Dari seorang sahabat.. worth reading!!
________________________________

Bismillahirrahmaanirrahiim..


Sesungguhnya telah cukup bukti
bahwa diri kita lemah, tiada daya dan upaya. Diri-diri kita terbalut kelemahan
dan khilaf, terlalu banyak bicara dan sedikit berbuat, terlalu cinta dunia dan
melupakan negeri akhirat. Adalah diri kita inilah yang menjadi sumber dari
terpuruknya izzah Islam dan muslimin, diri inilah yang menebar debu dan kotoran
hingga cahaya Islam menjadi redup dan suram.
Betapa jauhnya diri kita dari sifat-sifat para penyeru, para Nabi, para
Sahabat, Syuhada, Shiddiqin. Mereka adalah orang-orang yang berani, dan kita
adalah pengecut yang bersembunyi dibalik kemuliaan Islam, kita bukan apa-apa..

Meskipun begitu,
Tidak pernah ada dan tak pernah boleh ada yang mengatakan bahwa kita tidak
berhak memperbaiki diri, memoles cacat, memulai meski harus dari awal. Meski
harus merangkak dari bawah. TAK BOLEH ada siapapun yang mengatakan bahwa kita
tidak berhak memuliakan Islam, memperjuangkan kepingan-kepingan terserak ini
menjadi sebuah kekuatan perlawanan dan bangunan yang menjulang, karena Komunitas
Dakwah adalah Komunitas Perlawanan. Perlawanan terhadap keterbatasan diri.
TAK PERNAH BOLEH ada yang mengatakan bahwa diri-diri penuh kelemahan ini tidak
berhak bangkit dari keterpurukan, mengasah kembali gergaji dan mulai bekerja.

maka dari itu,,,
Pupuklah keberanianmu mulai saat ini, teruslah berjuang dan jangan pernah
berhenti. Tak peduli seberapa lambat kalian berjalan, yang terpenting adalah
jangan pernah berhenti. Karena berhenti adalah mati, dan sifat para pengecut.
Sebagaimana air menggenang yang berbangkai tak bisa mensucikan… janganlah
berhenti!


Tataplah batu nisan para pahlawan, kenanglah hidup mereka. Hiruplah semerbak
wangi nafas perjuangan mereka, dengarkan gemuruh semangat mereka, lalu resapkan
dalam darah kita, dan biarkan mengalir dalam jantung kita, kemudian hati kita.
Jadikanlah hal ini menjadi energi kalian yang tak kan pernah mati. Sesungguhnya
untuk itulah para pahlawan hidup dan diwafatkan… agar menjadi inspirasi bagi
diri-diri yang faqir nan pemalas seperti kita.


Lelah… adalah bagian dari karunia. Sejenak berhenti dan mengasah gergaji adalah
sebuah kemestian dalam perjuangan. Mengeluh dan merintih adalah bagian dari
diri kita yang tak mungkin kita hindari.
Tapi, begitulah ternyata para Pemberani mengisi malam-malamnya dengan mengeluh,
menangis dan merintih pada Rabbnya. Sejenak beristirahat dengan tangis dan
interupsi. Adalah Qiyamullail, tempat persinggahan untuk beristirahat dan
mengasah gergaji, sehingga esok hari mereka bangun dan menjadi singa-singa, dan
setelah malam menghampiri, mereka merengek “cengeng” pada Rabb yang dicintainya
 
“Perut mereka jauh dari tempat tidurnya
(untuk salat malam), sedang mereka berdo’a dengan perasaan takut dan harap, dan
mereka menafkahkan sebgian rizqi yang Kami berikan kepada mereka. Seorangpun
tidak mengetahui apa yang telah Kami sediakan bagi mereka. Yaitu ni’mat yang
menyejukkan pandangan mereka sebagai balasan terhadap apa yang mereka
kerjakan…Adapun orang–orang yang beriman adalah yang beramal shalih..”
(As-Sajdah: 16-17)

Setelah membanjiri malam-malam mereka dengan air mata, kemudian mereka bangun
dengan pesona semangat menyala.

temanku,,,
Bangunlah dari tidur…
Atau jika ada kebingungan dalam lubuk hati kalian, maka bergegaslah, sebab
hidup kita amat singkat. Atau jika belum kering air mata kalian, maka segeralah
seka dan mulailah menyusun rencana kemudian mulai bekerja.
Tabuh dan nyanyikanlah mars kebangkitan, kebangkitan para pemberani. Mulailah
dengan memejamkan mata, membulatkan tekad, dan bekerjalah.


Allah memang menawarkan pada kita untuk bergabung pada barisan khafilah ini,
tapi Allah tak pernah menjanjikan bahwa jalan ini menyenangkan dan indah. Allah
berjanji bahwa kalian akan mengalami kesulitan bertubi-tubi, kadang harus
terjerembab jatuh, atau harus luka bahkan berkorban harta dan meregang nyawa.
Juga Allah berjanji bahwa akan ada jenak-jenak kejenuhan dan rasa bosan. Tapi
percayalah, jika kalian memutuskan untuk menolak tawaran ini, maka DEMI
ALLAH kalian akan menyesal, demi Allah!!


Sesungguhnya konflik dan kesalahfahaman adalah bagian dari proses pendewasaan
diri, selama kita (sekali lagi) tak berhenti dan menjaga dua hal: beramal
shalih dan saling menasehati dalam kebenaran serta keshabaran. Maka konflik dan
kesalahfahaman adalah jenak-jenak indah dalam perjalanan. Maka konflikpun
sesungguhnya bagian dari karunia Allah yang mesti kita sikapi dengan sabar dan
syukur. Butuh keberanian memang untuk menghadapi konflik ini dengan sikap
dewasa. Karena para pengecut biasanya menghadapi konflik dengan bagian
punggungnya.

Akhirnya,,,
Berbahagialah jika kalian memutuskan untuk berbaris dalam barisan para
pemberani, sebab,
“Allah Bersama Orang-Orang yang Berani”


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke