assalaamu 'alaikum.

bismilaahirrahmaanirrahiim.

saya tidak mengerti benar semua yang ditulis. tetapi sepertinya ada
taste yang saya rasakan. untuk direnungkan.

sebuah artikel 
http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8231:matinya-perjuangan&catid=99:m-fauzil-adhim-&Itemid=75
oleh ustadz Muhammad Fauzil Adhim hafizhahullaah.

"Matinya Perjuangan"                    
Thursday, 25 December 2008 11:09

Sering orangtua mendidik anak mereka hari ini bukan untuk
mempersiapkan menantang masa depan. Akibatnya sering digilas masa
depan



Oleh: Mohammad Fauzil Adhim *

Sejarah peradaban besar pada dasarnya adalah perjalanan hidup seorang
manusia besar. Ia menciptakan perubahan bukan karena banyaknya harta
yang dimiliki, atau kuatnya kekuasaan yang ia genggam. Tetapi ia
menciptakan perubahan yang menggerakkan orang-orang di sekelilingnya
oleh kuatnya jiwa, tajamnya pikiran, kokohnya hati, dan tingginya daya
tahan berjuang dikarenakan besarnya cita-cita. Kerapkali, cita-cita
besar itu bukan digerakkan oleh gemerlapnya dunia yang sekejap, tetapi
oleh keyakinan yang menjadi ideologi perjuangan.

Orang-orang yang merintis jalan perjuangan, adalah mereka yang
merelakan kenikmatan hidup demi meraih apa yang menjadi keyakinannya.
Bukan karena mereka tidak pernah berhasrat pada kenikmatan, tetapi
karena kenikmatan itu menjadi kecil dan tidak ada artinya dibanding
cita-cita besar yang terpendam dalam jiwa.

Demi memperjuangkan keyakinan, mereka bersedia memilih jalan hidup
yang tidak populer; mengawali perjuangan dengan menghadapi senyum
sinis dan bahkan bila perlu–seperti halnya Nabi Muhammad Shalallahu
'alaihi wa sallam—dianggap gila dalam arti yang sebenarnya. Sedemikian
kuatnya tudingan itu, sampai-sampai Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman:

"Nuun, demi qalam dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Tuhanmu
kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi
kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan
sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak
kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat,
siapa di antara kamu yang gila." (Al-Qalam: 1-6).

Orang-orang yang merintis jalan adalah mereka yang memiliki kelapangan
hati untuk belajar, meski kepada yang lebih muda dan masih amat hijau.
Mereka inilah yang memenuhi dadanya dengan kelapangan dan sekaligus
kepedihan tatkala melihat saudaranya berkubang dalam keburukan.

Ketegaran jiwanya bertemu dengan kelembutan yang penuh kesantunan.
Kematangan ilmunya bertemu dengan kehausan untuk belajar dan kesediaan
untuk mendengar. Mereka ingin sekali mencicipkan kebenaran, bahkan
kepada orang yang telah terjerumus dalam kesesatan.

Inilah yang menggerakkan para pendurhaka mendatangi
majelis-majelisnya, dan bahkan mendatangi lututnya untuk bersimpuh.
Inilah yang menyebabkan orang-orang yang keras hati menjadi luluh dan
bahkan berbalik menjadi sahabat dalam berjuang dan penderitaan. Inilah
yang membangkitkan semangat untuk berbenah sesudah mereka berputus asa
atas banyaknya keburukan yang telah mereka perbuat. Ini pula yang
menyebabkan satu negeri, satu kawasan, atau sekurangnya satu kampung
mendapat kucuran barakah dari Allah; baik yang Ia turunkan dari langit
maupun yang Ia munculkan dari bumi.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri
beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka
barakah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat
Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."
(Al-A'raaf: 96).

Maka bertebaranlah kebaikan di dalamnya. Setiap yang masuk di tempat
itu akan merasakan kebaikan yang merata. Hingga zaman bertukar, masa
berganti. Para perintis telah beranjak tua dan sesudah itu pergi.
Sementara yang dulu menyertai perjuangan di samping kiri, kanan, atau
belakang, kini telah menjadi yang dituakan. Anak-anak yang dulu
bermain-main lucu, sekarang sedang menentukan warna zamannya. Atau…,
mereka ditentukan oleh semangat zaman yang melingkupinya.

Inilah titik krusial yang kerapkali menjadi awal terhentinya
perjuangan. Banyak jebakan pada masa ini. Peralihan dari generasi
perintis kepada generasi kedua, tepatnya generasi yang menyertai pahit
getirnya perintisan ketika sudah mulai berjalan, jika tidak
berhati-hati bisa terjatuh pada tafrith atau ifrath (kebablasan). Bisa
terjebak pada tasahhul (menggampangkan) yang berlebihan atau
sebaliknya tasyaddud (mempersulit) yang melampaui batas. Bisa
terperangkap pada sikap jumud yang anti perubahan dan sulit menerima
masukan, atau sebaliknya berlebihan dalam menanggapi perubahan dan
bahkan tercebur dalam arus perubahan itu sendiri.

Sikap jumud membuat kita sulit menerima nasihat yang disampaikan
dengan penuh kasih sayang sekalipun (tawashau bil-marhamah). Dalam
keadaan seperti ini, amar ma'ruf nahi munkar bisa terhenti karena yang
tua tidak bisa mendengar suara yang muda. Jika yang muda memiliki
sikap takzim kepada yang tua, kebaikan insya Allah masih bertebaran di
dalamnya.

Tetapi jika tidak segera disadari, situasi seperti ini dapat
menyebabkan hilangnya sikap hormat dari yang muda kepada yang tua pada
generasi berikutnya, yakni kelak ketika generasi ketiga memasuki masa
dewasa, sementara generasi kedua menjalankan pola yang sama seperti
yang pernah mereka jumpai. Mereka menjalankan pola yang sama, tetapi
dengan penghayatan yang rendah atas apa yang seharusnya menjadi ruh
perjuangan. Pada titik ini, generasi ketiga bisa berbalik menjadi
berlebihan dalam menerima apapun yang datang dari luar, bahkan yang
nyata-nyata bertentangan dengan nash Kitabullah. Alhasil, generasi
ketiga justru menjadi perusak perjuangan generasi pertama.
Na'udzubillahi min dzalik.

Apa yang salah sebenarnya? Banyak sebab yang bisa kita runut dan
catat. Salah satunya adalah karena kita terjebak pada bentuk, lupa
kepada yang prinsip. Atau sebaliknya, menyibukkan diri dengan prinsip
tetapi mengabaikan bentuk. Kita tidak belajar secara utuh atas
generasi terdahulu, sehingga lupa menyiapkan anak-anak memasuki masa
depan. Bisa terjadi, kita bahkan tidak dapat membaca masa depan. Kita
sibuk menjadi manusia masa lalu dan memaksa anak-anak untuk menjadi
manusia masa lalu. Padahal 'Ali bin Abi Thalib Radhiallahu 'anhu
mengingatkan agar kita mendidik anak-anak untuk sebuah zaman yang
bukan zaman kita. Kata 'Ali, "Jangan paksakan anakmu untuk menjadi
seperti kamu, karena dia diciptakan bukan untuk zamanmu."

Di antara bentuk-bentuk pemaksaan adalah hilangnya kesediaan kita
memahami anak-anak. Setiap kali ada masalah, kita rujukkan pada masa
lalu, "Dulu bapak begini juga bisa." Atau, "Ah, dulu orangtua kita
tidak pakai macam-macam juga bisa berhasil."

Kita lupa bahwa sekalipun prinsip-prinsip yang berjalan pada suatu
zaman selalu sama, tetapi bentuknya bisa berubah. Kalau tidak
disiapkan untuk menghadapi bentuk tantangan yang sesuai dengan
zamannya, mereka bisa gagap mengantisipasi perubahan. Akibat
berikutnya bisa tragis; mereka menjadi manusia kolot yang tidak
memahami prinsip dengan baik dan tidak mampu memetakan bentuk
persoalan yang sedang terjadi. Atau sebaliknya mereka kehilangan rasa
hormat kepada yang tua sehingga berkata, "Ah, apa itu orangtua…!
Gagasan mereka semuanya usang!"

Mereka tidak bisa membedakan mana yang tetap dan mana yang berubah,
mana yang pasti dan mana yang praduga. Mereka memutlakkan apa yang
ijtihadiyah, sehingga memunculkan generasi yang menisbikan semua
perkara, bahkan yang jelas-jelas tetap dan mutlak. Dalam bentuk yang
lebih ringan, pintu ijtihad dibuka lebar-lebar, meskipun terhadap
orang yang tidak memiliki kualifikasi. Atau sebaliknya, melahirkan
generasi yang tertutup pikirannya, kaku sikapnya, dan beku gagasannya.
Seakan-akan agama ini telah menutup pintu bagi ijtihad.

Di antara sebab-sebab tidak munculnya generasi yang tanggap terhadap
perubahan zaman tanpa hanyut di dalamnya, adalah tidak sejalannya
dakwah dan jihad dengan pendidikan dan penyiapan generasi. Dakwah
berjalan tanpa perencanaan yang matang sehingga kehilangan visi dan
kepekaan.

Pendidikan berjalan tanpa arah yang jelas dan "ruh" yang kuat,
sehingga mudah terpengaruh oleh tepuk-tangan, pemberitaan di koran
atau pujian orang-orang yang tulus maupun mereka yang menikam secara
halus dengan memuji.

Kita mendidik anak-anak untuk kita lihat hasilnya hari ini. Bukan
untuk mempersiapkan mereka menantang masa depan seperti wasiat 'Ali.
Akibatnya, gemerlapnya prestasi hari ini tidak memberi bekal apa-apa
bagi mereka untuk menciptakan masa depan. Sebaliknya, mereka menjadi
orang yang hanya menyongsong masa depan atau bahkan digilas oleh masa
depan.

Teringatlah saya kepada ayat Allah: "Tidaklah sepatutnya bagi
orang-orang Mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak
pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk
memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, dan untuk memberi
peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya,
supaya mereka itu dapat menjaga diri." (At-Taubah: 122).

Agar perjuangan tidak mati, atau terhenti justru oleh anak-anak kita
sendiri, ada yang perlu kita renungkan dari ayat tadi. *

-- 
+++
[5:50] apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum)
siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang
yakin? (AL MAA-IDAH (HIDANGAN) ayat 50)
---
Wala' untuk Islam
Amhar

------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai US$ 1.490
Paket ONH Plus 2009 (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900
Informasi lengkap di:
http://www.syiarislam.wordpress.com
http://www.media-islam.or.id
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke