Dari Moderator:
Sebagaimana ayat2 Al Qur'an yang kemarin saya kutip, Allah memerintahkan ummat 
Islam memilih pemimpin yang beriman. Bukan yang kafir.

"Janganlah orang2 mukmin mengambil orang2 kafir jadi pemimpin, bukan orang 
mukmin. Barang siapa berbuat demikian, bukanlah dia dari (agama) Allah 
sedikitpun..." (Ali Imran:28)
http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=260

Karena pemimpin inilah yang akan memimpin ummat ke jalan lurus atau kesesatan:
“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka 
berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat 
(pula) kepada Rasul.”

“Dan mereka berkata;:”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah 
mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan 
kami dari jalan (yang benar).” [Al Ahzab:66-67]

Jika kita pilih orang2 yang beriman yang jadi pemimpin, maka nanti mereka 
inilah yang akan memutuskan sistem apa yang akan dipakai. Apakah sistem 
demokrasi atau Islam?
Jika tidak ada yang benar, maka majulah sebagai pemimpin.

Sebab jika orang2 kafir yang terpilih dan menguasai uang ribuan trilyun rupiah 
serta jutaan aparat, maka meski kita berteriak harus pakai sistem Islam 
/Khilafah niscaya tidak akan didengar. Bisa jadi seperti kata Sudomo di 
Republik Mimpi, "Saya akan tangkap mereka...!!!"

Bisa2 sebagaimana ayat Al Qur'an di atas, ummat Islam dipaksa kafir seperti 
masa Inquisisi di Spanyol. Lihat foto penyiksaan di sini:
http://islammyreligion.wordpress.com/2008/12/16/is-islam-the-most-violent-religion-in-the-world

Atau seperti di Uni Soviet di mana ummat Islam termasuk di kota Imam Bukhari, 
Bukhara, dilarang shalat (masjid dijadikan musium) dan pendidikan agama Islam 
dilarang sehingga muncul generasi baru yang tidak kenal Islam/murtad.

Jadi hendaknya kelompok Hizbut Tahrir bertindak cerdas dalam berpikir.

Wassalam.

HIP Ke-7: Rakyat Pemilu, Penjajah Sejahtera
Halqah Islam dan Peradaban kembali di gelar pada Kamis (19/3) di Wisma Antara 
Jakarta. Talkshow di edisi ke-7 ini mengangkat tema ”Kesejahteraan ala 
Demokrasi vs Khilafah”. Dalam acara yang menghadirkan pakar dari bidangnya 
masing-masing itu terungkap bahwa ternyata janji-janji yang diumbar para caleg 
dan capres dalam setiap kampanyenya yang akan mensejahterakan rakyat melalui 
demokrasi adalah janji-janji kosong pemilu karena memang tidak ada korelasi 
positif antara demokrasi dan kesejahteraan.
“Suatu negara yang menerapkan demokrasi itu memang tidak ada jaminan akan 
sejahtera!” ujar Pengamat Politik dari LIPI Lili Romli. Jumlah kekayaan semakin 
melimpah tetapi yang menikmatinyanya semakin sedikit bila dibanding dengan 
jumlah seluruh warga. ”Orang kaya di Eropa dan Amerika semakin kecil tetapi 
volume kekayaannya semakin besar” ujar Pengamat Ekonomi Ichsanuddin Noorsy 
merujuk pada negara-negara yang lebih dulu menerapkan demokrasi.Karena memang 
Demokrasi dan Kapitalasme baik di barat maupun di Indonesia rujukannya sama 
yakniindividualisme. Kepemilikan individu itulah kata kuncinya. Tujuannya untuk 
mengakumulasi kepemilikan individu. ”Dalam bahasa ekenonomi mengakumulasi 
kepemilikan individu itu adalah terjemahan dari serakah” tandas Noorsy. 
Sehingga jurang kesenjangan kekayaan antara yang kaya dan miskin akan semakin 
lebar dan dalam.
Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia Rahmat Kurnia menyebutkan bahwa Amerika, 
Inggris, Perancis, Jerman memang sejahtera. Tetapi sejahteranya bukan karena 
demokrasi tapi karena penjajahan dan eksploitasi terhadap belahan dunia lain 
terutama negeri-negeri Islam. Tentu saja bila ingin rakyat sejahtera bukanlah 
dengan cara penjajahan. ”Tetapi haruslah kembali kepada akidah kita yaitu 
Islam. Serta menerapkan seluruh syariah Islam dalam naungan Khilafah termasuk 
hukum syara yang terkait dalam kewajiban pemerintah untuk menjamin kebutuhan 
pokok masyrakat, seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan 
keamanan,” tandasnya. Karena Demokrasi hanya memberikan peluang kepada rakyat 
secara luas untuk memilih pemimpinnya. Sedangkan hukum yang diterapkan tetap 
akan sesuai dengan sistem kapitalisme. Demokrasi dan kapitalisme itu tidak bisa 
dipisahkan seperti gula dan manisnya. ”Maka rakyat memilih wakil rakyat dan 
kepala negara, setelah itu lahirlah UU
 Migas, UU Sumberdaya Air, UU Minerba yang menguntungkan para penjajah. Ini lah 
yang terjadi.” simpulnya.
Pencetus otonomi daerah Ryaas Rasyid, menganalisa bahwa pasca pemilu kali ini 
pun kesejahteraan tidak akan tercapai. Pada sesi tanya jawab, salah seorang 
peserta dari Depok Muhammad Nur Hidayat mengambil kesimpulan dan menanyakan 
kepada para pembicara apakah kesimpulannya itu salah. ”Pesta demokrasi itu 
adalah pestanya orang-orang idiot,” simpulnya. Kemudian Noorsy dan Ryaas 
mengiyakannya dengan menyampaikan data-data yang mendukung pernyataan tersebut. 
(mediaumat.com)




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke