Forward...

 

________________________________

From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of HarlanLina
Sent: Tuesday, February 24, 2009 8:58 PM
To: [email protected]
Subject: [PeKa-SejahterA] Lobi Yahudi dan Liberalisme di Indonesia

 

Oleh : Adian Husaini

Sekali waktu, tengoklah situs www.libforall.org. Banyak informasi
tentang pemikiran dan gerakan liberalisasi yang bisa kitaAdian Husaini
petik dari situs satu lembaga yang secara terbuka mengusung nama
"liberal untuk semua" ini. Jumat pagi (20/2/2009), situs ini masih
memampang catatan prestasi LibForAll dalam menjalankan misinya di
Indonesia. Berbeda dengan sejumlah lembaga pendukung Yahudi dan Israel
lainnya, organisasi ini pun tidak segan-segan dan malu-malu untuk
menunjukkan dukungannya kepada Israel. Berbagai aktivitas dilakukan
untuk membuat membangun gambaran positif tentang negara Zionis Israel.

Disebutkan dalam situsnya, pada 12 Juni 2007, LibforAll
menyelenggarakan konferensi keagamaan di Bali, yang disebutnya sebagai
"a historic religious summit in Bali". Konferensi ini dibuat dengan
tujuan menegaskan terjadinya peristiwa holocaust (pembantaian terhadap
Yahudi di Eropa), mempromosikan toleransi beragama, dan menyingkirkan
ideologi kebencian. 

Pelaksana Konferensi adalah organisasi bernama Simon Wiesenthal Center
yang merupakan partner LibForAll. Acara dibuka oleh pidato mantan
Presiden RI Abdurrahman Wahid yang isinya mengecam keras penolakan
terhadap peristiwa holocaust. LibForAll menulis, bahwa acara itu
diliput ratusan media di berbagai penjuru dunia. Pesan yang
disampaikan kepada dunia jelas, bahwa sebagai satu negara Muslim
terbesar di dunia, Indonesia menolak pemikiran-pemikiran yang
mendiskreditkan Yahudi dan Israel.

Peristiwa holocaust memang menjadi salah satu tonggak penting
berdirinya negara Israel. Selama puluhan tahun, kaum Yahudi berusaha
keras untuk mencitrakan dirinya sebagai kaum tertindas. Masalahnya,
masalah itu masih tetap terselimuti kabut tebal, yang pelan-pelan
mulai terkuak. Seorang pastor Katolik, Richard Williamson, pada
Januari 2009, membuat tindakan yang mengejutkan dengan menyatakan,
bahwa korban Yahudi di Tangan Nazi hanya sekitar 200.000-300.000
orang, dan bukan 6 juta seperti klaim Yahudi selama ini. Ia juga
membantah adanya kamar gas untuk membantai kaum Yahudi tersebut.

Seorang cendekiawan Yahudi, Norman G. Finkelstein membongkar
praktik-praktik bisnis holocaust melalui bukunya, The Holocaust
Industry (2000). Meskipun keluarganya menjadi korban Nazi, tapi
Finkelstein berani memaparkan konspirasi seputar Holocaust. Kaum
Yahudi mengeruk keuntungan yang luar biasa dari bisnis holocaust ini.
Selama ini, Holocaust menjadi barang suci yang tidak boleh disentuh.
Padahal, bukti-bukti sejarah menunjukkan, angka 6 juta orang sangat
sulit dibuktikan dalam sejarah. Banyak cerita-cerita palsu seputar
Holocaust yang selama ini disampaikan di publik, terutama kepada
masyarakat Amerika Serikat.

Ketika misteri Holocaust makin terkuak di dunia internasional, justru
di Indonesia, kelompok LibForAll dapat menggelar satu Konferensi yang
mendukung klaim kaum Zionis atas Holocaust. Tentu, bagi Israel, ini
prestasi yang membanggakan. Apalagi, pada bulan Desember 2007,
LibForAll juga memberangkatkan lima orang Indonesia ke Israel. Situs
harian Jerusalem Post pada 8 Desember 2007 menurunkan sebuah berita
berjudul Indonesian "Peace Delegation Meet With Peres" (Delegasi
Perdamaian dari Indonesia Temui Shimon Peres). LibForAll sangat
membanggakan kedatangan delegasi Indonesia yang keberangkatannya juga
diatur oleh Simon Wiesenthal Center. Karena itulah, mereka diberi
kesempatan istimewa untuk bertemu langsung dengan Presiden Israel,
Shimon Peres.

Melalui LibForAll, lobi-lobi Israel di Indonesia terus dijalankan.
Sesuai dengan namanya, organisasi ini sangat aktif dalam melakukan
proses liberalisasi pemikiran Islam. Dua organisasi Islam terbesar
menjadi sasaran utama, yaitu NU dan Muhammadiyah. Situs LibForAll
berisi banyak foto kegiatan yang melibatkan tokoh-tokoh kedua
organisasi tersebut. Tentu ini adalah upaya propaganda LibForAll yang
ingin membangun citra, seolah-olah mereka sudah berhasil 'menguasai'
dan 'mengatur' kedua organisasi Islam tersebut.

Kita memahami bentuk propaganda model LibForAll ini. Padahal,
faktanya, baik di tubuh NU maupun Muhammadiyah, resistensi terhadap
Yahudi dan Israel sangatlah tinggi. Apalagi, setelah pembantaian
ribuan warga Gaza oleh Israel, citra Israel sebagai negara biadab
semakin tertanam secara mendalam pada benak umat Islam Indonesia.
Namun, LibForAll, melalui situsnya, terus membanggakan kisah suksesnya
dalam menanamkan lobi Yahudi dan menyebarkan paham liberalisme di
Indonesia.

Salah seorang yang dibangga-banggakan oleh LibForAll adalah yaitu
Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, penasehat LibForAll yang juga guru
besar UIN Yogya. Dalam situsnya, LibForAll menulis peran penting Munir
Mulkhan dalam memberantas ekstrimisme di Muhammadiyah. Prestasi Munir
dalam menolak ekstrimisme dan menjauhkan Muhammadiyah dari partai
politik Islam, khususnya PKS, disebut sebagai sebuah prestasi besar (
a landmark achievement). PKS disebut identik dengan Hamas dan
berafiliasi dengan kelompok radikal Ikhwanul Muslimin. LibForAll
menulis:

"The new year arrived on the heels of a landmark achievement by
LibForAll Advisor and Senior Fellow Dr. Abdul Munir Mulkhan (former
Vice Secretary of the Muhammadiyah, the world's second-largest Muslim
organization, with 30 million members). After a year-long campaign,
Dr. Munir succeeded in mobilizing his organization to officially
reject extremism and distance itself from Islamist political parties,
which have penetrated the Muhammadiyah through the so-called
"Tarbiyah," or Islamic Education, movement. The heavily-funded group
thus rejected, the PKS, is the Indonesian political equivalent of
Hamas, and is affiliated with the radical Muslim Brotherhood."

Prestasi Munir Mulkhan ini ditulis juga dalam sebuah artikel di Wall
Street Jornal (10/4/2007) berjudul "The Exorcist: An Indonesian man
seeks "to create an Islam that will make people smile" oleh Bret
Stephens. Prof. Abdul Munir Mulkhan dikenal sebagai aktivis lintas
agama yang memang sangat liberal. Ia sangat terobsesi untuk meletakkan
nilai-nilai kemanusiaan universal di atas ajaran-ajaran agama yang ada.

Sekedar contoh, simaklah isi sebuah buku karya Prof. Abdul Munir
Mulkhan berjudul Kesalehan Multikultural (2005) diterbitkan oleh Pusat
Studi Agama dan Peradaban (PSAP) Muhammadiyah. Dalam buku ini, secara
tegas Munir menolak Pendidikan Tauhid seperti yang dipahami kaum
Muslim selama ini. Sebagai gantinya, dia mengajukan gagasan 
'Pendidikan Islam Multikultural'. Munir menulis:

"Jika tetap teguh pada rumusan tujuan pendidikan (agama) Islam dan
tauhid yang sudah ada, makna fungsional dan rumusan itu perlu dikaji
ulang dan dikembangkan lebih substantif. Dengan demikian diperoleh
suatu rumusan bahwa Tuhan dan ajaran atau kebenaran yang satu yang
diyakini pemeluk Islam itu bersifat universal. Karena itu, Tuhan dan
ajaran-Nya serta kebenaran yang satu itu mungkin juga diperoleh
pemeluk agama lain dan rumusan konseptual yang berbeda. Konsekuensi
dari rumusan di atas ialah bahwa Tuhannya pemeluk agama lain,
sebenarnya itulah Tuhan Allah yang dimaksud dan diyakini pemeluk
Islam. Kebenaran ajaran Tuhan yang diyakini pemeluk agama lain itu
pula sebenarnya yang merupakan kebenaran yang diyakini oleh pemeluk
Islam." (hal. 182-183).

Konsepsi seperti itu adalah melihat masalah keagamaan dengan sudut
pandang humanisme. Bukan sudut pandang Kristen, Yahudi, Islam, atau
agama-agama lain. Bagi Islam, jelas bukan begitu cara memandang Tuhan
dan agama-agama yang ada. Nabi Muhammad saw diutus untuk menjernihkan
berbagai ajaran para nabi yang sudah diselewengkan oleh kaum Yahudi.
(QS 2:75, 2:79). Berbagai tindakan syirik juga mendapatkan kecaman
keras dalam al-Quran. Kurang jelas apakah pandangan Tauhid Islam
selama ini? Mengapa Prof. Munir Mulkhan sampai berani mengusulkan agar
pendidikan Tauhid Islam itu diubah konsepnya? Aneh juga, oleh PSAP,
Munir dijuluki sebagai salah satu "Begawan Muhammadiyah", sehingga
penerbitan buku ini ditulis sebagai "Seri Begawan Muhammadiyah."

Berpegang pada konsep kesamaan Tuhan pada semua agama itu, Munir
menafikan konsep Tuhan pada masing-masing agama. Dia menulis:

"Bentuk-bentuk ritual yang sakral yang selama ini cenderung lebih
"memanjakan" Tuhan dan tidak manusiawi, perlu dikembangkan sehingga
menjadi ritus-ritus kultural yang sosiologis dan humanis. Tuhan yang
Maha Tunggal itu adalah Tuhan yang diyakini pemeluk semua agama di
dalam beragam nama dan sebutan. Surga dan penyelamatan Tuhan itu
adalah surga dan penyelamatan bagi semua orang di semua zaman dalam
beragam agama, beragam suku bangsa dan beragam paham keagamaan.
Melalui cara ini, kehadiran Nabi Isa a.s. atau Yesus, Muhammad saw,
Buddha Gautama, Konfusius, atau pun nabi dan rasul agama-agama lain,
mungkin menjadi lebih bermakna bagi dunia dan sejarah kemanusiaan...
Tuhan semua agama pun mungkin begitu kecewa melihat manusia
menggunakan diri Tuhan itu untuk suatu maksud meniadakan manusia lain
hanya karena berbeda pemahaman keagamaannya." (hal. 190). 

Lihatlah, ketika bicara tentang Tuhan, Munir hanya menggunakan
fantasinya. Padahal, dia sendiri tidak paham akan Tuhan. Dia
mengharuskan Tuhan untuk mengikuti logikanya sendiri. Seolah-olah,
dialah yang mengatur Tuhan. Padahal, sebagai orang yang mengaku
Muslim, harusnya dia merujuk kepada konsep-konsep yang dibawa oleh
utusan Allah, Nabi Muhammad saw. Karena dialah yang mendapatkan mandat
dari Allah untuk menjelaskan siapa Allah dan bagaimana cara
menyembah-Nya. Karena itulah, Nabi Muhammad saw mengajak kaum Musyrik
Arab untuk beriman kepadanya dan menjauhi dosa syirik. Amat sangat
jelas, apa misi Nabi Muhammad saw dan misi semua Nabi, yaitu untuk
mengajak manusia agar jangan menyembah tuhan selain Allah (QS 16:36).

Jadi, konsep pendidikan agama Multikulturalisme yang dibawakan oleh
Munir Mulkhan memang sangat bermasalah. Tapi, laksana virus, paham ini
pun disebarkan oleh berbagai kalangan. Sebagian sudah mulai melangkah
lebih jauh lagi dengan mengajukan konsep "Pendidikan Agama Berwawasan
Multikultural". Itulah judul sebuah buku yang ditulis seorang dosen
di salah satu Perguruan Tinggi Islam di Jawa Tengah, yang diberi kata
pengantar oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra.

Misi buku ini juga sejalan dengan misi Free Mason, yaitu menghapus
pemisah antar manusia: "Sebagai risalah profetik, Islam pada intinya
adalah seruan pada semua umat manusia, termasuk mereka para pengikut
agama-agama, menuju satu cita-cita bersama kesatuan kemanusiaan (unity
of mankind) tanpa membedakan ras, warna kulit, etnik, kebudayaan, dan
agama." (hal. 45).

Selain Munir Mulkhan, intelektual lain yang dibangga-banggakan oleh
LibForAll untuk melakukan proses liberalisasi di Indonesia adalah
Prof. Nasr Hamid Abu Zaid. Mulai 2007, LibForAll membuat sebuah proyek
Tafsir Al-Quran yang dipimpin Abu Zaid, yang juga penasehat
LibForAll, sebagaimana Munir Mulkhan. Tafsir ini akan menggunakan
metode modern yang menolak metode panafsiran literal dan membuang
pemikiran-pemikiran ekstrimisme. Ditulis di situsnya, bahwa Tafsir ini
akan dikerjakan oleh sarjana-sarjana Quran terkemuka di dunia dari
Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Timur Tengah. Tafsir Al-Quran ini
nanti diharapkan dapat menjadi jembatan bagi kaum Muslim untuk
menjembatani antara tradisi Islam dengan nilai-nilai kebebasan
(freedom), kesetaraan, Hak Asasi Manusia, demokrasi, dan globalisasi.

Situs LibForAll juga memberikan perhatian khusus kepada kasus yang
menimpa Abu Zaid pada bulan November 2007. Ketika itu, Abu Zaid
gagal menghadiri acara Annual Conference on Islamic Studies di Riau
dan juga satu seminar internasional di Malang. Oleh LibForAll,
pihak-pihak yang menolak pemikiran Abu Zaid dicap sebagai kaum
ekstrimis.

Sebuah prestasi lain yang dibanggakan oleh LibForAll di Indonesia
adalah diterbitkannya buku berjudul 13 Abad Eksistensi Islam di Bumi
Nusantara, pada Januari 2007. Buku ini dieditori oleh aktivis
LibForAll, Ahmad Gaus dan Rektor UIN Jakarta Prof. Dr. Komaruddin
Hidayat. Peluncuran buku ini berlangsung besar-besaran. Di situs
LibForAll, ditampilkan tokoh-tokoh yang menghadiri acara tersebut,
seperti Abdurrahman Wahid, Din Syamsuddin, dan Azyumardi Azra yang
juga penasehat LibForAll.

Menyimak kiprah LibForAll di Indonesia, tampak bagaimana mereka
menggunakan kekuatan dana yang sangat besar untuk membangun citra
positif Israel di Indonesia. Dengan alasan memerangi ekstrimisme di
kalangan Muslim, LibForAll juga berhasil menggaet kalangan elite
Muslim untuk mendukung upaya liberalisasi Islam di Indonesia.
Sebenarnya, jika dipikirkan, inilah politik belah bambu yang sejak
dulu diterapkan oleh penjajah kepada umat Islam. Sebagian
disanjung-sanjung dan diberi kenikmatan duniawi, sebagian lain diinjak
dan dimaki-maki sebagai kaum ekstrimis.

Melalui berbagai kiprah dan opini yang dibangunnya, tampak LibForAll
hanya memberikan pilihan kepada kita: berteman dengan Shimon Peres
atau Hamas. Jika berteman dengan Peres, akan diberi julukan mulia
sebagai "penyebar perdamaian". Jika berteman dengan Hamas, akan segera
mendapatkan cap " ekstrimis". Silakan pilih! [Depok, 20 Februari
2009/www.hidayatullah.com]




CONFIDENTIALITY
This e-mail message and any attachments thereto, is intended only for use by 
the addressee(s) named herein and may contain legally privileged and/or 
confidential information. If you are not the intended recipient of this e-mail 
message, you are hereby notified that any dissemination, distribution or 
copying of this e-mail message, and any attachments thereto, is strictly 
prohibited.  If you have received this e-mail message in error, please 
immediately notify the sender and permanently delete the original and any 
copies of this email and any prints thereof.
ABSENT AN EXPRESS STATEMENT TO THE CONTRARY HEREINABOVE, THIS E-MAIL IS NOT 
INTENDED AS A SUBSTITUTE FOR A WRITING.  Notwithstanding the Uniform Electronic 
Transactions Act or the applicability of any other law of similar substance and 
effect, absent an express statement to the contrary hereinabove, this e-mail 
message its contents, and any attachments hereto are not intended to represent 
an offer or acceptance to enter into a contract and are not otherwise intended 
to bind the sender, Sanmina-SCI Corporation (or any of its subsidiaries), or 
any other person or entity.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke