hanya ada ketika beliau-beliau anggota wali songo masih hidup
yang kondisi masyarakatnya memang berawal begituan….Ibarat orang baru saja
mengenal islam maka solat pertamanya hanya dzuhur saja dalam sehari tentu masih
lebih baik daripada belum mau sholat sama sekali. Setelah sekian puluh atau
ratus tahun seperti zaman sekarang ini , tentunya penerus perjuangan dakwah
Islam meluruskan tata cara dan segala langkah sesuai ajaran Alqur’an dan
sunnah rasululloh saw.
Sebagai orang luar, saya hanya bisa menyampaikan kepada dua orang teman yang
saudaranya adalah pengurus masjid Demak tersebut agar cara-cara sesaji/bantenan
yang khurofat cenderung musyrik itu dilenyapkan. Bukankah seperti yang kita
saksikan di makam Yang Mulia Rasululloh saw sendiri tidak ada bangunan
sama-sekali? Makam rasululloh saw, abu bakar, dan umar hanya gundukan tanah
yang di tandai batu. Wallohu a’lam bishowab.
salam,
faisol muhammad