Assalamu'alaikum..

Mohon maaf.. kisah ini sudah sering kami baca dan tidak pernah mata kami tidak 
basah setelah membacanya.
Namun ada terbesit sedikit pertanyaan dari ketidaktahuan kami.. apakah setelah 
mengucapkan "Ummatii, ummatii, ummatii.." baginda Rasulullah langsung wafat? 
Ataukah beliau masih mengucapkan syahadat, namun tidak diriwayatkan?

Mohon diberi pencerahan tentang dasar/dalil mengucapkan syahadat di akhir hayat 
seorang muslim.
Bagaimana pula riwayat akhir hayat para sahabat sehubungan dengan pengucapan 
syahadat ini?

Terakhir, tentang adzan pada saat jenazah dikuburkan. Mohon diberi juga 
pencerahan tentang hal ini. Yang pernah kami dengar, hikmah adzan tersebut 
adalah, ketika lahir disambut dengan adzan, ketika wafat juga diiringi dengan 
adzan.



Jazakallah
Wassalamu'alaikum
Islamuddin




  ----- Original Message ----- 
  From: Hasna Mardhiah 
  To: Nur Afifah ; milis syiar islam ; Utami Khoerunnisa ; afifah phichan 
fitriah ; tazkiyatun nafsiyyah ; kak sofwan ; Muhammad Azzam ; kak robie 34 
  Sent: Saturday, January 24, 2009 2:50 PM
  Subject: [syiar-islam] Air Mata Rasulullah SAW


  Bismillah...

  Ada
  sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat
  kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai
  menguning,burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. 
  Pagi
  itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku,
  kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati
  dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan duahal pada kalian,sunnah dan Al 
Qur'an. Barang
  siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang
  yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku." 
  Khutbah
  singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh
  menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan
  berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya.
  Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya
  dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. 
  "Rasulullah
  akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala
  itu.Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.
  Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap
  menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. 
  Saat
  itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik
  berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih
  tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan
  keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi
  alas tidurnya.

  Tiba-tiba
  dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
  "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya
  masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan
  badan dan menutup pintu. 

  Kemudian ia kembali menemani ayahnya
  yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah
  itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali
  ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. 

  Lalu, Rasulullah
  menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah
  bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah,
  dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan
  pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah
  pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi
  Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. 

  Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas
  langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
  "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah
  dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para
  malaikat telah menanti ruhmu. 

  Semua syurga terbuka lebar
  menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan
  Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. 

  "Engkau tidak
  senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku
  bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku
  pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi
  siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata
  Jibril. 

  Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan
  tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah
  bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit
  sakaratul maut ini." 

  Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah
  terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril
  memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu
  Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah
  yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
  Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang
  tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja
  semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah
  mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. 

  Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera
  mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku
  - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di
  luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling
  berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali
  mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
  "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" 

  Dan,
  berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini,
  mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa
  baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. 

  NB: 
  Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran
  untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya
  mencintai kita. 

  Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin... 
  Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang
  menyayangi mu di dunia tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena
  tiada lagi yang mengasihmu diakhirat.

  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke