---------- Forwarded message ----------
From: "Hidayat, Taufik" <[email protected]>
Date: Tue, 17 Mar 2009 14:15:15 +0800
Subject: Selasa Siang
To:

 Krisis Global: Sistem Keuangan Porak-poranda dengan Kerugian Triliun

 Posted by: "Mohammad Syarwani" [email protected]   syarwani Fri Mar

 13, 2009 8:49 pm (PDT) Sistem Keuangan Porak-poranda dengan Kerugian

 Triliunan



 Sabtu, 14 Maret 2009



 Simon Saragih



 Memiliki mobil atau rumah tidak harus dengan uang tunai, tetapi bisa

 dengan mencicil. Kebiasaan ini sudah berlangsung lama di dunia dengan

 mengandalkan pembayaran dari gaji. Hanya orang mapan yang bisa membeli

 segala kebutuhan dengan uang tunai.



 Kegiatan mencicil seperti itu berjalan lancar. Tidak terdengar

 kebangkrutan massal perusahaan keuangan secara global sejak 1930-an.

 Ada sejumlah kasus kehancuran sistem keuangan di beberapa negara,

 tetapi tidak memberi efek domino kebangkrutan massal seperti sekarang.



 Bukti lain, Presiden Bank Dunia Robert Zoellick mengatakan, tak pernah

 ada pertumbuhan ekonomi dunia yang negatif sejak Depresi Besar 1929.



 Paul Krugman dan Joseph E Stiglitz, dua ekonom AS peraih Hadiah Nobel

 Ekonomi, mengatakan, ada regulasi yang membuat bank dan lembaga

 keuangan memberi kredit dengan rambu-rambu yang aman. Jika sebagian

 kredit yang dikucurkan macet, ada perusahaan asuransi yang menjamin

 kemacetan itu. Jika bank bangkrut sekalian, ada perusahaan penjamin
deposito.



 Dengan sistem seperti itu, konsumen, nasabah, dan perbankan sama-sama

 merasa aman dengan kegiatan saling meminjamkan, termasuk kegiatan

 meminjamkan kepada perusahaan. Dari proses pinjam-meminjam ini

 terjadilah permintaan, yang menjadi inti pendorong aktivitas
perekonomian.



 Kegiatan seperti itu buyar untuk sementara. Nasabah dan konsumen tidak

 dipercaya atau tidak memiliki daya beli sebagian karena sudah dikenai
PHK.

 Bank tidak punya dana, bahkan sudah bangkrut, dan ini terjadi pada

 bank-bank kaliber dunia, seperti UBS, Citigroup, dan ABN-AMRO yang
sudah almarhum.



 Ini merembet ke perusahaan dengan anjloknya, misalnya, penjualan mobil

 buatan General Motors, Ford, Toyota, dan Honda. Hampir semua kategori

 produk mengalami penurunan penjualan. Sebagian kartu kredit pun kini

 sudah sekadar kartu yang tak berdaya beli lagi.



 Warren Buffett mengatakan, kepercayaan itu pilar dari sistem yang

 tidak akan jalan tanpa kepercayaan. Ketiadaan kepercayaan itu

 contagious, menular dan menyebar ke semua sektor dengan daya rusak yang
besar.



 "Shadow banking"



 Mengapa keadaan menjadi kacau? Kegiatan shadow banking, "bank-bank

 gelap", merajalela dalam 25 tahun terakhir. Sebagian "bank-bank gelap"

 adalah perpanjangan tangan bank-bank konvensional dan tidak disentuh

 oleh hukum karena memang tidak diawasi. Regulator ketinggalan kereta.



 Michael Hiltzik, kolumnis di harian AS, The Los Angeles Times, pada 12

 Maret menulis, terjadi cerita horor dalam sistem keuangan. Walau

 dikatakan "bank-bank gelap", perusahaannya tidak gelap. Lehman

 Brothers adalah perusahaan AS berusia di atas 150 tahun. Sejumlah bank

 dan perusahaan besar dan resmi lainnya di AS juga terlibat. AIG,

 perusahaan asuransi terbesar dunia asal AS, pun sudah mirip "spekulan".



 Besaran bisnis kegiatan "bank-bank gelap", menurut Paul Krugman,

 sekitar 10 triliun dollar AS, lebih besar dari kegiatan bank-bank

 konvensional. Mereka menggantikan peran utama bank konvensional dan

 menjadi saluran utama proses pinjam-meminjam.



 "Bank-bank gelap" menipu investor, nasabah, dan masyarakat, serta

 menipu sesamanya. Pemodal dibujuk untuk menanamkan dana di perusahaan

 mereka. Dana dikucurkan kepada siapa saja yang bisa ditubruk tanpa

 memerhatikan kemampuan pengembalian pinjaman. Sekitar 1,2 juta warga

 di AS, misalnya, bisa mendapat rumah dari kredit, yang tidak didukung

 pendapatan untuk mencicil di kemudian hari. Walau untung tak ada,

 eksekutifnya mendapat bonus besar, seperti terjadi pada Merrill Lynch.
"Horrific," kata Krugman.



 Masalah bukan hanya karena kucuran kredit berlebihan tanpa rambu-rambu.

 "Bank-bank gelap" itu juga turut serta berspekulasi di bursa.

 Dana-dana yang mereka dapat dimainkan di bursa. Salah satu yang

 terkenal adalah dengan mengerek harga komoditas menjadi tinggi,

 seperti harga kedelai dan minyak, sebagaimana pernah dikatakan Steve
Forbes, pemilik majalah Forbes.



 Para eksekutif keuangan Wall Street meraup keuntungan pribadi tidak

 dari keuntungan perusahaan, tetapi menelan dana dengan mengorbankan

 nasabah. Ini terjadi pada kasus Bernard Madoff, penipuan tunggal

 terbesar dalam sejarah dengan kerugian 170 miliar dollar AS.



 CEO JP Morgan Chase Jamie Dimon, di New York, pekan ini, mengakui,

 perilaku seperti itu telah mengacaukan sistem keuangan. CEO HSBC

 Stephen Green mengakui, etika buruk sistem perbankan telah menjadi
sumber kekacauan.



 Berdasarkan data Bank Pembangunan Asia, jumlah uang yang lenyap akibat

 kekacauan di sektor keuangan sekitar 50 triliun dollar AS. Ini

 termasuk nilai kekayaan dunia yang lenyap akibat kejatuhan

 indeks-indeks di bursa global, bukan saja di AS.



 CEO Blackstone Group LP Stephen Schwarzman, Selasa (10/3) di New York,

 mengatakan, 45 persen kekayaan dunia rusak akibat krisis kredit

 global. Jika dunia kehilangan 50 triliun dollar AS dana, bayangkan apa

 dampaknya untuk dunia dengan besaran produk domestik bruto (PDB) 60
triliun dollar AS?



 Bagaimana memulihkan ekonomi dunia, kapan krisis akan selesai. "Saya

 hanya bisa mengharapkan agar kita semua mendapatkan keberuntungan,"

 kata Krugman di National Press Club, Washington, Desember 2008.

 Pernyataan ini merefleksikan dalamnya persoalan, yang tidak bisa

 diprediksi kapan dan bagaimana menyelesaikannya.



 Sumber: Kompas.com


-- 
Sent from Gmail for mobile | mobile.google.com

Kirim email ke