Mengapa Manusia Memilih Kehidupan Fana?

oleh Mashadi 
Selasa, 10/02/2009 15:11 WIB
 Cetak |  Kirim |  RSS 
Bagaimana memaknai kehidupan? Bagaimana manusia harus mensikapi kehidupannya? 
Kehidupan dalam Islam, bukanlah rentang waktu yang pendek, yang digambarkan 
usia seseorang, atau usia sebagian umat manusia. Namun, juga bukan rentang 
waktu yang nyata, yang digambarkan dengan usia umat manusia secara keseluruhan.

Kehidupan menurut pandangan Islam adalah kehidupan di segala masanya, baik itu 
kehidupan nyata – yakni kehidupan duniawi – dan juga kehidupan akhirat. Masa 
dalam kehidupan dunia berbanding jauh dengan kehidupan akhirat. Ia bagaikan 
hanya satu jam di tengah hari. Ruang kehidupan akhirat pun lebih luas dari 
ruang kehidupan dunia. Ia adalah perpaduan ruang kehidupan dunia – di mana 
manusia hidup – dengan ruang lainnya.

Luas surga dalam kehidupan akhirat sebanding dengan langit dan bumi dalam 
kehidupan manusia. Sedangkan kehidupan neraka dalam kehidupan akhirat mampu 
menampung seluruh orang kafir dalam seluruh masa.

Tentu, hakikat rentang kehidupan mencakup kehidupan yang sifatnya familiar, 
yakni kehidupan akhirat, baik itu di surge maupun di neraka. Suasana yang ada 
dalam kehidupan akhirat tidak akan bisa dirasakan dan disamakan dengan suasana 
yang ada dalam kehidupan dunia.

Allah Ta’ala telah mendiskripsikan dengan jelas tentang kehidupan akhirat dalam 
al-Qur’an dengan berbagai karakteristik yang dimilikinya, hingga tampak jelas 
hakikatnya bagi siapa saja yang ingin mempelajarinya. Tapi, banyak manusia yang 
tidak mau memilih kehidupan yang lebih nyata, dan kekal, tapi manusia lebih 
memilih kehidupan yang fana, yaitu dunia.

Allah Ta’ala berfirman : “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda 
gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, 
kalau mereka mengetahui”. (al-Ankabut :64) Menurut Mujahid mengungkapkan, 
“Sesungguhnya yang dimaksud dengan, sesungguhnya akhirat I tulah yang 
sebenarnya kehidupan adalah kehidupan yang tidak ada kematian didalamnya”. 
Sedang Ibn Jarir menyatakan, yang dimaksud dengan kehidupan akhirat adalah 
kehidupan yang kekal. Tidak ada kesudahannya, tidak interupsi dan tidak ada 
kematian. Ibn Abu Ubaidah mengemukakan, bahwa yang dimaksud dengan kehidupan 
akhirat adalah kehidupan yang tidak ada kematian di dalamnya. Ia adalah 
kehidupan yang tidak penuh dengan tipu daya, sebagaimana kehidupan duniawi.

Kisah indah digambarkan dalam kehidupan seorang sahabat, yaitu Hasan al-Basri, 
yang sangat zuhud terhadap dunia. Al-Basri tidak pernah terkena tipu daya 
dunia. Hidupnya jauh dari perbuatan durhaka, dan senantiasa diliputi ibadah 
kepada Rabbnya. Ia tinggalkan kehidupan dunia, yang melalaikan, dan hanya tipu 
daya belaka. Hasan al-Basri, benar-benar seorang, yang senantiasa dirinya 
terikat dengan akhirat. Jalan hidupnya penuh dengan ketaqwaan.Ia tidak ingin 
mengotori dengan prenik-prenik kenikmatan yang menipu, dan membuatnya terjatuh 
dalam murka-Nya.

Ketika Hasan al-Basri sedang sakit, saudara-saudaranya dan teman-temannya yang 
menjenguk merasa heran. Karen mereka tidak mendapati apa-apa dirumahnya, tidak 
ada tikar ataupun selimut, kecuali tempat tidur yang tidak ada apa-apanya. 
Hasan al-Basri rahimahullah adalah seorang ustadz (guru) dalam kewara’an. Dia 
mencari tingkat yang luhur dan menjauhkan dirinya dari hal-hal yang 
mengotorinya. Alangkah indahnya hidup laki-laki yang menahan diri dari selera 
nafsu dan beraneka ragam kenikmatan dunia.

Sementara, tak sedikit manusia yang binasa lantaran memperturutkan hawa 
nafsunya. Hasan al-Basri menjauhi hawa nafsu yang menyukai segala Sesutu, nafsu 
yang cenderung kepada aneka kesenangannya yang dapa merusaknya.

Kewara’an Hasan al-Basri samapi ke tingkat ia tidak mengambil gaji dalam 
tugasnya dibidang peradilan. Tatkala Addi bin Arthat, seorang pejabat Iraq, 
memberinya uang sebesar 200 dirham, ia menolaknya. Addi mengira pemberian uang 
itu dianggap kurang oleh Hasan al-Basri. Karena itu, ia menambahnya. Namun, 
Hasan al-Basri tetap menolaknya. Al-Basri berujar : “Aku menolaknya bukan 
karena aku memandang uang itu sedikit. Aku menolaknya karena tidak mau 
mengambil upah dalam memutuskan hukum”, tegas al-Basri.

Tidak ada lagi di zaman sekarang manusia yang memiliki sikap hidup seperti 
Hasan al-Basri, yang zuhud terhadap kehidupan dunia. Manusia modern di saat 
sekarang ini, justru mengejar kehidupan dunia yang fana, dan sebentar berakhir 
manusia. Tapi, justru manusia mengagungkan dan memuja kehidupan dunia, yang 
tidak ada artinya apa-apa di akhirat nanti. Wallahu ‘alam. 

http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/mengapa-manusia-memilih-kehidupan-fana.htm

Free Al Aqsho, Free Palestine, Allohu Akbar!!!


      Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs pribadi Anda? 
Buat Pingbox terbaru Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke